di dua senja yang sama. Kutautkan hati yg rapuh. Dalam sebuah wadah menggenggam sisa mentari siang tadi
di dua senja yg datang bersamaan. Kurias diri dengan basuhan air dari sungai samping rumah. Entah kenapa, setiap tetesnya menyerap dalam sukma yg paling dalam dan mendamaikan
di senja kali ini yg sama. Seonggok bulan setengah muncul malu-malu. Mulai mendaki langit di malam yg menghampiri. Entah alam ingin memperlihatkan maha karyanya nan agung
lalu di senja kemarin, mendung di sudut langit menggelayut mengaburkan siluet dari mentari yg menguning. Semua menjadi hitam tak bertanda.
entah seperti apa senja esok hari. Apakah dia akan datang dengan cahayanya atau bahkan dengan mendung yang merantai cerah
karena senja hari ini adalah milikmu
di senja cilandak yg menua 9.8.14
di dua senja yg datang bersamaan. Kurias diri dengan basuhan air dari sungai samping rumah. Entah kenapa, setiap tetesnya menyerap dalam sukma yg paling dalam dan mendamaikan
di senja kali ini yg sama. Seonggok bulan setengah muncul malu-malu. Mulai mendaki langit di malam yg menghampiri. Entah alam ingin memperlihatkan maha karyanya nan agung
lalu di senja kemarin, mendung di sudut langit menggelayut mengaburkan siluet dari mentari yg menguning. Semua menjadi hitam tak bertanda.
entah seperti apa senja esok hari. Apakah dia akan datang dengan cahayanya atau bahkan dengan mendung yang merantai cerah
karena senja hari ini adalah milikmu
di senja cilandak yg menua 9.8.14
No comments:
Post a Comment