August 21, 2014

Bedah buku Anak-Anak Revolusi

Kemarin di Gramedia matraman, saya mengikuti bedah buku "Anak-Anak Revolusi" yang dikarang oleh Budiman Sudjatmiko. Buku yang bisa dikatakan sebagai novel atau mungkin buku sejarah bahkan bisa juga sebagai buku novel sejarah, entahlah namun buku itu menggambarkan perjalanan hidup seorang Budiman Sudjatmiko. Hadir pula Effendy Ghozali dan Maman Suherman sebagai narasumber.

sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kemarin namun waktu yang terbatas bahkan sesi pertanyaan hanya dibuka satu kali dengan 3 penanya alhasil saya tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Namun sebelum mengurai pertanyaan saya kemarin, ada beberapa hal yang ingin kuceritakan mungkin sebagai uneg-uneg.

siapa yang tidak mengenal Budiman Sudjatmiko dikalangan aktivis Mahasiswa era 90an sampai sekarang. Dia sebagai aktivis yang juga ketua PRD begitu heroiknya menunjuk hidup penguasa orba sebagai rezim otoriter sehingga membuat dirinya harus masuk keluar penjara dan melihat kenyataan satu persatu temannya dihilangkan.

 Sejarah perjalanannya sebagai aktivis tersebut digambarkan pula di bukunya dengan penggambaran yang kadang menyesakkan dada. Bayangkan saja ketika disekap tanpa baju bahkan dikencingi aparat namun menurut Beliau hal yang paling memilukan adalah kata-kata aparat bahwa mereka bisa saja dibunuh tanpa ada yang tahu dan juga bahwa hidup mereka ada di tangan aparat tersebut. Saya saja yang sering ikut aksi Mahasiswa di era akhir 2000an dan di salah satu aksi menolak UU BHP, saya menggigil kedinginan ketika dikepung aparat di tugu UNHAS Makassar dan tak tahu arah melarikan diri bahkan lemparan batu dari intel tepat mendarat di dadaku sudah begitu perih. Bisa dibayangkan seandainya saya jadi Mahasiswa di Era orba, mungkin saya sudah jadi Mahasiswa yang datang, duduk, diam ke kampus.

saya juga adalah salah satu Mahasiswa yang begitu kecewa setelah mengetahui beberapa aktivis termasuk Budiman Sudjatmiko masuk dalam sistem. Di pikiran saya ketika masih Mahasiswa adalah masuk sistem haram hukumnya karena idealisme akan dikompromikan sana-sini. Meski pertanyaanku ini sudah dijelaskan panjang lebar oleh beliau kemarin.

kembali ke bedah buku kemarin. Menurut saya bahwa kekuatan buku tersebut ada di cara menyajikannya. Diceritakan dengan jujur dan romantis yang begitu kuat. Jangan lupa pula bahwa kutipan lagu-lagu dan kata-kata dari tokoh yang disisipkan kedalam cerita menjadi suatu kekuatan tersendiri. Saya ingat pula novel 5 cm yang sangat digandrungi pun melakukan hal yang sama. Menyisipkan lagu-lagu romantis dan kata-kata yang sudah umum sehingga pembaca seakan ikut larut di dalam cerita.

Effendy Ghazali dan Maman Suherman sebagai narasumber memberikan pandangan dari sudut mereka masing-masing. Daeng Maman dengan kekhasannya memulai dengan puisi yang romatis dan menurutku ini salah satu daya tarik dari beliau yang disukai oleh anak muda sekarang dari gaya penulisannya yang menyentuh hati melalui puisi. Mungkin saja beliau terinsprirasi dari sosok soe hok Gie yang ternyata menjadi idolanya. Di sisi ini, saya tidak sepakat dengan daeng Maman karena menurut pandangan subjektif saya bahwa Soe hok Gie adalah salah satu aktor memberi andil dimulainya orba. Kedua bahwa "mungkin saja" dia terlalu sering mendaki gunung sehingga analisis politik saat itu tidak holistik bahkan terakhir mungkin ini sangat subjektif karena ajal Tuhan yang tahu namun ironi karena seorang demonstran harus meninggal saat mendaki gunung di gunung Semeru.

terakhir dan ini yang ingin saya tanyakan kepada ketiga narasumber kemarin bahwa apa sebenarnya yang keliru saat Reformasi 1998? Kenapa kehidupan "tidak terlalu lebih baik"? Kebebasan berpikir mungkin iya namun ekspektasi saya adalah Bangsa ini seperti Kuba pasca Revolusi 1959 melawan diktator Fulgencio Batista dikomandani oleh Fidel Castro dan seorang dokter keren, Ernesto "che" Guevara. Saya berandai-andai harusnya muncul tokoh yang benara-benar rovolusioner pada masa itu, dipikiran saya mungkin sosok Gusdur.

Nb. Saya belum baca buku 2

jaksel, 21.8.14.
detik-detik menunggu putusan MK

 

No comments: