August 13, 2014

setapak tak berdebu

aku punya tekad untuk bertahan. Aku punya cita yang belum terwujud. Ada segudang janji yang harus kutunaikan untuk siapa yang pernah kutitipkan janji maka aku bertahan di setiap helaan nafas yang tersisa

aku berdiam diri, terkadang berjalan perlahan bahkan berlari dengan sekuat tenaga dan tetap saja aku harus bertahan dengan mimpi dan janji yang masih menggantung di tepi hati yang suci

dalam dekap malam yang gelap. Di setiap perjumpaan terang yang terus saja memanggang raga. Terkadang kuingin melangkahkan kaki ke belakang, menyerah atas semua realitas yang tertawan, namun tidak cita dan mimpi itu lebih besar dari segala onak di setiap proses yang dijejak dan entah sampai kapan akan menghilang dari kenyataan namun bukankah proses seperti itu. Menyimpan waktu yang entah esok atau bahkan 1000 tahun lagi

aku menengadah ke atas langit yang tetap setia memayungi. Aku mencari celah untuk menembus pandang ke langit yang lain namun tidak, kokohnya langit itu mengajarkanku tentang sebuah ketegaran dalam berjuang untuk hidup. Entah seperti apa hasilnya yang diputuskan oleh semesta namun setidaknya proses telah dilalui. Hasil hanya tentang akumulasi realitas dari kumpulan proses yang dilalui dan kadang hasil tidak begitu indah dibanding dengan proses menuju ke tujuan

aku camkan dengan sungguh-sungguh. Bahwa hidip tetap akan berjalan mengikuti alurnya. Orang yang coba-coba untuk membelokkan alur hidup akan hancur. Biarkanlah hidup berjalan sesuai skenario semesta.

setapak tak berdebu

jaksel, 13.8.14

No comments: