August 11, 2014

kisah menjelang malam

aku ingin bercerita tentang kita prigita. Di penghujung malam menjelang tidurku. Aku mencoba membuat ode untukmu namun tidak kali ini, aku hanya ingin bercerita tentang kita sebelum malam beranjak tua.

di tiap senja yang tenang. Aku melawan arus jalan yang padat. Membela jalanan yang dijejali aneka mobih mewah. Kulajukan motor di sela mobil- mobil tersebut. Senja itu kau sudah menunggu di taman kantormu. Selalu saja aku tidak ingin membuatmu menunggu dan biarlah aku yang menunggu namun tidak kali ini. Padatnya kendaraan membuatku telat menjemputmu.

kulihat engkau sudah duduk termangu di taman kantormu menungguku sesaat setelah kumasuki gerbang kantormu. Satpam yang sering kujumpai senyum kepadaku, nampaknya dia sudah mengakrabi wajahku yang setiap senja setia menantimu.

kuarahkan motor ke bilangan kosmu. Kita mampir di indomaret melepas penat dengan sebotol air mineral yang dingin. Sesekali engkau menyeka keringatku yang mengucur deras tanpa henti karena diterpa panas di jalanan nan padat. Sesekali pula memijit lenganku yang pegal meski kau sadar pijatanmu tak kerasa namun cukuplah sentuhannya mendamaikanku.

senja berlalu dan malam menggelayut indah di bibir langit. Suara adzan nan merdu terdengar dari mesjid samping warung kuning langganan kita. Engkau menggamit lenganku menuju mesjid itu. Membasuh wajah dengan air wudhu berharap ridha Sang Ilahi. Kita panjatkan doa masing- masing. Sesaat setelah sujud di bumi Tuhan, engkau mengambil tanganku lalu mencium dengan lembut, entah apa yang terucap dari bibirmu setiap kali engkau mencium tanganku setelah shalat. Aku hanya melihat mulutmu yang terus komat-kamit seperti membaca mantra.

kita memesan makanan di warung kuning langganan kita. Senyum ramah dari sang pemilik warung sambil melayani. Dia bahkan akrab dengan kita. Aku membalas senyumannya dan engkau seringkali menunduk tersipu malu tanpa berkata apa-apa. Entahlah engkau memang benar-benar malu atau bahkan malu berada di sampingku. Kutahu kesukaanmu. Telor asin dan sayur serta kerupuk dan segelas es teh manis.

kita berlalu kemudian. Mengantarku ke kos lalu aku kembali ke kosku. Kembali kususuri jalanan kota ini yang padat merayap. Dengan desiran debu yang beterbangan dan lalu lalang kendaraan yang seakan tak putus.
begitulah cerita kita menjalani hari dengan bahagia

pendurenan, 10.8.14

No comments: