July 27, 2014

Selamat Idul Fitri 1435 H

Seperti lalu lalang kendaraan yang melaju dengan begitu cepat. Tanpa ada sisa-sisa jejak yang melekat dari perjalanan ini dan mungkin seperti itulah waktu yang sedang dijalani di alam semesta ini. Semua nampak seperti lalu lalang yang hanya berlalu sekejap mata tanpa meninggalkan kesan. Kalaulah saja setiap orang punya kesempatan untuk membeli waktu maka mungkin saja semua hidupnya akan dihabiskan untuk mencari uang dan membeli waktu yang berlalu karena yakinlah bahwa waktu yang sudah berlalu selalu saja dirindukan dan diharapkan untuk kembali.

Seperti itulah Ramadhan kali ini. Berlalu begitu saja di depan mataku dan seperti aku tak berbuat apa-apa untuk Ramadhan kali ini bahkan hanya khilaf dan dosa yang tersisa. Sehari lagi Ramdhan ini akan lenyap seiring dengan waktu yang terus bergulir membawanya pergi menjauh dan pada saat seperti inilah kemudian muncul perasaan menyesal menyia-nyiakan waktu yang dilalui tanpa berbuat kebaikan. Ramadhan kali ini benar-benar menjadi tragedi yang meninggalkan cerita yang hitam.

Aku benar-benar menjadikan Ramdhan kali ini sebagai refleksi dari semua khilafku selama setahun terakhir yang sudah melampaui batas. Aku bahkan tidak berani untuk mengingat semua kebodohan yang sudah kuperbuat hanya untuk menghindari rasa bersalah.

Jelas sekali teringat setelah Ramdhan tahun lalu 1434 H, awal dari deretan kebodohan dan maksiat yang aku lakukan. Hal yang sebelumnya sama sekali aku lakukan bahkan tidak terpikirkan olehku bahwa aku akan terjerumus kedalam situasi seperti itu dan rentang waktu setahun belakang ini adalah tragedi hidup yang paling aku sesali dalam hidupku diantara semua kesalahan-kesalahanku yang lalu. Bahkan hampir saja aku tidak memaafkan diriku sendiri atas kesalahan yang aku perbuat setahun terakhir namun aku tetap yakin bahwa Allah SWT Maha Pengampun atas segala dan Dia masih memberiku waktu untuk memperbaiki kesalahanku.

Ramadhan kali ini yang sehari lagi akan beranjak pergi dan menyambut Idul Fitri benar-benar kujadikan sebagai titip point untuk merefleksikan kesalahanku setahun belakang ini. Aku bertekad kuat untuk memulai langkah dengan hati yang lebih bersih dan mencoba untuk menahan diri. Ada dua hal yang amat sangat susah kukendalikan selama setahun belakangan ini, nafsu syahwat dan nafsu amarah dan itu yang selalu aku usahakan. Alangkah bodoh dan tololnya aku kalau saja aku masih melakukan kebodohan-kebodohan seperti setahun terakhir ini. Jika aku masih melakukannya di waktu mendatang maka hancurlah aku dan tiadalah berguna hidupku ini.

Idul fitri kali ini pun menjadi sejarah bahwa pertama kalinya aku tidak berkumpul bersama kedua orang tuaku dan keluargaku di kampung. Aku selalu merindukan kebersamaan kami di setiap edisi idul fitri namun kali ini aku tak berdaya dan harus jauh dari mereka saat idul fitri. Kondisi yang memaksaku harus seperti ini dan terasing sendiri di kota ini tanpa ada siapa-siapa meski kutahu bahwa ini murni keputusanku untuk tidak pulang kali ini.

Aku bahkan tidak merasakan suasana bermacet ria mudik kali ini. Berdesak-desakan di dalam mobil yang membawaku ke kampung bahkan perasaan yang teramat menyenangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di tangga rumah yang kemudian disambut hangat oleh ibuku. Tidak ada semua itu untuk ramdhan kali ini.

Tidak ada kecup hangat di jidatku dari ibuku sebelum berangkat ke lapangan menunaikan shalat ied, tidak ada ketupat dan ayam goreng kecap menyambutku di rumah setelah melaksanakan shalat ied bahkan sama sekali tidak ada hal yang bisa kukerjakan disini. Hanya menunggu waktu berlalu dan berjalan seperti normal adanya. Benar-benar memilukan dan meninggalkan sesak di dada yang setiap kali membayangkan itu semua mengharuskan aku menghapus tetes air yang berguguran dari kelopak mataku.

Aku berdiam diri di kamar ini. Merenungi setiap dosa yang tak terhitung. Mencoba memaafkan diri yang khilaf dan kembali ke fitri. Lebaran kali ini menjadi anti klimaks dari setiap apa yang telah kulalui selama ini. Aku hanya berharap dan berdoa semoga saja aku kembali ke jalan yang benar setelah setahun lamanya meniti jalan kegelapan. Jalan yang menyiksaku dalam perasaan bersalah yang berkepanjangan.


Harapan tentunya ada dan doa terus mengalir bahkan segenap jiwa raga mengadah meminta apa yang masih tersembunyi. Semua hanya menunggu waktu yang tepat dalam kesabaran yang hakiki. Tidak ada penyesalan atas diri dan tetap bersyukur atas semua yang telah di tangan karena hidup sudah diatur oleh pemilikNya dan manusia tinggal menjalani dengan jalannya masing-masing. Hanya ada dua pilihan bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Pertama adalah berjalanan diatas koridor yang telah di tetapkan ataukah berjalan di kegelapan dengan bergelimang khilaf yang nyata. Karena sesungguhnya hidup pasti akan berakhir di gerbang kematian menuju alam berikutnya.

Terakhir aku haturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibuku dan juga kepada ayahku atas semua khilaf baik yang disengaja maupun yang tak disengaja bahkan tentang harapan-harapan dariku yang masih belum bisa aku wujudkan dalam sebuah kenyataan. Wujud permohonan maafku adalah memperbaiki semuanya dari awal dan tetap istiqamah dalam kebaikan di setiap waktu yang akan dijalani.



Selamat Idul fitri 1435 H
Minal aidin wal Faidzin
Mohon maaf lahin dan bhatin

No comments: