kita terlalu sering mengutuk. Mencela semua yang tidak sesuai dengan hasrat. Kita memaki semuanya dan menyalahkan apa saja.
kita mengutuk hujan. Lalu kemudian panas. Mencela si kurus sesaat kemudian menghina si gemuk.
kita mengutuk macet. Menghujat malam lalu kemudian membenci siang. Gelap dan terang dihina.
kita berjalan dalam ketidaksyukuran. Semua seperti kurang dari kadarnya. Padahal Tuhan telah mencukupkan segalanya
pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, kapan terakhir kita mengucap syukur atas diri kita yang penuh dosa? Arau bahkan memang rasa syukur sama sekali sudah tak berbekas di hati karena tergerus oleh nafsu yang diumbar.
menyalahkan Tuhan ketika bertemu kesusahan namun tidak mengingatNya sama sekali ketika berada dalam kesenangan. Kita memang manusia yang selalu menyalahkan tanpa menyisakan sedikitpun waktu untuk tafakkur melihat ke dalam diri sendiri.
diri adalah mikro kosmos dan akan menarik semua baik yang terungkap dari hati maupun yang tersembunyi. Diri adalah cerminan dari apa yang sering diswbut nurani. Bersemanyam indah di dalam namun menjadi nakhoda kehidupan manusia.
ketika kita sibuk memperbaiki hati dan membasuhnya dari segala noda yang melekat maka hidup akan menjadi lebih tenang namun ketika kita mengikuti nafsu yang merusak maka ingatlah bahwa nafsu itu adalah musuh utama hati nurani. Jika engkau selalu memberi makan nafsumu maka kotorannya akan melekat di harimu. Semua akan menjadi gelap tak terlihat.
tautkan hati pada pemilikNya. Kelak ketika pemilikNya memintanya kembali maka tidak ada yang menghalanginya. Jika engkau tautkan hatimu pada nafsu maka ketika Sang Pemilik ingin mengambilnya maka nafsu itu menjadi perisainya sehingga sulit melepaskan. Itulah kenapa sering manusia tersiksa di saat sakaratul maut karena dirinya terpaut dengan nafsunya.
jkt 13.8.14
kita mengutuk hujan. Lalu kemudian panas. Mencela si kurus sesaat kemudian menghina si gemuk.
kita mengutuk macet. Menghujat malam lalu kemudian membenci siang. Gelap dan terang dihina.
kita berjalan dalam ketidaksyukuran. Semua seperti kurang dari kadarnya. Padahal Tuhan telah mencukupkan segalanya
pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, kapan terakhir kita mengucap syukur atas diri kita yang penuh dosa? Arau bahkan memang rasa syukur sama sekali sudah tak berbekas di hati karena tergerus oleh nafsu yang diumbar.
menyalahkan Tuhan ketika bertemu kesusahan namun tidak mengingatNya sama sekali ketika berada dalam kesenangan. Kita memang manusia yang selalu menyalahkan tanpa menyisakan sedikitpun waktu untuk tafakkur melihat ke dalam diri sendiri.
diri adalah mikro kosmos dan akan menarik semua baik yang terungkap dari hati maupun yang tersembunyi. Diri adalah cerminan dari apa yang sering diswbut nurani. Bersemanyam indah di dalam namun menjadi nakhoda kehidupan manusia.
ketika kita sibuk memperbaiki hati dan membasuhnya dari segala noda yang melekat maka hidup akan menjadi lebih tenang namun ketika kita mengikuti nafsu yang merusak maka ingatlah bahwa nafsu itu adalah musuh utama hati nurani. Jika engkau selalu memberi makan nafsumu maka kotorannya akan melekat di harimu. Semua akan menjadi gelap tak terlihat.
tautkan hati pada pemilikNya. Kelak ketika pemilikNya memintanya kembali maka tidak ada yang menghalanginya. Jika engkau tautkan hatimu pada nafsu maka ketika Sang Pemilik ingin mengambilnya maka nafsu itu menjadi perisainya sehingga sulit melepaskan. Itulah kenapa sering manusia tersiksa di saat sakaratul maut karena dirinya terpaut dengan nafsunya.
jkt 13.8.14
No comments:
Post a Comment