Senja
itu.
Dengan
kereta arjuno kita berangkat ke kotamu.
Senja
itu,
ah
aku lupa harinya. Aku sangat sulit mengingat tentang hari
Aku
hanya menebak-nebak senja itu hari minggu.
Kita
berdua melaju ke stasiun gubeng tepat disamping hotel terbesar kota ini.
Berkalikali
kutangkap senyum sumringah dari wajahmu.
Entahlah
apa yang ada di benakmu tapi aku yakin karena keinginanmu terkabul,
Bukankah
dulu bahkan saat kita masih belum
sekota, engkau ingin sekali naik kereta bersamaku, hingga akhirnya
berkali-kali engkau katakan amat sangat senang naik kereta bersamaku. Di sepanjang
jalan menuju stasiun saat ku bonceng dirimu, entah sudah berapa kali engkau
menyanyikan lagu dangdut yang lagi nge hits “kereta malam”. Aku bahkan harus
menutup mulutku untuk menyembunyikan senyumku melihat tingkah lucumu itu.
Ah,
aku tak berpikir apaapa. Hanya ikut senang melihatmu bahagia. Di stasiun itu
tak pernah sekalipun tanganmu lepas dari tanganku.
Ruang
tunggu sudah sesak dengan penumpang dengan wajahwajah lelah namun wajahmu, tak ada
setitik pun goresan kepenatan terlukis disana, benarbenar engkau menikmati
kebersamaan kita dengan kereta malam ini.
Kereta
dengan 4 gerbong tiba. Sejurus kita bergabung dalam rombongan penumpang yang
lain. Bergegas naik dan mencari tempat duduk
Ah,
lagilagi kita sial. Kita kebagian tempat duduk tepat di depan toilet kereta,
aku terbahak menertawakan kesialan kita, engkau hanya menampakkan sedikit muka
masam
Dengan
kereta warna orange ini
Melaju
membawa kita ke barat pulau ini
Sesekali
berhenti di setiap stasiun
Tak
lama
Dirimu
dibuai mimpi
Kurebahkan
kepalamu dipundakku
Sepanjang
jalan menuju kotamu
Kupandangi
wajah polosmu
Ah,
perjalanan kali ini teramat singkat. Belum puas aku menikmati wajahmu, kereta
telah memasuki kotamu, kota yang sering engkau ceritakan kepadaku tentang
alamnya yang damai. Hujan menyambut kedatangan kita. Dingin menembus tulangku
hingga seakan meremukkan seluruh persendianku. Ternyata kota ini amat dingin,
gumamku.
Engkau
menarikku, mencari tukang becak yang mungkin saja masih setia mangkal di depan
stasiun ini menunggu sedikit rejeki. Benar saja, seorang tukang becak dengan
topi kusam tanpa berjaket menawarkan jasa. Ini saja, hitunghitung menambah
rejeki bapak ini. Ujarmu.
Tentang
kereta malam itu
Dan
tentang gadisku penyuka kucing
Tentang
bahagianya
Bahwa
hidup adalah bahagia
Tentang
dia yang tidak suka durian
Sementara
durian favoritku
Tentang
dia yang doyan nanas
Sementara
aku alergi nanas
Tentang
dia penyuka film korea
Sementara
aku suka india
Ah,
aku bingung tentang kami
Selalu
saja berbeda apa yang kami suka
Namun
satu hal yang pasti
Hati
kami satu dan impian kami pun Satu
Hidup
kelak bersama.
Semua
tentangmu ada kenangan terindah
Hingga
kini
Engkau
tak lagi disampingku
Tlah
jauh di kota sana
Semoga
saja
Impian
yang kita rangkai
Tak
pernah engkau hapus dari diarymu
Sampai
akhirnya
Suatu
sat nanti
Kita
bertemu di simpang kota tua
Mengulangi
masamasa itu
Kutulis
saat rindu menghantamku
Ah,
benarbenar rindu ini membosankan
Selalu
saja datang tak kenal waktu