February 24, 2014

gadis dan subuh


Engkau dan subuh
Katamu sudah intim dengannya dari sejak SD
Katamu lagi
Terbiasa bangun bahkan tengah malam
Yah, engkau tidak seperti yang lain
Disaat mungkin gadis seusiamu masih mbangkong
Engkau bangun lebih awal
Bercengkerama dengan dinginnya angin subuh
Dengan kokok ayam jantam samping rumahmu
Dengan merdunya adzan subuh dari masjid mujahidin
Ah, aku malu denganmu
Aku yang seorang lakilaki
Terkadang harus dibangunkan dengan sinar matahari yang menembus celahcelah dinding kamarku terkadang pula deru kendaraan yang lalu lalang.
Bahkan berkalikali, engkau berpesan kepadaku untuk bangun subuh, namun apalah aku ini. Lakilaki yang takluk pada kemanjaan diri akan tidur tak mampu menghalau rasa kantuk yang menyerang.
Huhu, aku benarbenar lemah dengan waktu subuh
Dengan malam yang jatuh tepat di fajar
Aku malah menjadikan waktu subuh dengan bermimpi di dalam tidurku
Sedang engkau
Mengejar mimpiku di alam nyata
Saat subuh menyapa
Dan subuh bersamamu
Bercengkerama dalam dingin yang menyejukkan
Dan udara yang menyegarkan

bersabarlah


Sudah 3 kali jumat kulalui di kota ini. mendekam di dalam kamar kos seperti terpenjara. Benarbenar amat sangat sunyi. Sering kubertanya tentang semua ini. Sering berpikir dengan semua yang menjadi kegundahanku. Seringkali ingin menyerah namun tidak, menyerah yang berarti putus asa akan kuhindari dengan sepenuh hatiku. Bukankah aku harus tetap optimis akan kemurahan Allah dan bukankah dari dulu aku sudah belajar menghindari 2 sifat. “SOMBONG & PUTUS ASA”. dua sifat itu yang diajarkan oleh kak hamzah untuk dihindari. beliau amat sangat berpesan untuk dua sifat itu karena dua sifat itu adalah sifat keiblisan. sejatinya manusia amat sangat rawan terjerat kedua sifat tersebut. Saat seseorang mengalami kesulitan hidup terus menerus, mereka terjebak dalam keputusasaan akan pertolongan Allah kemudian ketika mendapat ujian kesenangan maka sering kali terjebak dalam kesombongan dan seakan mereka paling tinggi dari yang lain. Dua sifat itu sangat diwanti-wanti oleh kak hamzah untuk dihindari dan aku, saatsaat seperti ini rawan akan sifat putus asa, namun tidak. Aku tetap berdoa kepada Allah supaya dilindungi dari sifat tersebut. Aku sudah mengerti alur kehidupan dan aku tidak boleh terjebak atas permainan hidup karena semua akan menjadi normal ketika tetap bergantung kepada Allah.
Benar-benar aku tak kuasa dengan inginku. Dialah Allah yang punya Maha Daya, aku tak punya daya sedikit pun hingga akhirnya aku terdampar di kota ini. Sudah hampir sebulan aku tak punya aktivitas. Meski aku menargetkan maksimal bulan maret 2014 aku sudah mempunyai aktivitas tetap namun itu hanyalah rencaku belaku tetap saja rencana Tuhan yang berjalan atas diriku. Aku hanya bisa berusaha maksimal dan berdoa untuk mewujudkan targetku dan selebihnya Tuhanlah yang menjalankan ceritaNYa. Aku hanya bisa berdoa semoga keputusasaan tidak menghampiriku dan jika tiba waktunya Tuhan memberiku kenikmatan, aku tetap berdoa semoga saja Dia menjagaku dari kesombongan. Hidup harus terus berjalan dan semoga aku tidak menyerah lalu berbalik arah. Aku yakin akan karunia Allah dan akan datang tepat waktu dan di tempat yang tepat meski seringkali agak sulit untuk dimengerti namun begitulah adanya hidup.

February 23, 2014

gadis dan ayam goreng


Ada yang terlupa tentangmu ketika setiap kali kumengingatmu
Tentang makanan favoritmu
Yah, engkau sangat suka ayam goreng
Tentang masakan favoritmu
yah, engkau sangat senang makan di warung padang
Meski sering kali engkau buang sambalnya
Aku sering tersipu tentang kebiasaanmu
Engkau kerap mengajakku makan di warung padang
Namun aku sudah menebak
engkau akan meminta pelayan untuk tidak pake sambal
Hagahagaha,
bukankah orangorang makan di warung padang karena doyan sambalnya
Memang engkau kadangkadang aneh gadisku..
Tapi untuk ayam goreng
Engkau akan menyantapnya sampai tak tersisa sedikitpun
Ah, benarbenar lahap engkau akan lauk kesukaanmu itu

gadis dan rindu


“Entah sebulan tidak bertemu, ataupun hanya sehari, aku akan merindumu”, begitu bisikmu sayang saat kutanyakan tentang rindu.
Ah, rindu selalu menyebalkan
Selalu menghampiri setiap waktu
Rindu ini
Seperti rindu malam akan rembulan
Huhu, ingin kulawan dengan egoku
Namun semakin kuingkari
Semakin itu pula rindu ini mengalahkanku
Menyebalkan memang berurusan dengan rindu
Di sana engkau membawa jiwaku
Bersamamu
Engkau sisakan rindu ini
Menyiksaku dan membelenggu sukmaku
Aku selalu bertany pada angina dari arah kotamu
Kapan engkau kan kembali menjemput rinduku
Tak ada jawaban, angin hanya membisu
Diantara tetes hujan senja ini
Kucari rinduku
Di kerumunan bintang disana
Kucoba menerka rinduku
Tapi semua itu nihil sayang
Karena engkau adalah rinduku itu



gadis dan kereta malam


Senja itu.
Dengan kereta arjuno kita berangkat ke kotamu.
Senja itu,
ah aku lupa harinya. Aku sangat sulit mengingat tentang hari
Aku hanya menebak-nebak senja itu hari minggu.
Kita berdua melaju ke stasiun gubeng tepat disamping hotel terbesar kota ini.
Berkalikali kutangkap senyum sumringah dari wajahmu.
Entahlah apa yang ada di benakmu tapi aku yakin karena keinginanmu terkabul,

Bukankah dulu bahkan saat kita masih belum  sekota, engkau ingin sekali naik kereta bersamaku, hingga akhirnya berkali-kali engkau katakan amat sangat senang naik kereta bersamaku. Di sepanjang jalan menuju stasiun saat ku bonceng dirimu, entah sudah berapa kali engkau menyanyikan lagu dangdut yang lagi nge hits “kereta malam”. Aku bahkan harus menutup mulutku untuk menyembunyikan senyumku melihat tingkah lucumu itu.

Ah, aku tak berpikir apaapa. Hanya ikut senang melihatmu bahagia. Di stasiun itu tak pernah sekalipun tanganmu lepas dari tanganku.
Ruang tunggu sudah sesak dengan penumpang dengan wajahwajah lelah namun wajahmu, tak ada setitik pun goresan kepenatan terlukis disana, benarbenar engkau menikmati kebersamaan kita dengan kereta malam ini.

Kereta dengan 4 gerbong tiba. Sejurus kita bergabung dalam rombongan penumpang yang lain. Bergegas naik dan mencari tempat duduk
Ah, lagilagi kita sial. Kita kebagian tempat duduk tepat di depan toilet kereta, aku terbahak menertawakan kesialan kita, engkau hanya menampakkan sedikit muka masam

Dengan kereta warna orange ini
Melaju membawa kita ke barat pulau ini
Sesekali berhenti di setiap stasiun
Tak lama
Dirimu dibuai mimpi
Kurebahkan kepalamu dipundakku
Sepanjang jalan menuju kotamu
Kupandangi wajah polosmu

Ah, perjalanan kali ini teramat singkat. Belum puas aku menikmati wajahmu, kereta telah memasuki kotamu, kota yang sering engkau ceritakan kepadaku tentang alamnya yang damai. Hujan menyambut kedatangan kita. Dingin menembus tulangku hingga seakan meremukkan seluruh persendianku. Ternyata kota ini amat dingin, gumamku.

Engkau menarikku, mencari tukang becak yang mungkin saja masih setia mangkal di depan stasiun ini menunggu sedikit rejeki. Benar saja, seorang tukang becak dengan topi kusam tanpa berjaket menawarkan jasa. Ini saja, hitunghitung menambah rejeki bapak ini. Ujarmu.

Tentang kereta malam itu
Dan tentang gadisku penyuka kucing
Tentang bahagianya
Bahwa hidup adalah bahagia
Tentang dia yang tidak suka durian
Sementara durian favoritku
Tentang dia yang doyan nanas
Sementara aku alergi nanas
Tentang dia penyuka film korea
Sementara aku suka india

Ah, aku bingung tentang kami
Selalu saja berbeda apa yang kami suka
Namun satu hal yang pasti
Hati kami satu dan impian kami pun Satu
Hidup kelak bersama.

Semua tentangmu ada kenangan terindah
Hingga kini
Engkau tak lagi disampingku
Tlah jauh di kota sana
Semoga saja
Impian yang kita rangkai
Tak pernah engkau hapus dari diarymu
Sampai akhirnya
Suatu sat nanti
Kita bertemu di simpang kota tua
Mengulangi masamasa itu

Kutulis saat rindu menghantamku
Ah, benarbenar rindu ini membosankan
Selalu saja datang tak kenal waktu