June 27, 2013

Subuh

subuh adalah dia
dengan kabut malumalu yang menutupi
meleleh setiap embun dikipasi angin semilir
dingin menusuk malam yang sesaat lagi beranjak
karena subuh adalah dia
maka dia menghangatkan
menyelimuti setiap jiwa yang terlelap
dalam bunga mimpi yang hilang sesaat tersadar
kadang sepi namun bukan merana
karena itu hanyalah permainan yang dipertontonkan dalam dunia sinetron
tak nyata
subuh ini bukan dia
karena lain daripada subuh yang kemarin
mencekam bahkan dengan sadisnya membunuh
subuh ini telah berubah
menjadi warna kelam yang menyeramkan

June 25, 2013

Ust. H

Menyerahkan diri kepadaNya: 
1. Datang menemuiNya
2. Menghadapkan wajah diri kepadaNya. 
3. Menyerahkan satu per satu ... 

Ilmu yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada ilmu.

Gelar yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada gelar.

Posisi, pangkat, jabatan, pekerjaan yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada punya keempatnya.

Keluarga, kerabat, sahabat, teman yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya seorang diri.

Masa lalu yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tak punya lagi masa lalu untuk disesali.

Angan, cita, harapan, masa depan yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada punya masa depan untuk saya khawatirkan.

Segenap perasaan yang berkecamuk pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada perasaan.

Raga yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada raga.

Jiwa yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada jiwa

Kesadaran yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada sadar

Diri saya yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada...

4. Sekarang saya telah tiada, hilang, diam, tenang, hening, kosong..

Kepala dan Perut

" Kepala
      Perut
          Hidup"

Entah apa yang sedang berjalan di sebuah panggung dunia saat masa ini dimana aku mengukir setiap kata yang aku goreskan dengan tinta-tinta keseharianku. Tiga kata diatas menggambarkan betapa hidup harus dijalani dengan dua kata sebelumnya. saat aku masih berstatus mahasiswa, kepala yang mendominasi kehidupanku, apa yang diyakini kepalaku harus aku jalankan tanpa ada kompromi sedikitpun bahkan terkesan hidup ini harus sejalan dengan setiap gambaran dunia yang melekat di kepalaku apapun alasannya. entah itu harus melalui tantangan yang berat ataupun dengan cara apapun. Namun ada satu hal yang aku dapatkan ketika mengedepankan apa yang ada di kepalaku adalah kebebasan diri.

Kata kedua adalah perut. setelah menyelesaikan kuliah dan mulai menata hidup di kehidupan yang sebenarnya dan bergabung dengan masyarakat, hidupku mulai terkompromikan dengan masalah perut, tak dapat dipungkiri bahwa hidup butuh kekuatan dan salah satu kekuatan fisik berasal dari perut.inilah yang kemudian menjadi alasan untuk mengkompromikan keduanya namun tetap saja ketika hidup difokuskan kepada masalah perut maka permasalahan akan muncul karena seringkali masalah di kehidupan ini berawal dari masalah perut. akupun tidak memungkiri bahwa terkadang aku terjebak dalam masalah perut sehingga apasaja yang diminta oleh perut aku lakukan meskipun bertentangan dengan apa yang dianut oleh kepalaku. inilah tantangan sesungguhnya bagaimana menyelaraskan keyakinan kepala dan keinginan perut.

Maka hidup tetap berjalan, kepala dan perut akan tetap mengikut yang inheren dalam kehidupan ini. memenangkan keyakinan perut dengan mengabaikan kebutuhan perut adalah tidak baik sedangkan mengikuti keinginan perut yang melanggar apa yang diyakini kepala adalah jalan yang salah. hidup adalah keseimbangan dan bagaimana menyeimbangkan kedua elemen yang selalu mengikut dalam kehidupan kita.

June 19, 2013

Aku dan Jalanku

benarbenar hilang hasratku untuk dunia
entahlah
tapi itu yang terjadi
aku muak dengan pikiranpikiran idealku yang kupercaya
namun lakonku tak jua mengikuti
tak jua sama sekali
aku larut dalam jalan yang berdebu
tetap mengikuti merekamereka itu
meski akupun ikut terlumuri debudebu yang pekat
hingga akhirnya diriku sendiri tak kukenali
hanya bayangbanyang yang menjadi tanda
hanya itu
hanya itu yang tersisa dari diriku
entah sampai kapan
kukan menemukan lagi jalanku
setapak yang mungkin saja melelahkan
namun menyisakan telaga di ujung sana
entahlah
hidup masih seperti saat itu
aku malu berkata
aku malu berpidato
tersungkurlah diriku
meratapi kekalahan dalam diri
tapi akan kupaksakan diriku
berbelok di persimpangan itu
menuju jalan yang benar
jalan dimana Dia menungguku
bertemu denganNYA adalah kerinduanku yang terdalam

Being Honest

Being honest may not get you a lot friends but oyu will get the right ones. honest is one of the key in standing within a right way. now, I'm in a complicated thing. it's all 'bout honest. this fucking ways trap me. I always try to go away from this condition but till now, I'm still here, looking myself in a wrong ways without any power to control it.
it's bigger than me, kill me and push me in a ravine. not enough to avoid that till I'm feeling bad. honestly, I never deal with this unfair thing but this me, I always compromise even wrong.
 whatever that, someday, I'm gonna walk away and find the right one. living my life with my passion. nothing fake more.

June 14, 2013

Every Silence Has a Story

Judul tulisanku kali ini sebenarnya adalah judul dari salah satu novel Zara Zettira yang baru saja aku baca. dalam bahasa indonesia, novel tersebut berjudul cerita dalam keheningan. novel ini dikemas dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. kisah yang menceritakan tentang pengalaman hidup penulis yang dikemas dengan imajinasi yang amat sangat mengesankan, aku bahkan merasakan diriku sebagai tokoh dalam novel tersebut. 
 
Beberapa hari setelah menyelesaikan novel tersebut, sebenarnya aku sangat berhasrat membuat resensinya namun sampai sekarang belum terwujud, tak ada alasan lain kecuali karena memang kemalasanku akhir-akhir ini menulis. hingga siang ini, aku mencoba memaksakan pikiranku untuk menstimulasi tanganku untuk menulis sesuatu, aku khawatir ketika terlalu lama vakum menulis, hasrat menulisku akan menjadi pudar dan terkubur dalam bersama kesibukanku yang tidak ada habisnya.

Meskipun tulisan ini tentang novel namun aku memutuskan tidak membuatnya dalam sebuah resensi namun hanya tentang kesamaan perasaanku yang dialami oleh sang penulis dalam beberapa episode kehidupannya yang dituangkan dalam novel ini. kehidupannya yang amat sangat heterogen membuat penulis selalu berpikir tentang apa saja yang kadang kala tidak terpikir oleh orang lain. bagaimana penulis menafsirkan tentang takdir yang ia ketahui dan tentang apa saja yang tak terlihat.

Sang tokoh mempunyai ayah seorang Islam yang sangat dicintainya dan seorang ibu beragama kristen yang sering berselisih paham dengannya. dia mempunyai adik yang amat sangat dicintai oleh ibunya melebihi dirinya, kemudian terkuak ditengah cerita bahwa ibunya selalu berusaha membencinya karena sang tokoh bersemayam di dalam rahim ibunya  bulan sebelum orang tuanya menikah. inilah alasan ibunya membencinya untuk berusaha menghapus kesalahan masa lalu.

Episode yang paling membuatku kagum adalah ketika beberapa kali penulis meraih keberhasilannya dalam beberapa bidang namun dengan begitu saja meninggalkannya dengan bayaran yang begitu menggiurkan. tawaran iklan yang datang kepadanya dengan bayaran yang amat sangat mahal ditolak mentah-mentah karena merasa tidak membutuhkan bahkan uang yang didapatkan hanyalah untuk didekasikan kepada Ayahnya dan saat ayahnya meninggal, uang tidak lagi begitu berarti. bahkan cintanya yang begitu besar terhadap ayahnya telah membuat semangat hidupnya menguap sejak kematian ayahnya. 
 
Inilah kekuatan cinta yang sungguh amat sangat menakjubkan, saat tak ada lagi cinta dalam diri maka hidup tak lagi berarti bahkan hanya menjadi seonggok jazad yang menunggu waktu ketika cinta telah mati. ini pula yang dirasakan sang penulis saat ayahnya meninggal, hidupnya kehilangan cinta dan dengan kehilangan cinta tersebut membuat semangat hidupnya menjadi pudar bahkan beberapa kali dia berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Di episode terakhir novel tersebut, penulis benar-benar membuatku hanyut dalam seri petualangnya dimana masa kejayaan perusahaan yang dibangunnya, dia memilih untuk pergi, bukan benar-benar pergi namun pergi dengan cara lain. di diam tanpa berbicara kepada seorang pun sampai akhirnya semua orang  menganggapnya gila. namun tidak untuk dirinya, dia diam untuk melatih pendengarannya karena suara lebih bermakna daripada kata-kata. dia mengartikan semua yang ada di sampingnya dengan diamnya.

Mengapa aku kagum dengan novel tersebut, tidak lain karena sang tokoh sangat kuat karakternya dalam mencari hakekat hidup. diam yang merupakan salah satu cara yang dijalani penulis dalam mengartikan hidup ini sering pula aku lakukan. dalam diam, sering muncul ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa. saat diam pula, semua permasalahan akan teratasi ketika kita berusaha untuk diam dan mendengarkan suara dari dalam diri kita. inilah yang sering aku tulisankan sebagai cara untuk berbicara kepada diri sendiri. ketika kita diam, maka kita memberi kesempatan kepada diri untuk berkomunikasi dengan semesta karena sejatinya bahwa semua yang ada disekitar kita masing-masing bersuara dan kadang kala suara mereka mempunyai arti yang lebih dari suara manusia.

belajarlah berdiam diri untuk mengenal diri

June 11, 2013

Tak Inginku

keresahanmu yang nampak di depanku. aku ingin menghapusnya namun tak kuasa
sudahlah,
jikalau memang itu adalah dosa, aku harus mengakui sebagai salahku
itu saja.
ketika suatu saat nanti aku menghadap kepada Tuhanku kemudian ditanya tentang dosaku itu,
aku akan dengan jujur mengakuinya, mengakui bahwa aku benar-benar melakukannya,
dengan yang belum menjadi hakku
jikalau Tuhan menghukumku dengan dosa itu, setidaknya aku telah jujur kepada Tuhanku meskipun bukan sebuah pembenaran untuk mengulangi kesalahan tersebut
bukan pula mengatakan bahwa karena aku manusia maka aku khilaf,
sama sekali bukan.
aku hanya ingin mengatakan kepada Tuhanku bahwa aku melakukannya karena aku tidak mampu menahan diriku.
itu yang kutahu tentang khilafku senja itu.

June 6, 2013

Di Kelokan Maospati

persimpangan maospati siang itu
dia yang mempertemukan
sekaligus memisahkan

di persimpangan maospati siang itu
menjadi tempat persinggahan
di sudut terminal itu

dia datang di persimpangan itu
dengan senyum tipis
bahkan hanya senyum malumalu

Cara Menghilangkan Diri

ketika melihat keberhasilan orang lain, terkadang terbersit dalam diri perasaan iri bahkan dibiarkan akan menjelma menjadi dengki,,
tips menghilangkan iri ala pak kasno...
datangi orang yang mendapatkan rejeki apapun itu yang menimbulkan benih iri dalam hati kemudian beri selamat dan tunjukkan bahwa kita ikut senang akan rejekinya itu

jangan mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya karena kata adalah doa
berkatalah yang baik-baik saja.

rumah pak kasno,
rabu malam
5,6,13
saat hujan mengguyur dengan deras
bersama pak andi rahman

June 2, 2013

Mengeluh itu Kerdil

mengeluh itu kerdil,, tak punya karakter kuat berjuang.
Gibah itu kerdi, tak punya keberanian mengakui kesalahan bahkan ketika menjelek-jelekkan seseorang, tak sadar kita telah menyebar keburukan kita sendiri.
mencoba untuk tidak mengeluh apatahlagi mengumbar kejelekan orang lain.
mengeluh sejatinya mencari alasan akan kelemahan sedangkan menjelek-jelekkan orang lain hanya untuk berusaha untuk menutupi kekurangan kita dan that's not really eficient. nothing going well bout every single way like that


right now, try 2 look into myself. every single things comes from myself, whatever..

May 31, 2013

Di penghujung Mei

seakan seperti akhir mei tahun lalu, atau dua tahun lalu bahkan tahun-tahun sebelumnya.
apa yang beda? 
kan namanya akhir mei, tahun lalu pun demikian namanya. sibuk kumencari perbedaan dari akhir mei yang sekarang,

tak kutemui sama sekali
dari setiap sudut kota,

lorong waktu yang gelap
bahkan pesan dari angin yang sepoi pun tak mengabarkan bedanya akhir mei itu
semua hanya ada satu
akhir mei,,,
kalau orang mengatakan waktu yang membedakan,
pastilah beda
karena hidup terus berlalu
akhir mei kali ini
menyongsong sejuta harapan dalam diri
harapan yang sejatinya menjadi spirit bergerak,,     

puisi ini, sampah yang tak terurus dan tidak ingin saya buang karena sebagai pengingat bahwa saya bukan penutur yang baik dalam hal apapun, saya bahkan tidak memiliki apaapa untuk dibanggakan. saya benarbenar merasa manusia yang tidak punya bakat apaapa

May 20, 2013

Rindu Yang Sublim

Kerinduan, sebuah perasaan yang pasti menyiksa ketika menyeruak di dalam sanubari setiap makhluk saat berada jauh dari yang tercinta. kerinduan memang menawarkan kepedihan yang amat sangat menyiksa ketika waktu tak kunjung mempertemukan dengan yang dirindukan.

ini tentang kerinduan yang akan kutulis, kutujukan kepada Tuhanku dan seseorang yang sering kurindukan. kerinduan benar-benar mengandung makna yang dalam menembus sanubari dan menjelma menjadi tindakan yang irrasional ketika tak tertahankan lagi.

surat untukmu W tentang rindu itu,,,
tahukah engkau beberapa hari ini aku selalu merindukanmu? semua hal menjelma dalam diriku tentang bahasa kerinduan terhadapmu. seringkali perasaanku terhadapmu tak tertahankan untuk bertemu denganmu ketika rindu itu menyerang dan anehnya lagi rindu itu setiap saat menghampiri dalam semenit bahkan sedetik waktuku. tak ada yang meragukanku bahwa aku memang rindu kepadamu. setiap saat kutunggu kabar darimu dan perasaan senang tiba-tiba saja muncul ketika engkau sekedar mengabariku tentang dirimu dan apa saja tentangmu akan membuatku begitu bahagia. itulah rindu yang benar-benar bersemayam di dalam hatiku.

dik, ketika rinduku seperti itu terhadapmu, apakah rindu yang lebih besar terhadap Tuhanku lebih besar dari rindu itu atau bahkan tidak ada sama sekali? ketika aku bahagia mendengar semua tentangmu, apakah aku lebih bahagia lagi ketika mendengar apa saja tentang Tuhanku? ketika aku sangat bahagia mendengar kabar darimu atau menerima teleponmu namun apakah aku lebih bahagia ketika Tuhanku memanggilku menjalankan perintahnya sebagai wadah bertemu denganNYA? ternyata semua itu masih tidak seperti seharusnya. seringkali aku lebih merindukanmu daripada merindukan Tuhanku. perintahnya sering kutunda bahkan kuabaikan namun ketika engkau mengirimiku pesan, aku tidak mau menunda untuk membalasnya dan saat Tuhanku memanggilku menunaikan kewajibanku, aku bahkan seringkali menundanya sampai akhir waktu.

rindu yang kumiliki benar-benar belum membuatku dekat dengan Ilahi dik. seandainya saja rinduku terhadap Tuhanku lebih besar dari rindu untukmu atau bahkan sama maka ragaku akan dipenuhi oleh kehadiran Tuhanku yang nantinya akan menghadirkan kebahagiaan yang tak terkira. kerinduan seperti itu dimiliki oleh para salik yang telah larut dalam kerinduan yang hakiki terhadap Tuhannya. aku mendambakan keadaan seperti itu dik. aku tetap berharap suatu saat nanti, aku berada dalam keadaan rindu terhadap Tuhanku yang tidak ada lagi apa-apa yang kupikirkan selain memikirkan pertemuan dengan Tuhanku. 

dik, kuingat kemarin malam saat engkau marah karena kita tidak jadi bertemu. aku selalu membayangkan seandainya saja engkau seperti itu adanya terhadap Sang Pemilik Hidup. saat engkau belum waktunya bertemu dengan Dia, apakah engkau juga akan marah atau semakin dilanda perasaan rindu terhadapNYA?. aku menerawang diriku bahwa aku belum berada dalam kondisi rindu yang sublim terhadap Tuhanku dik.

dik, sering engkau tidak melirik lagi orang lain karena  cintamu terhadapku. didalam pikiranmu hanyalah aku dan kerinduan membuatmu selalu ingin di dekatku dan begitupun adanya aku terhadap dirimu dik,  namun apakah seperti itu perasaan kita terhadap Tuhan? apakah kita tidak melirik lagi selain yang disukai oleh Tuhan? apakah kita tidak lagi berselingkuh dengan yang lain dariNYA? apakah kita selalu ingin bertemu denganNYA? dan apakah kita tidak lagi mepedulikan diri kita demi untuk bertemu denganNya dan bahkan apakah kita tidak ingin lagi jauh dariNya? masih banyak lagi pertanyaan yang mengganggu pikiranku terhadap minimnya cintaku terhadap Tuhanku.  aku sama sekali belum seperti itu dik. mudah-mudahan saja engkau telah berada dalam kondisi seperti itu terhadapNya.

dik, maukah engkau sedikit mendengar pemahamanku tentang Tuhanku dan syurgaNya? pertemuan dengan Tuhan adalah segalanya. syurga bahkan tidak ada apa-apanya. analoginya seperti ini, antara dua pilihan dik, yang mana yang akan engkau pilih, tetap jauh dari seseorang yang engkau rindukan dengan kelimpahan harta yang engkau miliki ataukah selalu berada disamping orang yang engkau rindukan dengan keadaan yang sederhana. kebanyakan orang yang berada dalam kondisi kerinduan yang akut hanya ingin bertemu dengan yang dirindukan tanpa meperdulikan iming-iming kesenangan, baginya pertemuan dengan yang dirindukan adalah diatas segalanya, begitupun adanya ketika kita rindu terhadap Tuhan. iming-iming syurga ataupun kesenangan yang lainnya tidak menjadi prioritas namun yang terutama adalah pertemuan dengan Tuhan diatas kenikmatan segalanya. memandang wajah yang dirindukan melebihi dari kenikmatan apapun. 
entah engkau setuju atau tidak dik, namun itulah pemahamanku tentang sebuah kerinduan.

dik, saat aku mendatangimu di kota itu, aku rela tidak tidur menunggu larut malam berangkat ke kota itu untuk bertemu denganmu tanpa mepedulikan kondisi tubuhku yang dalam kepenatan yang amat sangat, hal yang terbersit dalam pikiranku adalah kita akan segera bertemu namun sekali lagi ini renungan untuk diriku, apakah aku sudah seperti itu adanya terhadap Tuhanku? ternyata tidak, jangankan bangun tengah malam untuk bertemu Tuhanku di sudut malam yang hening, bangun subuh pun tepat waktu masih sangat susah, selalu saja alasan capek atau mengantuk hadir di dalam hatiku namun ketika itu untukmu dik, rasa capek dan ngantuk selalu kuabaikan ketika kita akan bertemu. ini menjadi hasil kontemplasi bagi diriku bahwa aku belum benar-benar rindu terhadap Tuhanku.

surat untuk Tuhanku tentang rindu itu,,,,!
Tuhanku, perasaan rindu yang seharusnya kutujukan terhadapMU masih menguap entah dimana. serpihan-serpihan kerinduan yang kupunya ternyata masih kutujukan terhadap makhluk-makhlukMU. meski dalam setiap kali bibirku selalu berucap bahwa aku rindu terhadapMU dan kekasihku Muhammad SAW  namun ternyata itu masih di sudut bibirku karena perasaan itu belum sepenuhnya meliputi sanubariku. rindu yang sublim itu belum juga kutujukan terhadapMU. aku masih berkutat dengan setiap serpihan rindu semu yang mengganggu konstalasi kehidupanku.

Tuhanku, aku pernah tidak tidur dan mengabaikan kondisi diriku yang amat sangat penat hanya untuk bertemu dengan seorang yang kurindukan. malam yang hening dan dinginnya angin yang seakan menusuk tulang-tulang bahkan tidak menghalangiku untuk bertemu dengannya, namun ketika itu berhubungan denganMu, aku sama sekali tak kuasa, bangun tengah malam untuk menyongsong pertemuan denganMu hampir pasti tidak kulakukan akhir-akhir ini. bahkan hal yang ringan sebagai wadah mengingatMu sering kutunda. benar-benar aku belum merindukanMu dengan rindu yang sublim. aku malu  Ya Rabb, aku hina. kumohon tanamkanlah kerinduan yang sublim dalam sanubariku terhadapMu. aku ingin berada dalam kondisi kerinduan yang hakiki terhadapMu.



Tuhanku, tanamkanlah kerinduan yang sublim dalam diriku terhadapMU dan juga terhadap sang kekasih Rasulullah SAW. biarkan ragaku merasakan betapa rinduku terhadapMU benar-benar menyiksa saat aku jauh dariMu. berikan aku sedikit waktu untuk mencicipi perasaan rindu terhadapMu seperti para Salik merindukanMu. aku mengerti seseorang yang berada di dalam kerinduan, aku tahu perasaaan mereka seperti apa, namun aku hina Yaa Allah karena perasaan itu pernah kumiliki namun bukan untukMu.

 saat rindu meliputi pikiran makhluk, maka yang terpikirkan adalah sebuah pertemuan. entah itu pertemuan terjadi dimana saja namun selalu saja pertemuan itu diinginkan dalam waktu yang dekat. sang perindu tidak lagi mempedulikan seperti apa kondisi dirinya, entah itu sakit atau dalam kondisi apapun bahkan semua hal dilakukan demi untuk bertemu dengan yang dirindukan dan kondisi itu belum aku miliki untukMu Tuhanku. aku ingin sekali berada dalam kondisi seperti itu dimana tidak ada lagi selain Engkau yang menyilaukan hatiku. tidak ada lagi yang membuatku berpaling dariMu meski itu sebuah kemewahan dunia.

aku tidak peduli dengan apa yang akan Engkau berikan kepadaku Tuhan, entah itu kesenangan ataupun kepedihan namun yang kuingankan dariMu adalah pertemuan denganMu dalam balutan keridhaanMu terhadaku. syurga ataupun label kesenangan lainnya hanyalah suplemen namun bercengkerama denganMu dan Engkau selalu ridha terhadapku adalah hal yang tidak terkira nilainya.

surat untuk diriku tentang rindu itu,,,!
diri, dimanakah engkau sekarang berada? sudah terlalu jauh engkau berjalan menyusuri lorong waktu yang gelap mencari sesuatu yang fatamorgana. engkau selalu tidak puas dengan apa yang engkau dapatkan sekarang dan itu yang akan selalu engkau rasakan karena apa yang sedang engkau kejar adalah hal yang fatamorgana, bukankah ketika hal yang semu itu menjadi tujuan maka perasaan kecewa selalu menjadi hasil dari proses pencarian. 

diri, tidakkah engkau mau mencari hal yang lebih hakiki. sesuatu yang akan menggiringku dalam kondisi yang semakin baik lagi.