February 8, 2023

Klinik Proposal (8)

Hari yang cukup melelahkan karena seharian harus mengikuti pelatihan klinik jurnal, meskipun secara fisik lelah namun saya menikmatinya. Saya begitu antusias untuk menjalani setiap proses di awal karir yang sedang saya bangun. Satu hal yang harus saya jaga adalah semangat untuk tetap belajar dan berusaha untuk mengurangi interaksi dengan aura negatif dari internal dan eksternal.

Narasumbernya berasal dari pulau yang sama dengan saya. Ada hal yang selalu membuat saya ciut ketika mengetahui bahwa narasumbernya seumuran dengan saya dan dia sudah jauh terbang sedangkan saya baru mempersiapkan diri untuk berjalan. Perasaan seperti itu seringkali menghantui saya di beberapa tahun terakhir ketika menyadari bahwa langkah saya tidak lebih jauh dari waktu yang sudah saya habiskan.

Saya sedang menata hati untuk tetap tegar dan memulai hal-hal baik yang mungkin orang seusia saya sudah jauh berada di tempat yang tinggi.

Kemarin saya bahkan tidak punya ide dan argumen untuk dikemukakan karena selain bingung, masih ada perasaan ragu yang menghantui. Meskipun demikian, saya mendapat doorprize sebagai peserta paling pertama datang.

Momen tersebut membuat saya berpikir bahwa ketika kita memiliki kekurangan, maka gali sesuatu yang membuat kita masih bisa terlihat dan menunjukkan eksistensi kita. Bukan untuk diapresiasi namun lebih pada usaha untuk memacu diri menjadi lebih baik.

#8 2023

February 7, 2023

Dukungan Orang Tua (7)

Sebelum memutuskan untuk pindah kerja dengan berbagai konsekuensinya, saya sudah menyampaikan niat saya kepada orang tua untuk meminta persetujuan sekaligus juga untuk mengetahui reaksinya mereka. Bahkan dalam proses tes pun, saya sudah menyampaikan apa yang akan saya jalani setelah ini dan gambaran kondisi saya di perantauan.

Beruntungnya bahwa orang tua saya khususnya ibu merestui keputusan hidup yang saya ambil dengan berani pindah pekerjaan dengan pendapatan yang jauh berkurang. Restu tersebut yang menguatkan saya bahwa apa yang akan saya jalani ke depan akan baik-baik saja meskipun dengan berbagai dinamika yang harus saya jalani.

Setelah hampir sebulan menjadi proses ini, ternyata memang berbagai tantangan dan kondisi yang mengharuskan saya untuk belajar beradaptasi dalam banyak hal. Salah satunya bagaimana beradaptasi dengan rekan kerja yang baru dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Selain itu, adaptasi yang lain mengenai pekerjaan yang jauh sangat berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang pernah saya jalani.

Adaptasi paling urgen tentu bagaimana saya harus menata kalimat lisan dan meningkatkan kemampuan public speaking karena salah satu tupoksi saya yang baru adalah mengajar. Saya percaya bahwa audiens akan mendengarkan narasumber ketika mereka mampu dengan jelas menerima pesan yang disampaikan oleh narasumber, namun jika tidak tersampaikan dengan baik maka hanya akan dianggap angin lalu.

Kemampuan public speaking ini yang menjadi masalah bagi saya karena meskipun sudah sebelas tahun di tanah Jawa, dialek daerah saya nampaknya sangat sulit untuk disamarkan dan seringkali membuat saya merasa inferior dan tidak percaya diri. Saya seringkali berusaha untuk belajar menyamarkan dialek hanya agar tidak terkesan berbeda tetapi selalu gagal dan hanya berakhir pada sebuah keanehan.

Setelah ini, saya mungkin hanya perlu belajar untuk memperjelas artikulasi saya tanpa harus berusaha menghilangkan dialek karena intinya bahwa saya menguasai materi yang akan saya ajarkan dan saya bisa menyampaikan dengan jelas sehingga mahasiswa bisa memahami apa yang saya sampaikan.

#7 2023

February 6, 2023

Emotional Question (6)

Beberapa waktu lalu, saya mendengar diskusi yang dibawakan oleh salah satu dosen filsafat termasyur di Jogjakarta. Beliau menceritakan tentang sebuah kisah seorang anak yang sangat pintar di barat, bahkan nilai tidak pernah di bawah A. Sebuah prestasi yang tentu saja jarang dimiliki orang lain dan biasanya anak itu akan dianggap memiliki masa depan yang cerah.

Suatu waktu, anak itu mendapat nilai A- dari dosennya. Nilai yang untuk sebagian orang sudah tinggi namun anak itu merasa bahwa dia tidak pantas mendapatkan nilai A- karena kemampuannya hanya boleh dinilai A. Nilai tersebut menjadi semacam aib baginya.

Alhasil karena tidak mampu membendung rasa kecewanya, anak itu kembali ke rumahnya dan mengambil senjata lalu kembali ke kampusnya dan tanpa pikir panjang menembak dosennya. Ironis melihat kematian seorang pengajar yang tewas oleh anak muridnya hanya karena nilai yang sebenarnya juga tidak rendah.

Hal serupa pernah terjadi di Medan tepatnya di Universitas Muhammadiyah Medan Utara. Seorang mahasiswa tega menikam dosennya di kamar mandi karena dikasih nilai jelek. Dosen yang hendak mengambil air wudhu untuk salat asar, meregang nyawa ketika dalam perjalanan ke rumah sakit.

Ada sesuatu yang lebih luhur dari sebuah kecerdasan intelektual yaitu kecerdasan emosi. Saya pribadi mengamati setiap pribadi yang saya jumpai di setiap pengalaman hidupku dan saya mengambil kesimpulan bahwa faktor utama keberhasilan seseorang adalah seberapa mampu dia menahan diri dan menata diri. Kecerdasan intelektual penting namun ketika tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mengelolah diri maka cerdas secara intelektual hanya menjadi parasit dalam diri seseorang.

Tidak hanya berlaku untuk mahasiswa namun tentunya juga untuk para dosen. Setiap orang harus mampu meredam emosinya karena seringkali emosi yang meledak-ledak hanya akan menjadi bumerang bagi setiap orang. Saya pun beberapa kali pernah meluapkan emosi tanpa dikontrol dan hasilnya berdampak buruk bagi diri sendiri.

#6 2023

February 5, 2023

Baraya (5)

#5 2023

Saya tidak punya agenda hari minggu. Seperti biasa hanya keluar membeli beberapa kebutuhan kemudian kembali ke rumah. Menghabiskan waktu di rumah sebelum kembali ke kota tempat bekerja. Rutinitas yang sudah mulai normal meskipun tetap saja ada rasa berat ketika mengingat bahwa sudah minggu sore dan waktunya harus kembali lagi.

Seperti biasa saya memesan tiket travel dengan jam keberangkatan setengah 9 malam. Saya rasa itu merupakan jam keberangkatan ideal karena sehabis isya dan tidak terlalu terburu-buru. Apalagi jarak rumah ke tempat keberangkatan cukup ditempuh 5 menit.

Travel kali ini hanya membawa dua penumpang, seorang ibu dan saya sendiri. Saya selalu berpikir travel ini mendapat untung dari mana jika penumpangnya hanya dua? selain karena harus membayar tol juga harus mengisi bensin sedangkan sewa travel hanya 100 ribuan. Entahlah mungkin kalau dalam bisnis dikenal dengan jumlah bilangan besar.

Sama seperti minggu lalu, karena tidak ada orang di samping saya maka saya bisa tidur terlentang. Saya hanya was-was agar tidak jatuh ke bawah ketika mobil mengerem tiba-tiba, sehingga saya tidak terlalu nyenyak tidur.

Saya kaget saya keluar tol, saya melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 11 kurang, artinya bahwa durasi waktu dari jam berangkat sampai tiba di tujuan tidak sampai tiga jam, durasi waktu normal yang biasanya ditempuh baik mobil maupun kereta.

Saya tiba di kos setengah 12 malam. Jauh lebih cepat dari biasanya.

February 4, 2023

Sabar (4)

Hari ini benar-benar menjadi hari yang penuh ujian kesabaran saya. Sejak pagi sampai saat menjelang malam, beberapa momen mengharuskan saya bertemu dengan orang lain yang sialnya mereka menunjukkan sikap yang membuat kesabaran saya berada pada titik nadir.

Pagi hari, kami memutuskan untuk membeli sarapan di penjual nasi pecel. Sesampai di sana, tidak terlalu ramai namun ada dua pembeli yang sedang antri. Akhirnya kami menjadi antrian ketiga. Sesaat ketika giliran kami dilayani, seorang bapak tiba-tiba dari belakang minta untuk dilayani. Kami masih sabar karena dia hanya membeli lima ribu dan hanya dilayani tidak lebih dari dua menit. Namun yang menjadi kekesalan ketika bapak itu pergi, ada lagi anak muda yang tiba-tiba dilayani oleh penjual. Dia membeli tiga puluh ribu yang memakan waktu beberapa menit. Pada dasarnya bukan persoalan lama tidaknya namun karena budaya antri benar-benar tidak dihormati di masyarakat kita. Saya agak kesal kemudian protes ke bapak penjual dan dia hanya berucap, sabar.

Hei sabar, dari tadi kami antri dan menunggu dilayani.

Momen kedua ketika akan menambal gigi di klinik. Salah satu klinik kami datangi dan ternyata harus membuat janji sebelumnya. Pada dasarnya tidak ada yang salah namun saya benar-benar dibuat tidak sabar oleh perawat yang jaga dan melayani kami. Mukanya murung dengan nada yang ketus. Saya membayangkan bahwa jika semua pekerja publik seperti dia, maka pelayanan tidak akan maksimal. Akhirnya saya tidak jadi tambal gigi di klinik tersebut.

Momen selanjutnya adalah tambal gigi di rumah sakit. Saya sudah daftar online sebelumnya. Tiba di rumah sakit, saya langsung menuju petugas yang jaga dan lagi-lagi saya menemui pelayanan yang membuat saya ingin teriak bahwa kenapa kalian sebegitu tidak ramahnya menjadi petugas publik. 

Tidak sampai di situ, ketika sudah masuk ruangan dokter, lagi dan lagi saya menjumpai dokter yang persis sama sikapnya. Entah karena memang sikapnya seperti itu atau mungkin jika karena melihat tampilan saya yang biasa-biasa saja, dia begitu ketus menjawab pertanyaan saya. Awalnya saya mengeluh gigi saya yang ngilu kemudian dia ingin memastikan gigi bagian mana yang ngilu. Saya menunjuk antara dua gigi atas sebelah kanan. Dia sepertinya tidak puas karena saya tidak memastikan yang mana namun saya juga tidak bisa mengetahui pastinya karena posisi ngilunya di bagian yang saya tunjuk.

Singkat cerita, dia begitu tidak sabar melayani saya padahal saya bayar pribadi dan tidak menggunakan BPJS. Saya berandai-andai, jika semua dokter seperti itu maka saya pribadi bakal jarang menemui dokter.



#4 2023

February 3, 2023

Saham (3)

Hari ini ada hajatan di kampus yang dilaksanakan oleh prodi kami. Hajatan peresmian galeri yang sebenarnya tidak asing bagi saya namun bidang yang dari dulu tidak pernah sedikit pun menarik perhatianku. Galeri tersebut merupakan kerja sama prodi dengan perusahaan sekuritas.

Galeri yang saya maksud adalah galeri investasi yang tentunya seputar pengetahuan saham. Saya menyadari bahwa beberapa tahun terakhir, saya sangat akrab dengan saham, entah itu teman-temnan kantor sebelumnya yang main saham maupun sekarang dengan adanya galeri investasi, meskipun tentunya saya tidak akan terlalu banyak terlibat dalam galeri ini.

Satu hal yang menarik ketika tiga pemateri dari perusahaan sekuritas dan regulator sedang memberikan materi pada acara pembukaan kerja sama. Pada sesi pertanyaan, salah seorang teman bertanya kepada ketiga pemateri, mereka main saham yang mana?

Saya agak kaget ketika mereka menjawab bahwa mereka tidak main saham. Meskipun alasan mereka karena perusahaan tempat mereka bekerja tidak mengizinkan, tetap saja ada yang mengganjal di pikiran saya bahwa bagaimana mereka menjual mimpi kepada publik untuk terjun dalam dunia saham sedangkan mereka sendiri bukan pemain.

Saya juga menyadari selama berinteraksi dengan teman-teman kantor sebelumnya yang main saham. Saya mendapati tidak satu pun dari mereka yang kaya karena saham bahkan mereka masih tetap mengandalkan gaji bulanan sebagai pendapatan utama. Ironisnya, beberapa dari teman saya harus menanggung utang karena saham anjlok.

Dari situ saya menyadari bahwa saham adalah bisnis yang tentunya tidak terlalu cocok untuk saya jalani, selain karena saya tidak yakin dengan keuntungannya, namun yang paling pokok karena ada prinsip yang saya anut untuk tidak terlibat di dalamnya.

#3 2023

February 2, 2023

Konsistensi (2)

Sampai saat ini, saya berusaha mengevaluasi apa saja yang sudah saya jalani di dalam hidup dan apa sebenarnya yang menjadi kekurangan saya dalam banyak hal. Sejauh ini yang saya temukan adalah persoalan konsistensi. Saya mengalami masalah dalam konsisten melakukan sesuatu secara terus-menerus untuk mencapai titik klimaks.

Baik itu dalam beribadah, belajar bahkan melakukan hobi pun seringkali saya tidak konsisten sehingga tidak heran jika beberapa pencapaian saya juga tidak maksimal dan terkesan nanggung. Terlalu banyak distraksi dan kekhawatiran yang membuat saya tidak mampu menaklukkan diri dalam menjalani tirakat hidup yang semestinya.

Setelah 11 tahun lamanya berkutat di dunia korporasi, saat ini saya mulai dari nol meniti karir di dunia akademisi. Bidang yang sedari dulu menarik minat saya karena berbagai faktor terutama karena lingkaran pertemanan saya yang memang mayoritas terjun di dunia akademisi.

Kesempatan ini tentu harus saya pergunakan sebaik mungkin karena merupakan pilihan sadar saya meskipun saya sadari bahwa memang saya terlambat start sekitar 5 tahun dari usia yang ideal untuk memulai karir di tempat yang baru, tetapi saya rasa tidak ada yang terlambat. Masing-masing orang memiliki standar waktu tersendiri dalam menjalani sesuatu di dalam hidupnya.

Apa yang kemudian harus saya mulai dari sekarang?

Membaca adalah hal yang wajib sebagai tupoksi saya di tempat yang sedang saya jalani. Setelah membaca tentu harus lebih produktif lagi dalam menulis serta mengembangkan kemampuan untuk menyampaikan pengetahuan ke orang lain.

Soft skill lain yang akan saya kuasai adalah kemampuan public speaking sebagai penunjang untuk mengajar di kelas. Menurut saya bahwa indikator public speaking yang baik tidak terstandarisasi bagi semua orang karena semua orang punya kekhasan masing-masing. Minimal yang dimiliki adalah intonasi dan kemampuan menguasai forum.

#2 2023

February 1, 2023

Menulis (1)

Seingat saya, motivasi awal ketika saya mulai belajar menulis adalah menuangkan semua keresahan dalam tulisan. Saya tidak pernah berpikiran untuk menjadikan tulisan sebagai sesuatu yang harus ideal karena sejatinya ketika saya menulis maka semua keresehan diri seakan terlepaskan.

Itulah kenapa di beberapa tulisan saya yang lama, banyak sekali yang terkesan konyol.

#1 2023

January 31, 2023

In English (31)

After writing  in bahasa for a month, I'm going to write my daily life in english during next month in February. Writing in english is one of my effort to make it habit because I have to do it in supporting my academic writing.

January 30, 2023

Penelitian (30)

Setelah menyelesaikan tugas sampai setengah 2 subuh, tugas lain sudah menanti. Saya harus menyelesaikan proposal penelitian untuk disubmit. Lumayan menguras energi namun saya menikmatinya karena beberapa faktor, selain karena sesuai dengan apa yang saya impikan, juga karena saya sudah bisa fokus pada pekerjaan ini. Tidak ragu atas apa yang harus saya kerjakan.

Saya sedang menyusun sebuah proyeksi masa depan. Semacam step untuk menggapai setiap tangga yang harus saya kerjakan untuk sampai pada satu tujuan yang memang sudah saya impikan. Namun terlepas dari itu semua, saya sudah berikrar bahwa ini semua hanya cara menjalani hidup dan tujuan utama yang saya ingin gapai adalah bagaimana mendapat ridhaNya.

Saya ingat tahun lalu ketika masih berada di perusahaan sebelumnya, saya memimpikan bidang pekerjaan yang sekarang saya jalani maka seharusnya saya lebih banyak bersyukur dengan cara berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya.

Hidup itu adalah perjuangan karena setiap fase yang dijalani membutuhkan kerja keras dan komitmen yang kuat. Hidup bukan sebuah tujuan karena jika hidup merupakan tujuan maka manusia akan berhenti untuk bergerak. Ketika kita memimpikan sesuatu maka harus dipahami bahwa saat tiba di sebuah kondisi yang kita impikan maka persiapkan diri dengan segala kemampuan untuk menjalani kondisi yang kita impikan sebab tentu kondisi tersebut membutuhkan perjuangan.

Misalnya seseorang bercita-cita menjadi Tentara, maka tentu ketika mereka sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang Tentara, maka butuh energi yang lebih untuk menjalani apa yang mereka cita-citakan. Menjadi tentara bukan tujuan akhir namun sebuah proses perjuangan.

Jadi apa sebenarnya tujuan kita?

Tentunya dunia ini bukan tujuan namun perjuangan untuk mengisinya dengan nilai-nilai yang kita pahami dan berbeda-beda setiap manusia yang menjalaninya. Ada yang berjuang untuk keluarga, ada yang berjuang untuk masyarakat, dan berbagai perjuangan lain yang sangat kontekstual dengan kehidupan masing-masing pribadi yang menjalaninya.

Bagi umat yang mempercayai suatu agama, tentu tujuannya adalah kehidupan setelah dunia ini dan itu merupakan kehidupan kekal di mana manusia menikmati jerih payahnya di dunia ini.

#30 2023

January 29, 2023

Baraya (29)

Perjalanan kembali ke kota tempat bekerja selalu berat. Ada rasa yang susah diungkapkan untuk harus meninggalkan keluarga seminggu ke depan. Meskipun tetap saja pulang di weekend, tetap saja bahwa jiwa serasa melayang.

Rasa seperti ini sudah pernah saya rasakan sejak mulai meninggalkan rumah saat tamat SMA dan kuliah di kota. Setiap kali mudik selalu menyenangkan karena kembali ke rumah namun ketika waktunya kembali ke kota, rasanya begitu berat meninggalkan orang tua. Rasa seperti itu kembali muncul sejak saya bekerja di kota lain dan harus terpisah dari anak istri.

Saya kembali ke kota tempat bekerja, menggunakan jasa travel langganan. Hanya ada tiga penumpang di atas mobil sehingga memungkinkan bagi saya untuk tidur di kursi belakang sambil selonjoran. Saya menghabiskan perjalanan dengan tidur sampai menjelang tempat tujuan.

Seperti biasa, perjalanan kami lancar sampai tujuan meskipun tetap harus berdoa karena saya tiba di kota tujuan tepat jam 12 malam sedangkan saya masih harus menumpang ojek online menuju kos dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Perjalanan berat tersebut seringkali saya hapus dengan komitmen bahwa saya memilih pilihan ini dengan sadar tanpa paksaan dari siapa pun. Pilihan ini untuk mengisi hidup yang menurut saya sesuai dengan ide dan nilai yang saya percayai. Maka dengan ini, tidak seharusnya halangan ini menghilangkan niat awal saya karena sejatinya, setiap apa yang diusahakan memiliki tantangannya masing-masing. Tidak ada yang mudah untuk setiap pekerjaan yang harus dijalani.

#29 2023

January 28, 2023

Diskusi (28)

Saya selalu menghabiskan malam minggu dengan rutinitas diskusi dengan beberapa teman melalui media zoom. Diskusi ini semacam relaksasi setelah bekerja 5 hari dan tidak memberikan ruang bagi diri untuk merefleksikan apa yang dijalani.

Malam ini, kami banyak membahas tentang tema psikologi. Tema yang pada dasarnya tidak terlalu saya kuasai namun karena diskusinya tidak formal sehingga setiap dari kami bebas mengutarakan apa saja yang ada di kepala.

Ketika saya diberi kesempatan memberikan argumen tentang tema malam ini, saya membahas tentang diri saya yang saya alami selama ini. Perasaan yang benar-benar saya rasakan bahkan sampai pada titik ini. Fase di mana seharusnya sudah bisa menata hati namun saya masih bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.

Kenapa saya di sini? apakah sudah benar yang saya lakukan? apakah saya terlalu ambisi sehingga hati terasa kosong? Dan serangkaian pertanyaan yang sifatnya privasi menyeruak di kepalaku. 

Sepuluh tahun terakhir, saya benar-benar bergulat dengan diri sendiri. Semacam mempertanyakan makna hidup yang kujalani dan membenci banyak hal termasuk perasaan ingin membuktikan diri kepada dunia. Lalu setelah semua tercapai, kembali menjadi kosong dan hati terasa hampa.


#28 2023

January 27, 2023

Baraya (27)

Travel ini sudah saya akrabi sejak dua minggu lalu dan kemungkinan untuk beberapa bulan ke depan, saya akan semakin akrab dengan travel ini. Pulang ke rumah jumat sore kemudian berangkat lagi di minggu malam. Tentunya ini sebuah pilihan sadar yang sudah saya perkiraan sebelumnya. Saya sebisa mungkin tidak akan menyesali apa yang sudah saya putuskan sendiri.

Setelah seharian menghabiskan energi karena hari ini penutupan diklat sekaligus peer teaching, waktunya untuk pulang ke rumah. Sejak pagi, saya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjalani tes yang menurut saya cukup menyita energi. 

Tes saya berlangsung dengan baik dan lancar meskipun menurut saya bahwa masih banyak kekurangan yang seharusnya saya perbaiki. Ada poin-poin penting yang masih terlewatkan namun setidaknya saya sudah mencobanya.

Di perjalanan sepanjang tol di dalam mobil travel, saya kemudian mendengarkan kembali rekaman saya yang memang sengaja saya rekam sebagai bahan evaluasi atas kekurangan yang masih saya alami. Benar saya bahwa menurut pendengaran saya, ada hal-hal yang ke depannya akan saya evaluasi sendiri.

***

Oh iya, travel ini selalu menjadi pilihan saya untuk pulang rumah karena sewa yang murah dibandingkan dengan kereta api. Selain itu, pool travel ini sangat dekat dengan rumah saya sehingga saya tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah ketika turun dari travel.

Saya tiba di rumah lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena beberapa saat sebelum memasuki Jakarta, hujan cukup deras sehingga jalanan tidak terlalu padat. Untungnya saat tiba di pemberhentian travel, hujan sudah reda sehingga saya bisa dengan nyaman memesan ojek online tanpa harus memakai jas hujan.

#Baraya 

#27 2023