Hari ini benar-benar menjadi hari yang penuh ujian kesabaran saya. Sejak pagi sampai saat menjelang malam, beberapa momen mengharuskan saya bertemu dengan orang lain yang sialnya mereka menunjukkan sikap yang membuat kesabaran saya berada pada titik nadir.
Pagi hari, kami memutuskan untuk membeli sarapan di penjual nasi pecel. Sesampai di sana, tidak terlalu ramai namun ada dua pembeli yang sedang antri. Akhirnya kami menjadi antrian ketiga. Sesaat ketika giliran kami dilayani, seorang bapak tiba-tiba dari belakang minta untuk dilayani. Kami masih sabar karena dia hanya membeli lima ribu dan hanya dilayani tidak lebih dari dua menit. Namun yang menjadi kekesalan ketika bapak itu pergi, ada lagi anak muda yang tiba-tiba dilayani oleh penjual. Dia membeli tiga puluh ribu yang memakan waktu beberapa menit. Pada dasarnya bukan persoalan lama tidaknya namun karena budaya antri benar-benar tidak dihormati di masyarakat kita. Saya agak kesal kemudian protes ke bapak penjual dan dia hanya berucap, sabar.
Hei sabar, dari tadi kami antri dan menunggu dilayani.
Momen kedua ketika akan menambal gigi di klinik. Salah satu klinik kami datangi dan ternyata harus membuat janji sebelumnya. Pada dasarnya tidak ada yang salah namun saya benar-benar dibuat tidak sabar oleh perawat yang jaga dan melayani kami. Mukanya murung dengan nada yang ketus. Saya membayangkan bahwa jika semua pekerja publik seperti dia, maka pelayanan tidak akan maksimal. Akhirnya saya tidak jadi tambal gigi di klinik tersebut.
Momen selanjutnya adalah tambal gigi di rumah sakit. Saya sudah daftar online sebelumnya. Tiba di rumah sakit, saya langsung menuju petugas yang jaga dan lagi-lagi saya menemui pelayanan yang membuat saya ingin teriak bahwa kenapa kalian sebegitu tidak ramahnya menjadi petugas publik.
Tidak sampai di situ, ketika sudah masuk ruangan dokter, lagi dan lagi saya menjumpai dokter yang persis sama sikapnya. Entah karena memang sikapnya seperti itu atau mungkin jika karena melihat tampilan saya yang biasa-biasa saja, dia begitu ketus menjawab pertanyaan saya. Awalnya saya mengeluh gigi saya yang ngilu kemudian dia ingin memastikan gigi bagian mana yang ngilu. Saya menunjuk antara dua gigi atas sebelah kanan. Dia sepertinya tidak puas karena saya tidak memastikan yang mana namun saya juga tidak bisa mengetahui pastinya karena posisi ngilunya di bagian yang saya tunjuk.
Singkat cerita, dia begitu tidak sabar melayani saya padahal saya bayar pribadi dan tidak menggunakan BPJS. Saya berandai-andai, jika semua dokter seperti itu maka saya pribadi bakal jarang menemui dokter.
No comments:
Post a Comment