January 19, 2023

Menjaga Lisan (19)

Salah satu petaka paling berbahaya ketika manusia tidak mampu menjaga lisan. Ucapan yang terlontar biasa berbekas dalam waktu yang lama bagi orang yang mendengarnya. Maka alangkah bijak ketika setiap apa yang diucapkan bisa ditakar dengan matang dan tidak membuat orang lain terluka atas setiap lisan yang terucap.

Bukan, ini bukan tentang isu kritikan cak Nun terhadap presiden yang sedang trending di twitter. Sama sekali bukan.

Tulisan ini murni sebagai pengingat bagi diri pribadi karena tadi ketika di kampus, ada beberapa kalimat dan pertanyaan kepada kolega seharusnya tidak perlu kutanyakan. Apalagi aku sedang berintis tangga karir di tempat ini dan sedang berada di pijakan awal. Jika terlalu mencampuri hal-hal non teknis yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan karirku, maka nantinya akan menjadi batu sandungan yang seharusnya tidak terjadi.

Seiring dengan umur yang semakin menua, aku mulai menata semua apa yang harus aku ucapkan. Bukan tentang benar atau tidak namun tentang apakah itu baik untuk orang lain. Menakar semua hal yang harus saya ucapkan apalagi untuk diucapkan.

Aku mempunyai begitu banyak waktu luang untuk berbicara dengan diriku karena sedang menyepi sendiri di kos. Praktis senin sampai jum'at merupakan hari-hari kesendirian dan seharusnya bisa saya manfaatkan untuk lebih banyak merefleksikan hidup.

Kesendirian tidak selalu mendatangkan hasil refleksi dalam hidup seseorang, namun terkadang kesepian itu menelurkan sebuah perasaan bebas untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan merusak diri. 

Kesendirian dan kesepian sebenarnya dua hal yang berbeda. Kesendirian sifatnya lebih pada keadaan seseorang di ruang dan waktu tanpa ada orang lain di sampingnya sedangkan kesepian itu urusannya dengan hati. Bisa saja orang berada dalam kesendirian namun tidak kesepian karena hatinya sibuk untuk menakar diri dan hidupnya bahkan sibuk bercengkerama dengan Tuhannya. 

Seseorang yang berada di dalam keramaian bisa saja kesepian jika hatinya kosong dan tidak tahu tujuannya.

Maka selama berada dalam kesendirian, saya mencoba untuk melihat jauh ke dalam diri saya, apa sebenarnya yang harus saya tuju di dunia ini agar hidup lebih bermakna. Dalam artian tidak harus sesuatu yang luar biasa di mata manusia namun lebih pada kemanfaatannya.

Menjaga lisan adalah satu satu refleksi termasuk juga langkah awal untuk menentukan arah ke depan. Lisan seringkali menjadi batu sandungan jika tidak dijinakkan.


#19 2023

January 18, 2023

Beli Motor (18)

Setelah sepuluh tahun bekerja di perusahaan, akhirnya untuk pertama kalinya saya membeli sepeda motor dan itupun motor bekas dengan harga yang super duper murah. Saya terkesan pelit karena tidak membeli motor selama sepuluh tahun bekerja namun karena belum menjadi kebutuhan sehingga saya memutuskan untuk tidak membeli motor.

Saat menjadi staf marketing di sebuah perusahaan penerbit, perusahaan menyediakan motor sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk membeli motor. Kemudian ketika pindah bekerja di Jakarta, kos saya sangat dekat dengan kantor alhasil saya tidak tertarik membeli motor. Itulah sebabnya kenapa selama sepuluh tahun bekerja, saya tidak pernah membeli motor.

Tibalah akhirnya saya pindah kerja di kota kembang. Tempat kerja saya terletak di tiga tempat meskipun jarak satu dengan yang lain tidak terlalu jauh namun tidak memungkinkan dijangkau dengan jalan kaki. Alhasil sejak minggu pertama di sini, saya sudah berniat untuk membeli motor bekas sebagai sarana mobilitas di kota ini.

Tentu saja saya mengandalkan aplikasi jual beli barang bekas untuk mencari motor yang sesuai dengan budget. Lebih dari sepuluh akun yang saya kirimi pesan untuk menanyakan motor yang diiklankan di aplikasi. Sebagian besar merespon pesan yang saya kirim namun hanya ada dua yang langsung saya cek kendaraannya.

Kemarin sore, saya janjian dengan salah seorang yang bekerja di transmart. Dia off jam tujuh malam sehingga saya yang datang ke lokasi tempat kerjanya. Motornya masih cukup mulus dan fisiknya juga tidak banyak yang tergores. Orangnya cukup bersahabat dan benar-benar ingin menjual motornya, namun ketika mengetahui pajaknya off empat tahun dan saya harus membayar pajak beserta dendanya sebesar satu juta enam ratus ribu, maka saya langsung mengurungkan niat untuk membeli motor tersebut.

Malam hari, saya kemudian chat dengan salah seorang ibu yang mengiklankan motornya di aplikasi. Setelah beberapa saat melihat foto motornya, saya tertarik dan kemudian berangkat ke lokasi mengecek kendaraan secara langsung. 

Saya menggunakan jasa ojek online menuju lokasi yang disepakati. Setiba di titik lokasi, ternyata saya salah mengetik titik tujuan di aplikasi ojek online. Titik lokasi bukan lokasi yang diberikan oleh si ibu. akhirnya semalam saya gagal mengecek langsung kendaraannya.

Esok harinya, saya kembali janjian dengan ibu di rumahnya untuk melihat motornya. Jarak kos ke lokasi sekitar enam km. Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah ibu karena patokannya tepat berada di depan taman bbws.

setelah melihat fisik kendaraan yang mulus, saya langsung tertarik. Saya masih mengamati setiap detailnya termasuk mengecek mesin dan surat-suratnya. Singkat cerita, kami deal di angka empat juta tujuh ratus lima puluh ribu. Harga yang menurut saya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan beberapa kendaraan yang diiklankan di aplikasi.

Akhirnya setelah sekian lama, saya membeli motor dari uang sendiri, meskipun motor bekas namun setidaknya saya berharap motor tersebut bisa menjadi alat bagi saya untuk memudahkan setiap aktivitas saya di kota ini.

Satu hal yang mengganjal karena plat motor B sedangkan saya berada di plat D. Bukan rahasia umum bahwa ada rivalitas yang sangat kental antara plat B dan plat D di bidang sepakbola bahkan sejarah rivalitas kedua kota tersebut cukup kelam. Beberapa tahun lalu, ada fans dari plat B yang meninggal dikeroyok di kota ini, bahkan sering kali kendaraan plat B dirazia di kota ini, itu yang menjadi satu-satunya kekhawatiranku menggunakan motor plat B di kota ini.

Semoga tidak terjadi apa-apa

#18 2023

January 17, 2023

Keadaan tak Menyenangkan (17)

Semalam saya balik dari Jakarta ke kota ini. Saya sengaja memesan travel yang berangkat agak malam karena beberapa hal, selain karena pool travel yang dekat dari rumah juga karena di malam hari, lalu lintas sudah tidak terlalu ramai.

Perkiraanku untuk tiba di kota ini tidak meleset, butuh waktu hanya sekitar tiga jam. Saya masih harus memesan ojek online dari tempat pemberhentian travel ke kos, mungkin jaraknya sekitar empat km, artinya bahwa hanya butuh waktu kira-kira lima belas menit untuk sampai di kos jika tidak macet. Tentunya kemungkinan macet sangat kecil karena jam sudah menunjukkan angka dua belas malam.

Dalam beberapa kali kesempatan menggunakan ojek online di kota ini, saya selalu menemui driver yang cukup bersahabat dan tidak ada permasalahan. Mereka cukup ramah jika dibandingkan dengan driver ojek online di Jakarta yang terkadang menampakkan muka datar.

Semalam saya menjumpai driver yang kurang bersahabat. Entah mungkin dia sudah capek atau seperti apa namun menurut saya, dia memberikan kesan yang tidak terlalu baik. Pertama kali saya menjumpai kesan kurang hangat yang ditunjukkan tukang ojek online selama seminggu menggunakan jasa ojek online di kota ini.

Perjalanan lancar saat dia menjemput saya di SPBU menuju kos saya yang terletak di daerah Batununggal. Setiba di lokasi, dia bertanya mengenai jalan menuju kos saya, berhubung karena saya belum benar-benar hapal jalanan, saya mencoba mengingat-ingat patokan jalan menuju kos. Ketika dia mengetahui bahwa saja bukan orang asli di sini, raut mukanya berubah.

Saya tidak tahu persis kenapa sikapnya berubah karena kami tidak kesulitan untuk sampai di depan kompleks kos. Saat turun dari motor, dia sedikit komplain atas titik lokasi yang saya klik di aplikasi. Akhirnya saya menunjukkan bahwa lokasi yang saya pilih di aplikasi sudah sesuai dengan lokasi kos. Saya bahkan menunjukkan nama jalan yang tertulis di pinggir jalan. Dia langsung pamit pergi ketika saya hendak menunjukkan nama jalan.

Setiba di kos, saya berpikir bahwa selalu saja ada orang atau ada hal yang mungkin tidak berkenan di hati. Saya harus siap untuk semua kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi termasuk interaksi dengan orang lain yang mungkin saja tidak berjalan dengan baik. Saya hanya ingin memastikan bahwa sikap saya tidak menzalimi orang lain.

Di manapun kita berada, semesta akan selalu memberikan kita dua keadaan yang berbeda. Sikap kita hanya bagaimana menyikapi keadaan yang mungkin saja terjadi di luar kontrol diri kita. 

Jangan jumawa ketika berada di atas dan jangan berkecil hati ketika sedang berada di bawah.

 

 #17 2023

January 16, 2023

Senin (16)

Tidak salah jika banyak orang beranggapan bahwa bekerja itu capek namun lebih melelahkan ketika tidak bekerja. 

Hari ini, biasanya saya sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat ke kantor. Namun kali ini saya tidak melakukan apa-apa, hanya mengantar istri saya ke kantor kemudian kembali ke rumah dan tidak sepanjang hari. Begitu mengerikannya jika tidak ada kegiatan yang harus dilakukan.

Hari ini memang menjadi senin pertama saya sudah tidak bekerja di kantor lama. Sebuah kondisi yang cukup membuat diri saya baik fisik maupun psikis untuk beradaptasi dengan hal baru. Sembilan tahun menjalani proses yang sama di kantor sebelumnya tentunya menimbulkan semacam gerak mekanis di diri saya, namun semuanya berubah setelah memutuskan untuk keluar dari perusahaan.

Sebenarnya saya hanya pindah tempat kerja namun berhubung pekerjaan baru yang saya jalani berbeda dengan perusahaan yang sebelumnya maka tentunya banyak hal yang kemudian harus saya pelajari untuk tetap survive.

Jika sebelumnya saya sudah cukup memahami pekerjaan yang harus saya lakukan namun di tempat kerja yang baru, semua serba dari awal, bahkan membutuhkan energi dan effort yang lebih untuk belajar karena selain hal-hal administratif, saya juga harus menghadapi orang lain, artinya bahwa jika saya tidak berhasil memahami bidang saya maka tentunya akan tidak tersampaikan dengan baik.

#16 2023

January 15, 2023

Amal (15)

Hari jum'at kemarin merupakan jum'at terakhir saya tercatat sebagai karyawan di kantor yang sudah saya tempati sejak 9 tahun lalu. Ada banyak hal ingin saya tulis tentang kenangan di kantor tersebut namun pada akhirnya tidak semua harus saya sampaikan. Ada memori yang sebaiknya disimpan sendiri jika tidak bermanfaat untuk diceritakan.

Saya memutuskan untuk salat jum'at di masjid belakang. Mayoritas teman kantor salat jum'at di masjid DT yang jaraknya lumayan jauh dari kantor, namun beberapa bulan terakhir, saya lebih sering salat di masjid belakang. Selain karena jaraknya dekat akses jalannya juga tidak terlalu ramai dengan kendaraan.

Khutbah Jum'at membawa kisah tentang seorang pencari ilmu dari kaum Quraish yang memiliki cukup banyak kitab, bahkan dia memiliki berpeti-peti kitab namun tetap saja tidak puas akan ilmu yang diperolehnya.

Dari kisah tersebut, khatib menjelaskan lebih lanjut mengenai ilmu menjadi tidak bermanfaat karena tiga hal:

  • Cinta dunia. Ketika seorang pencari ilmu terlalu cinta dunia maka kemungkinan ilmu yang dimilikinya tidak akan bermanfaat bagi orang lain. Itulah sebabnya ketika kita menjumpai seseorang yang memiliki keluasan ilmu namun karena orientasinya cinta dunia maka seringkali ilmunya tidak bermanfaat.

  • Berteman dengan setan. Sederhananya bahwa orang yang berteman dengan setan adalah orang yang keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh agama.

  • Zalim kepada orang lain. Banyak hal yang berkaitan dengan tindakan zalim kepada orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Itulah kenapa kita sebaiknya memperbanyak minta maaf kepada orang lain karena bisa saja kita merasa tidak menzalimi orang lain namun atau ucapan dan tindakan kita yang tidak berkenan di hati orang lain.

Saya selalu percaya bahwa apa yang kita dapatkan dari sebuah majelis biasanya berkaitan dengan apa yang sedang kita jalani. Saya sedang dalam proses mencari ilmu dan menyebarkan ilmu sehingga dari khutbah tersebut, saya bisa mengambil pelajaran bahwa untuk menghindari ilmu saya yang mungkin saja tidak bermanfaat maka saya harus menghindari tidak hal yang dijelaskan oleh khatib.

#15 2023

January 14, 2023

Coaching (14)

Saya akhirnya menjalani salah satu proses di kampus ini yaitu coaching dengan ka prodi pada hari kamis. Sebenarnya bukan pada teknis coaching namun lebih pada pengenalan berbagai hal tentang teknis maupun non teknis yang harus saya jalani selama proses menjadi bagian di kampus ini.

Ada begitu banyak tetek bengek administrasi yang tentunya tidak bisa saya pelajari sekaligus. Butuh waktu untuk memahami satu persatu dengan cara learning by doing. Tahapan yang sudah saya perkirakan sebelumnya bahwa tidak ada proses yang mudah namun di satu sisi juga tidak ada yang sulit, semua tergantung bagaimana menjalani proses dengan mindful untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Ada 14 file yang harus saya persiapkan sebelum kelas dimulai. Sebuah proses persiapan yang cukup banyak mengingat saya sama sekali masih baru dalam bidang ini. Dokumen tersebut sudah harus selesai dalam jangka waktu tertentu untuk memperlancar pembelajaran.

Saya cukup kaget karena selain tim yang masih minim, saya langsung dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang masih baru. Ada berbagai banyak kekhawatiran yang menggelayut di pikiranku namun selalu saya yakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri tanpa paksakan orang lain makanya saya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah saya putuskan.


#14 2023

January 13, 2023

Tujuan (13)

Baru genap tiga hari saya beraktivitas di tempat yang baru dengan bidang yang sama sekali masih baru. Semua hal-hal idealis di kepala saya seketika mulai tenggelam dengan proses yang akan saya lalui. Salah satu tantangan terbesar adalah latar belakang pendidikan saya yang tidak persis sama dengan jurusan tempat saya bernaung. 

Hal ini sangat mengganggu proses adaptasi saya apalagi di hari pertama, saya sudah diberikan bocoran bahwa akan mengampu bidang tentang ekonomi. Sebuah bidang yang tentunya tidak asing namun bukan spesialisasi saya yang lebih pada bidang politik. Berkali-kali saya memastikan diri bahwa saya bisa melewatinya namun setiap kali membaca beberapa bahan terkait subjek yang harus saya kerjakan, terbayang kesulitan karena teori dasarnya pun saya tidak kuasai.

Pada dasarnya, masih ada keterkaitan antara spesialisasi saya dengan bidang yang sekarang diamanahkan kepada saya namun lebih banyak ketidaksesuaiannya. Entahlah mungkin karena saya terlalu terburu-buru untuk memutuskan mengambil kesempatan ini. Namun di sisi lain, jika saya mengabaikannya maka tentunya saya khawatir kesempatan kedua tidak akan menghampiri lagi.

Kemudian apa yang menguatkan saya untuk menjalani proses yang sedang saya jalani meskipun nampaknya cukup berat? Tentunya ada pada kata "niat."

Saya memiliki beberapa alasan sehingga memilih untuk putar haluan dari pekerjaan sebelumnya ke bidang yang sekarang saya geluti meskipun masih sangat baru. Namun alasan utama adalah sebuah nilai yang saya yakini. Life values itulah yang kemudian akan selalu menguatkan saya setiap kali saya merasa tidak bisa dan ingin mundur.

Saya sudah menguatkan hati bahwa apapun tantangannya, saya harus menerobos saya pada kemampuan maksimal saya karena jika saya balik arah, konsekuensinya cukup berat, saya hanya akan ngendon di rumah sedangkan isteri saya yang memikul beban. Saya sama sekali tidak mau hal tersebut terjadi karena tulang belulang isteri saya sudah cukup lelah secara fisik maupun psikis menemani hidup saya. Minimal saya punya sedikit andil untuk menyenangkan hatinya dengan melihat saya tetap berdiri di tempat ini dengan segala beban yang ada.

Kembali lagi ke niat bahwa tujuan saya bekerja adalah bagaimana fokus pada tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas diri termasuk nilai ibadah. Saya sedang berusaha untuk mengukur diri dari setiap hal yang saya lakukan termasuk pada hal-hal terkecil apalagi jenis pekerjaan yang harus saya tekuni selama hidup.

Saya meyakinkan diri bahwa bidang yang saya jalani sekarang bisa membawa saya ke arah yang lebih baik dan tidak ragu atas setiap apa yang saya dapat dari sini sepanjang saya benar-benar melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

#13 2023

January 12, 2023

Rapat (12)

Hari ini, pertama kalinya saya ikut rapat fakultas yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa bekerja di tempat dan bidang apapun pada dasarnya sama saja. Saya sudah menyadari hal tersebut sebelum memutuskan untuk pindah kerja, namun keputusan tetap saya ambil bukan karena menghindari pekerjaan sebelumnya namun berkali-kali saya sampaikan bahwa ada nilai yang coba saya perjuangkan. 

Jika seandainya pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran saya, maka setidaknya saya tidak mati penasaran karena sudah menjalani dan masuk di dalamnya. Namun jika sesuai dengan target yang saya impikan, maka apa yang saya kerjakan mengarahkan saya pada hidup yang saya jalani dengan tenang.

Rapat fakultas membahas tentang segala hal teknis bukan hanya tentang kegiatan belajar mengajar namun juga tentang faktor pendukung. Ada begitu banyak deadline yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, sehingga tentunya akan menyita waktu para pengajar untuk melakukan penelitian yang berkualitas.

Saya baru menyadari bahwa keluhan sebagian besar tenaga pengajar tentang banyaknya tugas administrasi, benar adanya. Mereka seringkali terdistraksi namun melakukan penelitian yang berkualitas karena tugas tambahan yang tidak ada habisnya. Tentunya ada yang tetap survive dengan keadaan seperti itu namun sebagian besar menyerah dan hanya sekadar mengikuti pola yang ada.

Bayangan saya di dunia akademisi adalah adanya iklim dialektika yang berlangsung terus menerus untuk melahirkan berbagai karya demi kemanusiaan dalam bidang apapun, namun ternyata mereka yang seharusnya melahirkan ide-ide segar ternyata sudah tidak punya energi karena kehabisan bensin mengerjakan tugas administrasi.

Saya menyadari bahwa apa yang akan saya lalui tidak lebih mudah dari proses yang saya lalui di perusahaan sebelumnya. Bayang-bayang tentang dunia yang penuh dengan dialektika samar-samar meredup diganti dengan kesibukan mengurusi semua persoalan administrasi dan teknik lainnya yang hanya bersifat pendukung dalam dunia pendidikan.

Hambatan terakhir mungkin seperti yang dikeluhkan sebagian orang yang berkecimpung di dalam bidang ini bahwa finansial tidak terlalu besar sebagaimana kita bekerja di korporasi. Namun begitulah konsekuensi dari semua pilihan sehingga saya selalu meyakinkan diri bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan materi khususnya uang. Ada nilai yang tidak bisa terbeli dengan uang dan itu sangat besar implikasinya terhadap hidup seseorang jika digadaikan begitu saja. Namun kembali ke masing-masing pribadi. Semua orang punya prioritas hidup  yang tidak bisa saling diperbandingkan. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya hanya dengan menilai hal-hal yang empirik.

Saya mencoba untuk meraba strategi apa yang harus saya gunakan untuk tetap produktif ke depannya tanpa mengabaikan tugas tambahan.

#12 2023

January 11, 2023

Tinggal di Kos (11)

Setelah sekian lama sekitar 8 tahun yang lalu, terakhir kalinya saya tinggal di kos di daerah Jakarta Timur. Tahun ini, kemungkinan saya akan merasakan suasana kos di kota lain. Sebuah siklus kehidupan yang berulang. Jika bedanya dulu saya masih bujang dan harus tinggal di kos, sekarang saya sudah punya keluarga dan terpaksa tinggal di kos karena bekerja di kota yang berbeda dengan keluarga.

Cukup berat untuk ukuran saya dengan kondisi sekarang untuk memulai hal yang baru bahkan dengan pendapatan yang tidak sebesar sebelumnya namun saya paham bahwa ini konsekuensi dan saya keputusan ini saya ambil secara pribadi tanpa ada paksaan sama sekali dari siapa pun.

Perkara mencari kos semacam mencari jodoh, terkadang bagus namun tidak jodoh. Seringkali sudah diincar dalam waktu lama tetapi tidak berjodoh namun kadangkala hanya sekali liat dan langsung cocok.

Untuk sementara, kos yang saya sewa tempati saat ini cukup layak untuk ukuran saya sebagai pemula di kota ini. Letak kos tepat berada di belakang kampus sehingga tidak butuh waktu untuk berangkat ke kampus. Bangunan kos masih baru namun hanya terdapat empat kamar. Hal tersebut karena bangunan tersebut hanya merupakan sisi luar dari rumah sang pemilik yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal, alhasil, si pemilik memutuskan untuk merenovasi sebagai rumah kos.

Awalnya ibu kos agak berat menerima saya karena kos tersebut ditujukan untuk perempuan. Ibu kos berpandangan bahwa alangkah baiknya untuk perempuan saja karena risiko lebih kecil apalagi dia jarang di rumah karena masih bekerja di salah satu instansi pemerintah. Namun setelah saya menjelaskan bahwa aktivitas saya di kampus dan sudah berkeluarga, maka dengan sedikit berat hati, si ibu kos menerima saya menempati kamar nomor dua.

Ibu kos sangat ketat sebelum menerima saya. Awalnya saya hanya berkomunikasi lewat telepon namun dia tidak mau menerima saya jika tidak bertemu langsung. Akhirnya saya harus menunggu sore hari karena dia biasanya pulang kantor jam 4 sore. Setelah bertemu, banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang disampaikan kepada saya. Salah satunya adalah mewanti-wanti saya untuk tidak membawa perempuan ke kamar.

Setelah semalam tidur di kos, saya cukup merasa aman dengan berbagai kondisi yang ada. Lingkungannya cukup aman dan tidak berisik. Kondisi bangunannya cukup bersih karena masih baru dan hawanya tidak panas sehingga di malam hari, saya tidak harus menggunakan kipas angin.

#11 2023

January 10, 2023

Anak Saya Sudah Mengerti (10)

Pagi tadi sekitar jam sepuluh, tiba-tiba saja istri saya mengirimi sebuah pesan yang berhasil meruntuhkan pertahanan diri saya sebagai seorang pejuang LDR. Pesan singkat melalui wa yang mengiris lubuk hati terdalam. Istri saya mengirimi pesan dengan redaksi seperti ini:

"Damar teko omah iso omong aq setiap tahu motor ingat papa."

Hati saya runtuh dan bulir-bulir air di sudut mata berhamburan. Perih rasanya menyadari bahwa anak saya satu-satunya ternyata sudah mendemonstrasikan perasaannya tentang ketidakberadaan saya di rumah. Memang sejak dia lahir sampai di saat umurnya yang sudah menginjak lebih dari enam tahun, saya tidak pernah meninggalkannya terlalu lama. Maksimal seminggu dalam sebulan ketika saya sedang ada tugas audit di luar kota.

Namun kali ini, saya benar-benar pergi untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal di kota yang berbeda. Meskipun saya masih bisa pulang setiap weekend karena jarak kota tempat saya tinggal hanya sekitar 3 jam, namun tetap saja bahwa ada sesuatu yang hilang. Dia sudah terbiasa menyambut saya setiap kali pulang kantor dan sekarang tidak bisa lagi dia lakukan setiap sore menjelang malam.

Saya menyadari bahwa saya terlalu mengabaikan perasaannya. Saya tidak mencoba untuk mengerti apa yang dia rasakan selama saya harus pergi di minggu sore dan baru pulang ke rumah di malam sabtu. Mungkin saya adalah seorang ayah yang egois karena mementingkan karir namun apa daya, pilihan sudah ditetapkan dan harus dijalani karena mudharatnya lebih besar jika saya meninggalkan pekerjaan dan harus di rumah tanpa ada kegiatan apa-apa.

Saya terlalu menggampangkan persoalan LDR karena melihat teman-teman saya banyak yang LDR bahkan mereka tidak sempat pulang seminggu sekali karena jarak yang cukup jauh dan biaya yang mahal. Ternyata jauh dari anak bukan persoalan mudah yang bisa dinarasikan dalam sebuah komitmen dan tidak semudah ketika diucapkan. Jauh dari anak merupakan pekerjaan berhari-hari untuk menguatkan hati dan perasaan mendalam atas kerinduan terhadap seorang anak.

Ada banyak cerita tentang seorang ayah yang jauh dari anak istri namun di lain sisi, ada juga cerita tentang seorang ayah yang memutuskan untuk bekerja apa saja untuk tetap bersama dengan anak istri. Cerita kedua datang dari teman saya yang memilih sikap untuk tidak akan pernah jauh dari anak istrinya. Dia akan memutuskan untuk resign dari perusahaan jika seandainya dia dimutasi keluar kota yang mengharuskan tinggal jauh dari anak istrinya.

Saya mengapresiasi sikapnya yang mampu menjaga komitmen untuk tetap dekat dengan anak istrinya sementara saya memutuskan untuk bekerja di kota lain karena tidak ingin membebani istri saya sebagai pencari nafkah.

Hidup adalah jalan sunyi masing-masing manusia dengan segala dinamikanya. Saya yakin bahwa semua manusia punya strategi hidup masing-masing dengan segala pertimbangannya, saya pun demikian. Salah satu pertimbangan terbesar saya dalam menjalani hidup adalah menjaga apa yang masuk ke dalam perut. Saya sekuat tenaga untuk menjaga kebersihan nafkah yang akan kami makan sekeluarga sekalipun harus jauh dari anak istri.

Ini baru permulaan dan saya sudah mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menahan rindu saya terhadap anak. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa ke depannya karena perjuangan baru saja dimulai.

Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana awal.

#10 2023

January 9, 2023

A Day in My Life (9)

Hari saya akan memulai hari yang baru. Subuh dini hari, saya sudah bangun dan menenangkan diri sambil merapalkan berbagai doa semoga Sang Maha menemani dan memampukan saya melewati semua proses hari ini. Salah satu fungsi doa ada untuk meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Selepas subuh, saya melanjutkan tidur karena badan masih terasa penat. Saya baru terjaga sekitar pukul tujuh kurang 10 menit. Ada pesan wa dari isteri memastikan bahwa apakah saya sudah memberitahukan pihak kampus bahwa saya sudah di kota ini.

Berhubung karena saya belum memberitahukan pihak SDI, saya kemudian mengirimi kabag SDI pesan via wa bahwa saya sudah di lokasi. Pihak SDI menyampaikan bahwa jam sembilan saya melapor ke kampus I.

Berhubung penginapan ke kampus tidak terlalu jauh, maka saya memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati suasana baru. Hanya butuh sekitar 7 menit untuk tiba di kampus. Setelah menunggu beberapa saat, saya bertemu dengan bagian SDI dan menandatangani kontrak. Setelah itu saya diperkenalkan dengan semua staf administrasi di rektorat kemudian selanjutnya diantar ke kampus 2.

Di kampus 2 ini terdapat beberapa ruang kelas dan juga ruang untuk staf pendidik. Saya hanya menemui satpam kampus karena perkuliahan sedang libur. Ruangan saya di lantai 3 dan rekan yang lain belum ada yang masuk. Beberapa menit setelah menunggu di ruangan, salah seorang rekan datang dan ruangannya persis di samping saya.

Saya kemudian ditelepon oleh pimpinan fakultas dan diarahkan ke kampus 3 untuk perkenalan. Jaraknya tidak terlalu jauh namun tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Saya menumpang mobil ibu rektor yang juga akan berkunjung ke kampus 3. 

Setiba di sana, saya melihat kampus yang hanya 1 bangunan dan berada di dalam kompleks perumahan. Saya bertemu dengan dekan yang sedang duduk di bawah kemudian diajak mengobrol seputar pekerjaan.

Salah satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah beberapa subjek benar-benar tidak sama persis dengan latar belakang pendidikanku. Saya mulai berpikir, strategi apa yang harus kugunakan untuk tetap survive karena saya sudah memilih untuk di sini dan tidak ada jalan lagi untuk pindah. Artinya bahwa apapun harus saya lakukan untuk membuktikan kapasitas diri saya dalam bidang yang akan saya tekuni.

Bukan untuk mencoba memaksakan diri namun lebih pada sebuah adaptasi di dunia yang baru. Dunia yang saya pilih untuk fase hidup selanjutnya. Bidang ini merupakan pilihan sadar saya dari berbagai macam pilihan yang ada maka dari itu, saya pantang untuk mundur hanya karena mendapat tantangan.

 #9 2023

January 8, 2023

Mulai Dari Titik O (8)

Sampailah akhirnya di kota ini seorang ini untuk memulai hal-hal baru, meninggalkan keluarga di rumah dan mengikhlaskan diri untuk kembali menjadi anak kos demi sebuah harapan yang berusaha untuk diwujudkan. Berat memang namun saya rasa hidup seharusnya seperti itu, memicu percikan yang tak terduga sehingga kita selalu berharap pada Sang Maha Segala.

Saya tiba di kota ini tadi sore sekitar setengah lima dengan menggunakan mode transportasi kereta. Kepala saya lumayan pusing karena tempat duduk saya berlawanan arah. Saya seringkali pusing jika naik kereta yang tempat duduknya menghadap berlawanan dengan laju kereta. 

Saya kemudian menggunakan transportasi online menuju penginapan yang sudah saya booking secara online sehari sebelumnya. Penginapan tersebut tidak terlalu jauh dari kampus. Kondisi penginapan sangat standar karena sesuai dengan harganya yang lumayan murah. Tidak ada air mineral maupun pemanas air di kamar. Saya harus ke warung jika ingin menikmati secangkir kopi.

Besok pagi saya sudah memulai aktivitas yang baru. Bidang yang benar-benar baru bagi saya dan menyisakan kekhawatiran dalam pikiran. Apakah saya mampu menjalani proses yang tentunya penuh dengan tantangan yang tentunya tidak ringan. Salah satu kekhawatiran yang memenuhi kepala saya bahwa apakah saya bisa mengajar dengan baik sedangkan pengalaman mengajar saya hanya ketika ikut menjadi tutor beberapa kali sebuah program english day beberapa tahun yang lalu.

Selain itu, jurusan ini tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Tentunya juga akan cukup menyulitkan karena harus memulai dari awal. Kenapa saya mendaftar di kampus ini jika tidak sesuai dengan jurusan saya? Alasan pragmatisnya karena pihak kampus menerima lulusan dari jurusan saya.

Momen awal yang seringkali menentukan dalam setiap peristiwa yang selanjutnya akan dilalui jadi saya pikir bahwa besok adalah penentuan apakah langkah saya akan mulus untuk hari ke depannya. Meskipun mungkin masih dalam proses perkenalan namun setidaknya bahwa saya harus menampilkan kesan pertama, bukan untuk pencitraan namun lebih pada sebuah penerimaan di tempat yang baru.

saya punya rencana jangka panjang jika proses yang akan saya jalani berjalan dengan baik. Saya rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya maksimal dua tahun untuk meniti karir dan menegaskan otoritas keilmuan saya di bidang yang saya tekuni. Tentunya tidak mudah karena banyak proses administrasi yang harus dijalani, namun saya harus merencakan dari awal sehingga waktu tidak terbuang dengan sia-sia mengingat usia saya sudah tidak muda lagi untuk memulai bidang yang baru.

Lihat bagaimana prosesnya besok. Semoga berjalan dengan lancar.

 #8 2023

January 7, 2023

Sehari Menjelang Keberangkatan (7)

Saya benar-benar akan meninggalkan rumah untuk waktu "mungkin" lama. Perasaan seperti ini terakhir saya rasakan ketika tamat SMA dan akan melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi. Ketika itu, ada rasa berat untuk meninggalkan rumah bukan hanya dalam artian bangunan, namun rumah dalam arti sebenarnya yaitu orang tua dan keluarga lain. Saya kira mayoritas orang yang akan merantau mengalami perasaan seperti yang saya rasakan.

Kali ini, momen seperti itu kembali berulang dengan konteks yang sedikit berbeda. Jika dulu saya sebagai anak yang harus meninggalkan orang tua, maka situasinya sekarang berbalik, saya sebagai seorang ayah harus meninggalkan putra saya yang baru berumur enam tahun. Paling cepat saya balik seminggu sekali sehingga momen ini menjadi salah satu momen tersulit dalam hidup saya sejak menikah.

Hari ini saya manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan anak isteri dengan makan di luar. Merayakan momen yang sebentar lagi akan tiba. Momen di mana kami harus berpisah selama seminggu dan hanya memungkinkan bertemu di akhir pekan atau bahkan mungkin bisa jadi sekali dalam dua minggu.

#7 2023