December 12, 2020

Hal-hal yang Kusyukuri hari ini (4)

 Hal-hal yang patut kusyukuri hari ini (12/12/2020)


  • Tugas saya audit di Batam berjalan dengan lancar dan selesai pada waktu yang ditentukan

  • saya pulang ke Jakarta pagi hari dan masih sempat mengikuti kuliah online. tidak ada kuliah saya yang terlewatkan hari ini meskipun sedang dalam perjalanan

  • Saya tiba di rumah dengan selamat dan keluarga di rumah sehat semua

  • Saya bersyukur jadwal rapid test anak saya di halodoc jln. bangka raya dibatalkan tiba-tiba oleh admin halodoc. kami kemudian mencari tempat rapid test yang lain dan ternyata ada di Simatupang yang sangat dekat dengan rumah dengan harga yang lebih murah

  • Saya bersyukur, tiga jam kemudian, hasil rapid test anak saya sudah diemail dan hasilnya non-reaktif.

December 10, 2020

Hal-hal yang Kusyukuri hari ini (3)

 hal yang patut kusyukuri hari ini (10/12/2020)

  1. saya bersyukur baik baik saja sepanjang hari ini
  2. saya bersyukur pekerjaan saya lancar hari ini
  3. saya bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi pada saya hari ini
  4. saya bersyukur untuk banyak hal

Hal-hal yang Kusyukuri hari ini (2)

 Hal-hal yang patut kusyukuri hari ini (9/12/2020)

1. Saya bersyukur bangun dengan perasasaan yang lebih tenang tanpa ada hal yang perlu kukhawatirkan

2. Saya bersyukur anak saya sehat hari ini, isteri maupun mertua

3. Saya bersyukur Jualan isteri saya laku lumayan banyak hari ini

4. Saya bersyukur tiba di Batam dengan selamat tepat waktu.



December 8, 2020

Hal-hal yang Kusyukuri hari ini (1)

Hal-hal yang patut kusyukuri hari ini (Selasa, 8/12/2020)

1. Saya bersyukur tadi sore, saya rapid test di laboratorium Westerindo dan tiga jam kemudian, hasilnya non-Reaktif. setidaknya saya sedikit lega karena selalu was-was dengan keluarga di rumah.

2.  Saya bersyukur saat berangkat ke kantor, ban motor pecah di tengah jalan namun saya tidak jatuh. meskipun harus mendorong motor untuk mencari tukang tambal ban, namun tidak jauh dari tempat itu, saya menemukan tukang tambal ban. saya pun tidak terlambat tiba di kantor

3. Saya bersyukur, saya bekerja dengan baik di kantor tanpa ada kesalahan yang saya lakukan.

4.  Saya bersyukur karena masih kerja 1 kota dengan isteri saya sehingga tidak harus hidup LDR.

5.  Saya bersyukur karena anak saya diberikan Kesehatan dan perkembangannya sangat baik. Dia sudah berumur 4,5 tahun.

6.     Saya bersyukur karena jualan isteri saya laku 4 pcs

 

December 6, 2020

Bandara Hasanuddin

Duduk di ruang tunggu. menunggu pesawat membawaku ke Ibu kota. seharusnya 12.40 wita, namun harus delay 2 jam. menurut petugasnya bahwa saat akan landing di bandara hasanuddin, cuaca tidak mendukung sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pesawat putar arah ke bandara balikpapan. saat ini memang sedang musim hujan. Makassar seguyur hujan sepanjang waktu.

Di bandara ini, saat mencoba untuk memanggil kembali semua kenangan tentang kota ini, namun ternyata rasanya sudah berbeda. mungkin karena saya sudah terlalu lama merantau sehingga sudah tidak ada perasaan sentimental yang muncul tentang kota ini atau mungkin juga karena teman-teman lama sudah tidak ada

sepuluh tahun yang lalu. kota ini semakin tumbuh dari segi pembangunan. bandaranya direnovasi dan semakin luas. flyover dibangun dimana-mana seakan ingin berusaha mengejar Ibu kota yang semakin dipadati bangunan. entahlah, apakah sebuah keniscyaan bagi manusia untuk terus membangun susunan batu dan semen dalam rangka peradaban mereka atau mungkin juga manusia sedang berusaha memuaskan nafsunya yang tidak disadari bahwa nafsu duniawi tidak akan pernah tercukupi.

apakah kemajuan peradaban selalu identik dengan pembangunan tanpa melihat manusianya yang semakin kehilangan diri mereka

November 9, 2020

Jalan Diri

When I was a young, I guess life will be running well when someone has already married. Happiness will come to us by spending life full of joyness. I think everybody being wise by time without any effort to achieve it, in fact, all of that come to me with the other fact. getting married and having child don't makes my life so easly, in contrary, all things being hard and I'm falling down by comparing my life with others. a lot things poising my life and I allow al of it a part of my daily life.

I always pay attention to other people hava without realising what I already have. In every single things, I blame myseft by wasting my time with doing nothing and suddenly I see myself living in another space. I put so much effort to avoid every bad thing but, its getting difficult. the soul isn't like a part of body, when we want to make clean, just take a bath.

Life is about shifting problem by problem. as long as we still breath means that we're facing problem. none can escape from the problem. 

Buddhism teaches us that whatever causes our suffering has its roots in the Three Poisons: Ignorance, Hate, and Greed.

We always create our own poison and then drink it consciously. 

How to identify it?

We have to defeat our ego and talking to myself, what actually really life we want? what's the kind of things that must be decreased?

October 24, 2020

Kedaulatan Diri

Diri kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk hal yang nampaknya tidak kita butuhkan, alih-alih bermanfaat bahkan seringkali menjadi semacam toxic bagi diri kita. pernahkah kita mencoba untuk merendahkan sedikit saja ego kita untuk berbacara ke dalam diri. duduk di tepian bukit sambil menyelami apa sebenarnya yang bergejolak di dalam diri kita. jawaban-jawaban jujur seringkali datang dari dalam diri kita tentang diri dan hidup kita.

Tidak mudah memang untuk menundukkan sedikit ego dari variabel di luar diri kita, tidak mudah untuk sekedar duduk melepaskan pengaruh dari luar diri dan menyelami diri sendiri, tidak mudah untuk melakukan hal-hal yang tidak mempunyai prestise bagi keegoan diri, namun jika dilatih dalam waktu yang panjang, jawaban tentang hidup yang paling jujur akan kita dapatkan.

Mari kita renungi beberapa hal tentang diri kita sendiri dan tidak perlu untuk menunjuk orang lain. cukup beranikan diri untuk jujur terhadap jejak-jejak yang telah kita lewati.

Saya misalnya. begitu banyak hal yang saya sesali dan ingin saya ulangi tanpa pernah mengukur bahwa apa yang telah saya capai mungkin melebihi dari kepantasan diri saya sekarang. jika saya pun diberikan waktu untuk mengulang apa yang ada di angan-angan saya, besar kemungkinan hal terburuk yang saya dapatkan dari yang sekarang. 

Atau seberapa sering kita mengukur kebagiaan kita dengan kehidupan orang lain. membandingkan diri dengan kondisi orang lain adalah dosa terbesar kita terhadap diri kita. pernahkah kita sedikit saja berterima kasih terhadap tubuh kita yang sudah kita eksploitasi dari waktu ke waktu? atau jangan-jangan kita merasa punya otoritas mutlak terhadap jasad ini sehingga tidak ada sedikit pun rasa terima kasih dan bahkan membandingkannya dengan yang lain.

Ketika saya menyewa kamar kos 4x5 m. saya selalu berangan-angan seandainya saya bisa ngekos dengan ruang yang sedikit lebih lega. setahun kemudian, saya menyewa ruangan yang lumayan lapang dengan kamar mandi dan dapur namun saya kembali berangan-angan seandainya saya bisa menyewa kontrakan yang ada kamarnya karena sudah berkeluarga. hanya berselang beberapa bulan, saya kembali pindah kontrakan yang memiliki 1 kamar tidur. namun ternyata tidak sampai di situ, angan-anganku kembali berlari ke depan membayangkan rumah kontrakan yang ada ruang tamu. Tuhan maha baik, saya disanggupi mengontrakan rumah dengan  2 kamar, ruang tamu, dan ruang tengah. 

Apa yang terjadi, apakah saya puas?
ternyata tidak

Saya kembali memimpikan membeli rumah, namun lagi-lagi, Tuhan memberikan saya kemampuan untuk menyicil rumah. setelah itu, kepuasan tidak jua hadir dalam diri saya. angan-angan terus melambung tinggi menginginkan sesuatu yang belum dimiliki. 

Sampai kapan angan-angan itu berhenti melampaui diri kita?

Pada satu titik ketika ketika berbicara serius dengan diri kita. apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi prioritas hidup. sesuatu yang kasat mata seringkali tidak mampu menembus ketenangan hati namun sebaliknya, jika kebijaksanaan sudah menghampiri, semua sudah sirna karena bahagia sudah terpatri dalam sanubari.

Mari kita membiasakan diri berdua dengan diri kita berbicara satu sama lain.

#Renungan

October 23, 2020

Postingan ke-1000

Sebelumnya saya berencana untuk mengupload tulisan yang Postingan ke-1000 tepat pada 10 tahun blog ini saya buat namun sedikit agak terhambat. postingan pertama di blog ini pada Juli 2010 dan menjadi sangat spesial jika pada Juli 2020, saya memposting tulisan Postingan ke-1000 tetapi pada Juli 2020 yang lalu, tulisan masih di angka 970an, itu berarti saya harus ngebut menulis 30an tulisan dalam satu bulan yang menurut saya tidak masuk akal dari segi kualitas tulisan, jika cuma untuk kejar target, bisa saja saya memposting tulisan apa saja namun saya sudah berjanji untuk lebih rapi dalam menuangkan ide-ide di blog ini.

Jika konsisten dalam menulis minimal 10 tulisan dalam sebulan, kualitas tulisan akan semakin terasah. hanya saja angan tidak selalu sejalan dengan usaha. distraksi terlalu banyak sehingga apa yang seharusnya dilakukan menjadi terbengkalai. HP adalah distraksi paling paripurna di era sekarang. saya yakin bahwa mayoritas manusia sekarang tersita waktunya di dalam sebuah benda kecil yang sangat praktis di tangan. tidak menjadi selingan namun telah menjadi sebuah rutinitas untuk sekedar memainkan benda tersebut. coba bayangkan berapa waktu yang dihabiskan dengan memelototi benda yang telah menjadi berhala.

Saya bahkan beberapa kali mencoba untuk melatih diri dalam menjauhkan perhatian dari benda tersebut namun selalu gagal. terkadang dengan pemakluman bahwa untuk refreshing atau sekedar antisipasi jika ada panggilan baik dari kantor maupun dari keluarga di kampung.

Di luar dari semua itu, akhirnya blog ini mencapai postingan Postingan ke-1000. pencapaian yang tentunya menyenangkan dari sisi kuantitas namun saya harus akui bahwa kualitas tulisan saya masih dalam tahap belajar. seharusnya masa 10 tahun itu cukup dalam mematangkan diri dalam proses menulis namun entah lah, kemampuan menulis saya tidak berkembang dengan baik. baik dari segi penceritaan, pemilihan diksi, penggambaran sesuatu, pemaparan ide yang kacau dan semua teknik menulis yang tidak terlalu baik tetapi saya akan tetap menulis setidaknya untuk diri saya sendiri. 

Di suatu waktu yang luang nantinya, saya akan menghabiskan waktu di depan taman sambil membaca tulisan-tulisan saya untuk menyerap energi masa lalu.


23 10 2020

October 3, 2020

3 Oktober

Wedding Anniversary

Momen yang sebagian orang mengenangnya dengan berbagai macam perasaan. ada yang mengenang dengan cara yang sangat sentimental, ada yang mengenang dengan perasaan kecewa, bahagia dan apapun perasaan mereka mengekspresikan ingatan-ingatan mereka terhadap momen pernikahan adalah refleksi dari keadaan pernikahan mereka sekarang. jika mereka bahagia tentu saja saraf-saraf mereka menstimulasi ingatan tentang pernikahan dengan perasaan bahagia dan bersyukur melewati momen tersebut namun jika seandainya mereka tidak bahagia atau bahkan sudah bercerai maka momen ingatan tentang pernikahan akan menjadi sebuah kenangan pahit yang tentunya sangat disesali.

Saya sendiri tidak berada pada posisi yang ekstrim, maksudnya bahwa momen wedding anniversary saya lewati dengan hal yang biasa saja tanpa perasaan seperti yang saya sebutkan di atas. persis sama dengan keadaan pernikahan saya yang saya lewati dengan sangat datar. tidak ada sesuatu yang terjadi. jika bertengkar maka dalam hal yang wajar maupun jika bersenang-senang pun sewajarnya jadi semua berjalan seperti apa adanya.

Jika ditanya apa perasaanku tentang pernikahan maka mungkin jawaban yang sering saya lontarkan adalah bersyukur dalam artian bahwa salah satu tujuan saya menikah lima tahun lalu adalah mencoba menjaga diri saya dari hal-hal yang di luar prinsip yang saya yakini apatahlagi saat itu, saya sudah akrab dengan isteri saya jadi semua kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa saja terjadi dan satu hal saya syukuri karena kemungkinan terburuk dalam proses perkenalan tidak pernah saya lakukan sampai akhirnya saya menikah.

Langkah memang belum terlalu jauh namun setidaknya sejauh ini, seharusnya saya tidak melangkah mundur. saya yang termasuk yang percaya bahwa setiap harinya, pasti akan ada saja hal yang menjadi batu sandungan dan setiap pernikahan mempunyai tantangannya sendiri dan saya tidak mau menyerah untuk tantangan yang saya hadapi.

Percayalah bahwa pernikahan yang dibayangkan sebelum menikah tidak akan selalu sama. jika belum menikah, bayangkan semua hal-hal terburuk karena pernikahan bukan melulu urusan kelonan. ada banyak urusan yang harus diselesaikan dalam sebuah pernikahan dan tentunya mantapkan niat sebelum menikah.

3-10-2015/2020

October 1, 2020

Jarak

 Tadi saya membersihkan kamar mandi, jika dari dekat tidak terlihat noda sama sekali di lantai kamar mandi namun ketika saya menjauh sedikit, maka terlihat jelas warna lantai kamar mandi agak kuning, berbeda dari warna dasarnya.

Seperti halnya semua hal dalam hidup ini. di awal bekerja sebagai internal audit di sebuah perusahaan. ada sebuah kalimat klise setiap kali datang ke kantor cabang untuk melakukan audit. "kami datang untuk memperbaiki sesuatu yang tidak sesuai regulasi, karena biasanya bau busuk itu tidak tercium oleh penghuni rumah namun akan tercium jelas oleh pendatang." kurang lebih seperti itu perumpaan yang digunakan bahwa sesuatu yang melekat dalam diri kita yang tidak berjarak khususnya sesuatu yang negatif, maka seringkali kita tidak pernah menyadarinya namun terlihat jelas oleh orang lain. maka dari itu, setiap kita berada dalam lingkungan yang sudah terlalu lama, maka ada baiknya menyingkir beberapa saat, menghirup udara segar kemudian mengamati diri kita untuk merefleksikan, apa saja yang selama ini tidak pernah disadari.

Manusia memang fitrahnya tidak mau disalahkan. ego bagi mayoritas manusia terlalu kuat untuk mengamini kritik dari orang lain sehingga jika demikian, kita harus berdamai dengan diri dan mengambil jarak untuk mengkritisi diri sendiri daripada harus menunggu orang lain.

Jarak diperlukan dalam banyak hal. jarak yang terlalu dekat seringkali mencelakakan. inilah kenapa di bagian belakang mobil untuk kursus menyetir, terdapat tulisan "jaga jarak." bahkan jargon tersebut semakin sering kita dengar di masa pandemi ini bahwa kita harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain.

Dalam hubungan pernikahan, jarak diperlukan untuk merekatkan hubungan. itulah kenapa setiap kali saya dinas ke luar kota, ada keterikatan yang mendalam dengan anggota keluarga ketika pulang ke rumah, meskipun sebenarnya absurd karena hanya beberapa waktu kemudian perasaan keterikatan terkikis lagi. muncul lagi ketika pergi dari rumah beberapa saat, begitu seterusnya. entah perasaan yang manipulatif atau seperti apa namun toh hidup memang sungguh absurd, namun paling tidak, jarak adalah kunci. 

kita harus pandai menjaga jarak untuk semua hal jika ingin tenang. Jarak yang sesuai porsinya.

September 30, 2020

Bandara Sultan Hasanuddin

I arrived at Sultan Hasanuddin airport at 02.00 wita. it was a long trip from my village to airport, about 6 hours. menjelang tiba di bandara, saya mulai merasa was was karena khawatir bandara sepi dan saya harus menunggu sampai pagi karena pesawat yang akan menerbangkan saya ke jakarta terjadwal jam 9.

Memasuki area parkiran, perkiraan saya meleset. bandara jauh lebih ramai dari biasanya dan saya bahkan kesulitan mencari space yang lowong di pelataran bandara karena sudah dipenuhi calon penumpang yang tiduran maupun yang duduk. bayangkan ini jam 2 dini hari namun serasa siang hari.

saya akhirnya menemukan ruang yang lumayan longgar untuk merenggangkan badan. meskipun sedikit khawatir dengan pandemi covid 19, namun saya tetap memaksakan diri ikut tiduran. tak terasa saya terlelap sekitar sejam lebih dan baru terjaga ketika menjelang subuh.

saya memutuskan ke musala yang terletak di area kantor ekspedisi. sekitar beberapa meter dari pelataran bandara. di musala, saya membersihkan diri, menunaikan hajat pagi dengan mengeluarkan isi perut, salat subuh kemudian bersantai sambil mengabarkan ibu saya kalau saya baik baik saja.

setengah 7 pagi, saya beranjak kembali ke pelataran bandara dan langsung melakukan cek data sesuai prosedur penerbangan di masa pandemi. untunglah tidak ada kendala meski sedikit memakan waktu karena harus antri.

saat chek in, antrean sudah sangat panjang. saya bahkan hampir sejam menunggu antrean. mayoritas calon penumpang menuju indonesia bagian timur. maklumlah karena bandara makassar memang menjadi bandara transit jika dari Indonesia barat hendak ke timur.

saat tiba di depan petugas cek in, saya khawatir jangan sampai ditanyakan barang bawaan saya karena pesawat yang saya tumpangi berbayar untuk bagasinya. namun dengan sedikit doa, akhirnya barang tentengan saya lolos ke kabin dan tidak harus membayar biaya tambahan bagasi.

I'm coming back home

September 14, 2020

Semua Berubah

Di bandara Soetta pertama kali sejak masa pandemi. semua seakan berubah dalam sekejap. tidak ada perasaan seperti dulu saat momen seperti ini.

ini kali pertama saya harus naik pesawat lagi setelah virus covid menyerang. kali pertama saya ditugaskan kantor dinas keluar kota. jika sebelum-sebelumnya saya menikmati perjalanan seperti ini, namun kali ini semua menjadi seakan terasa aneh. jika seandainya bisa menolak, maka mungkin saya sudah tidak berangkat dalam perjalanan kali ini namun tugas kantor membuat saya harus mengalahkan semua kekhawatiran tentang keselamatan.

Seharusnya kali ini saya antusias karena ditugaskan ke kota yang dekat kampung halaman, seharusnya menjadi momen menyenangkan karena bisa mampir di rumah namun sekali lagi, kali ini perasaan senang dikalahkan oleh perasaan khawatir, tentang virus yang ada dimana mana tanpa terlihat, meskipun mungkin saya akan tetap mampir di rumah menuntaskan rindu yang terpendam lama. semoga saja saya tidak menyimpan virus dalam diri dan tidak menjadi perantara bagi keluarga.

Di bandara Soetta kali ini, saya menengok schedule keberangkatan. begitu banyak penerbangan yang dibatalkan. virus ini benar-benar telah mengubah tatatan manusia yang sudah berlangsung lama, ataukah mungkin bukam virusnya tapi semesta ingin menyeimbangkan kehidupan ini karena manusia sudah terlalu lama menjadi virus bagi makhluk lain.

Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung namun satu hal yang pasti, wajah wajah manusia penuh dengan kekhawatiran. mereka cemas tertular dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. semua menghadapi hal yang sama, takut terhadap virus namun roda kehidupan memaksa mereka untuk tetap bergerak, berjalan tegap dan tetap bertahan untuk tidak tumbang.

Semoga perjalanan kali ini baik-baik saja. semoga semesta memudahkan semua urusanku dan menjauhkan dari hal yang tidak diinginkan.

Hidup memang sebuah gerak otomatis yang berpindah dari satu kekhawatiran ke bagian kekhawatiran berikutnya yang tiada berujung sampai akhirnya nanti menemui titik akhir, atau mungkin tidak ada yang namanya titik akhir, yang ada hanya ujung yang bisa terlihat mata. toh gerak hidup akan berlanjut ke kehidupan lain dan mungkin saja merupakan bagian kekhawatiran berikutnya bahkan lebih besar karena kita tidak paham apa yag terjadi di sana.

di Bandara Soetta kali ini dengan wajah para manusia penuh cemas dan sesekali merapal doa supaya tidak tertular virus ini.


Bandara Soetta, 14 September 2020. 

03.10 Wib

September 6, 2020

Berkurang Jatah Hidup

Pada sepersekian hari yang saya sudah jalani sampai sekarang, datangnya lagi hari di mana pertama kali saya dihadirkan di dunia ini, namun sampai setua ini, jalan hidup saya semakin kehilangan arah. saya menjauh dari diriku dan terbawa oleh angan-angan duniawi yang tak ada habisnya.

Saya menyesali semua yang sudah terlewati dan mengkhawatirkan detik demi detik yang akan datang membuat saya lupa bahwa saya sedang hidup hari ini.

Hari yang saya lewati sudah sangat banyak dan di usia seperti sekarang, seharusnya saya sudah bisa berdamai dengan hidup, namun ternyata nihil. saya sampai saat ini masih dikalahkan diriku yang menyandarkan bahunya pada hal-hal yang artifisial.

Selamat ulang tahun diriku, semoga segera menemukan dirimu yang salah arah.

7 September