Duduk di ruang tunggu. menunggu pesawat membawaku
ke Ibu kota. seharusnya 12.40 wita, namun harus delay 2 jam. menurut petugasnya
bahwa saat akan landing di bandara hasanuddin, cuaca tidak mendukung sehingga
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pesawat putar arah ke bandara
balikpapan. saat ini memang sedang musim hujan. Makassar seguyur hujan
sepanjang waktu.
Di
bandara ini, saat mencoba untuk memanggil kembali semua kenangan tentang kota
ini, namun ternyata rasanya sudah berbeda. mungkin karena saya sudah terlalu
lama merantau sehingga sudah tidak ada perasaan sentimental yang muncul tentang
kota ini atau mungkin juga karena teman-teman lama sudah tidak ada
sepuluh
tahun yang lalu. kota ini semakin tumbuh dari segi pembangunan. bandaranya
direnovasi dan semakin luas. flyover dibangun dimana-mana seakan ingin berusaha
mengejar Ibu kota yang semakin dipadati bangunan. entahlah, apakah sebuah
keniscyaan bagi manusia untuk terus membangun susunan batu dan semen dalam
rangka peradaban mereka atau mungkin juga manusia sedang berusaha memuaskan
nafsunya yang tidak disadari bahwa nafsu duniawi tidak akan pernah tercukupi.
apakah kemajuan peradaban selalu identik dengan pembangunan tanpa melihat manusianya yang semakin kehilangan diri mereka
No comments:
Post a Comment