Tiga hari lagi momen itu akan benar-benar nyata. semua rasa yang ada menyatu dalam hatiku tanpa bisa kutepis hadirnya. aku benar-benar telah melangkah mengambil tanggung jawab yang lebih besar lagi meski aku sadar sesadar sadarnya bahwa untuk bertanggung jawab ke diriku sendiri pun masih belum becus bahkan masih banyak hak diriku yang tidak kupenuhi dan terlebih tentang hal yang mungkin lebih prinsipil lagi namun apalah aku ini yang sok dewasa telah memutuskan untuk meminta tanggung jawab lagi untuk diri seorang gadis.
Tetapi ucapan untuk meminta bertanggung jawab terhadap gadis tersebut telah kuikrarkan kepada ibunya dan pantang untuk kembali mundur. hidup harus terus berlanjut dan aku harus mempersiapkan semua untuk lebih pantas mengemban tanggung jawab menjadi seorang kepala keluarga. ini bukan lagi soal coba-coba namun komitmen yang harus benar dijaga.
Tiga hari lagi aku akan memasuki dunia baru dengan tanggung jawab yang
lebih. aku tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di benakku karena
semua ada dalam satu rasa. menjelang momen yang sebentar lagi akan tiba, aku banyak berdiskusi dengan kawan bahkan senior yang kuanggap cakap dalam hal pernikahan dan ini beberapa rangkuman diskusi yang masih kuingat
Tiga tahun lalu saat salah seorang temanku akan menikah, kami menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi dan satu hal yang kami perbincangkan saat itu adalah, mungkin saja sensasi sebelum menikah yang terlalu besar namun setelah itu semua berjalan seperti adanya.
Aku pun pernah berdiskusi dengan seorang kawan saat mengantarkan undangan pernikahanku di kediamannya jln Salemba. Dia juga baru sebulan menjalani bahtera rumah tangga dan satu hal dari apa yang kami diskusikan adalah teori untuk menjawab setiap pertanyaan tentang pernikahan tersebut sejatinya tidak ada karena jawabannya ada pada momen-momen yang dijalani saat kita menikah. meski demikian, dia menambahkan bahwa tetap saja ketika menikah, kita harus bisa menurunkan ego dan perbanyak mengalah.
Seorang seniorku di Al-Markaz yang juga seorang ustadz di mesjid tersebut tidak ketinggalan kumintai pendapat dan doanya. lewat sambungan telepon, Beliau banyak berpesan kepadaku tentang pernikahan. mulai dari kehidupan sehari-hari sampai pada hubungan biologis. Beliau berpesan supaya lebih banyak bersabar dan nantinya setelah menikah, aku mencari pengajian rutin yang mengkaji Al-Quran. Beliau melanjutkan bahwa sebelum melakukan hubungan biologis, sebaiknya melakukan shalat 2 rakaat dan meminta keturunan yang shaleh shaleha.
Seorang bapak Guru Pesantren yang tinggal di Jeneponto dan kukenal baik saat kami sering bersua di mesjid Al-Markaz pun kutanyakan perihal menikah. Beliau sangat responsif dan menyarankan banyak hal. menurut beliau, menjelang pernikahan, sebaiknya melaksanakan shalat taubat untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya kemudian ketika akan ijab kabul, lebih baik shalat sunnah. saat akan melakukan hubungan biologis, perbanyak shalawat kepada kanjeng Nabi.
Entah siapa lagi yang pernah kuajak diskusi tentang pernikahan ini karena aku selalu merasa masih sangat kurang dalam hal pengetahuan untuk menghadapi pernikahan. aku merasa sok sudah pantas dan berani-beraninya mengambil tanggung jawab seorang gadis tapi tak apalah, aku akan terus belajar dan berbuat karena toh niatan untuk keputusan ini murni untuk menjaga diri.
Jakarta, 30-09-2015 08:27 WIB