July 8, 2015

Tarawih #21

Malam ini saya shalat tarawih di masjid Baitul Ma'sum Rawamangun. Dugaan saya melenceng bahwa malam ini tidak ada ceramah agama ternyata setelah shalat Isya dan shalat sunnah, imam mesjid maju kedepan dan menyampaikan beberapa pesan-pesan yang durasinya sekitar 30 menit.

Inti dari ceramah Imam mesjid mengenai 10 hari malam terakhir Ramadhan. Penceramah kembali mengingatkan tentang hadist Nabi yang berbunyi "


رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
 "Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga"


Penceramah juga mengingatkan tentang kewajiban membayar zakat. Penceramah mengatakan bahwa menurut Jumhur para ulama bahwa zakat seharusnya dibayarkan berupa makanan pokok. Kemudian dia menambahkan bahwa jika ada jamaaah yang ingin membayar zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok maka panitia sudah menyiapkan beras untuk dibeli dan dizakatkan.

Secara umum, penceramah mengulas banyak tentang 10 hari terakhir ramadhan dimana pada momen seperti ini, Baginda Nabi mengencangkan perutnya dan mengurangi tidurnya untuk memperbanyak beribadah kepada Allah SWT.

Mesjid Baitul Ma'shum
21 Ramadhan 1436 H

July 7, 2015

Di Manakah Semangat Itu?

Aku semakin meredup di sini dalam keramaian yang sepi. Semangat pun mengurai begitu saja bagai debu yang berterbangan oleh semilir angin senja. Aku masih terus berjuang membangun kembali semangat hidup yang temaram karena masa lalu yang tak ditata rapi, entah untuk pembelajaran ataukah mungkin aku yang masih bisa mengejar kembali ketertinggalan tersebut.

Aku yang harus tertunduk bisu dengan dominasi rutinitas yang mungkin mulai sudah tidak menyenangkan lagi. Aku harus bangun pagi kemudian mandi dan memakai baju yang kadang diseterika ketika terlalu kusut dan seringkali tak diseterika ketika malas mendera. 

Aku berangkat ke kantor yang hanya berjarak sekitar 1 km. Terkadang naik motor maupun jalan kaki ketika tidak bangun kesiangan. Aku seringkali tiba di kantor lebih dulu dari teman-temanku. Menyedu kopi sachet kemudian duduk manis di meja kerja samping meja kasie teknik. membaca berita di media online dan ketika kacab lewat, seringkali sok serius mengerjakan sesuatu meski kuyakin, mayoritas orang kantoran seperti itu.

Menginput polis property namun seringkali survey keluar, entah itu kehilangan motor, mobil yang kecelakaan ataupun survey penutupan. Rutinitas yang selalu berulang dan membuatku merasa penat karena pekerjaan yang masih berhubungan dengan uang perusahaan.

Seringkali pula aku mengeryitkan dahi, apakah kepenatan ini semua hadir karena ketidaksyukuranku dan masih memimpikan pekerjaan yang lebih baik? mungkin iya ataupun mungkin tidak. masih saja aku belum memahami dengan sempurna seperti apa yang diinginkan oleh kepalaku. ingin seperti apa dan mau kemana hidup yang kujalani?

Aku kadang merasa berdosa terhadap ide di kepalaku karena beberapa hal yang tidak kusepakati namun tetap saja kujalani. aku duduk sebagai pesakitan di hidupku sendiri. Hal lain yang membuatku penat adalah kecemasan masa depan. 

Aku menarik kesimpulan di titik ini. ini kesimpulan yang ingin kusimpan di dalam kepalaku, bahwasanya aku bahagia dengan apa yang kujalani karena pilihanku sendiri meski kutahu pilihan semakin menyempit namun kesimpulan berikutnya adalah aku ingin bertemu dengan nasib yang lain dimana bukan tentang urusan finance.

Aku ingin mengeksplorasi diriku lebih jauh. jikalaupun berada disini karena kondisi yang memaksa dan masalah perut maka aku iyakan saja sambil terus mengintip sedikit peluang yang masih disisakan semesta untukku.

Rawamangun
07.0715 13:53

Tarawih #20

Malam ini saya memutuskan untuk salat tarawih di masjid Baitul Ma'sum. Seingat saya, baru dua kali saya salat tarawih di masjid ini. Selain karena shalat tarawihnya 20 Rakaat juga karena tidak ada ceramah agama setelah salat Isya.

Namun lain daripada malam biasanya, malam ini ada ceramah agama setelah shalat Isya. Durasi ceramahnya lumayan lama sekitar 30 menit namun isi ceramahnya benar-benar membuatku sebenarnya tidak terlalu betah untuk mendengarkannya. Di pembukaan ceramahnya memang lumayan menarik karena mengajak jamaah untuk merefleksikan Ramadhan tahun ini yang sudah berjalan 20 hari, apa saja yang sudah dilakukan dalam mengisi momen Ramadhan.

Selanjutnya mungkin berisi penyampaian tentang hal yang menurutku kembali diulang misalnya tentang himbauan kepada yang berpuasa untuk menghormati yang tidak berpuasa dengan cara warung dibiarkan buka pada siang hari supaya yang tidak puasa bisa dengan mudah mengakses makanan. Si Penceramah menganggap bahwa hal tersebut adalah logika terbalik. Entah mengapa kita tidak bisa sedikit menurunkan ego bahwa dalam toleransi tersebut, yang pertama bertoleransi adalah diri kita tanpa harus meminta orang lain untuk bertoleransi kepada kita. saya sempat baca status Butet kertadjasa ketika berkunjung ke rumah Syafii Maarif. Mengetahui bahwa Butet tidak puasa, beliau mempersilahkan untuk minum namun demikian juga sebaliknya, Butet yang sadar bahwa Syafii Maarif sedang berpuasa memilih untuk tidak minum. Begitulah hakekatnya sebuah toleransi tanpa meminta orang lain melakukannya kepada kita.

Si Penceramah juga sedikit menyinggung masalah jumlah rakaat shalat Tarawih. Dia menganggap bahwa Tarawih yang rakaatnya 8 tidak memiliki dasar meski Dia juga mengatakan bahwa Jamaah yang melaksanakan tarawih 8 rakaat tidak masalah.

Dia juga seringkali mengulang-ulang bahwa "musuh" Islam punya banyak cara untuk menjauhkan umat Islam dari Al-Qur'an bahkan katanya sejak perang salib.

Saya selalu tidak sependapat dengan para manusia pengkhotbah yang meproklamirkan diri mereka sebagai Muballiq namun selalu saja nyinyir terhadap perbedaan dan merasa dimusuhi oleh umat agama lain bahkan yang lebih parah bagi mereka yang offensif terhadap isu-isu yang belum tentu benar.

ah, sudahlah. sudah larut malam
kaga enak nulis yang serius2
mari ngopi ben ra edan

Mesjid Baitul Ma'shum
20 Ramadhan 2015

July 5, 2015

Tarawih #19

Malam ini saya shalat tarawih di mesjid Al-Ishlah pendurenan. Setelah semalam terlewat shalat tarawih di mesjid. Masjid ini mungkin yang paling sering saya sambangi ketika shalat tarawih. Suasana yang damai membuatku betah shalat disini sayangnya ketika di luar bulan Ramadhan, nampaknya Mesjid ini tidak dipergunakan.

Malam ini saya memperhatikan Jamaah di masjid ini semakin maju ke depan seperti pada umumnya masjid di seantero nusantara ketika Ramadan sudah memasuki separuh perjalanan. Jika sebelumnya dua baris namun malam ini hanya sebaris bahkan tidak penuh. Namun tidak apalah karena memang Ramadhan terkadang menjadi seleksi alam, siapa yang masih tetap bertahan sampai Ramadhan benar-benar beranjak pergi.

Setelah shalat tarawih, dilanjutkan dengan ceramah agama. Muballiq memulai ceramahnya dengan mengulas salah satu ciri orang yang bertaqwa yaitu segera bertobat ketika khilaf. Bertobat memang adalah implementasi dari pengakuan atas dosa namun terkadang pula ketika selesai bertobat maka kita diuji dengan kesalahan yang sama, apakah kita termasuk dalam taubatan Nasuha ataukah hanya tobal sambal.

Khilaf memang naluriah bagi Manusia namun tobat adalah Pilihan. Sangat mudah mengatakan tobat beribu kali dari mulut namun yang dinilai adalah tindakan kita, karena tobat sesungguhnya adalah dari tindakan sehari-hari.

Saya harus mengakui bahwa saya bukan pribadi yang mampu bertobat dengan sempurna. saya masih masuk dalam kategori lagu Gigi yang berjudul 'AMNESIA". pagi beriman, siang lupa lagi.


Mesjid Al-Ishlah pendurenan
19 Ramadhan 1346 H

Tarawih #18

Malam ini saya tidak shalat tarawih secara berjamaah karena alasan buka besama teman kampus bahkan shalat isya pun molor sampai jam 10 malam. ikrar untuk shalat Tarawih sepanjang Ramadhan di mesjid pun gugur.

Tepat di malam ke-18, saya kongkow bersama kawan-kawan lama di Hotel Art depan Mall Sarinah. tak dinanya lagi, berlangsung sampai larut malam.
ah, tak ada tulisan tentang malam ini

JakPus,
4 Ramadhan 2015

Bukber Teman Kampus

Buka bersama di perantauan adalah hal yang lazim diadakan oleh mereka yang punya kesamaan, entah mereka yang berasal dari daerah yang sama, atau satu sekolah maupun kampus yang sama bahkan pernah tergabung dalam kelompok yang sama di masa lalu.

Buka bersama terkadang juga menjadi ajang reunian bagi mereka di perantauan yang super duper sibuk ditelan aktivitas kota, dalam hal ini ibukota yang kepadatan dan kesibukannya terkadang hampir mematikan rasa.

Sejak dulu, saya paling tidak menyukai hal-hal  yang berbau reunian dalam skala besar dan formal. Entah kenapa saya selalu merasa inferior di tengah mereka yang supel dan mungkin memamerkan apa yang telah diperoleh apatahlagi tempat reuninya di hotel, sudah pasti menguras isi kantong yang tidak sedikit.

Saya tidak habis-habisnya menulis tentang Reuni baik dari segi negatif maupun positifnya. Memang reuni selalu menjadi seperti koin yang punya dua sisi. Di satu sisi, reuni mempererat jalinan silaturrahim yang mungkin dalam waktu lama tidak bertemu dengan handai tauladan namun disisi lain, reuni bahkan menjadi ajang pamer kesuksesan bagi kawan lama yang dulunya biasa namun pada akhirnya merengkuh duniawi dan menjadikannya sebagai sebuah kebanggaan dengan berbagai barang yang diperlihatkan entah itu sengaja ataupun tidak.

Namun lain dari hari kemarin, saya yang sudah dua tahun tidak pernah pulang ke kampung mendapat undangan buka bersama oleh kawan-kawan kampus langsung mengiyakan setidaknya ajang menyicil rindu terhadap kampung halaman. kemarin, pertemuan dengan teman lam menghabiskan waktu berjam-jam. sedikit berbeda memang dengan reuni lainnya karena tidak ada kawan yang terlalu menonjol dan seperti yang selalu saya kritisi.

Art hotel dipilih sebagai tempat buka bersama tepat di depan Mall Sarinah. Buka dengan aneka macam menu sambil bercengkerama dengan kawan-kawan.

Jakarta Pusat, 4 Juli 2015

Tarawih #17

Kali ini saya mampir di sebuah mesjid di daerah Kemayoran shalat tarawih. Niat awalnya supaya setelah tarawih, saya langsung main ke PRJ. Lumayan jauh memang dari tempat tinggal tapi tak apalah. meski ada rasa risih bahwa niat yang mendominasi bukan shalat tarawih tetapi jalan-jalan.

Mesjid tersebut berada di pinggir kali dan tepat berada di depan toko Alfamart. Setelah memenuhi perut yang seharian kosong di sebuah kedai makan dengan harga yang lumayan menguras isi kantong, saya bergegas ke mesjid tersebut. jamaah sudah lumayan banyak dan ini mungkin salah satu mesjid yang masih banyak jamaahnya saat Ramadhan memasuki separuh perjalanan ketika di tempat yang lain, jamaah sudah maju shafnya.

Setelah shalat Isya, tidak ada ceramah agama namun hanya ada pengumuman tentang siapa saja yang menyumbang untuk mesjid tersebut maupun untuk anak yatim yang disalurkan lewat mesjid. disetiap amplop sumbangan tertulis titipan doa.. Hal yang biasa ketika si penyumbang nitip doa untuk sanak saudara mereka yang sudah meninggal untuk dikirimkan Al fatihah namun ada beberapa titipan doa yang menurutku lain dari biasanya bahkan terkesan lucu, atau hal tersebut biasa saja di daerah dan mungkin saya yang tidak terbiasa. Ada yang nitip minta didoakan supaya anaknya cepat dapat jodoh, bahkan ada yang nitip doa supaya barang dagangan stok lamanya cepat laku terjual.

Saya teringat Pesan Cak Nun bahwa sedekah hakekatnya karena kita bersyukur, ketika orang lain bersedakah karena ingin dilipatgandakan rejekinya maka sebenarnya dia sedang berdagang dengan Tuhan. sebenarnya pesan Cak Nun masih panjang tentang ini namun saya hanya mengambil sempalannya yang berhubungan dengan sedekah.

Yah begitulah setiap orang, punya pretensi masing-masing dalam setiap hal namun tetap saja bahwa bahwa niat awal mereka ada di dalam hati sehingga kita tidak bisa menyelaminya.

Setelah pengumuman tersebut dilanjutkan dengan shalat tarawih 20 Rakaat. Seperti kebiasaan, saya hanya sampai pada rakaat 8 lalu kemudian meninggalkan jamaah dan menuju PRJ.

mesjid di kemayoran
17 Ramadhan 1438 H

July 3, 2015

Sisa Percakapan dengan Ibu

Ibu seringkali memngurai semua cerita kepadaku setiap kami menyicil rindu lewat benda kecil bernama Hp. cerita mengalir begitu saja bahkan sampai pada hal yang remeh temeh. aku terkadang hanya diam mendengarkan gairah ibu mengurai kisahnya sampai pada titik dia ingin mendengarkan pula ceritaku meski dia tahu bahwa tidak terlalu banyak yang mesti kuceritakan karena aktivitasku hanyalah rutinitas yang bisa ditebak oleh siapapun. berangkat pagi dan pulang sore.

Semalam ibu bercerita tentang kehidupanku di sini. ibu bertutur bahwa saudaraku yang berada di sorong dan sudah memiliki kemewahan duniawi menanyakan kabarku dan aktivitasku. ibu menceritakan apa adanya dan apa aktivitasku, kemudian saudara sepupuku tersebut dengan spontan mengatakan kepada ibu " kok saya bekerja di tempat seperti itu..?" ibu kemudian menimpali bahwa tidak masalah kerja apapun yang penting bekerja toh bekerja adalah berpenghasilan. setelah itu, aku tidak tahu lagi kelanjutan cerita ibuku dengan sepupuku tersebut.

Terkadang memang orang lain seakan lebih mengerti dengan apa yang kita jalani bahkan dengan santainya mereka menjustifikasi apa yang kita jalani tanpa berusaha untuk mengerti namun disatu sisi, aku pun harus meningkatkan pemaklumanku terhadap situasi seperti itu karena aku tidak akan pernah menutup mulut orang lain yang akan berkata apa tentangku dalam artian bahwa aku harus berdamai dengan keadaan yang tidak seperti yang kuinginkan dan tetap berjalan seperti apa yang aku yakini benar adanya.

Cerita seperti ini pernah terjadi pada Luqman Al-Hakim, orang biasa yang diabadikan di dalam Al-Qur'an karena kemampuannya memungut hikmah kehidupan. 

Dikisiahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu." Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai." Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya."

Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya. Lebih celaka lagi, orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap ringan urusan orang lain." Jiplak dari sini

Salah satu cara melepaskan bayang-bayang hidup dari pandangan orang lain adalah mengacuhkan setiap hal yang tidak perlu didengar dari mereka. akan ada banyak komentar-komentar dari orang lain tentang hidup kita dan sejatinya kita tidak bisa membungkam mulut mereka, yang bisa dilakukan adalah mengangkat kedua tangan kemudian menutup kedua kuping dan tidak membiarkan hal negatif masuk ke dalam otak sehingga tujuan yang sudah kita rancang tidak terganggu oleh pendapat mereka.

Rawamangun
3 Juli 2015

Aku di Sini

aku masih disini
depan PC yang tetap menatapku
ingin kutantang namun penat mataku

aku masih disini
dengan segudang asa yang membeku
diamku seakan pemberontakan

aku disini
dengan berbagai macam pretensi
ingin dianggap sibuk
atau menumpuk duit
bahkan dengan bergaya ala kaum urban

aku letih
dengan semua kenyataan yang membunuh gairahku
namun tak jua kuberanjak
aku diam

Rawamangun
3 Juli 2015

Ceramah Jum'at

Kali ini saya lumayan cepat mendatangi shalat jumat. sebelum khatib naik ke mimbar, saya sudah duduk manis di dalam mesjid. meski dengan mata yang tidak mau kompromi karena ngantuk yang tidak kuasa dilawan, alhasil tanganku menopak muka dan memejamkan mata sekejap. tatkala khatib naik mimbar, barulah saya menguatkan diri menahan kantuk yang tak kunjung pergi.

Ceramah jumat kali ini mungkin tidak jauh berbeda dengan ceramah jumat sebelumnya. khatib mengimbau kita untuk mengikuti zikir yang biasa dilakukan oleh Nabi. menurut khatib bahwa ada dzikir yang tidak lebih dari 100X dan seharusnya kita seperti itu.

Satu hal yang mungkin selalu saya tidak sepakati dengan para ceramah yang terlalu skriptualis bahkan tentang dzikir pun harus diatur sampai hitungan keberapa sedangkan saya masih sangat percaya bahwa orang yang sudah terpaut harinya kepada Rabbnya tidak akan pernah berhenti berdzikir sedetik pun. 

Namun entahlah mungkin ada pandangan lain yang membuat para muballiq harus saklek terhadap apapun meski saya sendiri masih sangat percaya bahwa Tuhan tidak sesaklek mereka.

Mesjid Assakiya
3 Juli 2015

Tarawih #16

Kebiasaan bermalas-masalan setelah buka masih saja tidak beranjak dari diriku. Entah mengapa ketika semua seakan berat untuk ditinggalkan. alhasil ketika selesai buka dan shalat maghrib, hal yang kulakukan hanya memainkan HP padahal setumpuk buku belum selesai kubaca. bahkan berangkat tararawih pun menjadi terlambat.

Malam ini saya tarawih di salah satu mesjid yang berada di pinggir jalan samping terminal Rawamangun. Lumayan nyaman suasananya sehingga saya bisa berbetah-betah duduk di dalamnya. Setelah shalat Isya, ada ceramah agama yang dibawakan oleh muballiq yang nampaknya masih muda. Isi ceramahnya masih seputar puasa dan kaitannya dengan beberapa hal yang berkaitan dengan fisik misalnya dengan kesehatan. ketika orang rajin berpuasa maka dia senantiasa akan sehat.

Al kisah seorang tabib dari Mesir diutus untuk menjadi tenaga kesehatan semasa Rasulullah namun apa yang terjadi, sang tabib tersebut hanya menjadi pengangguran karena memang tidak ada yang sakit kala itu. puasa menjadi sesuatu yang amat sangat penting bagi kesehatan.

Setelah selesai ceramah agama, baru dilanjutkan dengan shalat tarawih. ternyata shalat tarawihnya 20 Rakaat sehingga pada rakaat kedelapan, saya meninggalkan jamaah.

Mesjid Baitul Mu'minin
16 Ramadhan 1436 H

July 1, 2015

Tarawih #15

Malam ini saya shalat tarawih di mesjid Al-Ishlah Pendurenan. Mesjid ini melaksanakan shalat tarawih setelah shalat isya kemudian ceramah agama, setelah itu baru ditutup dengan witir.

Sang penceramah memulai dengan surat annisa ayat 9. Kemudian melanjutkan ceramahnya bahwa momen Ramadhan untuk menempa diri.

Dia menceritakan dirinya bahwa aktivitasnya sehari-hari adalah dosen UIN Jakarta. Mengajar pengenalan pemahaman Al-Qur'an. Setiap kali dia masuk kelas, dia bertanya secara retorik kepada Mahasiswanya "Siapa yang shalatnya penuh dalam seminggu?" Ironisnya diantara sekitar 20 mahasiswa tidak ada yang shalatnya penuh. Bahkan banyak diantara mereka  yang belum bisa mengaji.



Mesjid Al-Ishlah Pendurenan
15 Ramadhan 1436 H

Tarawih #14

Malam ini aku tarawih di sebuah mushalah dekat kos. tidak ada ceramah setelah selesai shalat Isya dan langsung shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Biasanya saya memilih shalat tarawih di masjid yang ada ceramah agama setelah shalat isya namun karena sorenya saya bukber di kantor dan baru sampai kos sekitar pukul 19:00 membuat semangatku mengikuti tarawih sedikit mengendur alhasil saya memilih mesjid yang cepat. hehe

Memang baru kali ini diadakan bukber di kantor karena bertepatan dengan tutup buku. baru sekali tadi pun merasakan suasana kebersamaan berbuka dengan teman-teman kantor sambil menikmati aneka jajanan dan intinya gratis
hehe

Rawamangun
13 Ramadhan 1436 H