July 5, 2015

Bukber Teman Kampus

Buka bersama di perantauan adalah hal yang lazim diadakan oleh mereka yang punya kesamaan, entah mereka yang berasal dari daerah yang sama, atau satu sekolah maupun kampus yang sama bahkan pernah tergabung dalam kelompok yang sama di masa lalu.

Buka bersama terkadang juga menjadi ajang reunian bagi mereka di perantauan yang super duper sibuk ditelan aktivitas kota, dalam hal ini ibukota yang kepadatan dan kesibukannya terkadang hampir mematikan rasa.

Sejak dulu, saya paling tidak menyukai hal-hal  yang berbau reunian dalam skala besar dan formal. Entah kenapa saya selalu merasa inferior di tengah mereka yang supel dan mungkin memamerkan apa yang telah diperoleh apatahlagi tempat reuninya di hotel, sudah pasti menguras isi kantong yang tidak sedikit.

Saya tidak habis-habisnya menulis tentang Reuni baik dari segi negatif maupun positifnya. Memang reuni selalu menjadi seperti koin yang punya dua sisi. Di satu sisi, reuni mempererat jalinan silaturrahim yang mungkin dalam waktu lama tidak bertemu dengan handai tauladan namun disisi lain, reuni bahkan menjadi ajang pamer kesuksesan bagi kawan lama yang dulunya biasa namun pada akhirnya merengkuh duniawi dan menjadikannya sebagai sebuah kebanggaan dengan berbagai barang yang diperlihatkan entah itu sengaja ataupun tidak.

Namun lain dari hari kemarin, saya yang sudah dua tahun tidak pernah pulang ke kampung mendapat undangan buka bersama oleh kawan-kawan kampus langsung mengiyakan setidaknya ajang menyicil rindu terhadap kampung halaman. kemarin, pertemuan dengan teman lam menghabiskan waktu berjam-jam. sedikit berbeda memang dengan reuni lainnya karena tidak ada kawan yang terlalu menonjol dan seperti yang selalu saya kritisi.

Art hotel dipilih sebagai tempat buka bersama tepat di depan Mall Sarinah. Buka dengan aneka macam menu sambil bercengkerama dengan kawan-kawan.

Jakarta Pusat, 4 Juli 2015

Tarawih #17

Kali ini saya mampir di sebuah mesjid di daerah Kemayoran shalat tarawih. Niat awalnya supaya setelah tarawih, saya langsung main ke PRJ. Lumayan jauh memang dari tempat tinggal tapi tak apalah. meski ada rasa risih bahwa niat yang mendominasi bukan shalat tarawih tetapi jalan-jalan.

Mesjid tersebut berada di pinggir kali dan tepat berada di depan toko Alfamart. Setelah memenuhi perut yang seharian kosong di sebuah kedai makan dengan harga yang lumayan menguras isi kantong, saya bergegas ke mesjid tersebut. jamaah sudah lumayan banyak dan ini mungkin salah satu mesjid yang masih banyak jamaahnya saat Ramadhan memasuki separuh perjalanan ketika di tempat yang lain, jamaah sudah maju shafnya.

Setelah shalat Isya, tidak ada ceramah agama namun hanya ada pengumuman tentang siapa saja yang menyumbang untuk mesjid tersebut maupun untuk anak yatim yang disalurkan lewat mesjid. disetiap amplop sumbangan tertulis titipan doa.. Hal yang biasa ketika si penyumbang nitip doa untuk sanak saudara mereka yang sudah meninggal untuk dikirimkan Al fatihah namun ada beberapa titipan doa yang menurutku lain dari biasanya bahkan terkesan lucu, atau hal tersebut biasa saja di daerah dan mungkin saya yang tidak terbiasa. Ada yang nitip minta didoakan supaya anaknya cepat dapat jodoh, bahkan ada yang nitip doa supaya barang dagangan stok lamanya cepat laku terjual.

Saya teringat Pesan Cak Nun bahwa sedekah hakekatnya karena kita bersyukur, ketika orang lain bersedakah karena ingin dilipatgandakan rejekinya maka sebenarnya dia sedang berdagang dengan Tuhan. sebenarnya pesan Cak Nun masih panjang tentang ini namun saya hanya mengambil sempalannya yang berhubungan dengan sedekah.

Yah begitulah setiap orang, punya pretensi masing-masing dalam setiap hal namun tetap saja bahwa bahwa niat awal mereka ada di dalam hati sehingga kita tidak bisa menyelaminya.

Setelah pengumuman tersebut dilanjutkan dengan shalat tarawih 20 Rakaat. Seperti kebiasaan, saya hanya sampai pada rakaat 8 lalu kemudian meninggalkan jamaah dan menuju PRJ.

mesjid di kemayoran
17 Ramadhan 1438 H

July 3, 2015

Sisa Percakapan dengan Ibu

Ibu seringkali memngurai semua cerita kepadaku setiap kami menyicil rindu lewat benda kecil bernama Hp. cerita mengalir begitu saja bahkan sampai pada hal yang remeh temeh. aku terkadang hanya diam mendengarkan gairah ibu mengurai kisahnya sampai pada titik dia ingin mendengarkan pula ceritaku meski dia tahu bahwa tidak terlalu banyak yang mesti kuceritakan karena aktivitasku hanyalah rutinitas yang bisa ditebak oleh siapapun. berangkat pagi dan pulang sore.

Semalam ibu bercerita tentang kehidupanku di sini. ibu bertutur bahwa saudaraku yang berada di sorong dan sudah memiliki kemewahan duniawi menanyakan kabarku dan aktivitasku. ibu menceritakan apa adanya dan apa aktivitasku, kemudian saudara sepupuku tersebut dengan spontan mengatakan kepada ibu " kok saya bekerja di tempat seperti itu..?" ibu kemudian menimpali bahwa tidak masalah kerja apapun yang penting bekerja toh bekerja adalah berpenghasilan. setelah itu, aku tidak tahu lagi kelanjutan cerita ibuku dengan sepupuku tersebut.

Terkadang memang orang lain seakan lebih mengerti dengan apa yang kita jalani bahkan dengan santainya mereka menjustifikasi apa yang kita jalani tanpa berusaha untuk mengerti namun disatu sisi, aku pun harus meningkatkan pemaklumanku terhadap situasi seperti itu karena aku tidak akan pernah menutup mulut orang lain yang akan berkata apa tentangku dalam artian bahwa aku harus berdamai dengan keadaan yang tidak seperti yang kuinginkan dan tetap berjalan seperti apa yang aku yakini benar adanya.

Cerita seperti ini pernah terjadi pada Luqman Al-Hakim, orang biasa yang diabadikan di dalam Al-Qur'an karena kemampuannya memungut hikmah kehidupan. 

Dikisiahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu." Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai." Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya."

Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya. Lebih celaka lagi, orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap ringan urusan orang lain." Jiplak dari sini

Salah satu cara melepaskan bayang-bayang hidup dari pandangan orang lain adalah mengacuhkan setiap hal yang tidak perlu didengar dari mereka. akan ada banyak komentar-komentar dari orang lain tentang hidup kita dan sejatinya kita tidak bisa membungkam mulut mereka, yang bisa dilakukan adalah mengangkat kedua tangan kemudian menutup kedua kuping dan tidak membiarkan hal negatif masuk ke dalam otak sehingga tujuan yang sudah kita rancang tidak terganggu oleh pendapat mereka.

Rawamangun
3 Juli 2015

Aku di Sini

aku masih disini
depan PC yang tetap menatapku
ingin kutantang namun penat mataku

aku masih disini
dengan segudang asa yang membeku
diamku seakan pemberontakan

aku disini
dengan berbagai macam pretensi
ingin dianggap sibuk
atau menumpuk duit
bahkan dengan bergaya ala kaum urban

aku letih
dengan semua kenyataan yang membunuh gairahku
namun tak jua kuberanjak
aku diam

Rawamangun
3 Juli 2015

Ceramah Jum'at

Kali ini saya lumayan cepat mendatangi shalat jumat. sebelum khatib naik ke mimbar, saya sudah duduk manis di dalam mesjid. meski dengan mata yang tidak mau kompromi karena ngantuk yang tidak kuasa dilawan, alhasil tanganku menopak muka dan memejamkan mata sekejap. tatkala khatib naik mimbar, barulah saya menguatkan diri menahan kantuk yang tak kunjung pergi.

Ceramah jumat kali ini mungkin tidak jauh berbeda dengan ceramah jumat sebelumnya. khatib mengimbau kita untuk mengikuti zikir yang biasa dilakukan oleh Nabi. menurut khatib bahwa ada dzikir yang tidak lebih dari 100X dan seharusnya kita seperti itu.

Satu hal yang mungkin selalu saya tidak sepakati dengan para ceramah yang terlalu skriptualis bahkan tentang dzikir pun harus diatur sampai hitungan keberapa sedangkan saya masih sangat percaya bahwa orang yang sudah terpaut harinya kepada Rabbnya tidak akan pernah berhenti berdzikir sedetik pun. 

Namun entahlah mungkin ada pandangan lain yang membuat para muballiq harus saklek terhadap apapun meski saya sendiri masih sangat percaya bahwa Tuhan tidak sesaklek mereka.

Mesjid Assakiya
3 Juli 2015

Tarawih #16

Kebiasaan bermalas-masalan setelah buka masih saja tidak beranjak dari diriku. Entah mengapa ketika semua seakan berat untuk ditinggalkan. alhasil ketika selesai buka dan shalat maghrib, hal yang kulakukan hanya memainkan HP padahal setumpuk buku belum selesai kubaca. bahkan berangkat tararawih pun menjadi terlambat.

Malam ini saya tarawih di salah satu mesjid yang berada di pinggir jalan samping terminal Rawamangun. Lumayan nyaman suasananya sehingga saya bisa berbetah-betah duduk di dalamnya. Setelah shalat Isya, ada ceramah agama yang dibawakan oleh muballiq yang nampaknya masih muda. Isi ceramahnya masih seputar puasa dan kaitannya dengan beberapa hal yang berkaitan dengan fisik misalnya dengan kesehatan. ketika orang rajin berpuasa maka dia senantiasa akan sehat.

Al kisah seorang tabib dari Mesir diutus untuk menjadi tenaga kesehatan semasa Rasulullah namun apa yang terjadi, sang tabib tersebut hanya menjadi pengangguran karena memang tidak ada yang sakit kala itu. puasa menjadi sesuatu yang amat sangat penting bagi kesehatan.

Setelah selesai ceramah agama, baru dilanjutkan dengan shalat tarawih. ternyata shalat tarawihnya 20 Rakaat sehingga pada rakaat kedelapan, saya meninggalkan jamaah.

Mesjid Baitul Mu'minin
16 Ramadhan 1436 H

July 1, 2015

Tarawih #15

Malam ini saya shalat tarawih di mesjid Al-Ishlah Pendurenan. Mesjid ini melaksanakan shalat tarawih setelah shalat isya kemudian ceramah agama, setelah itu baru ditutup dengan witir.

Sang penceramah memulai dengan surat annisa ayat 9. Kemudian melanjutkan ceramahnya bahwa momen Ramadhan untuk menempa diri.

Dia menceritakan dirinya bahwa aktivitasnya sehari-hari adalah dosen UIN Jakarta. Mengajar pengenalan pemahaman Al-Qur'an. Setiap kali dia masuk kelas, dia bertanya secara retorik kepada Mahasiswanya "Siapa yang shalatnya penuh dalam seminggu?" Ironisnya diantara sekitar 20 mahasiswa tidak ada yang shalatnya penuh. Bahkan banyak diantara mereka  yang belum bisa mengaji.



Mesjid Al-Ishlah Pendurenan
15 Ramadhan 1436 H

Tarawih #14

Malam ini aku tarawih di sebuah mushalah dekat kos. tidak ada ceramah setelah selesai shalat Isya dan langsung shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Biasanya saya memilih shalat tarawih di masjid yang ada ceramah agama setelah shalat isya namun karena sorenya saya bukber di kantor dan baru sampai kos sekitar pukul 19:00 membuat semangatku mengikuti tarawih sedikit mengendur alhasil saya memilih mesjid yang cepat. hehe

Memang baru kali ini diadakan bukber di kantor karena bertepatan dengan tutup buku. baru sekali tadi pun merasakan suasana kebersamaan berbuka dengan teman-teman kantor sambil menikmati aneka jajanan dan intinya gratis
hehe

Rawamangun
13 Ramadhan 1436 H

June 30, 2015

Malas

aku memungut rasa yang tak ingin bergerak
mendiamkan hati dalam bisu
tak jua tangan menyapu karya
aku malas saat ini

kalau saja hanya satu yang bersemangat
itu karena juni ada di penghujung
menanti hujan yang sesekali turun di bulan juli

Pulogadung
300615

Tarawih #13

Kali ini saya tarawih di mesjid nurul jami Rawamangun. Mesjid ini memang mungkin menjadi pilihan terbaik dari tiga mesjid yang ada di dekat kosku karena dari ketiga mesjid tersebut, satu-satunya mesjid yang mengadakan ceramah agama setelah shalat isya pun jumlah rakaat tarawihnya 8.

Ceramah malam ini tidak jauh berbeda dengan ceramah malam sebelumnya. Membahas masalah keislaman yang skriptualis dan mengkritik beberapa hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan kaidah Islam.

Dia menekankan ceramahnya pada ayat "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam" kemudian penceramah mengulas  lebih jauh bahwa orang yang mencari jalan diluar Islam adalah orang yang sesat.

Kritikannya terhadap beberapa wacana kekinian misalnya tentang isu penghilangan kolom agama di ktp kemudian tentang pernyataan bahwa kita yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa.

Di titik masalah toleransi dan menghormati sesama, saya sendiri punya pandangan yang entah benar ataupun keliru bahwa dalam toleransi seharusnya yang pertama dilakukan adalah kita menghormati orang lain dan tidak mesti untuk meminta dihormati ataupun dihargai dari orang lain jadi fokusnya ada di diri kita ke orang lain. Dalam kasus puasa, malah kita yang berpuasa seringkali meminta mereka yang tidak berpuasa menghormati kita, tidak makanlah di depan kita, tidak minumlah, kalau seperti itu maka menurut saya, harusnya dibalik. Tidak usah risih jika ada orang yang memang tidak berpuasa toh puasa adalah ibadah privasi huhungan personal dengan Tuhannya.

Entah kenapa mayoritas ceramah tarweh yang kudengar selalu saja berputar pada masalah perbedaan dan parahnya karena para penceramah lebih menonjolkan perbedaan tersebut daripada menjunjung toleransi.

Ada lagi ceramah habis shalat Ashar yang kudengar di mesjid pendurenan dekat RS Mata "Aini." niatan awalnya memang baik karena menceritakan tentang idola, bagaimana bisa generasi Islam lebih mengenal para pemain sepakbola daripada pejuang Islam, mengenal Baik Leonel Messi daripada Umar bin Abdul Aziz. di titik itu mungkin saya sepakat meski akar masalahnya bukan sepenuhnya karena salah generasi namun karena pendidikan yang diberikan oleh generasi sebelumnya.
penceramah tersebut kemudian melanjutkan dengan ulasan tentang menjadi hafizs Al-Qur'an namun di tengah ceramahnya, dia dengan nada menyindir mengatakan bahwa berharap suatu saat nanti calon presiden diberikan syarat hapal 30 Juz dan dengan suara pelan dan seakan berbisik mengatakan bahwa " maksudnya supaya Jokowi tidak terpilih lagi."

Saya tahu pasti kalimat penceramah tersebut ditujukan untuk menyindir keislaman jokowi bahkan dengan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penceramah yakin Jokowi tidak hapal Al-Qur'an. setelah kalimat tersebut, saya lalu beranjak keluar dari Jamaah.

Saya sebenarnya bukanlah Die Hardnya Jokowi namun satu hal yang ingin saya katakan bahwa Jokowi telah memenangkan suara rakyat dari sistem pemilihan yang telah kita sepakati terlepas dari beberapa orang yang tidak memilih namun toh kenyataannya Jokowi telah menjadi pemimpin Indonesia. kalaupun kita kemudian mengkritiknya maka seharusnya yang dikritik adalah kinerja dengan data yang akurat bukan pada masalah kepribadian bahkan hal yang bersifat privasi.

entahlah
Mesjid Nurul Jami Rawamangun
13 Ramadhan 1436 H

June 28, 2015

Tarawih #12

Lagi-lagi saya tarawih di mesjid Al-Ishlah pendurenan. Keputusan untuk sering melaksanakan tarawih di mesjid ini karena raka'atnya 8 dan tidak terlalu lama. Hehe

Penceramah malam ini memulai ceramahnya dengan analogi tentang kendaraan.

Dari sedikit yang kudengar bahwa Penceramah menjelaskan tentang ketaqwaan. sebenarnya isi ceramah mudah dipahami cuma karena tidak tersistematis jadinya saya bingung mau menulis apa.

Selebihnya, saya kurang bisa menangkap inti ceramah karena intonasi Penceramah yang nampaknya klimaks dari awal.

Mesjid Al-Ishlah pendurenan
12 Ramadhan 1436 H

June 27, 2015

Tarawih #11

Saya tarweh di mesjid Al-Ishlah pendurenan. Tidak seperti beberapa hari lalu namun tarweh kali ini tidak seramai beberapa hari lalu

Ceramah agama dilaksanakan setelah shalat tarweh sebelum witir. Tidak terlalu jelas ide-ide ceramah yang saya dengarkan karena mungkin speakernya yang bermasalah. Saya hanya mendengar samar-samar tentang puasa dan tentang persatuan umat Islam.

Nampaknya sang penceramah menyesalkan tentang umat Islam dalam jumlah banyak namun tidak bisa bersatu dalam ukhuwah.

Mesjid Al-Ishlah Pendurenan
11 Ramadhan 1436 

June 26, 2015

Tarawih #10

Puasa hari ini lumayan menguji kesabaran. Pulang kerja, ada buka bersama kantor se-Jabodetabek di gedung Polres Jakarta Selaran

Ceramah hari ini di mesjid Polres jaksel membahas tentang shalat tarawih. Penceramah memulai ceramahnya dengan pertanyaan retorika "shalat tarawih capek ga.?"

Shalat tidak capek ketika kita khusyuk. Ketika jiwa raga sudah menyatu maka shalat akan menyenangkan.  Sesuatu yang dijelaskan lumayan mengena di hati.

Dia mencontohkan kisah Nabi Yusuf. Sejarah Nabi Yusuf dan ketampanannya. Teman zulaikha yang diundang ke rumahnya saat melihat Nabi Yusuf bahkan sampai teriris tangannya dan tidak merasa sakitnya karena terpesona dengan ketampanan Nabi Yusuf.

Kisah tersebut diangkat oleh Penceramah untuk mencontohkan bagaimana sesuatu tidak terasa ketika hati dipenuhi kesenangan.



Mesjid Polres Jakarta Selatan
10 Ramadhan 1436 H