Saya tiba di kampung tepat ketika matahari sedang berada di atas ubun-ubun. Benar-benar membakar kulit, tetapi tiba di kampung juga serasa membakar rindu yang memuncak selama setahun tidak pernah menengok masa lalu. Rutinitas tahunan yang selalu saya usahakan untuk mudik karena serupa oase di tengah kekeringan jiwa bermukim di ibu kota.
Ada rasa yang masih sama ketika memasuki gerbang kabupaten bertuliskan selamat datang. Tulisan itu serasa mengabarkan bahwa saya pulang dengan selamat selama bertahun-tahun berjuang hidup di negeri seberang. Sebuah pencapaian yang tentu bisa jadi kebanggaan karena bisa melewati hari demi hari yang berat.
Kampung memang tidak hanya sekadar tempat lahir namun dia selayaknya jiwa yang menyatu dalam diri sehingga sampai kapanpun tidak bisa tereduksi dari relung hati yang dalam. Kampung akan selalu tinggal jauh di dalam diri sejauh mana pun langkah kaki digerakkan. Setiap momen lebaran akan menjadi kerinduan tersendiri untuk mudik mengunjungi rindu yang tertinggal.
Saya tidak pernah bisa merasionalkan manusia yang mencampakkan masa lalunya dan berlari menjauh darinya. Saya menduga bahwa mereka sedang berusaha mengubah diri yang pada dasarnya tiba bisa diubah dengan apapun.
Kampung menjadi tameng paling ampuh untuk melindungi diri dari langkah yang keluar dari jalur, langkah yang kebablasan di setapak yang berdebu. Jika ada jalan hitam maka kampung akan menghantui sehingga diri tidak berani untuk berubah wujud menjadi manusia kota pada umumnya yang kehilangan diri mereka.
#23 2023
No comments:
Post a Comment