February 2, 2013

Doaku Semoga Diijabah



ini tentang doa sekaligus target.

tidak terasa aku sudah mencapai seperti ini. setelah merenung apa yang telah kulewati, kusadari bahwa ALLAH selalu meberikanku setiap apa yang
kucita-citakan, bahkan mungkin itulah yang tepat buatku.
sebelum aku berangkat dari jogja ke surabaya, aku berniat
bekerja di sebuah LSM lingkungan
dan tenyata sesampai di surabaya
setelah menganggur sebulan, aku diterima sebagai DDC GreenPeace
meski hanya bertahan 2 bulan karena aku memutuskan untuk pindah pekerjaan di Erlangga. bekerja di
sini pun tidak serta merta kujalani karena niatku memang ada sejak dulu bahkan saat
masih di makassar, aku sempat
mendaftar namun tidak di terima.
sekarang aku mengerti jalan takdir yang harus kulalui bahwa setidaknya aku harus menjalani dua kali tes sebelum lulus.
fakta-fakta dibawah ini akan menjadi sebuah bukti tentang pengalaman pribadiku bahwa aku harus menjalani dua kali tes sebelum lulus dalam sebuah hal yang kuinginkan
  • saat mendaftar SPMB pertama kali tahun 2005, aku tidak lulus kemudian tahun berikutnya 2006, aku ikut lagi tes SPMB dan mengambil jurusan yang sama ternyata aku berhasil lulus
  • saat mendaftar di Greenpeace makassar awal 2012, aku tidak berhasil namun saat mencoba kembali pada november 2012, aku di terima sebagai DDC Greenpeace
  • pertama kali mendaftar di Erlangga awal tahun 2012, aku tidak diterima saat setelah mengikuti tes di makassar namun saat aku kembali mencoba mendaftar di surabaya awal tahun 2013, akhirnya aku diterima dan ditempatkan di ngawi.
kesimpulannya aku harus terus berusaha bukan sekali untuk kemudian berhasil, semoga saja ALLAH SWT selalu meridhaiku.
saat mengetahui alurku tersebut, inilah target yang sekaligus menjadi doaku kepada Allah bahwa
selama 6 bulan ini, aku akan menjalani pekerjaanku di penerbit Erlangga sebagai tenaga Marketing, ketika karirku tidak berubah, aku memutuskan untuk keluar dan Insya Allah mencoba lagi mendaftar yang kedua kalinya di kementerian atau bahkan di BUMN. semoga saja di tes yang kedua kalinya, Allah memberiku berkah dan tetap berharap bahwa kelulusanku yang diridhai oleh Allah. Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

dalam kurun 2 bulan ini, Insya Allah aku akan ikut lagi tes toefl karena tes pertama yang kuikuti awal tahun ini belum mencapai target dan semoga saja tes kedua nantinya bisa mencapai target yang kuinginkan. Aamiin Yaa Rabbal Alamin

saya selalu optimis bahwa Allah kan memberikan sesuatu tepat pada waktunya.
Madiun,
2 Februari 2013,
20.05

Maghrib Itu

barusan aku ikut pengajian di Mesjid Al-Irsyad Al Islamiyyah, Madiun. pengajian tersebut
diadakan ba'da Maghrib sampai Isya. pematerinya adalah U.A dan mengkaji tentang Fathul Madjid,
semula, aku begitu semangat
mengikuti setiap sesi dari pengajian tersebut, berhubung
sudah begitu lama aku tidak pernah lagi mengikuti
sebuah pengajian dan dengan
ikut pengajian tersebut, dahagaku seakan terpuaskan, namun
ternyata tidak berlangsung lama. pengajian yang awalnya
membahas tentang menyekutukan Allah membuatku semakin tertarik namun
dipertengahan pengajian tersebut. sang Pemateri mulai mendiskreditkan salah satu
aliran dalam Islam, meskipun aku juga tidak terlalu sepakat dengan aliran
yang sedang dibicarakan namun aku lebih tidak sepakat
karena mereka menjelek-jelekkannya di dalam sebuah majelis.
kalau begitu, pertanyaanku kemudian " apa bedanya kita dengan mereka kalau akhirnya kita meng gibah dalam sebuah majelis yang harusnya menebar kedamaian"?.
aku mulai gelisah dan ingin cepat keluar namun pola majelis yang melingkar membuatku sulit untuk keluar karena semua jamaah pasti melihat kepadaku.
tak berapa lama, aku memutuskan untuk keluar dari majelis lalu melangkah menuju warung
tempe penyetan di pinggir jalan. kebetulan juga perutku sudah mulai meminta untuk di isi.
setelah makan tempe penyet dan membayar 5.500, aku beranjak ke warnet ini dan menulis tentang hal tersebut.
semoga saja aku menjumpai majelis yang lebih menebar kedamaian tanpa harus mendiskreditkan aliran yang berseberangan dengan mereka.



2-2-2013 19.41

Menjejakkan Kaki di Madiun

                                      sabtu, 2-2-2013,
13.49
warnet jl diponegoro, madiun
hai madiun
Tadi malam, tepat pukul 23.00, aku menginjakkan kakiku di madiun. sebuah kota di JATIM yang hanya pernah kudengar dari buku sejarah sejak aku kecil,
kota dimana pernah terjadi pemberontakan pada tahun 1948,
tak terasa, aku sampai juga di kota ini, semalam nginap di mes PT Erlangga seorang diri. tak ada
rasa yang menghinggapi kepalaku selain rasa bahagia akan hidupku,
mungkin hanya 2 hari berada di kota ini
sebelum melanjutkan lagi perjalanan ke ngawi lusa, senin 4 februari 2013.
sejak kuputuskan untuk menikmati setiap potongan hidupku, maka
sejak itu pula, kuikuti setiap skenario
Langit untuk hidupku, tanpa sebuah perasaan berandai-andai. saat semua orang menjejakkan kakinya
di bumi ini dengan beribu asa, maka akupun berjalan dengan hidupku yang sangat menyenangkan tanpa membandingkan hidupku dengan mereka.
pengalaman hidup dua tahun lalu saat aku anjlok selama 5 bulan di kampung membuatku lebih menghargai setiap potongan hidupku, saat itu,
aku bahkan tidak punya harapan sama sekali selain pasrah dan berdoa kepada Yang Kuasa semoga saja
aku tidak memberatkan orang tuaku.
saat itu, tidak ada lagi kekuatan yang kupunya dan bahkan hidup sampai sekarang kurasa adalah sebuah anugerah, mungkin saja
itulah titik balik kehidupanku
semua seakan mimpi ketika aku kembali
mendapatkan kekuatan dan bahkan menjejakkan kakiku di bumi
yang jauh seperti sekarang.
itu pulalah yang mengajarkanku untuk lebih bahagia dengan hidupku dalam
berbagai kisahnya.
saat ini
aku hanya ingin membagi kebahagiaan pertama-tama kepada orang tuaku kemudian kepada semesta,
mengarungi lautan hidup yang entah kan berujung dimana, aku pun tak tahu
kemana takdir kan menggiringku meski esok hari, namun aku hanya bisa berdoa
semoga saja Sang Pencipta tetap mencintaiku dan menggiringku ke takdir yang lebih baik
dan selalu bahagia dalam setiap cerita hidupku. dalam sebuah
Kesabaran dan Kesyukuran

aku bahagia dengan hidupku
aku bahagia dengan hidupku
aku bahagia dengan hidupku

January 31, 2013

Aku Bahagia Dengan Hidupku

Untuk yang terakhir, hari ini kutulis di sebuah warnet dekat kosku. 
Besok aku harus berangkat ke sebuah kota untuk pekerjaan yang baru,
Kutahu berat, namun aku masih ingat kata-kata seorang seniorku di makassar 

Bahwa
Kita harus senantiasa memperluas zona nyaman.
Ini kulakukan demi itu, demi sebuah hidup yang terus berjalan, karena sering ku berteori

Bahwa 
Kita harus tetap melangkah dalam hidup karena jika tidak
maka hidup kan memaksa kita tuk melangkah dan berubah...

3 bulan berada di kota ini kurasa cukup sebagai sebuah pengalaman hidup, meski
tidak bisa kupungkiri bahwa aku sudah mulai settle di kota ini, walau belum sepenuhnya dikatakan berhasil menaklukkannya.
kota yang kan kudatangi besok adalah kota kecil, tidak seramai dengan kota pahlawan, 

Namun
aku selalu yakin bahwa Tuhan selalu menakdirkan kita di setiap cerita hidup
yang penuh hikmah
selalu menjadi tanggung jawab kita bagaimana mengambil
hikmah-hikmah yang terserak di sekitar hidup kita tanpa harus melihat dan membandingkan dengan hidup orang lain.

Aku bahagia dengan hidupku,
Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan setiap kekurangan yang kujumpai dan hidup ini kan kunikmati. berjuang, bergerak dan berusaha untuk selalu berbuat baik terhadap semesta,

aku bahagia dengan hidupku

aku bahagia dengan hidupku

Kedungdoro, 31 Januari 2013

Angin


                                           

Angin,,
Dimanakah engkau berada
Adakah engkau di sisiku
Aku sangat butuh bantuanmu
Dan kuyakin tidak terlalu berat buatmu
Ini ada parcel kecil yang ingin kutitip kepadamu
Buat engkau sampaikan kepada seorang wanita tegar di ujung negeri ini
Wanita itu yang selalu mendoakanku setiap sujudnya
Kumohon kau tidak usah membuka parcel itu karena isinya hanya tiga kata
Angin,,
Kalau kau tidak sibuk hari ini
Kalau saja ada sisa waktumu untuk saya
Sudilah engkau pergi kesana, kemudian menceritakan keadaanku disini kepada wanita itu
Namun kumohon jangan ceritakn hal buruk padanya
Karena hanya akan membuat matanya sembab
Ceritakan dia tentang kisahku
Tentang tawaku dan jangan tangisku
Angin,,
Kuyakin engkau akan sangat senang bercerita dengannya
Dia tidak tidak terlalu banyak tanya bahkan wanita itu pendengar yang baik
Kalau saja ada masalahmu dan kau ceritakan padanya
Wanita itu siap mendengarmu
Ah,, kenapa jadi seperti ini
Kenapa malah kau yang kusarankan untuk cerita masalahmu kepadanya
Ah, jangan lakukan itu, angin
Itu hanya membuat bebannya tambah berat
Angin,,
Besok malam menjelang senja
Engkau berangkat ke sana
Karena engkau akan dapati wanita itu di rumahnya
Wanita itu akan bangun di setiap subuhnya
Bermunajat kepada Sang Ilahi dalam keletihan yang dirasakannya
Jika engkau berangkat pagi menjelang siang
Kuyakin kau tidak akan menjumpainya karena wanita itu sedang berjalan mencari rejeki halal
Jangan kau kira itu buat dirinya, tidak smaa sekali, angin
Itu buat anak-anaknya
Angin,,
Wanita itu adalah ibuku
Orang yang menjadi penyemangatku
Bahkan saat dia jauh,,
Semakin kurasakan kasih sayangnya terhadapku
Dan kau harus menyampaikan parcel itu
Cuma isinya titipan salam dariku

Sby, 7-11-2012

kasih dalam tangis sang Bunda


Ini takkan pernah kulupakan, benar-benar takkan kulupakan dalam perjalananku di kota ini
Berbagai perasaan berkecamuk di kepalaku, bagaimana tidak
Semalam,
Sesaat setelah aku pindah kos,
Kukabarkan ini kepada ibuku, dia menelponku sejak pukul 18,00
Karena aku masih kerja dan baru pulang pukul 21.00, kukirimi
Sms supaya menelpon lagi sekitar jam itu,
Karena sesuatu dan lain hal, aku baru sampai di kos
Sekitar pukul 22.00, itu berarti di kampungku sudah pukul 23.00,
Aku mengirimi sms ibuku.
Semenit kemudian, dia menelponku, awalnya dia menanyakan keadaanku
Lalu kemudian sekitar 5 menit bicara denganku,
Ada suaru isak yg terdengar parau dari dalam telepon,
Kusadari ibuku sedang bersedih, entahlah apa alasannya, namun kucoba menerka kenapa dia bersedih,
Mungkin saja aku jauh dan hidup sendiri,
Mungkin saja mengkhawatirkan keadaanku di sini,
Mungkin saja dia rindu akan diriku,
Mungkin saja perasaannya sedang tak stabil,
Namun apapun kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepalaku,
Kutahu bahwa alasannya menangis karena lebih dari semua itu,
Cintanya terhadap anak-anaknya begitu besar,
Tak kujumpai sebuah kata untuk menggambarkan perasaan yang ada di lubuk hatinya,
Benar-benar aku tak sanggup mendengarnya terisak,
Kucoba untuk tidak ikut bersedih,
Kucoba untuk mengalihkan pembicaraan,
Kucoba untuk berkata “doakan saja aku bu”,
Namun itu semua tak mampu menepis hatiku yang juga terenyuh,
Aku memaksakan untuk mencari alasan lain agar dia tak bersedih, namun gagal,
Kukatakan bahwa sudah dulu bu’ karena aku mau istirahat, saat
Aku menutup telepon, sayup-sayup masih kudengar suaranya yang parau dalam sedih,
Ini terkesan sentimental bu dan mohon restu padamu.
Maaf, bu’,
Bukan maksudku untuk mengakhiri pembicaraan denganmu,
Bukan sama sekali,
Bahkan jika berjam-jam pun, aku takkan lelah bercerita
Apa saja denganmu, asalkan dengan satu syarat
Bu, jangan nampakkan kesedihan di setiap alunan suaramu
Aku hanya tak mau mendengarmu bersedih, aku hanya tak mau ikutan sedih,
Aku hanya ingin mengabarimu saat-saat bahagiaku di sini,
Dan biarlah masa-masa sulitku kusimpan rapi untuk kujadikan kenangan masa tuaku
Tanpa harus memberitahumu,
Engkau terlalu mudah terbawa perasaan ketika mendengar anak-anakmu dalam kesusahan,
Kedungdoro, 26 januari 2013 sesaat setelah pindah ke kos

Waktu


Waktu,
Kau telah merenggut masa kecilku
Masa dimana aku menikmati hidup
Bahagia tanpa sedih dan lara
Hingga kau menggiringku ke masa remaja

Waktu,
Kau pun telah merampas masa itu
Masa dimanaaku harus banyak belajar
Bersiap diri untuk masa depan penuh asa
Dan kaupun sekarang mengantarku ke masa sekarang

Waktu,
Aku sering menyalahkanmu
Tentang masa lalu yang kulalui
Tentang kegagalanku masa itu

Waktu,
Aku kan menggugatmu
Kenapa engkau tak memberiku lebih banyak akan dirimu
Bahkan mengembaikanku ke masa kemarin
Atau aku sebenarnya yang salah
Telah mengacuhkanmu selama ini

Waktu,
Tidak penting mendebat siapa yang salah
Kini kusadar engkau kan sennatiasa berlari
Merubah segala yang dalam genggamanmu
Bahkan jika manusia enggan berubah
Engaku kan memaksa mereka berubah
Dengan pilihan caramu
Tanpa mereka punya pilihan sedikitpun
Karena engkau
Tak menunggu tak jua dinanti
Kau hadir tepat waktumu



Salat




Kuangkat kedua tanganku dalam takbir
Menjadi pembuka gerakanku menghadapMU
Kubaca setiap doa dalam diam
Walau sering pikiranku tak disana
Aku belum benar-benar menghadapMU

Mengbungkuk diriku selutut
Dalam gerakan berikutnya
Kubaca doa doa itu waktu hatiku terpaut duniawi
Aku benar benar belum menemuiMU

Semakin kurendahkan diriku
Menghujam tanah dalam sujudku
Bukti akan kefanaanku
Namun lagi lagi hatiku menjauh
Aku masih belum menjumpaiMU

Kuulangi setiap gerakanku
Kuberharap hatiku bersemayam di sana
Namun tak kuasa
Diriku terlalu sialu absurditas
Hingga bertemu denganMU tak sanggup

Akhirnya ku duduk di akhir gerakanku
Melantunkan doa keselamatan
Mencapai akhir peremuan denganMU
Menoleh kekanan kemudian ke kiri
Hingga akhirnya damai menyelimuti












20 januari 2013