Tulisan ini hanyalah refleksi dari pelatihan yang saya ikuti beberapa waktu lalu di MEP yang terletak dibilangan jln. AP Petarani. Sejujurnya bahwa apa saya tulis akan banyak tereduksi dari materi pelatihan tersebut, dan juga bahwa sesungguhnya materi tersebut lumayan rumit sehingga sulit bagi saya untuk mengerti secara utuh. Permasalahan lain yang mungkin akan muncul dari tulisan saya adalah kemungkinan banyaknya orang yang akan membaca kemudian tidak setuju dengan apa yang saya tulis.
Setan menyerah, sebuah frase yang sebagian dari kita tidak akan pernah setuju dengan hal tersebut, bagaimana tidak bahwa, stigma kita selama ini bahwa Setan adalah musuh terbesar bagi manusia yang kemudian punya 1001 macam cara untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan, kata menyerah adalah kata yang haram tentunya bagi setan. Makhluk ini telah diijinkan oleh Allah SWT untuk ditangguhkan ajalnya untuk menggoda umat manusia sampai hari akhir. Dan sesungguhnya bahwa mereka akan datang menggoda manusia dari segala penjuru sampai manusia terjerumus ke lembah kenistaan.
Namun, kenapa dengan kata menyerah? Sesungguhnya bahwa kata menyerah hanyalah sebuah pilihan kata yang saya pilih untuk mencoba menyindir umat manusia sekarang ini. Bagaimana tidak, kerusakan yang terjadi akibat tingkah pongah yang dipertontonkan oleh umat manusia abad ini semakin tidak terkendali, kerusakan terjadi pada setiap sisi di alam raya ini, mulai dari merusak diri mereka sendiri sampai pada kerusakan lingkungan sekitar manusia, baik itu dunia hewan tumbuhan dan dan buni ini sendiri. Kalau mau mencoba untuk mengkalkulasi kerusakan-kerusakan tersebut, maka akan begitu banyak hal yang kita dapatkan, dari diri mereka adalah terjadinya korupsi, perzinaan, kemaksiatan lain yang kemudian merusak diri mereka dan orang lain, kemudian bagaimana dunia Hewan dan tumbuhan mengalami kerusakan yang begitu hebat akibat ulah manusia yang menghancurkan habitat mereka demi memuaskan nafsu mereka, dan Bumi yang mereka tempati tidak lepas dari kerusakan yang mahadahsyat akibat eksploitasi besar-besaran yang diakibatkan ulah manusia untuk memenuhi keingina-keinginan utopia mereka.
Contoh yang paling konkrit di bumi Indonesia adalah perilaku korupsi dikalangan elit bangsa yang semakin menggila, mari kita tengok kasus korupsi yang sedang melilit partai yang sedang berkuasa di Indonesia, setelah beberapa pelaku korupsi di tubuh partai ini tertangkap basah sebagai pelaku korupsi apa yang mereka lakukan? Sepengetahuan saya bahwa tidak ada satupun yang kemudian angkat tangan bahwa sayalah yang bersalah dan kemudian bertanggung jawab akan masalah tersebut, namun yang terjadi adalah saling menyalahkan, saling tuding, saling senggol untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka yang belum dikaitkan namanya seakan bungkam bersembunyi dalam kebisuan mereka, kemudian mereka yang sudah dikaitkan dengan lingkaran korupsi berusaha mempertahankan diri mereka dengan berbagai cara, bahkan yang sudah jadi tersangka pun masih saja menyangkal bahwa mereka tidak saling kenal atau bahkan tidak pernah sekalipiun bertemu. Fenomena yang sering mereka katakan ketika dijadikan tersangka adalah kita lihat saja di persidangan. Sungguh ironi dan sangat menyedihkan..! mereka berani berbuat tapi tidak berani menanggung resiko.
Kemudian setelah kerusakan-kerusakan tersebut mendatangkan bencana bagi umat manusia, apa yang terjadi? Ramai-ramai umat manusia lepas tangan dari perbuatan mereka, ramai-ramai mereka mengatakan bahwa itu semua adalah bencana, ramai-ramai mereka tidak mau maju kedepan untuk bertanggung jawab, kemudian yang paling sering didengar adalah mereka kemudian ramai-ramai menyalahkan Setan, mereka mengatakan bahwa mereka melakukan itu semua karena setan yang terus datang menggoda, setan yang terus-menerus mengajak mereka melakukan kemaksiatan. Sehingga seakan-akan mereka tidak punya salah akan semua itu, kesalahan mereka sepenuhnya dilimpahkan kepada eksistensi setan yang menggoda mereka.
Hal yang paling mengerikan kemudian yang sering dilakukan oleh umat manusia adalah ketika mereka mendapatkan sedikit kelebihan ( kesuksesan ), maka hal yang sering mereka lakukan adalah kesombongan yang amat sangat. Seakan bahwa hal yang telah mereka peroleh adalah hasil karya mereka sendiri tanpa campur tangan dari yang Maha Pemberi Kesuksesan. Seakan-akan mereka sendirilah yang kemudian mempunyai kesuksesan tersebut tanpa memikirkan begitu banyak bantuan-bantuan yang dibutuhkan untuk kemudian menjadi berhasil. Selanjutnya bahwa ketika mereka mengalami kegagalan, sudah barang tentu bahwa mereka tidak pernah berpikir bahwa itu adalah karena mereka sendiri, yang sering mereka lakukan adalah menyalahkan orang lain, bahkan yang paling berani adalah menyalahkan Tuhan, seakan-akan Tuhan tidak mengasihi mereka. Seolah-olah Tuhan membenci mereka. Dan yang paling membahayakan adalah mereka berputus asa dari Rakhmat-NYA.
Apa tanggapan setan akan hal itu?
Keadaan inilah kemudian saya asosiasikan dengan setan menyerah, setan sekan-akan sudah tidak perlu lagi untuk menggoda manusia. Tindakan manusia yang secara massif melakukan kerusakan-kerusakan di bumi ini sudah melebihi ekspektasi setan ketika berjanji di depan Tuhan untuk menjerumuskan manusia ke lembah yang sesat, alasan berikutnya yang kemudian membuat setan menyerah untuk menggoda manusia adalah sikap manusia yang terus-menerus menyalahkan setan ketika terjadi bencana akibat ulah manusia sendiri. Setan pun menganggap bahwa mereka tidak butuh lagi untuk menggoda manusia untuk melakukan kejahatan. Bahkan setan pun tidak pernah menyalahkan makhluk lain ketika mereka ingkar kepada Allah, mereka berani angkat kepala bahwa itu adalah kesalahan mereka sendiri. Barangkali setan akan berkata begini ketika terlalu sering disalahkan oleh Manusia bahwa “ enak saja menyalahkan kami, kalian bersenang-senang dengan hawa nafsu kalian tetapi kami yang kalian salahkan”.
Sebenarnya, hal tersebut hanyalah sebuah analogi terhadap sikap manusia selama ini yang sering kali menjadi pecundang, setan menjadi bulan-bulanan penyalahan ketika mereka terjerumus ke dalam lembah kenistaan, padahal kita tidak menyadari bahwa kita punya kekuatan untuk memilih yang terbaik bagi kita dan alam terlepas dari adanya godaan setan setan. Hal yang terpenting yang harus kita lakukan adalah memerangi diri sendiri, bukan setan-setan yang menggoda yang menjadi musuh terbesar tetapi diri sendirilah yang harusnya dijadikan musuh terbesah yaitu diri yang haus akan keinginan-keinginan utopis, diri yang setiap saat berjalan dengan angkuh, diri yang sering kali putus asa ketika mengalami kegagalan, diri yang selalu haus akan popularitas, harta,tahta dan diri yang selalu diliputi oleh hawa nafsu. Banyak orang-orang besar yang pernah ada mengatakan bahwa hal yang paling sulit bagi manusia adalah mengalahkan diri sendiri, kemudian Rasulullah SAW pun bersabda bahwa “ perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu”. Dari sini, kita seharusnya sadar untuk kemudian tidak lagi menyalahkan siapapun terhadap setiap tindakan yang kita lakukan bahkan setan pun tidak berhak untuk kita jadikan kambing hitam terhdap tindakan salah yang kita lakukan karena kita punya kesadaran untuk mengakses setiap tindakan kita dan kemudian memilih setiap tindakan yang mestinya kita pilih.
Saya yakin bahwa kita semua tidak menutup kemungkinan untuk kemudian terjerumus kedalam hal-hal seperti yang saya tulis diatas, dan semoga Yang Maha Hidup melindungi kita dari hal-hal tersebut diatas.
*** Mind Trainer ***