July 19, 2023

Tahun Baru Islam (19)

Saya sudah begitu lama tidak menyadark bahwa saya sebenarnya tidak hafal kalender hijriyah. Sesuatu yang menurut saya fatal karena Islam mencakup semua hal dalam hidup saya termasuk sebagai identitas saya.

Penanggalan Hijriyah dimulai pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Jika kalender Masehi patokannya pergantian Matahari maka kalender Hijriyah berdasarkan pergantian bulan.

1. Muharram merupakan bulan pertama yang bermakna bahwa bulan yang diharamkan untuk berperang.

2 Safar

3. Rabiul Awal

4. Rabiul Akhir

5. Jumadil Awal

6. Jumadil Akhir

7. Rajab

8. Sya'ban

9. Ramadan

10. Syawal

11. Dzulkaidah

12. Dzulhijjah

#19 2023

July 15, 2023

Musibah (15)

Hari yang cukup melelahkan, baik fisik maupun psikis. Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia karena salah seorang keluarga melangsungkan pernikahannya di sebuah gedung daerah jalan Gatot Subroto. Saya sudah membayangkan bahwa acara akan berlangsung dengan sangat meriah dan dihadiri oleh tamu penting karena kedua mempelai bekerja di perusahaan yang bonafide.

Tetapi selalu adalah kejadian yang di luar kuasa kita dan itulah fungsinya doa. Siapa sangka bahwa acara yang sudah dibayangkan akan berlangsung dengan keceriaan, tiba-tiba berubah menjadi kepanikan sesaat setelah ijab kabul. 

Gedung terbakar di lantai 7 sementara acara pernikahan di gelar di lantai 5. Kebakaran cukup besar dan sebagian dinding luar gedung terbakar habis. 

#15 2023

July 11, 2023

Manusia (11)

"Cintailah orang yang engkau cintai, seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu. Bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak, dia akan menjadi orang yang kau cintai." (Ali bin Abi Thalib)

Seingat saya, dulu waktu masih duduk di sekolah dasar, salah satu pelajaran yang saya masih ingat sampai sekarang tentang pesan bahwa perang tersebut manusia adalah melawan diri sendiri. Sekian lama saya memikirkan maksud dari kalimat tersebut karena saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya melawan diri sendiri dan apa yang harus dilawan dalam diri.

Seiring berjalan waktu, saya semakin tidak percaya bahwa perang terbesar yaitu melawan diri sendiri karena saya melihat kenyataan bahwa ada sistem besar yang membuat manusia lain sengsara. Sekelompok orang yang memiliki otoritas bersekongkol dengan orang yang menguasai sumber daya kemudian membuat sebuah aturan yang semakin menyengsarakan rakyat kecil. Kenyataan yang saya saksikan membuat saya meyakini bahwa mereka adalah musuh besar yang seharusnya dilawan, bukan diri sendiri.

Perjalanan hidup saya kemudian berlanjut dan usia yang semakin menua kemudian memberikan pelajaran bahwa memang ternyata melawan diri adalah perang terbesar dalam hidup seorang manusia. Ada begitu banyak musuh besar dalam diri yang harus dikalahkan dan ditundukkan agar tidak merusak kehidupan ini.

Kita selalu berada dalam medan perang berkepanjangan. Lengah sedikit maka kita akan dihantam nafsu yang selalu siap menerkam. Sadar diri sepanjang waktu menjadi senjata paling ampuh meskipun pada dasarnya, jarang sekali manusia yang selalu berada dalam keadaan sadar. Itulah kenapa Tuhan memberikan beberapa instrumen untuk menambal kondisi tidak sadar seperti doa atau istighfar.

Ada cerita seorang alim di sebagian besar perjalanan hidupnya namun tergelincir di ujung nafas sehingga dia dikenang sebagai manusia yang merugi. Di lain cerita, ada juga manusia yang berada dalam keadaan tidak sadar namun di ujung hidupnya, dia menyadari diri hakikat hidupnya sehingga menjadi manusia yang beruntung.

#11 2023

July 10, 2023

Kebebasan (10)

Di atas mobil travel menuju Bandung ketika malam sudah sangat larut, saat itu mobil 344 baru saja keluar dari rest area untuk cek point dan kembali melaju di jalan tol yang dipadati kendaraan. Sambil mendengarkan lagu andalan dari sang legenda, Broery Marantika, saya memejamkan mata sambil merefleksikan kehidupan saya enam bulan terakhir sejak memutuskan untuk pindah kerja ke Bandung. Keputusan tersebut memaksa saya menjalani LDM sehingga saya harus menyiapkan energi yang berkali lipat untuk bolak balik Jakarta-Bandung setiap akhir pekan dengan catatan jika tidak ada tugas tambahan di hari Sabtu.

Keputusan yang tentu saja memiliki sisi positif dan negatif tetapi di tulisan ini, saya tidak ingin curhat apa saja hal positif maupun hal negatif dari keputusan yang sudah saya ambil. Saya hanya ingin membagikan satu sisi dari hasil refleksi saya tentang apa yang sedang saya jalani sekarang.

Kebebasan...!!!

Menikah seringkali dimaknai oleh sebagian pihak sebagai kondisi yang membuat seseorang merelakan kebebasannya berkurang. Menikah dianggap menawan kebebasan yang selama ini dimiliki oleh orang yang tidak/belum menikah. Saya pun dalam beberapa kali kesempatan merasa bahwa ada hal-hal tertentu atau banyak hal yang membuat kebebasan kita berkurang ketika sudah menikah karena ada komitmen yang dijaga. Kondisi seperti itu merupakan konsekuensi dari keputusan-keputusan hidup yang memang harus dijalani.

Bahkan mungkin ada orang yang memutuskan bercerai karena kaget atau belum bersedia untuk mengkompromikan kebebasannya dengan komitmen yang sudah diputuskan. Sah-sah saja karena setiap orang punya preferensi masing-masing dan memiliki kapasitas pribadi menjalani hidupnya. Meskipun saya yakin bahwa di sisi lain, mereka kehilangan sesuatu yang bermakna.

Benarkah menikah mengurangi kebebasan seseorang?

Nah ini yang menjadi tanda tanya besar. Saya yang hidup sendiri di Bandung dan menyewa sebuah kamar kos tanpa pengawasan dari istri, seharusnya memiliki kebebasan yang tak terbatas. Saya bisa pulang ke kos jam berapa pun saya mau dan bisa ke mana saja tanpa ada kewajiban pulang lebih awal. Toh saya tidak melakukan itu bahkan saya merasa sangat bosan hidup dengan kebebasan yang baru. Saya tetap pulang ke kos lebih awal dan menghabiskan banyak waktu di kos sambil mengeja waktu dan menunggu akhir pekan untuk kembali ke rumah.

Ternyata semua kebebasan yang saya miliki sekarang hanyalah ilusi. Saya tetap merindukan hidup dalam pengawasan istri dan  menikmati teguran istri ketika pulang larut malam ke rumah. Kebebasan hanya persoalan perspektif. Orang yang tidak diawasi oleh siapa-siapa belum tentu merasa bebas, pun demikian sebaliknya bahwa orang yang diawasi oleh orang tua atau pasangannya, bisa jadi merasa sangat bebas. 

Argumen saya tersebut diafirmasi dengan kenyataan bahwa semakin menua seseorang maka semakin kecil lingkaran pertemanannya. Entah dia menikah atau memilih untuk tidak menikah, maka saya yakin bahwa tetap saja lingkaran pertemanannya akan mengecil dan membatasi ruang geraknya untuk melakukan kebebasan yang absolut. Orang yang memilih untuk hidup tanpa menikah, akan mendambakan hidup yang dibatasi, entah dari istri atau dari orang tua. Persoalannya ketika umur semakin bertambah, orang tua tidak lagi membatasi seketat ketika memiliki pasangan.

Orang yang memilih bercerai atau meninggalkan rumah orang tua dengan dalih ingin bebas, maka saya yakin bahwa semakin tidak bebas perasaannya. Dia akan kembali merindukan hidup yang berada dalam pengawasan entah dari orang tua atau dari pasangan.

Itulah kenapa saya mempercayai bahwa kesendirian itu tidak semata bermakna kebebasan tetapi ada makna lain yaitu kesepian. Orang yang memilih menyendiri tidak serta merta dianggap sebagai orang yang bebas tetapi bisa saja dia berperang dengan kesepiannya.

Kutipan kalimat Socrates yang sudah sangat mainstream dijadikan pilihan kalimat untuk mengajak seseorang menikah:

By all means, marry. If you get a good wife, you’ll become happy; if you get a bad one, you’ll become a philosopher.

#10 2023

July 9, 2023

Kota ini (9)

Saya sudah beberapa bulan menetap di kota ini dan entah sampai kapan saya akan tinggal di sini. Saya pun tidak inging terlalu berangan-angan akan masa depan yang misterius. Saya hanya bisa menjalani setiap hari demi hari ini meneguhkan hidup sebagai sebuah perjalanan menuai semua hikmah yang bertebaran di bumi ini.

Di kota ini, saya merasa belum menemukan fase menikmati kota ini dengan segala dinamikanya. Masih ada rasa seperti ingin menemukan kota yang lebih sederhana dan tidak berjalan dengan terburu-buru. Saya menganggap bahwa hidup sebenarnya berjalan dengan segala seninya.

Entah mengapa, mungkin juga karena di kota ini saya hidup sendiri dan jauh dari keluarga. Tidak ada anak istri yang ditemui ketika pulang dari kantor selain rasa hampa yang ada di kamar kos dan beberapa buku yang bertebaran.

Hidup memang selalu tidak sesuai dengan harapan.

#9 2023

July 8, 2023

Diskusi Politik (8)

Malam ini sebagaimana rutinitas malam minggu sebelumnya, saya memiliki jadwal diskusi buku dengan teman-teman dari Makassar secara online. Biasanya menggunakan media zoom namun kali ini, salah seorang teman yang sering memfasilitasi media zoom sedang berhalangan sehingga kami memutuskan untuk menggunakan google meet. 

Hanya ada empat orang teman yang meluangkan waktu hadir di diskusi malam ini termasuk saya. Tidak ada yang bersedia untuk membagikan hasil bacaannya sehingga untuk memantik diskusi, saya terpaksa menshare hasil bacaan saya tentang Agama, Demokrasi, dan Politik Kekerasan yang ditulis oleh prof Haedar. Sebenarnya saya belum selesai membaca semua isi buku namun karena tidak ada yang bersedia maka setidaknya hasil bacaan saya yang masih sedikit bisa menstimulasi teman-teman yang hadir untuk diskusi tentang tema yang saya ajukan.

Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan prof Haedar di media Republika pasca reformasi sampai saat ini, sehingga di beberapa tulisan tersebut, nuansa situasi politik Indonesia era orde baru masih sangat terasa seperti bahasan tentang dwifungsi ABRI dan analisis tentang arah reformasi yang baru saja lahir. Selain itu juga, prof Haedar mengidentifikasi situasi politik pasca reformasi termasuk polarisasi di antara golongan di tengah masyarakat dalam menyikapi reformasi.

Diskusinya berjalan lancar namun teman-teman yang hadir menanggapi dengan pertanyaan, tidak dengan referensi yang lain, sementara saya berharap bahwa diskusinya berjalan dengan baik dan peserta yang lain memberikan informasi atau pandangan yang bisa memperkaya khasanah keilmuan tentang tema besar yang sedang didiskusikan.

salah seorang teman bahkan menanyakan kepada saya bahwa apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa dalam sistem demokrasi yang memungkinkan semua orang bisa menyuarakan pendapatnya.

Saya menanggapi bahwa sebagai warga negara, kita punya porsi yang berada di dalam jangkauan kita misalnya mengkritisi kebijakan publik dengan menawarkan solusi atau juga tanpa solusi namun bisa memetakan persoalan yang ada.

# 8 2023

July 7, 2023

Tentang Mengajar (7)

Ini tentang keputusan hidup untuk menjalani sebuah profesi yang berhubungan dengan orang lain. Artinya bahwa ada tanggung jawab lebih yang harus diemban dalam menjalani profesi ini. Jika ada hal yang keliru maka dampaknya cukup besar.

Saya memilih menjadi seorang pengajar dengan beberapa pertimbangan salah satunya agar saya bisa terus memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan diri. Tetapi di sisi yang lain, ada kekhawatiran jika dalam proses pengajaran yang saya lakukan, ada misinformasi yang saya sampaikan dan tentu itu sangat berpengaruh terhadap anak didik.

#7 2023

July 6, 2023

Engagement (6)

Saya tidak memiliki keluarga inti di kota ini namun tidak demikian dengan istri saya, sebagian besar keluarga intinya berada di kota ini sehingga seringkali ketika ada acara, maka kami pasti akan diundang. Salah satu persoalan dalam hidup ini memang tentang relasi antara keluarga. Sebagian besar masalah yang kita alami biasanya melibatkan keluarga.

Minimal ada empat sumber masalah dalam sebuah rumah tangga yaitu dari suami, dari istri, dari keluarga pihak suami, dan dari keluarga pihak istri. Keempat sumber timbulnya masalah tersebut biasanya datang tanpa diduga dan levelnya tentu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas pihak yang sedang menghadapi masalah tersebut.

Tentu selain menjadi sumber masalah, keluarga juga seringkali menjadi tempat pulang dan tempat untuk melepaskan semua masalah dalam pekerjaan. Keluarga yang baik adalah keluarga yang mendoakan dan mendukung satu sama lain tanpa memaksakan ambisi-ambisinya karena yang menjalani tentu masing-masing pihak.

***

Beberapa hari yang lalu, salah seorang saudara sepupu istri saya lamaran di sebuah saung. Kami datang agak pagi karena jarak rumah dengan lokasi lamaran cukup jauh yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar sejam. Kami tiba sesaat sebelum acara dimulai dan beberapa keluarga sudah berkumpul di tempat acara. Kami disalami oleh orang tua calon mempelai dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami. 

Tidak ada cerita menarik dari acara lamaran tersebut karena semua berjalan dengan lancar. 

#6 2023

July 5, 2023

Grup WA (5)

Tadi saya izin ke salah satu grup wa untuk left grup. Saya sudah yakin bahwa keputusan saya tersebut akan menyisakan tanda tanya besar kepada para anggota grup wa karena tidak ada sebab yang jelas tiba-tiba saya keluar dari grup tetapi itulah keputusan saya untuk mengurangi potensi dan celah bergibah. Biasnaya semakin banyak grup wa maka akan semakin besar kemungkinan untuk membicarakan orang lain yang mungkin tidak sejalan.

Grup wa sekarang semacam tempat nongkrong yang butuh dikalibrasi karena tidak semua tempat nongkrong itu sehat. Ada tempat nongkrong yang memang perlu untuk dipertahankan tetapi ada juga yang seharusnya dilepaskan saja demi kesehatan mental.

Saya menyadari bahwa usia saya sudah tidak muda lagi dengan satu putra yang sudah beranjak besar maka saya sebagai seorang ayah harus mampu untuk menyehatkan mental saya demi kebaikan putra saya yang nantinya akan mendapatkan percikan dari semesta atas apa yang saya lakukan.

Saya ingat belasan tahun lalu ketika menempuh pendidikan S1, komunitas diskusi bertebaran di kampus dan kita tinggal memilih masuk di komunitas yang mana sesuai dengan preferensi masing-masing. Komunitas atau organisasi tersebut memiliki visi dan misi yang tentunya menjadi penunjuk arah jalannya organisasi.

Tidak jarang antar organisasi perang argumen dengan berbagai instrumennya termasuk debat dan melalui tulisan dan sesekali dibumbui argumen yang keras. Hasilnya, banyak mencetak mahasiswa yang kritis dan memiliki perspektif yang luas.

Perkembangan teknologi kemudian membuat disrupsi yang di luar dugaan. Grup wa seakan menjadi komunitas baru namun konten dan isinya hanya candaan dan gibah serta fitnah. Tidak ada lagi debat ilmiah dan diskusi mendalam tentang apa pun sehingga tidak sehat untuk perkembangan mental seseorang.

#5 2023

July 4, 2023

Family Gathering (4)

Semakin dewasa seseorang maka seharusnya semakin mampu untuk menakar dirinya masing-masing tanpa harus mengikuti apa yang diinginkan oleh orang lain. Jika usia semakin menua namun kita tidak mampu membentuk karakter kita sendiri yang sesuai dengan siapa kita sebenarnya maka kita masih akan terus terombang-ambing di jalan yang gelap.

Di sebuah acara family gathering, saya mencoba untuk tetap menjadi diri saya sendiri tanpa memaksakan untuk akrab dengan orang lain, tetapi juga tidak sombong tanpa menyapa rekan sejawat. Apa yang saya maksud dengan memaksakan adalah ingin terlihat akrab dengan semua orang padahal tidak membuat nyaman.

Pernah di suatu masa, saya selalu ingin terlihat akrab dengan orang lain meskipun saya merasa orang tersebut tidak terlalu nyambung dengan saya jika mengobrol sesuatu. Ini yang saya maksud dengan memaksakan, sementara ketika memang tidak bisa akrab, minimal saling kenal dan tidak ada masalah yang terjadi.

Itulah yang saya lakukan kemarin di acara kampus yang dihadiri oleh karyawan serta keluarganya masing-masing. Saya tetap menyapa semua orang tetapi tidak berusaha untuk sok akrab karena saya memahami diri saya bukan orang supel yang gampang akrab dengan orang lain. Saya orang yang hanya bisa akrab dengan beberapa orang yang sefrekuensi dengan saya dan bisa saya ajak obrol hal-hal yang lebih filosofis.

Mungkin terlalu memaksakan untuk cocoklogi namun sejalan dengan apa yang dilantunkan oleh Immanuel Kant "Sapere Aude", Beranilah berpikir sendiri. Bahwa relevansinya ada pada sikap pribadi yang berasal dari permenungan diri tanpa terbawa arus oleh lingkungan sekitar. 

Kita tidak mudah digoyahkan oleh siapa dan/atau apapun selama kita mempunyai pendirian yang kokoh dengan sikap yang kita ambil sendiri selama tidak mengganggu privasi orang lain.

#4 2023

July 3, 2023

Pangandaran (3)

Akhirnya tiba di Pangandaran dengan perjalanan yang cukup melelahkan. Semalam keberangkatan delay sekitar dua jam yang awalnya kami harus berangkat jam 12 malam diundar menjadi jam 2 malam. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa karena pemberitahuan diumumkan di wa grup sekitar jam 9 malam. 

Ada lima bis dengan jumlah orang sekitar 250. Saya sendiri berada di bis 4 dengan beberapa karyawan dan keluarga karyawan. Ini adalah perjalanan pertama saya mengikuti acara family gathering sejak bergabung di kampus ini. Tentu ini juga menjadi ajang mengenal seluruh karyawan karena selama ini, saya hanya mengenal muka dan sama sekali tidak mengenal nama.

Rombongan bis berangkat ke Pangandaran sekitar jam 2 dan perjalanan cukup lancar sebelum tiba di sebuah daerah. Saya lupa nama daerahnya namun seingat saya, itu sekitar jam setengah lima subuh. Menurut keterangan sopir bahwa ada kecelakaan sehingga macet sekitar satu jam. Akhirnya kami harus salat subuh di mobil.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dan baru tiba di daerah Pangandaran untuk sarapan sekitar jam 11. Perjalanan dilanjutkan ke Citumang untuk acara rafting. Saya memilih untuk tidak ikut karena tidak membawa perlengkapan. Sekitar jam 4 sore, kami kemudian ke hotel di dekat pantai.

Tidak ada acara di malam hari karena waktu sudah mepet dan semua orang sudah capek dengan perjalanan yang tidak sesuai dengan prediksi. Kami hanya makan malam di sebuah restoran kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Malam pertama di Pangandaran merasakan hawa pantai yang tidak terlalu panas. Daerah ini sudah menjadi tujuan wisata sejak dulu namun menjadi sangat populer ketika dipromosikan oleh mantan menteri, ibu Susi Pujiastuti.

#3 2023

July 2, 2023

Kembali Pulang (2)

Biasanya saya balik ke Bandung hari Senin sore namun kali ini, saya harus balik hari Minggu siang karena ada hajatan kampus, family gathering, yang akan diadakan dua hari di daerah Pangandaran. Jarak dari Bandung ke Pangandaran cukup jauh sekitar tujuh jam sehingga kami harus berangkat malam hari.

Saya memesan travel dengan keberangkatan jam setengah 12 siang agar tiba di Bandung tidak terlalu sore. Perjalanan ke Bandung cukup lancar dan tiba di Surapati tepat waktu namun ternyata, siang menjelang sore di Bandung, hujan turun dengan cukup deras membuat saya harus menunggu beberapa saat untuk balik ke kos.

Sekitar 20 menit menunggu hujan reda, akhirnya saya memutuskan untuk memesan ojek online ketika hujan sudah mulai reda dan hanya sisa-sisa gerimis. Perjalanan ke kos lancar sebelum tiba di depan mall Trans. Tiba-tiba hujan turun dengan amat sangat deras dan angin kencang. Saya menyadari bahwa ada laptop di tas sehingga memutuskan untuk meminjam jas hujan abang ojek. Saya hanya menutupi tas dengan jas hujan kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kos yang sudah dekat.

Tiba di depan kos, hujan masih sangat deras. Saya basah kuyup dan sepatu yang awalnya saya akan gunakan untuk acara family gathering tidak bisa digunakan karena basah, untungnya laptop tidak basah. 

Setelah membereskan baju yang basah dan mandi, saya memilih istirahat karena malam hari harus berangkat ke Pangandaran dengan bis. Saya sudah membayangkan bahkan akan membutuhkan energi yang tidak sedikit untuk menempuh perjalanan dengan bis apalagi dengan kondisi jalan yang jauh dan berbelok-belok.

#3 2023

July 1, 2023

Start Again (1)

Sekarang sudah memasuki bulan Juli artinya semester kedua di tahun ini. Melewati semester satu seperti mengeja waktu demi waktu yang berlalu tak berbekas. Ada beberapa hal yang tercapai namun sebagian besar meleset karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik bahkan terkesan menganggap bahwa waktu akan mentoleransi kebiasaan menunda, namun sayangnya waktu sama sekali tidak berbaik hati untuk hal-hal yang sia-sia.

Saya membayangkan bahwa sebagian waktu saya terbuang karena terlalu banyak memegang hp yang tak punya tujuan sama sekali. Semua terbuang begitu saja dengan waktu yang saya miliki sementara saya memiliki segudang target yang harus segera saya cicil. Target tidak bisa dikerjakan sekaligus dan harus dilakukan secara persisten.

Profesi yang sedang saya geluti sekarang membutuhkan energi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Jika itu tidak dilakukan maka saya akan mengalami kegagalan dan semua hal yang nantinya akan membuat saya menyesal di kemudian hari. Konsistensi harus dilatih dengan baik dan teratur jika ingin mencapai level yang diinginkan karena tidak bisa terjadi dalam sehari.

Ada beberapa target-target jangka pendek yang ingin saya wujudkan namun sampai sekarang masih amburadul. Konsisten membaca, setiap hari menulis, tidak terlalu banyak tidur di malam hari dan beberapa target kecil untuk mendukung pengembangan diri saya termasuk juga bagaimana menguatkan karakter saya tanpa harus terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Menguatkan karakter bukan berarti tidak peduli namun lebih pada fokus untuk mencapai target dan tidak terdistraksi dengan gangguan di sekitar kita.

Juli ini akan menjadi perjuangan panjang dan berat untuk mengembalikan diri ke jalur yang benar. Juli ini juga akan menjadikan pembuktian apa saya mampu melawan kesenangan diri yang fana untuk sesuatu yang besar nantinya karena terus terang, saya punya bayangan di suatu waktu, saya menjadi seorang yang profesional di bidang saya dengan kemampuan yang mumpuni dan bisa bermanfaat kepada orang lain.

Saya amat sangat ingin menjadi pembaca yang baik dan benar serta konsisten setiap hari. Saya pun ingin menghasilkan karya tulisan baik artikel media, buku tentang keilmuan saya maupun tulisan-tulisan reflektif tentang kehidupan yang telah dan sedang saya jalani.

Juli, I am gonna prove you that I can.

#1 2023