June 4, 2014

BELAJAR DARI NAO


“Ketika kamu berbuat baik kepada orang maka orang tidak akan pernah menanyakan apa agamamu.” Kutipan dari Gusdur itu benar adanya bahwa dalam berbuat baik itu tidak ditentukan oleh suatu agama karena sejatinya dalam diri manusia itu selalu saja ada niat untuk berbuat baik karena sejatinya manusia itu adalah baik. Mungkin hikmah inilah yang kudapat hari ini dengan orang jepang yang mungkin beragam Shinto atau Budha atau agama yang selain Islam.

Ceritanya seperti ini. Kemarin nao mengajakku makan siang, berhubung kemarin waktu sudah mepet maka kami sepakati hari ini. Kami janjian jam 12 di indomaret pendurenan. 10 menit kurang jam 12 aku sudah menunggunya dan tidak lama kemudian dia pun datang menghampiri. Berselang beberapa lama bertukar cerita di indomaret, kami kemudian memutuskan untuk makan siang di epicentrum. Aku dan nao menuju ke epicentrum naik motor. Tepat di seberang jalan epicentrum, aku memarkir motor dan menyeberang jembatan penyeberang bersama Nao sambil bercerita apa saja.

Di sepanjang jembatan penyeberang, aku terkesima melihat Nao yang ternyata sangat dermawan. Kalau yang sering kudengar bahwa orang jepang itu individualis dan jarang berbagi namun terbantahkan dengan apa yang dilakukan Nao sepanjang jembatan penyebarangan. Ada sekitar 3 pengemis yang duduk di jembatan penyeberangan dan semuanya diberi uang yang entah berapa jumlahnya. Aku langsung merasa jleb dan sedikit agak malu. Aku yang beragama Islam jarang melakukan hal yang sama. Jika aku sudah memberi uang ke pengemis maka aku selalu berpikir itu sudah cukup namun ternyata tidak buat Nao. Semua harus mendapat bagian. Benar-benar sangat dermawan.

Inilah mengapa aku mulai memikirkan semua hal tentang kemanusiaan. Nao memang mungkin beragama selain Islam namun satu hal yang dia yakini bahwa berbuat baik buat sesama adalah sebuah keharusan. Tidak memandang agama atau variabel yang lain karena kita semua adalah manusia yang harus saling berbagi.

Hal lain yang menarik dari nao adalah tampangnya yang seperti umur 30an. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku berpikir umurnya baru sekitar 30 atau paling mentok 40 tahun namun semua terbongkar ketika dia meminjam laptopku untuk dipakai mengedit CV. Saat itulah aku terperanjat kaget dan tak percaya ternyata umurnya sudah 49 tahun. Entahlah kapan bisa bertemu dengannya karena hari sabtu depan, dia sudah baik ke Tokyo karena kontraknya di Jakarta sudah selesai bahkan menurutnya kemungkinan Negara berikutnya yang dituju adalah Vietnam.


Sayonara, semoga suatu saat kita bertemu lagi Naoyuki

Jak-sel  4.6.14

PENULIS IMAJI



Saya sebenarnya bercita-cita membuat sebuah buku mini entah itu novel mini ataupun kumpulan kisah mini dari pengalaman sehari-hari atau bahkan tulisan ilmiah namun selalu saja gagal. Setiap menulis sebuah tulisan yang kurencanakan sebagai sebuah buku, pasti tidak selesai dan seringkali bentuknya curahatan hati yang lebay atau puisi alay yang amat sangat tidak berbobot. Entahlah namun dari dulu seperti itu. Saya pernah menulis novel mini yang ingin kupersembahkan di hari ulang tahun pacarku yang selama tujuh tahun kutaksir mulai saat kami baru mahasiswa baru di sebuah universitas di Makassar dan baru jadian saat 2 tahun jadi sarjana kemudian putus dua bulan setelahnya. Dalam perjalanan novel tersebut sudah sampai 5 bab namun apa dikata, sebelum ulang tahunnya, pacarku tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan kisah kami dengan alasan yang tidak masuk akal. Arsip novel tersebut tidak kulanjutkan karena setiap kali membuka dan membacanya hanya menggoreskan sakit hati sehingga arsip hanya membeku di laptop.
Buku kedua yang saya coba rampungkan adalah prosa tentang perenungan diri. Sebenarnya ini terinspirasi dari bukunya kang Huda di ngawi yang berjudul “ buat sang Fajar dan Bumiku tercinta.” Saya pun mencoba menulis buku seperti itu yang lahir murni dari perenungan dan kontemplasi selama ini namun hampir setahun, baru 6 bab dan masih mandek sampai sekarang. Huhu
Buku selanjutnya yang kugarap adalah sebuah novel tentang dua perempuan berpengaruh dalam hidupku yang yang ingin kupersembahkan di hari ulang tahun wps namun lagi-lagi ide dangkal dan rasa malas yang setiap saat mendera membuat novel itu hanya bertahan sampai dua bab dan kemudian di arsipkan di laptop tanpa pernah lagi disentuh dan dilanjutkan ceritanya. Benar-benar payah menjadi penulis karbitan yang terlalu banyak khayalan namun tulisan hanya beberapa paragraph.
Proyek buku yang lain lumayan mempunyai progress yang sedikit memberi titik terang dan sedikit asa yang bisa dibilang akan benar-benar rampung. Buku yang kuberi judul “windi dan warna pink” sebenarnya berisi tentang kisah sehari-hari yang kualami baik ketika bersama wps maupun yang kualami sendiri. Kisah yang dikemas dalam cerita ringan dan kemudian disisipkan tentang beberapa hikmah sederhana yang terkadang dilupakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya proyek buku yang terakhir ini tiba-tiba saja terlintas saat membaca buku Dewi Lestari “Filosofi kopi”. Sangat sederhana memang namun ternyata mempunyai hikmah yang luar biasa. Kisah lain yang juga menginspirasi adalah buku river’s note yang ditulis oleh kak ochan. Kisah sederhana yang dijumpai setiap hari yang dikemas dan cerita sederhana kemudian disisipkan beberapa nilai dan hikmah sebagai inti dari tulisan tersebut.

buku atau bahkan lebih tepatnya kumpulan tulisan “windi dan warna pink” sudah sampai 19 kumpulan tulisan dan memasuki tahap finishing. Sebenarnya buku ini pun aku janjikan kepada wps di awal tahun sesuai janji kami sehingga saya masih punya waktu sekitar setengah tahun lagi untuk menambah beberapa cerita kedalam buku tersebut tanpa harus terburu-buru untuk menyelesaikannya. Saya berangan-angan meskipun kumpulan tulisan tersebut yang kukemas dalam bentuk buku nantinya tidak lolos di penerbit namun saya tetap akan mencetak bahkan mendesign sampul kemudian memprint sendiri dengan model buku. Setidaknya memuaskan dahaga menulis sebuah buku lengkap yang dibaca sendiri karena hal itu bisa memicu libido menulis untuk lebih giat lagi.

Sebenarnya ketika ingin mengumpulkan berbagai puisi yang sudah kutulis, itupun bisa menjadi sebuah buku kecil namun dari dulu sampai saat ini, saya tidak pernah percaya atas puisi-puisi yang kutulis karena seingatku, saya menulis puisi semuanya ngawur hanya untuk mempertahankan minat menulis dikala rasa malas melanda.


Jak-sel 3 june 2014
Ah, lagi-lagi menulis lebayyy.hehhehe

June 2, 2014

gadis dan amarahku


Mungkin salah satu wanita paling sabar yang kutemui adalah gadis. Sudah berulang kali aku membuatnya marah namun satu hal yang dilakukannya adalah tetap bersabar bahkan ketika aku pun marah dia tetap tak bergeming dan selalu saja diam dalam sabarnya. Aku pernah membaca salah satu artikel yang entah siapa penulisnya bahwa ketika ingin mencari seorang calon isteri maka arahkanlah dia, jikalau dia mengikutimu maka pertahankanlah.  Aku selalu mengarahkan gadis dan dia pun selalu mengikutiku.

Uztads Hmz juga dalam beberapa kesempatan memberikan cara bagaimana menguji seorang perempuan yang akan dijadikan calon isteri dan teori Ustadz sudah sebagian kupraktekkan dan selalu saja gadis berhasil akan hal itu. Dia akan tetap sabar dalam berbagai kondisi yang kuciptakan, entah itu aku marah-marah, ataupun membuatnya marah dan bahkan membuatnya menunggu, dia akan tetap sabar meski entah dalam hatinya dipendam kemarahan itu.hehe

Begitulah mungkin gadis yang selama setahun lebih kukenal sejak kami berteman di Surabaya sebagai DDC GP. Tidak ada amarah yang keluar dari mulutnya hanya kadang-kadang keluhan halus yang dilontarkan kepadaku ketika dia tidak sepakat akan sesuatu namun tetap saja itu tidaklah sebanding dengan kesabaran yang diperlihatkan kepadaku selama ini. Kesabaran yang dibutuhkan dalam menjalani berbagai rintangan hidup yang memang tak mudah.

Tetaplah bersabar gadis, tetaplah menjadi pribadi yang mengasikkan dan selalu semangat dalam kondisi apapun.


 Jak-sel, 2 june 2014

HEYY JUNE


Juni yang datang di senja yang kering. Menyatu dalam keringat yang becucuran tiada henti
Juni yang datang dengan asa yang cerah. Menyapu mei yang berkabut dengan sedih
Berlari bersama juni akan menyenangkan. Menebar optimisme dan harapan yang tak berujung
Dia datang dengan ramah bahkan menyambut setiap titipan doa
Dia datang dengan kasih terberkahi, bersama restu suci semesta
Aku salah satu pendamba juni, menitipkan sejuta harapan kepadanya

Karena kami semua yakin
Juni tak pernah ingkar janji
Dia mengabulkan doadoa kami
Dan padanyalah asa kami sandarkan
Aku menunggu juni membawa harapanku
Setelah kemarin Mei berlalu tanpa membawa apaapa
Dan aku yakin kali ini
Juni akan mengantarkan titipanku diujung jalan
Yang kemudian aku akan menjemputnya


CILANDAK, 2 JUNI 2014

May 31, 2014

Gadis tak dianggap


tulisan ini adalah refleksi dari perasaan gadis yang mengirimi pesan bbm semalam bahwa dia merasa paling tidak bisa dan bahkan merasa tidak dianggap oleh kelompoknya di prajabatan yang sedang dijalaninya. Penuturannya yang jujur bahwa hal ini berkaitan dengan sifatnya yang pendiam dan jarang sekali tampil sebagai pembicara atau bahkan mengeluarkan pendapat di forum. Dalam kerja-kerja kelompok pun dia terkadang dianggap sebagai figuran karena semua teman-temannya mempunyai retorika yang bagus dan mempesona.

Persoalan ini sebenarnya ada pada sebagian besar orang apalagi yang mempunyai sifat dasar pemalu tak terkecuali aku. Saat SMA dulu aku begitu pemalu bahkan terkadang saat tampil di depan wajahku akan berubah warna menjadi merah padam dan alhasil aku akan diledek habis-habisan oleh teman-temanku. Ada rasa yang amat sangat tidak menyenangkan memang saat itu namun pilihanku saat itu adalah tetap menjadi diriku dan belajar lebih tekun, setidaknya aku sedikit diperhitungkan dalam hal pelajaran.

Setelah menginjakkan kaki dibangku kuliah, aku bertekad kuat untuk berubah sikap menjadi lebih pede. Awalnya aku ikut organisasi dan ternyata it works. Di beberapa organisasi kampus, setidaknya tidak ada ledekan yang aku terima bahkan di forum-forum aku dengan begitu entengnya berpendapat apa saja semauku tanpa harus was-was akan diledek seperti waktu di SMA bahkan di beberapa kesempatan aku menjadi pemateri di forum diskusi yang pada waktu SMA sama sekali tidak bisa kubayangkan.

Setelah sarjana, aku sering merenungkan perjalananku dan beberapa kesimpulan yang kuambil adalah dalam sebuah kelompok itu sama sekali tidak ada yang figuran. Aku juga sering merefleksikan diriku di SMA bahwa kebanyakan dari kita yang meledek orang lain itu karena kita ingin menutupi kekurangan ataupun bahkan ingin menjadi seperti mereka namun tidak bisa.

Menjadi pemalu atau bahkan tidak menonjol sama sekali bukan aib bahkan itu adalah sebuah kelebihan karena disitulah kita bisa membiasakan diri untuk bekerja dengan ikhlas. Orang yang sering dipuji atau bahkan dianggap jago dalam sebuah kelompok amat sangat riskan menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak dianggap dan sering diledek sangat besar peluang untuk belajar bagaimana menghargai orang dan juga membiasakan diri bersifat rendah hati tapi tidak rendah diri.

Ada beberapa kisah tentang kejadian seperti ini dan terjadi dimana-mana. Dulu, ketika Gusdur menjadi presiden, Beliau pernah keluar dari istana memakai kaos oblong dan celana pendek, berselang beberapa waktu saat Beliau sudah tidak menjadi presiden dan diundang ke acara kick andy, Beliau ditanya alasan kenapa memakai celana pendek di depan istana. Dengan enteng Beliau menjawab “ supaya saya tidak dianggap menjadi presiden dan hati menjadi dingin.” Meski aku rasa ada alasan filosofi lain yang terkandung di dalamnya namun kurasa bahwa jawaban tersebut adalah ajaran bagaimana kita tawaddu.

Cerita kedua, aku lupa sumbernya namun pernah membaca sebuah kisah tentang seorang anak yang nyantri di sebuah pondok. Anak itu seperti terisolasi karena di saat teman-temannya belajar menghapal Al-Qur’an, dia malah mengurus kebutuhan lain kyai nya seperti mengurus kuda, mencuci pakaian, memasak dan pekerjaan lain yang mungkin pada saat kita berada di sebuah kelompok dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Begitu seterusnya yang dikerjaan oleh anak itu dengan ikhlas tanpa mengeluh sama sekali namun apa yang terjadi pada akhirnya, si anak yang dianggap figuran tersebut menjadi kyai yang paling termasyur di antara teman-temannya. Begitulah hasil penghidmatan dan usaha yang didasarkan oleh keikhlasan yang membuahkan hasil.

Sering sekali kita mendengar kalimat-kalimat bijak bahwa pujian itu membunuh dan kritikan itu membangun atau juga bekerjalah bukan karena ingin dianggap namun bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Jangan menggantungkan harapanmu kepada manusia karena percayalah engkau akan kecewa dan jangan sekali-kali membantu dengan pamrih karena engkau pun akan kecewa pada akhirnya dan begitu banyak kalimat mutiara lainnya yang memang benar adanya namun sebagai manusia, mengaplikasikan kata-kata tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan karena manusia sejatinya doyan akan pujian. Kita butuh kerja keras untuk seperti itu.

Untuk Gadis yang sedang prajab. Nikmati saja peranan sebagai figuran dan merasa tidak dianggap pintar. Itu lebih baik untukmu dari pada disanjung. Banyak hal yang engkau bisa pelajari dibanding ketika disanjung. Bekerja lah karena ikhlas. Ketika berada di forum, berpendapatlah kalau memang dianggap perlu namun jangan sekali-kali berpendapat karena ingin dianggap pintar. Aku sudah berada pada dua kondisi yang berbeda seperti itu dan aku anggap banyak hal yang dipelari ketika berada pada kondisi figuran.

 Nb. Tulisan ini sebenarnya masuk dalam proyek buku yang berjudul Gadis dan warna pink  namun karena urgensi harus dibaca olehnya jadi saya upload sekarang. ( berlagak sok penulis. wkwkwkw)
Cilandak, 31 mei 2014