“Ketika
kamu berbuat baik kepada orang maka orang tidak akan pernah menanyakan apa
agamamu.” Kutipan dari Gusdur itu benar adanya bahwa dalam berbuat
baik itu tidak ditentukan oleh suatu agama karena sejatinya dalam diri manusia
itu selalu saja ada niat untuk berbuat baik karena sejatinya manusia itu adalah
baik. Mungkin hikmah inilah yang kudapat hari ini dengan orang jepang yang
mungkin beragam Shinto atau Budha atau agama yang selain Islam.
Ceritanya seperti ini. Kemarin nao mengajakku makan
siang, berhubung kemarin waktu sudah mepet maka kami sepakati hari ini. Kami
janjian jam 12 di indomaret pendurenan. 10 menit kurang jam 12 aku sudah
menunggunya dan tidak lama kemudian dia pun datang menghampiri. Berselang
beberapa lama bertukar cerita di indomaret, kami kemudian memutuskan untuk
makan siang di epicentrum. Aku dan nao menuju ke epicentrum naik motor. Tepat
di seberang jalan epicentrum, aku memarkir motor dan menyeberang jembatan
penyeberang bersama Nao sambil bercerita apa saja.
Di sepanjang jembatan penyeberang, aku terkesima melihat
Nao yang ternyata sangat dermawan. Kalau yang sering kudengar bahwa orang
jepang itu individualis dan jarang berbagi namun terbantahkan dengan apa yang
dilakukan Nao sepanjang jembatan penyebarangan. Ada sekitar 3 pengemis yang
duduk di jembatan penyeberangan dan semuanya diberi uang yang entah berapa
jumlahnya. Aku langsung merasa jleb dan sedikit agak malu. Aku yang beragama
Islam jarang melakukan hal yang sama. Jika aku sudah memberi uang ke pengemis
maka aku selalu berpikir itu sudah cukup namun ternyata tidak buat Nao. Semua
harus mendapat bagian. Benar-benar sangat dermawan.
Inilah mengapa aku mulai memikirkan semua hal tentang
kemanusiaan. Nao memang mungkin beragama selain Islam namun satu hal yang dia
yakini bahwa berbuat baik buat sesama adalah sebuah keharusan. Tidak memandang
agama atau variabel yang lain karena kita semua adalah manusia yang harus
saling berbagi.
Hal lain yang menarik dari nao adalah tampangnya yang
seperti umur 30an. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku berpikir
umurnya baru sekitar 30 atau paling mentok 40 tahun namun semua terbongkar
ketika dia meminjam laptopku untuk dipakai mengedit CV. Saat itulah aku
terperanjat kaget dan tak percaya ternyata umurnya sudah 49 tahun. Entahlah
kapan bisa bertemu dengannya karena hari sabtu depan, dia sudah baik ke Tokyo
karena kontraknya di Jakarta sudah selesai bahkan menurutnya kemungkinan Negara
berikutnya yang dituju adalah Vietnam.
Sayonara, semoga suatu saat kita bertemu lagi Naoyuki
Jak-sel 4.6.14
No comments:
Post a Comment