March 2, 2014

tentang klub andalanku


Aku adalah salah satu fans Inter Milan yang dijuluki interisti. Mungkin saja ini pengklaiman pribadi namun memang benar bahwa aku sudah amat sangat gandrung dengan klub yang berasal dari kota mode Italy tersebut sejak awal 2000-an. Yang kuingat saat itu adalah ketika aku dan beberapa temanku suka nonton bareng dan pada salah satu pertandingan penentuan, Inter Milan harus bermain seri dengan Lazio 2-2. Dengan hasil tersebut, Inter Milan gagal merengkuh scudetto dan dari awal tersebut pulalah aku menyukainya karena ada sedikit rasa iba. Kesukaanku terhadap bola kaki ini dipengaruhi oleh lingkunganku yang memang mayoritas dari kami bermain bola setiap sore.
 
Seingatku, saat itu aku sudah duduk di bangku SMP dan mulai saat itu aku begitu rajin mengikuti berita-berita tentang intermilan. Dari beberapa berita yang kubaca bahwa sang presiden Massimo Moratti ternyata sangat loyal terhadap klubnya dan berani memberikan segalanya demi prestasi klub. Semakin gandrunglah aku kepada klub tersebut. Aku bahkan tidak pernah melewatkan satupun pertandingan intermilan yang disiarkan secara live. Satu hal juga yang amat terasa ketika intermilan kalah maka aku pasti badmood sepanjang hari. Periode awal 2000-an sampai 2005 adalah masa suram bagi intermilan yang sama sekali tidak mendapat gelar scudetto. Namun meski begitu tidak melunturkan kecintaanku terhadap klub ini bahkan dari beberapa pemain intermilan, diantara sangat aku idolakan. Alvaro recoba adalah salah satunya dan juga el capitano yang sampai saat ini masih bermain untuk intermilan di usianya yang sudah 40 tahun. Siapa lagi kalau bukan Javier Zanetti. Disamping itu, bejibun pemain top dunia pada masanya pernah singgah sebagai pemain intermilan.Puncak prestasi intermilan saat tahun 2010 dimana mereka meraih 3 gelar sekaligus dalam 1 musim.  

Kecintaanku terhadap klub tersebut masih sampai sekarang meskipun level kecintaanku sudah tidak seperti dulu. Aku lebih bisa menerima saat mereka harus seri ataupun kalah karena sejatinya permainan sepakbola seperti itu. Sampai saat ini, aku masih memendam asa bahwa suatu saat nanti aku akan menginjakkan kakiku di stadion san siro kota Milan, entah kapan itu akan terjadi namun namanya asa yah harus tetap dijaga sepanjang itu tidak merugikan diri sendiri.

Forza Inter Milano

source : http://ary9blue.blogspot.com/2013/11/wallpaper-alvaro-recoba.html

Rindu #1


Di sini kuberteman dengan sepiku
Mengeja waktu yang berlari
Bermainmain dengan perasaan hati yang merindu
Memungut serpihan kenanganmu di kota ini
Begitu banyak kenangan tentangmu yang tercecer di kota ini

Aku merangkai rindu buatmu
Rindu yang kukirim lewat angin
Namun nihil, rindu bahkan semakin membara
Rindu yang pink

Seringkali kita mengikis rindu dengan sms
Bahkan menyicil rindu itu dengan telepon
Namun lagilagi gagal

Rindu ini tak pernah terlunasi
Karena engkau adalah rindu ini 

rindu ini tentang kota pahlawan dan ibukota



Jojoran 3/61
1.3.14

wacana ekonomi politik


Seringkali ketika aku membaca ulang beberapa tulisanku, aku menarik kesimpulan bahwa passionku untuk menulis tentang diskursus ekonomi politik sudah amat sangat menurun drastis sedangkan semasa kuliah dulu, semua hal kuanggap sia-sia ketika tidak bersentuhan dengan wacana ekonomi politik karena aku percaya (dulu) bahwa hal tersebut adalah hal pokok dalam hidup manusia maka ketika menganalisa masalah maka jangan pernah melupakan proses ekonomi politiknya terjadi meski itu sampai pada masalah pernikahan, bahkan begitu banyak kasus pernikahan gagal gara-gara masalah ekonomi atapun pernikahan yang terjadi karena kepentingan politis seperti perjodohan anak yang dilakukan pejabat. Namun sekarang ini, passion kearah wacana tersebut sudah tergerus habis bahkan Aku malah lebih menyenangi menulis hal-hal terkecil yang ada di sekitarku atapun berbagai pelajaran kecil yang terkadang kutujukan untuk diriku sendiri.

aku adalah alumni mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik UNHAS yang notabene saat mahasiswa sangat menggandrungi masalah tentang Negara dengan wacana ekopolnya bahkan bukan saja tentang masalah Indonesia namun juga tentang sistem yang lebih besar yaitu masalah tentang dunia internasional. Semua hal yang menyangkut tentang kasus di seluruh dunia akan kukejar beritanya dan berusaha untuk menganalisa kenapa hal tersebut terjadi dan yang menjadi korban bully ku adalah USA dan Negara-negara di Uni Eropa. Menurutku saat itu adalah Negara-negara tersebut adalah pemegang perekonomian masyarakat dunia yang mereka jalankan dengan amat sangat licik. Mereka mendirikan korporasi-korporasi raksasa yang kemudian cabang-cabangnya ada di seluruh dunia kemudian keuntungan terbesarnya mengalir ke kantong mereka terlebih lagi tanpa disadari bahwa mereka memeras rakyat di mayoritas Negara afrika, asia dan amerika selatan untuk dijadikan budak-budak perusahaan dimana keringat yang dikeluarkan sama sekali tidak sebanding dengan gaji yang mereka peroleh.

Dari analisa awal seperti itu, membuatku semakin sangat berhasrat untuk mempelajari dan mengagungkan sistem anti tesa dari sistem kapitalisme yang dianut oleh Negara penjajah. Mulailah aku baca beberapa buku-buku tentang sosialisme. Mengenal istilah komunisme ataupun marxisme yang menyanjung kesetaraan bahkan tokoh-tokohnya sangat kuidolakan saat itu yaitu karl Marx. Aku ikut beberapa aksi yang menolak tentang kapitalisme dan semua hal yang berbau tentang itu dan yang paling aku ingat, aku sama sekali tidak mau menginjakkan kakiku di beberapa tempat yang kuanggap sebagai tempat para kapitalisme menyebarkan virus-virusnya seperti mall. Aku pun memboikot dengan tidak menggunakan produk-produk yang kuanggap sebagai produk kapitalisme misalnya produk unilever ataupun produksi cola dan makanan cepat saji seperti KFC atau juga dunkin donats, meski terkadang mau membeli tetapi tidak cukup duit..hehe

Kegandrunganku tentang hal-hal seperti itu berlanjut saat menyusun skripsi. Aku memilih judul gerakan Maoisme sebagai judul skripsiku. Meski berulang kali ditolak oleh pembimbingku yang memang terkenal kaku saat itu namun aku tidak pernah kehilangan akal. saat kembali mengajukan judul skripsi, aku hanya memodifikasi judul yang sebelumnya dan tidak pernah mengajukan judul lain. Mungkin karena sudah terlalu sering aku ajukan maka takluk juga pembimbingku dan akhirnya di acc judulku “pengaruh gerakan Maois terhadap stabilitas Nepal”.

Perlu diketahui sedikit bahwa Maoisme itu adalah sempalan dari pahaman marxisme-leninisme yang dikembang oleh mantan presiden china, Mao Zhedong. hanya saja bahwa Maois menjadikan petani sebagai kaum proletar yang punya potensi melakukan revolusi sedangkan marxisme murni melihat buruh sebagai pelaku revolusi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Maoisme)

Setelah menyelesaikan S1 di UNHAS, aku bahkan sangat selektif mendaftar di beberapa perusahaan dan kupilih perusahaan yang tidak terlalu kapitalistik meski terkadang kusadari mana ada perusahaan yang menjalankan sistem kesetaraan. Dimana-mana perusahaan akan selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan aspek apapun selain keuntungan. Selalu saja ada beban moral yang terbersit di hatiku ketika akan memilih perusahaan yang sudah terkenal amat sangat tidak peduli dengan keseimbangan lingkungan ataupun perusahaan yang punya catatan hitam tentang kesejahteraan pekerjanya.

Sekarang, aku berusaha berdamai dengan semesta. Berusaha menenangkan sejenak pikiran dari carut-marut semua hal yang di alam pikiranku. Berdamai disini bukan berarti aku mengamini kapitalisme dan cara kerjanya. Aku tetap pada pendirianku bahwa hal itu keliru. Berdamai disini adalah mencoba untuk merenungi diri karena tidak mungkin aku meruntuhkan system raksasa nan kokoh ketika aku belum bisa meruntuhkan diri sendiri. Ada banyak orang yang tidak menyetujui pernyataanku bahwa semua dimulai dari diri karena mereka menganggap bahwa yang bejat adalah para koruptor ataupun pejabat-pejabat tengik sehingga ketika mereka baik masyarakat akan menjadi sejahtera. Aku juga tidak sepakat dengan mereka para koruptor namun perlu diketahui juga bahwa ketika kita mengkritik mereka, bukan kebencian yang mendalam yang memotivasi diri kita untuk mengkritik namun harus diniatkan untuk memperbaiki karena aku yakin ketika kita mengkritik dengan kebencian yang berapi-api maka kebaikan tidak akan tercipta karena kebaikan itu sendiri sejatinya semua adalah harus baik mulai dari niat yang baik ataupun cara yang baik pula. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa ketika kita menyumpahi mereka dengan berbagai cara yang dilandasi kebencian, aku khawatir ketika mendapat kesempatan menjadi mereka, kita malah lebih parah bejatnya dari mereka karena sejarah telah membuktikan hal tersebut.



Ah, akhirnya bisa juga menulis dengan sedikit serius. Setelah sekian lama sudah tidak menulis seperti ini.hehe

Jojoran 3/61
1.3.14

menikah


Akhir-akhir ini aku mendengar satu persatu teman-temanku di salah satu kelompok kajian Makassar telah melangsungkan pernikahannya dan ada beberapa yang akan melangsungkan pernikahannya tahun ini. Panggilan akrab kami di kelompok kajian tersebut adalah bro dan sister dan ini mungkin karena kajian kami tersebut menggunakan bahasa inggris. Perasaan senang tentunya menghampiriku ketika aku dengar lagi ada diantara mereka yang akan naik pelaminan. Meski terkadang juga aku berpikir kapan giliranku namun entahlah karena itu rahasia Ilahi yang tak terduga.
MAKES nama organisasi tersebut yang mengkaji berbagai macam pengetahuan dengan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Makes telah begitu banyak memberikanku segalanya termasuk pengetahuan dan orang-orang yang sebagian besar dari mereka telah kuanggap sebagai saudara sendiri. Mereka telah mengajarkanku seperti apa itu sebenarnya berteman, bahwa berteman itu harus saling mengingatkan dan pengetahuan agama merekapun rata-rata mumpuni. Aku banyak belajar pengetahuan agama dari mereka meski saat ini, begitu banyak khilaf yang kulakukan di tempat baru dan terkadang aku merindukan belajar agama kembali di sana namun tak apalah, kupikir ketika khilaf aku harus segera menyadari kekhilafanku kemudian memperbaiki. Beberapa diantara mereka yang sering mengajakku diskusi adalah kak Hamzah dan bro ulla. Orang yang pertama itu sudah kuanggap sebagai guru dan benar-benar mengajarkanku bagaimana sebenarnya menjalani hidup, berdamai dengan semesta. Orang kedua adalah sahabatku dan bersamanya aku ikut diskusi kak hamzah. Kami sering mendiskusikan apa saja, beliau sekarang sedang di jepang dan semoga Allah selalu memberkahinya.
Oh, yah. Sebenarnya tadi aku mau menceritakan tentang mereka yang rata-rata sudah menikah tapi kok malah ngelantur menceritakan tentang makes. Hehe. Baiklah aku akan menceritakan tentang menikah. Mayoritas dari teman seangkatanku di makes sudah menikah dan akan menikah tahun ini. Setelah kuhitung-hitung mungkin saja praktis hanya 2 atau 3 orang yang belum menikah termasuk aku. Teman-temanku yang menjadi pengurus pada rentang periode 2006-2011 satu persatu telah menikah dan kabarnya untuk awal-awal tahun ini ada 4 yang akan naik pelaminan, itu yang sampai di telingaku belum lagi yang belum sampai beritanya kepadaku. Ah, ternyata aku masih bujang dimana sekarang ini aku telah memasuki usia yang sudah amat sangat matang untuk menikah. Meski aku berdoa semoga tahun depan sudah bisa menunaikan niat hatiku untuk menjadi pengantin namun Aku pun sama sekali belum berani berbuat banyak karena pekerjaan belum kunjung menghampiri. Aku hanya bisa berdoa sekuat hati. Dan untuk teman-temanku yang sudah dan akan melangsungkan pernikahannya, aku amat sangat bahagia karena mereka telah menjadi bagian dari keluargaku yang selalu kurindukan. Makes telah menyatukan kami dalam persaudaraan yang sesungguhnya. 

sources: http://mki5ska.files.wordpress.com/2009/04/anjuran-menikah.jpg


March 1, 2014

perpisahan semalam

Nampaknya aku sangat pas jika mendengarkan lagu dangdut “malam terakhir”. Benar-benar tadi malam seperti di lirik lagu itu bahwa malam ini adalah malam terakhir untuk mencurahkan rasa rindu. Besok engkau akan pergi jauh ke ibu kota. Kuharapkan engkau sabar menanti. Kita akan berjumpa di saat bahagai, di saat malam pesta perkawinan kita”.

Mungkin saja kita berjumpa sebelum malam perkawinan namun salah satu doa yang kukuatkan untuk saat ini adalah semoga saja kita dipertemukan di waktu yang tepat. Waktu dimana kita sudah bisa merencakan yang lebih jauh lagi tentang masa depan kita berdua. Ada banyak alasan kenapa aku berdoa untuk tidak dipertemukan saat belum ada kejelasan dan salah satunya yang paling utama adalah untuk menjaga diri kita berdua dari khilaf yang mungkin saja akan selalu terulang kalau kita bersama. Yah itulah kekhawatiran terbesarku saat kita selalu bersama dalam waktu yang belum tepat dan mungkin alasan itu pulalah, semalam ada perasaan sedikit agak lega yang menyelinap diantara setumpuk perasaan rindu, sedih bahkan sesak di dada yang harus berpisah jauh darimu. Perasaan lega yang tiba-tiba menyelinap di dalam hatiku adalah kita bisa lebih menjaga diri dari khilaf yang amat sangat dibenci oleh Sang Maha Kuasa. Bukankah kita sudah sepakat bahwa perasaan kita harus dibangun diatas pondasi keridhaan Sang Pencipta dan berpisah dalam waktu seperti ini adalah salah satu cara kita untuk membuktikan janji kita tersebut. Kebersamaan kita yang lalu sudah begitu banyak meninggalkan titik-titik khilaf yang sudah semestinya harus kita sesali dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi.

Oh yah, sebenarnya aku mau cerita tentang perpisahan kita semalam. Tepatnya rabu malam, engkau memintaku untuk mendatangimu di kotamu karena ada kabar bahwa engkau akan berangkat ke ibu kota hari sabtu. Meskipun kabar tersebut masih simpang siur karena bukan pengumuman resmi dari instansi tempatmu diterima di ibu kota namun kekhawatiranmu tidak bertemu denganku sebelum keberangkatanmu membuatmu memintaku untuk mengunjungimu lebih awal. Kita sepakati aku berangkat kamis subuh ke kotamu. Sengaja aku pura-pura marah malam itu dan mengatakan bahwa aku berangkat kamis siang hanya semata-mata memberimu kejutan dan benar saja, engkau berurai air mata ketika tahu bahwa aku tidak berangkat pagi. Tepat jam 9 pagi, aku sudah berada di terminal kotamu lalu kukirimi engkau sms mengenai kedatanganku, tunggu kak, hanya itu balasan singkatmu lalu kemudian engkau memapakku di terminal tersebut. Seperti tempat pertemuan kita sebelumnya, aku tunggu engkau di mushalah depan terminal sambil membaringkan tubuhku, sesaat kemudian engkau datang dengan cerianya dan tak henti-hentinya engkau  memegang tanganku lalu mencium berkali-kali.

Untuk dua hari sebelum keberangkatanmu, kita sudah berjanji mengitari kabe sudut kota ini yang dulu sering kita lakukan. Engkau mencatat tempat yang kita akan kunjungi bahkan sampai rumah makan sekalipun. Aku hanya mengikuti kemauanmu untuk menyenangkanmu sebelum kita benar-benar berpisah malam sabtu. Bahkan seperti janjimu engkau membelikanku durian di depan stadion dan tak lupa juga es degan gula jawa kesukaanku di depan alfamart. Ah sesak hati ini menuliskan hari-hari terakhir perpisahan kita dik.

Dan akhirnya salah satu momen yang paling kubenci adalah perpisahan dan itu terjadi juga bagi kita. kamis sore, engkau di sms dari instansi tempatmu diterima di ibu kota bahwa senin pecan depan harus sudah masuk kerja dan itu artinya jumat malam engkau akan berangkat ke ibu kota. Benarbenar sesak di dadaku dan mungkin juga engkau merasakan hal yang kurasakan atau tidak, entahlah aku tidak tahu sama sekali perasaanmu saat itu. Akhirnya kamis malam, aku menemanimu ke stasiun memesan tiket kereta untuk keberangkatanmu jumat malam. Sepanjang jalan aku tidak terlalu banyak bercerita karena sibuk dengan perasaanku bahwa engkau benar-benar harus berangkat secepat ini. Kita memesan tiket kereta gajayana malang-jakarta.

Waktu sehari sangat cepat berlalu, jumat sore engkau dan mama sudah siap dengan 4 tas besar. Kita makan malam terakhir di rumahmu sambil menunggu taksi pesanan. Tak lama kemudian, taksi datang memapakmu dan kuantar dirimu ke stasiun. Detik-detik yang benar sesak saat sudah di depan pintu masuk stasiun. Aku benar-benar sesak hingga berkali-kali harus menghindar dari depanmu pura-pura melihat jadwal kereta di layar depan pintu masuk dan mungkin engkau tidak tahu bahwa sebenarnya aku menghindar dari depanmu untuk menghapus butir-butir air yang tak tertahankan keluar dari kelopak mataku. Sesekali aku melihat matamu namun nampaknya tidak ada raut sedih apalagi air mata yang menetes dan benar-benar engkau lebih tegar dariku, pikirku atau memang engkau tidak sedih sama sekali harus berpisah denganku untuk waktu yang tak tentu, kuharap engkau juga sedih. Setelah memasuki ruang tunggu stasiun, aku sudah tidak bisa masuk namun tidakkah engkau menyadari bahwa aku tidak beranjak dari pintu masuk stasiun sebelum engkau benar-benar hilang diantara kerumunan penumpang lainnya bahkan sesekali aku masih berharap melihat wajahmu dan lalu lalang penumpang membuatku tidak bisa melihatmu dengan jelas. Ah, aku sudah amat merindukanmu bahkan saat 5 menit tidak melihat wajahmu dan jangan ditanya tentang rinduku malam ini yang baru 12 jam tidak melihatmu dan kedepan semakin banyak jam tidak melihatmu. Engkau pikirkan saja gadisku betapa rindunya diriku. Baru 5 menit tidak melihatmu sudah membuat diriku dilanda rindu apalagi bulan atau bahkan tahun.

Aku naik becak ke terminal. Melewati perlintasan kereta yang sebentar lagi engkau akan lalu dan dari jauh kulihat kerumunan penumpang yang masih menunggu kereta gajayana dan salah satunya adalah dirimu. Aku kirim sms bahwa aku sudah ke terminal berangkat ke ibu kota provinsi menggapai mimpiku sambil berdoa semoga saja aku diberi rejeki untuk segera menjemputmu dan membawamu ke pelaminan seperti yang sering kita rencanakan akhir-akhir ini.
  

Jumat senja
Tepat penghujung bulan februari 2014   

foto buat adikku


ini cerita tentang adik dan junot si zafran dalam film 5 cm dan si zainuddin dalam film tenggelamnya kapal van der wijk. aku tidak tahu kapan adik menggilai si junot tetapi yang pasti dia selalu cerita bahwa artis yang paling disukai adalah si junot terlebih lagi setelah dia menonton film tenggelamnya kapal van der wijk di delta plaza surabaya dengan rahma sahabatnya. kegilaannya terhadap junot semakin menjadi-jadi ketika melihat junot berperan sebagai zainuddin di film tersebut bahkan berkali-kali dia histeris menceritakan film tersebut dengan beberapa adegan yang diperankan junot

aku sendiri tidak nge fans bahkan tidak tahu banyak tentang junot sebelum lahirnya film 5 cm. aku yang doyan membaca novel 5 cm tersebut ikut-ikutan penasaran dengan filmnya alhasil aku menonton film 5 cm lewat laptop teman di jogjakarta hasil copian dari warnet. setelah menonton film tersebut, aku malah tidak suka sama si junot karena aktingnya yang menurutku tidak bisa memerankan tokoh zafran sesuai di novel seperti ekspektasiku dan akhirnya aku semakin tidak menyenangi setiap film yang dibintanginya karena aktingnya yang tidak natural.

nah, tadi itu aku ikut tes salah satu lembaga trainer di hotel novotel surabaya yang terletak di bilangan jalan ngagel. sekitar jam 11.00, tes tahap pertama selesai dan harus menunggu sejam kemudian. aku memutuskan untuk melepas penat di lobi depan hotel sambil memainkan hp dan mencari wifi gratis namun ternyata nihil karena semua menggunakan password alhasil aku hanya membaca koran sambil memandangi setiap penghuni hotel yang lalu lalang. tak lama kemudian, kulihat si junot lewat dan aku berguman, eh junot. saat di depan pintu keluar, dia menunggu asistennya yang mengurus administrasi di resepsionis dan tiba-tiba saja aku ingat bahwa adik amat sangat ngefans sama junot. kuminta temanku yang sama-sama ikut tes untuk foto bareng dan lucunya setelah aku meminta foto bareng, resepsionis hotel juga ikut-ikutan foto..wkwkw, ternyata mereka sedari tadi ingin foto bareng junot tapi mali-malu. itung-itung buat bantu resepsionis tersebut punya keberanian foto bareng junot.hehe.

dan inilah hasilnya foto dengan junot buat adek pesek......

debu yang dibenci

hampir di negeri ini membenci debu
katanya berbahaya
katanya lagi menghambat aktivitas
menghindari debunya yang menghujani mereka

debu ini
benarbenar menenggelamkan negeri
aku berpikir
ah, kan cuma debu
kenapa semua orang berubah menjadi ninja
dengan berbagai model masker yang dikenakan
untuk menantang debu vulkanik ini
ah, kita terlalu parno terhadap sesuatu
toh gunung itu hanya melaksanakan tugasnya

pasir kelud yang masih tertumpuk di depan ikip PGRI Madiun setelah 2 minggu meletus. jarak madiun-kelud sekitar 90 km