March 14, 2012

Buat Ibu


SAMBIL DIIRINGI MUSIK MELAYU KESUKAANKU, MULAI KUTULIS KATA-PERKATA TENTANG IBU, HANYA TENTANGMU UNTUK MALAM INI. MEMANG ACAPKALI KUTULIS TENTANGMU,SELALU KUGUNAKAN HURUF BALOK. BUKAN TANPA TUJUAN, KARENA AKU INGIN MENGAPRESIASI SEMUA JASA-JASAMU.SEMUA YANG TELAH ENGKAU DDEDIKASIKAN BUAT KAMI SEMUA. BAHKAN AKU TIDAK PERNAH MELIHAT RAUT WAJAHMU YANG CAPEK SAAT MENGERJAKAN SESUATU UNTUK ANAK-ANAKMU.
BU, APA KABARMU HARI INI? TERINGAT AKU PADA SATU BAIT LAGU “ MOTHER, HOW ARE YOU TODAY? ”. YAH, AKU HANYA INGIN TAHU KABARMU, ADAKAH ENGKAU SEHAT-SEHAT DIAKMPUNG? HAMPIR 4 BULAN KITATIDAK PERNAH BERSUA,SEJAK KUPUTUSKAN UNTUK KEMBALI KE KOTA INI MENCARI KERJA. YAH, WAKTU 4 BULAN BERLALU BEGITU SAJA. TERKADANG HANYA SUARAMU YANG MULAI AGAK PARAU YANG BIASANYA KU DENGAR KETIKA ENGKAU MENELPONKU. NAMUN, MESKIPUN HANYA SUARAMU MELALUI HP, ITU SEDIKIT CUKUP MENGOBATI RASA RINDUKU TERHADAPMU, RASA RINDU YANG SETIAP SAAT MENDERAKU ACAPKALI AKU HARUS JAUH DARIMU. NAMUN KUTAHU INI ADALAH JALAN YANG TERBAIK.
IBU, AKU LAKI-LAKI, SUDAH SEMESTINYA AKU HARUS KELUAR MENGARUNGI SAMUDERA KEHIDUPAN INI TANPA HARUS ETRUS MENERUS BERGANTUNG KEPADAMU. KUMALU, BAHKAN SANGAT MALU, JIKALAU TERUS BERGANTUNG KEPADAMU. DENGAN UMURKU YANG SUDAH MENGINJAK 24 TAHUN, HARUSNYA AKU SUDAH MANDIRI.
            INGIN KUKABARKAN KEPADAMU KEADAANKU SAAT INI, SANGAT INGIN, BAHKAN BEGITU MENGGELORA, NAMUN KUURUNGKAN NIATKU, KUTAHAN KEINGINANKU ITU, DENGAN SATU TUJUANKU, UNTUK TIDAK MELIHATMU BERSEDIH. KUTAHU PASTI BAHWA KETIKA KUKABARKAN KEADAANKU YANG SEBENARNYA, KETIKA ENGKAU TAHU AKU BELUM BEKERJA, ENGKAU AKAN BERSEDIH MEMIKIRKANKU. KUTAHU ENGKAU MASIH SERING INGIN MENGIRIMIKU UANG, KUTAHU ITU. TETAPI KUMOHON JANGAN LAKUKAN ITU. BUKAN KARENA AKU SOMBONG BU, BUKAN PULA KARENA KAU SOK MANDIRI, NAMUN KULAKUKAN ITU SEMUA UNTUK MEMOMPA MENTALKU, KUTAKUT  AKU MENJADI PRIBADI YANG LEMBEK, KUTAKUT JADI PRIBADI YANG SUKA BERGANTUNG KEPADA ORANG LAIN.
BU, DETIK INI, KUHATURKAN BERIBU-RIBU MAAF PADAMU. SAMPAI SAAT INI AKU BELUM APA-APA. SETELAH 4 TAHUN LAMANYA ENGKAU KULIAHKAN AKU, BELUM ADA SECUIL PUN YANG BISA KUBERIKAN PADAMU. TERKADANG AKU BEGITU MENYESAL NAMUN KETAHUILAH BU, PERJUANGANKU TIDAK AKAN BERHENTI DISINI UNTUK MEMBAHAGIAKANMU. KUAKAN TERUS BERJALAN MENCARI. KUYAKIN SANG MAHA KUASA TAHU AKAN HAL INI. HANYA DOA DAN RESTUMU YANG KUPINTA UNTUK MENGIRINGIKU MERANGKAK, BERJALAN BAHKAN BERLARI UNTUK MENGGAPAI CITA-CITAKU TERSEBUT.  SEJUJURNYA, SEMUA CITA-CITAKU TERSEBUT KUPERSEMBAHKAN KEPADAMU MESKIPUN BELUM SEKARANG NAMUN WAKTU ITU SEGERA AKAN DATANG. KUYAKIN DENGAN PASTI BAHWA SANG MAHA PEMBERI DENGAR DOAMU DAN DOAKU, IBU.




Kudedikasikan buat seorang wanita tegar yang selalu berjuang sekuat
Tenaganya untuk membahagiakan 6 anaknya, dengan segenap jiwa raganya,
dan kuyakin meskipun nyawa taruhannya, pun akan dipertaruhkan
demi kebahagiaan 6 anak-anaknya.
Wanita itu adalah ibuku, terlahir sebagai anak bungsu di keluarganya.
Wanita sederhana namun punya segenap hati untuk kami.
Dialah yang berdiri didepan saat ada masalah
Berjalan di tengah-tengah anaknya saat ditempati curhat
Dab berjalan dibelakang ketika dibuthkan motivasinya untuk memompa semangat

September 18, 2011

Pendidikan, Kebutuhan Ilmu atau Tuntutan Pekerjaan?

-->
Saya pusing tidak ada kukerja sekarang..

Kalimat tersebut sangat akrab di kuping saya beberapa minggu terakhir. Kalimat tersebut terlontar dari kawan-kawanku yang baru melepaskan statusnya sebagai seorang mahasiswa. Tidak salah memang,( saya pun masih berjuang untuk itu ) bahwa tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan yang nantinya akan menunjang kehidupan yang mapan setelah kuliah adalah perlu, apalagi ditambah dengan tuntutan dari orang tua untuk harus mendapatkan pekerjaan setelah sarjana.  Tulisan ini pun bukan mengerdilkan kawan-kawanku yang sampai sekarang masih mondar-mandir karena belum ada rejeki pekerjaan dan tulisan ini tidak akan mengulas banyak tentang pekerjaan yang  belum didapat, namun saya hanya sedikit berceloteh tentang eksistensi pendidikan yang ada di benakku yang pada akhirnya memproduksi mentalitas seperti orang-orang, entah nantinya kawan-kawanku setuju ataupun kurang setuju atau bahkan tidak setuju sekalipun. Apa yang akan keluar dalam deret kata-kataku ini adalah refleksi terhadap pengetahuanku tentang pendidikan selama menempuh pendidikan formal selama kurang lebih 16 tahun sejak dari SD tanpa sebuah referensi yang jelas.



Hakekat Pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia..! Jargon pendidikan tersebut yang telah dicetuskan oleh Ki hajar Dewantara nampaknya telah terdistorsi oleh kebutuhan pasar yang sangat menggila. Sampai pada sendi-sendi pendidikan sekecil pun telah dirasuki oleh Logika pasar, sehingga celoteh-celoteh yang belum dapat pekerjaan seperti diatas sering terdengar bagi mereka yang tidak mampu resisten terhadap logika pasar. Sekali lagi bukan menyalahkan mereka yang menuntut untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah menempuh pendidikan, (saya pun masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan) bahkan yang telah menenteng gelar sarjana. Perilaku tersebut muncul dari perilaku mainstream [pasar] yang menanamkan sebuah kebiasaan bahwa setelah selesai menempuh pendidikan, maka secara otomatis harus mencari pekerjaan dan bersaing dengan beberapa competitor yang standar criteria sangat subjektif ditentukan oleh setiap korporasi tempat melamar. Logika tradisional rekayasa neoliberal memang telah mengkristal dalam diri umat di Inodnesia namun bukan berarti bahwa hal tersebut tidak bisa direduksi atau bahwa dihapus karena tindakan yang kita tempuh ditentukan oleh kemauan.

Pendidikan Artifisial

Sangat sulit untuk membantah sebuah justifikasi bahwa pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang artifisial dengan melihat fenomena pendidikan di Indonesia dan tingkah laku orang-orang yang katanya telah menempuh pendidikan sampai pada tingkat yang tertinggi. Sekali lagi meminjam istilah bahwa pendidikan tersebut harus mampu memanusiakan manusia, maka seharusnya negeri antah Berantah ini mestinya sudah mampu memenuhi hakekat tersebut melihat statistik orang Indonesia yang bergelar Sarjana sampai Professor sudah bejibun dimiliki oleh bangsa kolam susu ini. Jangan salah juga bahwa orang Indonesia yang antrian menuntut pendidikan di luar negeri pun tidak terhitung jumlah, mulai dari mereka yang menuntut ilmu di timur tengah sampai Eropa bahkan sampai di Amerika, namun apa yang mampu mereka perbuat di Negeri ini? Bukan menggeneralisir, namun kebanyakan mereka tidak mampu berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan hidup di Indoensia dengan satus mereka yang bertitel lulusan luar negeri.

Mereka belajar tentang kedokteran, namun setelah kembali menjadi dokter dengan bayaran mahal, mereka belajar tentang diplomasi, namun ketika berdiplomasi dengan bangsa lain, mereka tidak berdaya, mereka belajar tentang geologi, namun mereka tidak berdaya menghadapi masalah Lapindo, dan bencana alam lainnya. Yang paling parah adalah mereka belajar tentang Ekonomi Politik, namun ternyata kelakuan mereka ketika di Indonesia malah menghancurkan perekonomian dan perpolitikan Indonesia, entah mereka telah menelan mentah-mentah dogma untuk melakukan hal tersebut atraukah mereka terlalu pintar sehingga solusi-solusi untu ekonomi-politik yang mereka tawarkan tidak bisa mencapai akar rumput. Ataukah memang benar apa yang dikatakan oleh Revrisond Baswir bahwa Mereka adalah sekelompok ekonom Indonesia yang “dibina” oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia kejalan ekonomi pasar neoliberalisme yanag sering disebut sebagai Mafia bekeley.     ( Revrisond Baswir, Mafia Berkeley dan krisis Ekonomi Indonesia, Hal 17). Setelah melihat kondisi seperti tersebut diatas, lalu apa bedanya belajar diluar negeri dengan didalam negeri jika kondisinya seperti itu? Maaf jika saya katakan hanya sebuah Prestise. Kemudian dimana gerangan pendidikan yang katanya memanusiakan manusia?

Ramadan 1432 Hijriah: Sebuah Refleksi


Malam Takbiran 1432 H
Lengkingan bunyi petasan, gemerlapnya kembang api dan raungan kendaraan yang lalu lalang mengikuti takbir keliling di berbagai tempat  menandakan datangnya lebaran yang berarti usainya bulan Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini telah berlalu baru saja, namun momen Ramadhan kali ini meninggalkan begitu banyak kisah kehidupan yang bisa dijadikan sebuah pelajaran hidup, hari-hari berikutnya kembali akan menjadi normal seperti sedia kala, tiada lagi penjual setiap sore yang berserakan di pinggir jalan, tiada lagi tauziah-tauziah setiap malam dan juga shalat tarawih yang dikerjakan secara berjamaah setiap malamnya. Mungkin juga akan jarang dijumpai orang yang pemurah mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang lain, ataukah bahkan akan jarang lagi dijumpai orang-orang yang berlalu lalang ke Mesjid. Para public figure ( Artis) pun akan susah lagi dijumpai yang berpakaian sopan seperti lazimnya pada bulan Ramadhan karena mereka kembali ke habitat mereka dimana berpakaian yang tidak senonoh atau tidak menutupi aurat. Akan jarang pula orang yang berlaku ramah karena mereka menganggap bahwa amalan tidak lagi di lipat gandakan.
Memang terkadang, ketika kita tidak mampu memaknai ramadhan, maka bulan yang penuh berkah tersebut hanya akan terlihat sebagai rutinitas tahunan yang dilalui oleh umat islam, namun harus diketahui bahwa Ramadhan bukanlah sekadar rutinitas tahun yang kemudian diakhiri dengan acara mudik berlebaran di kampung halaman. Ramadhan punya makna yang begitu luas bagi siapa saja yang mau mengambil hikmah darinya. Ramadhan adalah sebuah entry point untuk kehidupan selanjutnya yang lebih baik.  Ramadhan dijadikan sebagai latihan untuk menundukkan hawa nafsu yang selama ini mungkin saja menguasai keseharian kita.
Namun nampaknya, Ramadhan kali ini tidak membawa pengaruh yang begitu baik pada kehidupan Berbangsa, dimulai dari penentuan Lebaran yang menjadi dua versi, ini menambah daftar panjang bahwa Ramadhan kali ini tidak begitu baik meninggalkan spirit Ramadhan yang sebenarnya karena ternyata ormas-ormas keagamaan yang punya otoritas sama-sama mendahulukan tendensi pribadi masing-masing sehingga mengorbankan Rakyat yang harus tidak sama lebarannya. Perbedaan mengenai keyakinan bukanlah sebuah rakhmat karena tidak mungkin 1 Syawal itu ada dua hari sehingga guyonan bahwa perbedaan itu rakhmat yang menyangkut keyakinan adalah sesuatu yang menyesatkan, namun dalam kasus ini adalah umat menjadi korban dari ketidakharmonisan para Umara di Negara ini yang ternyata belum mampu menjabarkan spirit Ramadhan yang sebenarnya.  Kejadian yang lain adalah dipergokinya ketua DPRD oleh istrinya sendiri di salah satu kabupaten di Jawa yang sedang selingkuh dengan sekertaris menjadi fenomena yang sangat miris pada Ramadhan kali ini, dimana sebagai wakil Rakyat, Dia harus bisa menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri.
Jangan sampai kita terjebak dalam Euforia semata seperti yang dijelaskan oleh Cahyadi Takariawan mengenai Peradaban Eropa. Menurutnya, Peradaban Eropa saat ini menemukan Tuhannya hanya pada perayaan hari keagamaan. (Peradaban Eropa saat ini bukanlah Peradaban Kristen). Lebih lanjut dikatakan bahwa Peradaban ini adalah sifatnya yang merendahkan Tuhan dan sangat sedikit kandungan spritualnya. Prof lecky dalam bukunya History of Europan Morals ”semua peradaban Yunani hanya didasarkan atas akal yang menjadi sumber peradaban Eropa saat ini, sedangkan peradaban Mesir hanya didasarkan pada spiritual saja. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejarah Yunani pasti membenarkan keterangan di atas. Tidak ada sebuah Agama pun yang menyamai Agama bangsa Yunani dalam persoalan banyaknya karnaval,  perayaaan-perayaan, permainan, dan ketidakseriusan. cara penghormatan mereka kepada Tuhan cukup dengan upacara dan tradisi-tradisi yang berlaku. Itulah yang kita saksikan sekarang. Karnaval di walt Disney land, perayaan paskah dengan kemegahan materialistik  dan huru haranya, rasa syukur kepada Tuhan diungkapkan dalam bentuk minum bir dalam upacara toast. ( Cahyadi Takariawan, Dialog peradaban: Islam menggugat Materialisme Barat ).
Ilustrasi tersebut jangan sampai tertular kepada kita, meskipun tidak dinafikan bahwa tanda-tanda menuju kesana mempunyai bukti yang sangat kuat. Banyaknya para artis, Pejabat dan kalangan atas mengadakan open house untuk berbagi dengan sesama yang menunjukkan rasa sosial yang begitu tinggi, namun sekali lagi semoga tidak berhenti pada acara open house tersebut. Banyaknya Muballig yang menyampaikan tauziah pada Bulan Ramadhan semoga bukan ajang mengeruk keuntungan materi semata. Spirit Ramadhan seperti kejujuran, Kesopanan, kedermawanan dan spirit yang lain jangan sampai runtuh ketika Ramadhan kali ini usai. Konstruksi Negara ini akan menjadi lebih mudah ketika semua spirit Ramadhan tidak luntur dalam diri kita. Kasus korupsi yang menjadi fenomena rumit di Negara ini akan semakin terkuras dengan memelihara spirit Ramadhan karena bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan. Kemenangan umat muslim pada perang Badar terjadi pada bulan ramadhan, penaklukan kota Mekah pun terjadi pada bulan Ramadhan, atau contoh yang paling dekat adalah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada bulan Ramadhan. Semoga kita mampu menjadikan momen Ramadhan sebagai Bulan kemenangan, menang dari perilaku Korupsi, menang dari pertikaian antar sesama, menang dari rasa menjatuhkan lawan politik, dan kemenangan-kemenangan lainnya yang lebih hakiki dlam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara sehingga terjalin Ukhuwah yang lebih kuat.  
                                                                                                                                                                Minal Aidin Wal Faidzin






Perempuan Dalam Konteks Kekinian


Buat my brothers yang belum menikah karena permasalahan uang
Diskurus tentang perempuan mungkin tak akan ada habisnya, perempuan menjadi unik dalam kehidupan bermasyarakat berabad-abad yang lalu sampai sekarang. Namun tidak ada yang melampaui  apa yang pernah dipikirkan tentang konsep masyarakat kekinian.. Perempuan-perempuan masa kini yang mengatasnamakan dirinya sebagai wanita-wanita modernis ternyata sudah tercabik-cabik derajatnya. Eksploitasi terhadap perempuan masa kini semakin tidak terkendali, meskipun tidak sevulgar zaman dahulu dimana perempuan dijadikan budak-budak kasar di pabrik-pabrik, tetapi sekarang, perempuan tidak lain hanyalah dijadikan sebagai budak yang dalam arti lebih halus, yaitu budak kapitalisme. Berbagai kontes kecantikan dimana-mana diadakan sebagai ajang mempertontonkan tubuh wanita, iklan di stasiun TV kebanyakan adalah wanita, bahkan wanita dengan pakaian yang sangat minim di tampilkan dalam iklan kendaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kendaraan yang sedang diiklankan, coba kita bayangkan, apa hubungannya sebuah kendaraan dengan wanita yang sedang berbaju seksi. semua itu tidak lain hanya sebagai alat eksploitasi terhadap tubuh wanita untuk mengeruk keuntungan yang lebih banyak yang ujung-ujungnya menguntungkan para penguasa modal.
            Seperti yang dipaparkan oleh Soekarno bahwa Perempuan yang dianggap cantik (maka oleh karena itu, timbullah, suatu pergerakan menambah kecantikan satu make up movement yang maksudnya mempelajari dan mempraktikkan berapakah cara mustinya perempuan menarik hati kaum laki-laki. menghaluskan kulit, mengatur rambut memerahkan bibir, memilih warna bedak, mencabut bulu alis supaya alis mejadi kecil seperti bulan tanggal satu, menentukan warna creame dan menyapukan warna creame, megatu badan waktu duduk, menggerakkan badan waktu berjalan, itu semua menjadi suatu ilmu yang siang dan malam berputar didalam otaknya perempuan-perempuan. roman muka dan tingkah laku perempuan menjadi berubah sama sekali. (Sarinah, 86-87).
Ilustrasi diatas bukanlah sebuah imajinasi subjektif dari seorang Soekarno karena pada kenyataannya bahwa perempuan dalam konteks kekinian telah dikonstruksi oleh perusahaan-perusaan kecantikan dengan beberapa standarisasi kecantikan, kulit putih, rambut yang harus di rebonding, gaya berjalan yang melenggak lenggok seperti miss Universe bahkan sampai cara berpakaian pun harus mengikuti hukum yang berlaku seperti para artis agar supaya mendapat predikat sebagai salah satu perempuan yang masuk dalam kategori perempuan yang cantik.
Ketika satandar kecantikan seperti itu di terima secara universal di semua Negara di planet Bumi ini, maka hal tersebut akan menjadi masalah di sebagian besar perempuan yang lahir di Negara Afrika dan Asia, bagaimana  tidak, mayoritas dari mereka akan dilahirkan dengan kulit yang tidak putih, dan rambut yang tidak lurus. Dalam artian bahwa mereka sudah tidak termasuk dalam kategori wanita yang cantik. Kalau sudah begitu, maka kecantikan hanyalah milik perempuan-perempuan yang bermukim di benua eropa.
Standarisasi kecantikan tersebut secara tidak sadar telah menjadikan perempuan-perempuan sebagai budak dimana semua keuntungan pasti akan mengarah ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi alat kecantikan. bisa dibayangkan bahwa ketika berjuta-juta perempuan setiap hari harus membeli alat kecantikan karena tergoda dengan iklan-iklan yang menampilkan alat-alat kecantikan tersebut, ataupun bahkan berapa banyak keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan-perusahan pakaian ketika setiap hari perempuan harus ke mall membeli baju model terbaru. Ketika kondisi seperti ini sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, maka secara tidak sadar ataukah pura-pura tidak sadar bahwa logika neoliberalisme sudah merasuki kehidupan kita yang secara perlahan-lahan akan menggiring kita ke jurang kehancuran.
Media mempunyai peran yang sanagt besar dalam menyebarkan perspektif tentang seluk beluk wanita, bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi dengan iklan-iklan pembodohan yang merekonstruksi pikiran-pikiran kita tentang bagaimana seorang perempuan dianggap menarik, bagaimana dipamerkan barang-barang yang wajib dipakai oleh perempuan untuk mempermak dirinya dan bagaimana para artis menjadi sosok sentral dalam merekaya kecantikan-kecantikan artifisial, sehingga imbas dari semua ini adalah media dan para produsen kecantikan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat.
Lain lagi logika Neoliberalisme yang dilancarkan di pelosok-pelosok desa, dimana perempuan-perempuan Desa yang sudah menjelang umur menikah harus menjadikan materi sebagai alat ukur seorang pemuda bisa meminangnya, dalam kesempatan yang sama, ketika seorang pemuda tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, maka secara otomatis, dia akan sulit untuk meminang seorang perempuan. Dalam sebuah kesempatan, Soekarno mengatakan bahwa Masyarakat kapitalis sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali suatu hal yang tak mungkin. Pencarian nafkah-struggle for life. didalam masyarakat sekarang adalah begitu berat sehinga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privelegenya {hak lebih} pemuda-pemuda yang ada kemampuan rejekinya saja. Siapa yang belum cukup nafkah, sampai umur 30 tahun kadang sampai umur 40 tahun. (sarinah 20-21).
Sampai pada tahap yang sangat personal pun, logika neoliberalisme telah menggerus nilai-nilai kearifan lokal pada tingkat masyarakat desa. Perlawanan terhadap sistem tersebut harusnya dilawan pula secara sistematis dan terpola, kemudian hal lain bahwa tidak seharusnya perempuan-perempuan merasa tertindas oleh kaum laki-laki karena ini bukan sebuah persoalan gender, yang harus dipahami oleh para perempuan adalah bagaimana mereduksi eksploitasi diri mereka oleh logika Neoliberalisme. Sekali lagi soekarno menerangkan bahwa jikalau Ibu di Indonesia hanya ingin sama haknya dan hanya ingin sama derajatnya dengan kaum Bapak Indonesia, jikalau hanya itu saja dipandang sebagai cita-cita tertinggi, maka tak lain dan tak bukan mereka hanyalah ingin mengganti derajatnya dari budak kecil menjadi budak besar belaka.(soekarno dalam di bawah bendera revolusi 1101-102).