March 4, 2014

doaku pagi ini


Hari ini adalah tes ketiga yang berulang kali kuikuti. Aku sama seperti dulu selalu berhasrat namun dalam perjalanannya aku selalu saja tidak focus untuk belajar hingga akhirnya hari tes tiba. Benar-benar aku tak siap lagi namun bagaimanapun siap tidak siap harus kujalani. Mungkin ini yang namanya mengandalkan beribu doadoa terbaik untuk hasilnya esok dan mungkin ini juga seperti tawakkal dengan usaha yang minim, ah aku selalu terperosok ke jurang yang sama tidak pernah berusaha belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu dan saat aku menanyakan diriku seperti itu selalu saja ada pembenarannya, sibuk, repot, tidak ada hasrat dan pembenaran lainnya yang begitu amat usang. Ah lagi-lagi seperti ini.
Whatever, aku Insya Allah tes hari ini. Dengan Basmalah, aku akan focus dan mengerjakan sebaik mungkin sisa-sisa pengetahuan yang kupahami
Ya Rabb, mudahkanlah tesku hari. Jadikanlah semua jawaban terlihat amat mudah bagiku dan gerakkanlah tangan melingkari jawaban yang benar menurut versi orang yang akan memeriksanya
Ya Rabb. Aku memasang target skor 450 namun sejatinya aku sangat berharap bisa memperoleh skor di angka 500,  Ya Allah berikanlah aku hasil maksimal.
Aaamiin Ya Allah…!!!



                                                                                                                                        

March 3, 2014

Rindu #3


Raungan kereta masih serasa menggema di kupingku, membawamu terbang ke negeri seberang. Sementara senja mulai layu dikejar malam namun tetap saja aku masih membungkuk di samping stasiun kotamu mencari celah yang engkau lemparkan senja kemarin saat keberangkatanmu

Senjapun kabur disapu kegelapan malam yang tergesagesa menghampiri. Hujan tak kunjung reda menghancurkan sisasisa kenangan malam itu. Semua serasa meronta untuk memberi salam perpisahan hanya saja rembulan yang telat berdiri hanya berteriak di balik pintu sambil terisak parau, aku bahkan tidak tega membiarkannya melihatmu melangkah jauh dari kenangan ini

(bila saja teriakan hanyalah nyanyian perjumpaan dan isak tagis adalah salam perpisahan maka lebih baik aku hening karena tidak kuinginkan itu terjadi diantara kebersamaan kita)

Kota ini telah menjadi kepingan masa lalu yang engkau lemparkan kehadapanku lalu kemudian kupungut potongan demi potongan dan kupasang sebagai hiasan dindingku. Stasiun ini menjadi leburan kebersamaan kita yang diukir oleh hujan diatas sajadah kehidupan dan pada akhirnya meleleh menjadi sebuah nostalgia usang yang kabur dipandang bahkan tak terbaca sedikitpun. Aku hanya mengenalinya dari aroma tubuhmu yang masih melekat erat di pelukanku meski seringkali aku berusaha membersihkannya.

Disaat waktu menghujamkan pelurunya dan menyeru lalu kemudian mendekapmu menghilang dari hadapanku, bibirku dipenuhi oleh butiran katakata dalam rupa doadoa terbaik yang tak terucap, hati sesak dengan dentingan lonceng kereta pertanda waktu kepergian benarbenar telah tiba dan mata yang berair seolah dipenuhi Kristal yang tak tertahankan. Semua menyatu dalam jiwa yang bergetar mencampakkan perasaan tertinggal yang susah payah dibangun setahun ini

Aku adalah sisasisa  airmatamu yang menetas tak henti bahkan aku adalah separuh jiwa yang engkau campakkan di malam yang berjatuhan bahkan aku juga adalah setumpuk harapan yang engkau persembahkan sebagai taruhan masa depanmu. Aku adalah semua yang telah engkau bawa lari ke waktu yang belum kugapai dan entah kapan aku akan menjumpai semua tentangku di dirimu.

Takkan ada lagi rengekan manjamu dan yang tertinggal hanyalah suarasuara halus yang menyeruak di memori otakku.

Takkan ada lagi belaian halus jemarimu di wajahku menghapus keringatku yang bercucuran saat memapakmu di setiap perjalanan waktu yang engkau telusuri

Takkan ada lagi suapan dari tanganmu yang dengan hatihati memasukkan butir demi butir ke mulutku yang kemudian engkau akhiri dengan usapan tisu di mulutku

Takkan kujumpai lagi engkau yang dengan tegarnya memijit setiap sudut tubuhku yang penat

Aku berlari dari semua kenangan yang menjadi bayangbayang hariku. Aku bersembunyi disetiap tikungan yang tak silau oleh waktu yang telah terlewat namun siasia karena serpihan kenangan yang engkau tinggalkan bersama deritaku begitu kuat dan tak sedikitpun redup di sukma hanya sesekali diam namun kembali meminta untuk didekap seperti saat dulu engkau seringkali mendekap manja di dadaku sambil jemarimu mengusap perutku.

Penantian adalah sesuatu yang sakral bagiku. Bersama gurun yang menantikan hujan ataupun malam yang menantikan rembulan. Aku menanti, dan menanti setiap apapun kabar dari ceritamu. Aku tak perduli dengan semua hal yang menyelip tak permisi kedalam ruang hatiku karena telah ada engkau bersemanyam di sana.

yang tertinggal


Aku mencoba mengingat kata yang tertinggal malam itu
Sisa kata yang engkau titipkan kepada hujan untukku
Aku mengingatnya namun entah dimana
Atau saja tercecer di stasiun madiun
Ah, aku melupakan kenangan terakhir denganmu
Aku melupakan semuanya


http://subdipobanyuwangi.wordpress.com/2012/08/09/kereta-api-kelas-bisnis/

March 2, 2014

Rindu #2


Aku mengutuk malam
Menenggelamkan bayangmu dalam gelapnya
Aku membenci angin
Menerbangkanmu jauh dariku
Bahkan engkau juga
Menyiksaku dalam rindu tak berkesudahan

Aku hanya berteman dengan senja
Dia meninggalkan kenanganmu untukku
Setiap senja menghampiri
Kucari bayangmu disetiap cahaya yang tertinggal
Setiap senja tiba
Kutulis beribu bait cerita rindu untukmu
Esok hari saat senja menyapamu
Titipkan separuh hatimu untukku
Untuk kujadikan pengurai rinduku disini
Di tempat yang tak berujung dan tak berakhir

Dan inilah
Rinduku untukmu malam ini
Sebelum engkau memejam mata
Dengan beribu mimpi yang menantimu