March 16, 2012

Mengurai Rantai Masalah Negeri BBM


MKS,  16.3.2012 ;  10:00
Di sebuah rumah di BTP,
 2 minggu menjelang naikknya harga BBM.

 
Dua minggu terakhir sejak isu kenaikan BBM diwacanakan, lagu Iwan Fals menjadi favorit yang salah satu baitnya berbunyi “BBM naik tinggi, susu tak terbeli, anak kami kurang gizi”. Lagu tersebut diciptakan beberapa tahun lalu, namun tetap relevan dengan keadaan sekarang. Bisa dibayangkan bahwa permasalahan BBM di negeri ini tidak pernah selesai mulai dari rezim orde lama kemudian semakin memburuk pada rezim orde baru dan bahkan tetap berlanjut sampai sekarang. BBM menjadi isu yang paling hangat karena sumber daya tersebut sangat vital bagi kehidupan manusia, tidak mengherankan jika ketika harga BBM naik, maka setiap harga-harga ikut naik. Fenomena inilah ang menajdi sorotan paling tajam bagi Pemerintah sejak mewacanakan untuk menaikkan kembali harga BBM misalnya premium yang semula Rp 4.500/liter menjadi Rp. 6000/liter. Kenaikan Harga yang kelihatan sangat murah bagi kolongan menengah keatas namun tidak untuk golongan rakyat jelata.

Ada satu pernyataan yang sangat sering di lontarkan oleh presiden ketika dikonfirmasi mengenai kenaikan BBM bahwa “kebijakan menaikkan harga BBM adalah salah satu upaya dari Pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian bangsa”. Pernyataan ini tdak hanya dikeluarkan oleh bapak presiden namun juga oleh ketua umum PAN, Hatta Rajasa bahkan seperti sudah diformulasikan, pernyataan ini dilontarkan oleh semua pejabat baik yang duduk sebagai menteri maupun yang bertindak sebagai wakil rakyat yang pro terhadap kebijakan Presiden. Tidak ada satu pun yang mencoba untuk menerangkan lebih lanjut bahwa penyelamatan perekonomian seperti apa yang mereka maksud ataukah bahkan mencoba untuk mencari alternatif lain untuk menyelamatkan perekonomian bangsa tanpa harus menaikkan harga BBM karena secara umum, rakyat tahu bahwa bangsa ini kaya raya akan sumber daya minyak, kemudian hal yang tidak rasional bagi rakyat Jelata ketika sebuah bangsa yang kaya akan minyak kemudian menaikkan harga minyak setiap tahunnya dimana minyak tersebut sangat vital akan kelangsungan hajat hidup mereka.

Pertanyaan yang muncul kemudian ketika pemerintah beralasan untuk menaikkan harga BBM demi untuk menyelamatkan perekonomian bangsa adalah menyelamatkan siapa? Ketika rakyat menjerit dengan naiknya BBM, sisi perekonomian bangsa yang mana yang ingin diselamatkan oleh pemerintah? Ataukah mereka ingin menyelamatkan kepentingan mereka sendiri dan para pengusaha? Kemudian sisi itulah yang mereka sebut ingin diselamatkan karena mereka berpendapat bahwa kedua pihak tersebut juga adalah bagian bangsa. Entahlah, tetapi sampai sekarang dan bahkan sampai kapanpun, logika-logika orang cerdas tidak akan mampu diterima oleh akal sehat rakyat kecil untuk menaikkan harga BBM. 

Ketika Pemerintah asyik dengan budaya korupsi dengan jumlah yang fantastis mulai dari menggelapkan uang Rakyat 6,7 triliun sampai pada korupsi-korupsi yang jumlahnya milliaran, kemudian isu naikkan harga BBM membuat rakyat menjadi semakin jengah dengan perilaku-perilaku publik figur yang semakin tidak masuk akal. Bahkan bukan menuduh, namun ada kemungkinan bahwa dengan dicabutnya subsidi oleh pemerintah dan naikknya harga BBM tersebut, hasil dari pencabutan subsidi kemudian dialokasikan untuk menutupi kerugian Negara yang telah dikorupsi oleh pejabat Negara ataukah bahkan hasil subsidi tersebut dimasukkan dalam APBN yang kemudian menjadi dana segar bagi koruptor-koruptor yang masih dahaga untuk kembali dikorup?

Ada wacana lain yang kemudian muncul setelah naiknya harga BBM. Opsi untuk menyelamatkan Rakyat menengah kebawah adalah dengan kembali menyalurkan BLT. Dengan jumlah Rp. 150.000,- jumlah yang sangat begitu  rendah untuk menutupi kekurangan ketika nantinya harga BBM dinaikkan. Opsi BLT semakin tidak rasional karena hanya menambah masalah bagi Rakyat di negeri ini. 

Hemat saya bahwa negara tidak adil dalam memperlakukan semua pihak dalam negara, lihatlah bahwa ketika terjadi kolaps di salah satu Bank di Negeri ini yang dimiliki oleh pengusaha, apakah pemerintah berpikir beberapa kali untuk memberikan bailout dengan jumlah yang sangat besar? Kan tidak, tanpa banyak pertimbangan dari pemerintah, dana bailout dikuncurkan begitu saja kepada Bank tersebut dengan jumlah yang begitu besar yang notabene dimiliki oleh Pengusaha yang sudah sangat kaya raya. Lalu kemudian apa Pendapat Pemerintah ketika dikonfirmasi mengenai masalah tersebut? Hal yang lucu kemudian dilontarkan oleh pihak Pemerintah adalah kucuran dana Bailout tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian Bangsa ( Pernyataan Sri Mulyani, mantan menteri Perekonomian yang sangat berperan dalam kucuran dana Bailout kepada Bank Century 6,7 triliyun).  Lagi-lagi alasan yang dikeluarkan adalah untuk menyelamatkan perekonomian Bangsa. Hal yang sebenarnya membingungkan terhadap kedua masalah tersebut adalah dua masalah yang terjadi kemudian solusi yang diberikan berbeda namun alasan pemberian solusinya tetap sama. Gambaran singkatnya begini, “Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM dengan alasan untuk menyelamatkan Perekonomian Bangsa namun ternyata Rakyat menjerit, kemudian masalah yang kedua. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengucurkan dana 6,7 Trilliun untuk membailout Bank Century yang sedang bermasalah dengan alasan ingin menyelamatkan perekonomian Bangsa karena berdampak sistemik ketika dibiarkan, kemudian Pemilik Bank Century bernafas lega karena kebijakan tersebut. 

Hal yang sangat menggelikan sekaligus membingungkan, dua kebijakan yang berbeda kemudian dengan alasan yang sama namun objeknya menyikapi dengan ekspresi yang berbeda yang satunya menangis akan kebijakan tersebut (rakyat) kemudian yang lainnya tertawa (pihak Bank century). 

Permasalahan tentang naikknya BBM dan perilaku korup yang semakin menggila adalah dua dari beratus-ratus masalah di negeri ini. Nampaknya bahwa butuh kerja keras untuk lepas dari jeratan masalah yang sedang dialami negeri ini yang konon kabarnya terkenal di seantero Dunia bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam bahkan menurut dongeng yang menjamur, tongkat pun akan tumbuh ketika ditancapkan di bumi pertiwi ini. Itulah sekelumit masalah yang ada di negeri ini.  

Spekulan paling wahid George Soros (2000) “kapasitas negara untuk mengelola urusan bersama kita sesungguhnya sudah dilucuti oleh kepentingan privat kelompok-kelompok bisnis.Pernyataan tersebut sanagt menohok kepada kondisi kebangsaan negara Indonesia saat ini, negara yang seharusnya mengurusi setiap hajat hidup orang banyak ternyata berubah haluan untuk mengurusi hajat hidup sebagian orang yaitu elit-elit bangsa ini. Bahakan ada beberapa orang yang memplesetkan PANCASILA (5) “  Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia menjadi keadilan sosial bagi seluruh korporatokrasi ( Pengusaha dan Pejabat Pemerintah ) Indonesia.” Tidak salah memang, dengan berbagai fenomena yang muncul di negeri kolam susu ini, salah satu yang mungkin paling sering dijumpai adalah berkuasanya uang sebagai salah satu kekuatan yang paling besar, mulai dari akar rumput sampai pejabat teras. Budaya sogok menjamur dimana-mana, kebiasaan korup adalah hal yang biasa, bahkan mungkin di negeri ini, budaya-budaya tersebut telah dihalalkan ataukah bahkan diharuskan? Yah, diharuskan dalam artian ketika seseorang tidak melakukan korup ketika yang lainnya terlibat, maka orang yang tidak terlibat akan diasingkan, sungguh ironi dan menyedihkan.

Saya kemudian teringat kembali ketika beberapa bulan yang lalu saya menjual di sebuah counter HP di bilangan jalan Urip Sumiharjo di dekat jembatan penyeberangan. Counter tersebut berdekatan dengan pangkalan tukang becak yang sedang mangkal menunggu para penumpang, ketika mereka sedang asyik bercengkrama dan tidak tahu pasti topiknya apa, namun ditengah-tengah perdebatan, salah satu dari mereka berceloteh “ketika kita bermasalah dengan orang kaya, lebih baik mati saja.” Kalimat itu yang selalu terngiang-ngiang di benakku bahwa sampai tukang becak pun sudah sadar bahwa kekuatan uang telah merajai negeri ini, bahkan hukum di negeri ini pun sudah terkalahkan oleh uang itu sendiri.

Ketika keadaan suatu bangsa yang sudah mencapai klimaks keresahan, maka suatu hal yang menjadi sebuah solusi adalah resistensi dari setiap elemen bangsa, penderitaan yang selama ini belum mencapai klimaksnya menjadikan semua orang masih merasa baik-baik saja sehingga mereka belum tergerak untuk merubah keadaan meskipun dalam bentuk yang terkecil, namun pada dasarnya bahwa rakyat Indonesia sedang dalam penindasan yang hebat dimana aktor dibalik penindasan tersebut adalah persekongkolan korporatokrasi di Negeri ini. 

Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) sebagai konstitusi dan pedoman berjalannya Negara ini seakan dicampakkan begitu saja. Konsitusi hanya dijadikan legitimasi untuk mengelurkan kebijakan-kebjakan, bahkan hal yang paling sering dilakukan akhir-akhir ini oleh pemerintah yang sebenarnya tidak rasional dan sangat membingungkan adalah mengamandemen pasal-pasal dan ayat-ayat undang-undang. Salah satu tujuan menurut pemerintah adalah mengkondisikan negara dengan kondisi sekarang ini, namun kebijakan mengamandemen UU tersebut kelihatan seperti mengakali konstitusi untuk menyesuaikan dengan kepentingan pribadi sehingga ketika mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan pribadi, kebijiakan tersebut akan dianggap legitimate yang sebenarnya adalah untuk kepentingan pribadi.

Konstitusi yang paling sering dijadikan referensi ketika membicarakan masalah kerakyatan Indonesia adalah UUD 1945 pasal 33 ayat 3, “Bumi, Air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dimiliki oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Konstitusi yang sebenarnya sudah sangat ideal yang bisa dijadikan alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang sudah dijadikan referensi selama bertahun-tahun namun hasilnya masih sangat minim. Apa yang sebenarnya telah terjadi bagi Indonesia? Tidak ada yang salah pada tataran konsep karena sudah sangat ideal namun dalam pengaplikasian konsep-konsep tersebut, terdapat beberapa kekeliruan yang kemudian tidak sesuai lagi dengan konsep yang dijadikan rujukan, salah satunya adanya perilaku korupsi yang telah hampir-hampir sudah menjadi budaya. 

Satu hal lagi yang sedang menjamur di tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya di kalangan para Pejabat Pemerintah adalah kecanduan berdebat. Tercatat, ada dua stasiun TV yang secara reguler mengadakan acara debat dalam kemasan yang sangat rapi dimana topik-topik yang dipilih adalah yang sedang menghangat kemudian mengundang beberapa ahli, seniman, pejabat pemerintah, politisi, mahasiswa dan kalangan lain yang dianggap kapabel. Hanya satu kalangan dalam masyarakat yang tidak pernah diundang sepengetahuan saya adalah rakyat biasa (Nelayan, Petani, tukang Batu, Buruh dan profesi semacamnya yang mungkin dianggap oleh mereka sebagai profesi orang bawah). Hal yang paling menjengahkan dari perdebatan mereka adalah setelah berjam-jam berdebat tentang sebuah kasus yang terjadi, tidak ada satupun solusi yang kemudian diwacanakan, ataupun mungkin ada solusi maka solusi tersebut hanya sebatas wacana. Ataukah bahkan debat tersebut tidak lain hanya untuk meningkatkan rating dari stasiun TV tersebut? Entah. 

Hal lain yang terjadi adalah ada juga beberapa kelompok yang berdiri sebagai kelompok yang kontra sama Pemerintah, namun pada kenyataannya mereka tidak bisa berbuat banyak, bahkan tidak lepas dari kepentingan politik mereka. Pihak yang lain yang sering muncul, ada orang-orang yang dahulu menjadi aktivis pada zamannya namun kemudian mereka datang di acara debat tersebut hanyalah membangga-banggakan bahwa mereka dulu mantan tahanan politik (tapol) dan kemudian beretorika kemudian diredam juga oleh suara mayoritas.

Negeri ini seharusnya sudah mulai kembali membangun kepercayaan diri Bangsa. Setelah diobok-obok bertahun-tahun oleh krisis kepercayaan, maka sepantasnyalah untuk kemudian mencoba sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan dengan jalan mengurai satu persatu masalah kebangsaan yang telah menggurita. Bangsa ini harus bangkit untuk menemukan identitas diri yang kemudian akan menjadi pegangan menuju arah yang lebih baik. 

Ketika Jepang dikenal dengan etos kerja yang tinggi serta kedisiplinan yang kuat serta China yang dikenal dengan keuletan rakyatnya dalam bidang wiraswasta dan keseriusannya dalam membasmi budaya korupsi di negerinya, lalu Indonesia apa? apa yang harus di tunjukkan kepada Dunia bahwa Indonesia ini loh? Ataukah budaya gotong royong yang selama ini dianggap budaya asli Indonesia masih relevan untuk dijadikan tameng? Kalau iya, sudah seharusnya bangsa Indonesia kembali menggali budaya tersebut karena tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan budaya gotong royong di tengah-tengah masyarakat Indonesia sudah mulai tergerus oleh budaya asing yang dianggap paling baik dan modern. 

Namun sebelum beranjak ke solusi tersebut, bangsa ini terlebih dulu harus mampu mengurai masalah yang sedang menjerat. Tanpa mengurai masalah dan menuntaskan permasalahan yang ada, maka sangat mustahil untuk melihat bangsa ini dalam sebuah kemandirian. resistensi Rakyat sangat dibutuhkan untuk menjadi kontrol bagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Lembaga resmi yang notabene disebut sebagai perwakilan rakyat yang diharapkan berfungsi untuk mewakili kepentingan-kepentingan rakyat ternyata hanya mewakili diri mereka sendiri. Ada sebuah anekdot yang menyatakan bahwa “anggota Dewan adalah perwakilan dari semua Rakyat maka sepantasnyalah kalau mereka sejahtera karena mereka mewakili begitu banyak kesejahteraan Rakyat.”

Inilah kenyataan Bangsa Indonesia. Bangsa yang didirikan dengan begitu banyak pengorbanan dan perjuangan yang begitu hebat dari pejuang-pejuang dahulu ternyata tidak mampu menemukan jati dirinya yang bisa dibanggakan. Ketika negara-negara lain dengan bangganya menunjukkan identitas bangsanya terhadap dunia, bangsa Indonesia masih terseok-seok dengan permasalahan internal yang semakin memburuk. Namun saya yakin bahwa momentum kebangkitan itu segera akan datang, ketika semua permasalahan sampai pada klimaksnya dan kejengahan massa rakyat sudah sampai pada ubun-ubun terhadap tingkah pongah sebagian besar pejabat pemerintah, maka dengan sendirinya rakyat akan berusaha untuk membebaskan diri mereka dengan cara-cara mereka sendiri dan akan mengabaikan semua peraturan-peraturan yang merupakan rekayasa dari Pemerintah untuk membungkam mulut rakyatnya.

March 14, 2012

Terdistorsinya Makna Kebutuhan Karena Keinginan

                                                                                                                        
Kos Marimas, 26/2/2012
 
Tulisan ini adalah ide masa lalu  yang tidak sempat kutungkan dalam sebuah tulisan, sekilas bahwa tulisan ini sudah begitu sering didiskusikan oleh setiap orang sesering orang mengejar keinginan-keinginannya setiap harinya. Butuh dan ingin adalah dua hal yang kemudian membuat seseorang akan tertipu olehnya ketika tidak mampu mengindentifikasi keduanya. Inilah hal dasar yang mesti diidentifikasi sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, apakah melakukan sesuatu karena memang benar-benar membutuhkan atau bahkan sebaliknya bahwa apakah kita nelakukan sesuatu karena keinginan-keinginan yang meminta untuk dipenuhi yang pada hakekatnya bahwa keinginan-keinginan itu sendiri tidak akan bisa dan tidak akan pernah terpenuhi karena sesuatu bukan lagi keinginan ketika sudah terpenuhi.

Kebutuhan adalah sesuatu yang mesti dipenuhi untuk tetap melanjutkan eksistensi kita sebagai makhluk hidup, kebutuhan bisa diidentifikasi bahwa ketika hal tersebut tidak terpenuhi maka adalah hal yang kurang dari diri seorang makhluk, misalnya saja bahwa kebutuhan akan makanan, ketika tidak dipenuhi kebutuhan tersebut maka akan bedampak pada kondisi lapar atau kondisi-kondisi yang yang mempengaruhi badan seseorang, namun mesti pula di ketahui bahwa makanan bisa saja berubah menjadi keinginan, misalnya ketika sesorang sudah kenyang namun masih tetap makan maka makna makan sudah berubah menjadi sebuah keinginan, kondisi lain yang bisa saja menjadikan makanan sebagai sebuah keinginan adalah ketika kita mempunyai uang yang hanya cukup untuk membeli sebuah tempe namun kita memaksakan untuk membeli ayam bakar yang tidak mencukupi uang yang kita miliki, maka makanan tersebut menjadi sebuah keinginan. 

Maka, dapat diidentifikasi bahwa makan adalah sebuah kebutuhan dalam kondisi lapar dan apapun jenis dari makanan tersebut. Contoh lain adalah kebutuhan akan pakaian, disini, pakaian menjadi kebutuhan ketika bertujuan untuk menutup aurat dengan standar kesopanan. Ketika orang tidak memakai pakaian, maka orang tersebut ada yang kurang dari dirinya yang harus dipenuhi yaitu pakaian, namun papakian itu sendiri bisa saja menjadi sebuah keinginan ketika pakaian yang sejatinya hanya bertujuan untuk menutup aurat dibeli dengan harga yang begitu tinggi demi sebuah prestise dan ada perasaan untuk pamer. Kebutuhan-kebutuhan lain pun seperti rumah seperti halnya kebutuhan-kebutuhan lain yang bisa saja berubah makna.

Saya tertarik untuk menulis lebih tentang makanan itu sendiri. Sering kali bahwa ada beberapa hal yang kemudian membuat aktivitas makan menjadi sebuah prestise, lihat saja bagaimana sebagaian orang real untuk menghamburkan beberapa lembar uang demi makanan yang dianggap sedikit lebih elit, memaksakan untuk membeli makanan dengan harga tinggi, namun pernah kah dipirkirkan ulang bahwa sejatinya makan tempe dan makan ayam panggang sama-sama mengenyangkan tetapi dengan harga yang berbeda, meskipun kebanyakan dari kita beranggapan ini mengenai masalah gizi yang terkandung dalam makanan yang akan dimakan tersebut, namun kita terkesan dipaksakan dan mengeluarkan begitu banyak dana hanya untuk itu, maka hal tersebut tidak berlaku lagi bagi saya. Salah satu yang menjadi ukuran prestise seseorang adalah makananitu sendiri yang sudah menjadi sebuah keinginan.

Keinginan sendiri adalah sesuatu yang utopis, kenapa utopis? Karena keinginan-keinginan tersebut tidak akan pernah bisa dipenuhi, meskipun seseorang menyamai kekayaannya Qarun, maka tetap saja bahwa keinginannya tidak akan pernah terpenuhi. apa maksudnya tidak dipenuhi? Jawaban konyolnya bahwa tanyakan saja pada Qarun yang punya kekayaan yang tiada taranya, apakah Dia merasa sudah puas atau merasa sudah sangat kaya dengan apa yang dia miliki? Jawabannya tidak, bahwa dia selalu berfikir bahwa bagaimana caranya untuk selalu menambah dan menambah lagi kekayaanya tersebut. 

Jawaban yang lain kenapa keinginan-keinginan tersebut utopis dan idak bisa dipenuhi karena keinginan itu sendiri adalah perasaan-perasaan tidak puas yang sudah dimiliki seberapa pun besarnya yang sudah dimiliki, atau yang sering didengan dari para mubaliq dengan kata tidak pernah bersyukur. Maka dari itu bahwa sebenarnya padanan kata dari keinginan itu sendiri adalah tidak bersyukur, selalu mau yang lebih demi sebuah prestise yang semu yang kemudian akan menjerumuskan kedalam lembah kenistaan.

Ada sebenarnya hal yang paling esensial menurut saya perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, bahwa sepanjang seseorang mau bekerja apapun bentuk dan jenis pekerjaannya, maka Allah akan menjamin kebutuhannya, dalam artian sesuatu yang sangat kita perlukan untuk kelangsungan hidup, namun sebenarnya bahwa seseorang yang sering keluhkan ketika mereka bekerja karena tidak terpenuhinya keinginan-keinginan mereka. Seringkali kita mendengar orang-orang mengeluh tentang pekerjaannya yang sangat sedikit gajinya, namun saya yakin bahwa gaji yang sedikit tersebut sebenarnya sudah mamapu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, namun kenapa keluar keluhan-keluhan? 

Saya akan pastikan bahwa keluarnya keluhan-keluhan tersebut hanya karena adanya keinginan-keinginan yang tidak mampu dipenuhi dengan gaji yang sudah didapat sehingga keluarlah keluahan-keluhan bahwa sedikit dan tidak mencukupi, tetapi mari kita tanya kepada diri sendiri yang sering mengeluh seperti itu, apa sebenarnya yang tidka mencukupi, apakah memang kebutuhan yang tidak mencukupi ataukah memang keinginan kita yang terlalu besar?

Setan Menyerah

                                                                                                                        Makassar, 20/2/2012


Tulisan ini hanyalah refleksi dari pelatihan yang saya ikuti beberapa waktu lalu di MEP yang terletak dibilangan jln. AP Petarani. Sejujurnya bahwa apa saya tulis akan banyak tereduksi dari materi pelatihan tersebut, dan juga bahwa sesungguhnya materi tersebut lumayan rumit sehingga sulit bagi saya untuk mengerti secara utuh. Permasalahan lain yang mungkin akan muncul dari tulisan saya adalah kemungkinan banyaknya orang yang akan membaca kemudian tidak setuju dengan apa yang saya tulis.
Setan menyerah, sebuah frase yang sebagian dari kita tidak akan pernah setuju dengan hal tersebut, bagaimana tidak bahwa, stigma kita selama ini bahwa Setan adalah musuh terbesar bagi manusia yang kemudian punya 1001 macam cara untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan, kata menyerah adalah kata yang haram tentunya bagi setan. Makhluk ini telah diijinkan oleh Allah SWT untuk ditangguhkan ajalnya untuk menggoda umat manusia sampai hari akhir. Dan sesungguhnya bahwa mereka akan datang menggoda manusia dari segala penjuru sampai manusia terjerumus ke lembah kenistaan.
Namun, kenapa dengan kata menyerah? Sesungguhnya bahwa kata menyerah hanyalah sebuah pilihan kata yang saya pilih untuk mencoba menyindir umat manusia sekarang ini. Bagaimana tidak, kerusakan yang terjadi akibat tingkah pongah yang dipertontonkan oleh umat manusia abad ini semakin tidak terkendali, kerusakan terjadi pada setiap sisi di alam raya ini, mulai dari merusak diri mereka sendiri sampai pada kerusakan lingkungan sekitar manusia, baik itu dunia hewan tumbuhan dan dan buni ini sendiri. Kalau mau mencoba untuk mengkalkulasi kerusakan-kerusakan tersebut, maka akan begitu banyak hal yang kita dapatkan, dari diri mereka adalah terjadinya korupsi, perzinaan, kemaksiatan lain yang kemudian merusak diri mereka dan orang lain, kemudian bagaimana dunia Hewan dan tumbuhan mengalami kerusakan yang begitu hebat akibat ulah manusia yang menghancurkan habitat mereka demi memuaskan nafsu mereka, dan Bumi yang mereka tempati tidak lepas dari kerusakan yang mahadahsyat akibat eksploitasi besar-besaran yang diakibatkan ulah manusia untuk memenuhi keingina-keinginan utopia mereka.
            Contoh yang paling konkrit di bumi Indonesia adalah perilaku korupsi dikalangan elit bangsa yang semakin menggila, mari kita tengok kasus korupsi yang sedang melilit partai yang sedang berkuasa di Indonesia, setelah beberapa pelaku korupsi di tubuh partai ini tertangkap basah sebagai pelaku korupsi apa yang mereka lakukan? Sepengetahuan saya bahwa tidak ada satupun yang kemudian angkat tangan bahwa sayalah yang bersalah dan kemudian bertanggung jawab akan masalah tersebut, namun yang terjadi adalah saling menyalahkan, saling tuding, saling senggol untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka yang belum dikaitkan namanya seakan bungkam bersembunyi dalam kebisuan mereka, kemudian mereka yang sudah dikaitkan dengan lingkaran korupsi berusaha mempertahankan diri mereka dengan berbagai cara, bahkan yang sudah jadi tersangka pun masih saja menyangkal bahwa mereka tidak saling kenal atau bahkan tidak pernah sekalipiun bertemu. Fenomena yang sering mereka katakan ketika dijadikan tersangka adalah kita lihat saja di persidangan. Sungguh ironi dan sangat menyedihkan..! mereka berani berbuat tapi tidak berani menanggung resiko.
Kemudian setelah kerusakan-kerusakan tersebut mendatangkan bencana bagi umat manusia, apa yang terjadi? Ramai-ramai umat manusia lepas tangan dari perbuatan mereka, ramai-ramai mereka mengatakan bahwa itu semua adalah bencana, ramai-ramai mereka tidak mau maju kedepan untuk bertanggung jawab, kemudian yang paling sering didengar adalah mereka kemudian ramai-ramai menyalahkan Setan, mereka mengatakan bahwa mereka melakukan itu semua karena setan yang terus datang menggoda, setan yang terus-menerus mengajak mereka melakukan kemaksiatan. Sehingga seakan-akan mereka tidak punya salah akan semua itu, kesalahan mereka sepenuhnya dilimpahkan kepada eksistensi setan yang menggoda mereka.
Hal yang paling mengerikan kemudian yang sering dilakukan oleh umat manusia adalah ketika mereka mendapatkan sedikit kelebihan ( kesuksesan ), maka hal yang sering mereka lakukan adalah kesombongan yang amat sangat. Seakan bahwa hal yang telah mereka peroleh adalah hasil karya mereka sendiri tanpa campur tangan dari yang Maha Pemberi Kesuksesan. Seakan-akan mereka sendirilah yang kemudian mempunyai kesuksesan tersebut tanpa memikirkan begitu banyak bantuan-bantuan yang dibutuhkan untuk kemudian menjadi berhasil. Selanjutnya bahwa ketika mereka  mengalami kegagalan, sudah barang tentu bahwa mereka tidak pernah berpikir bahwa itu adalah karena mereka sendiri, yang sering mereka lakukan adalah menyalahkan orang lain, bahkan yang paling berani adalah menyalahkan Tuhan, seakan-akan Tuhan tidak mengasihi mereka. Seolah-olah Tuhan membenci mereka. Dan yang paling membahayakan adalah mereka berputus asa dari Rakhmat-NYA.
Apa tanggapan setan akan hal itu?
Keadaan inilah kemudian saya asosiasikan dengan setan menyerah, setan sekan-akan sudah tidak perlu lagi untuk menggoda manusia. Tindakan manusia yang secara massif melakukan kerusakan-kerusakan di bumi ini sudah melebihi ekspektasi setan ketika berjanji di depan Tuhan untuk menjerumuskan manusia ke lembah yang sesat, alasan berikutnya yang kemudian membuat setan menyerah untuk menggoda manusia adalah sikap manusia yang terus-menerus menyalahkan setan ketika terjadi bencana akibat ulah manusia sendiri. Setan pun menganggap bahwa mereka tidak butuh lagi untuk menggoda manusia untuk melakukan kejahatan.  Bahkan setan pun tidak pernah menyalahkan makhluk lain ketika mereka ingkar kepada Allah, mereka berani angkat kepala bahwa itu adalah kesalahan mereka sendiri. Barangkali setan akan berkata begini ketika terlalu sering disalahkan oleh Manusia bahwa “ enak saja menyalahkan kami, kalian bersenang-senang dengan hawa nafsu kalian tetapi kami yang kalian salahkan”.
Sebenarnya, hal tersebut hanyalah sebuah analogi terhadap sikap manusia selama ini yang sering kali menjadi pecundang, setan menjadi bulan-bulanan penyalahan ketika mereka terjerumus ke dalam lembah kenistaan, padahal kita tidak menyadari bahwa kita punya kekuatan untuk memilih yang terbaik bagi kita dan alam terlepas dari adanya godaan setan setan.  Hal yang terpenting yang harus kita lakukan adalah memerangi diri sendiri, bukan setan-setan yang menggoda yang menjadi musuh terbesar tetapi diri sendirilah yang harusnya dijadikan musuh terbesah yaitu diri yang haus akan keinginan-keinginan utopis, diri yang setiap saat berjalan dengan angkuh, diri yang sering kali putus asa ketika mengalami kegagalan, diri yang selalu haus akan popularitas, harta,tahta dan diri yang selalu diliputi oleh hawa nafsu. Banyak orang-orang besar yang pernah ada mengatakan bahwa hal yang paling sulit bagi manusia adalah mengalahkan diri sendiri, kemudian Rasulullah SAW pun bersabda bahwa  “ perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu”. Dari sini, kita seharusnya sadar untuk kemudian tidak lagi menyalahkan siapapun terhadap setiap tindakan yang kita lakukan bahkan setan pun tidak berhak untuk kita jadikan kambing hitam terhdap tindakan salah yang kita lakukan karena kita punya kesadaran untuk mengakses setiap tindakan kita dan kemudian memilih setiap tindakan yang mestinya kita pilih.
Saya yakin bahwa kita semua tidak menutup kemungkinan untuk kemudian terjerumus kedalam hal-hal seperti yang saya tulis diatas, dan semoga Yang Maha Hidup melindungi kita dari hal-hal tersebut diatas.
*** Mind Trainer ***