March 14, 2012

Terdistorsinya Makna Kebutuhan Karena Keinginan

                                                                                                                        
Kos Marimas, 26/2/2012
 
Tulisan ini adalah ide masa lalu  yang tidak sempat kutungkan dalam sebuah tulisan, sekilas bahwa tulisan ini sudah begitu sering didiskusikan oleh setiap orang sesering orang mengejar keinginan-keinginannya setiap harinya. Butuh dan ingin adalah dua hal yang kemudian membuat seseorang akan tertipu olehnya ketika tidak mampu mengindentifikasi keduanya. Inilah hal dasar yang mesti diidentifikasi sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, apakah melakukan sesuatu karena memang benar-benar membutuhkan atau bahkan sebaliknya bahwa apakah kita nelakukan sesuatu karena keinginan-keinginan yang meminta untuk dipenuhi yang pada hakekatnya bahwa keinginan-keinginan itu sendiri tidak akan bisa dan tidak akan pernah terpenuhi karena sesuatu bukan lagi keinginan ketika sudah terpenuhi.

Kebutuhan adalah sesuatu yang mesti dipenuhi untuk tetap melanjutkan eksistensi kita sebagai makhluk hidup, kebutuhan bisa diidentifikasi bahwa ketika hal tersebut tidak terpenuhi maka adalah hal yang kurang dari diri seorang makhluk, misalnya saja bahwa kebutuhan akan makanan, ketika tidak dipenuhi kebutuhan tersebut maka akan bedampak pada kondisi lapar atau kondisi-kondisi yang yang mempengaruhi badan seseorang, namun mesti pula di ketahui bahwa makanan bisa saja berubah menjadi keinginan, misalnya ketika sesorang sudah kenyang namun masih tetap makan maka makna makan sudah berubah menjadi sebuah keinginan, kondisi lain yang bisa saja menjadikan makanan sebagai sebuah keinginan adalah ketika kita mempunyai uang yang hanya cukup untuk membeli sebuah tempe namun kita memaksakan untuk membeli ayam bakar yang tidak mencukupi uang yang kita miliki, maka makanan tersebut menjadi sebuah keinginan. 

Maka, dapat diidentifikasi bahwa makan adalah sebuah kebutuhan dalam kondisi lapar dan apapun jenis dari makanan tersebut. Contoh lain adalah kebutuhan akan pakaian, disini, pakaian menjadi kebutuhan ketika bertujuan untuk menutup aurat dengan standar kesopanan. Ketika orang tidak memakai pakaian, maka orang tersebut ada yang kurang dari dirinya yang harus dipenuhi yaitu pakaian, namun papakian itu sendiri bisa saja menjadi sebuah keinginan ketika pakaian yang sejatinya hanya bertujuan untuk menutup aurat dibeli dengan harga yang begitu tinggi demi sebuah prestise dan ada perasaan untuk pamer. Kebutuhan-kebutuhan lain pun seperti rumah seperti halnya kebutuhan-kebutuhan lain yang bisa saja berubah makna.

Saya tertarik untuk menulis lebih tentang makanan itu sendiri. Sering kali bahwa ada beberapa hal yang kemudian membuat aktivitas makan menjadi sebuah prestise, lihat saja bagaimana sebagaian orang real untuk menghamburkan beberapa lembar uang demi makanan yang dianggap sedikit lebih elit, memaksakan untuk membeli makanan dengan harga tinggi, namun pernah kah dipirkirkan ulang bahwa sejatinya makan tempe dan makan ayam panggang sama-sama mengenyangkan tetapi dengan harga yang berbeda, meskipun kebanyakan dari kita beranggapan ini mengenai masalah gizi yang terkandung dalam makanan yang akan dimakan tersebut, namun kita terkesan dipaksakan dan mengeluarkan begitu banyak dana hanya untuk itu, maka hal tersebut tidak berlaku lagi bagi saya. Salah satu yang menjadi ukuran prestise seseorang adalah makananitu sendiri yang sudah menjadi sebuah keinginan.

Keinginan sendiri adalah sesuatu yang utopis, kenapa utopis? Karena keinginan-keinginan tersebut tidak akan pernah bisa dipenuhi, meskipun seseorang menyamai kekayaannya Qarun, maka tetap saja bahwa keinginannya tidak akan pernah terpenuhi. apa maksudnya tidak dipenuhi? Jawaban konyolnya bahwa tanyakan saja pada Qarun yang punya kekayaan yang tiada taranya, apakah Dia merasa sudah puas atau merasa sudah sangat kaya dengan apa yang dia miliki? Jawabannya tidak, bahwa dia selalu berfikir bahwa bagaimana caranya untuk selalu menambah dan menambah lagi kekayaanya tersebut. 

Jawaban yang lain kenapa keinginan-keinginan tersebut utopis dan idak bisa dipenuhi karena keinginan itu sendiri adalah perasaan-perasaan tidak puas yang sudah dimiliki seberapa pun besarnya yang sudah dimiliki, atau yang sering didengan dari para mubaliq dengan kata tidak pernah bersyukur. Maka dari itu bahwa sebenarnya padanan kata dari keinginan itu sendiri adalah tidak bersyukur, selalu mau yang lebih demi sebuah prestise yang semu yang kemudian akan menjerumuskan kedalam lembah kenistaan.

Ada sebenarnya hal yang paling esensial menurut saya perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, bahwa sepanjang seseorang mau bekerja apapun bentuk dan jenis pekerjaannya, maka Allah akan menjamin kebutuhannya, dalam artian sesuatu yang sangat kita perlukan untuk kelangsungan hidup, namun sebenarnya bahwa seseorang yang sering keluhkan ketika mereka bekerja karena tidak terpenuhinya keinginan-keinginan mereka. Seringkali kita mendengar orang-orang mengeluh tentang pekerjaannya yang sangat sedikit gajinya, namun saya yakin bahwa gaji yang sedikit tersebut sebenarnya sudah mamapu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, namun kenapa keluar keluhan-keluhan? 

Saya akan pastikan bahwa keluarnya keluhan-keluhan tersebut hanya karena adanya keinginan-keinginan yang tidak mampu dipenuhi dengan gaji yang sudah didapat sehingga keluarlah keluahan-keluhan bahwa sedikit dan tidak mencukupi, tetapi mari kita tanya kepada diri sendiri yang sering mengeluh seperti itu, apa sebenarnya yang tidka mencukupi, apakah memang kebutuhan yang tidak mencukupi ataukah memang keinginan kita yang terlalu besar?

No comments: