May 17, 2016

Senja yang Syahdu

Apa yang melebihi sebuah kebahagiaan di saat senja menjelang sehabis hujan sambil mendengarkan lagu Payung Teduh dan pekerjaan kantor sudah kelar semua. ah, syahdu nian suasananya dengan semilirnya angin dingin dari celah AC di sudut ruangan.

Mengalun irama alam yang menghadirkan semua kenangan. lirik lagu "untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan" masih mengalun indah melalui headsets yang terpasang di kupingku.

Ingin kuhentikan waktu seperti ini, sekian detik, menit atau pun sekian bulan bahkan bertahun-tahun. larut menyelami diri yang masygul dengan suasana.

Langit masih menahan air matanya dan semesta yang tetiba menjadi romantis dengan tiadanya mentari yang bersinar. laku para Manusia diam menyelami diri masing-masing. pemuja senja sepertiku merindukan berkali-kali lipat titik air melipat diri kemudian datang membasahi persada.

Kali ini Aku harus jujur. Aku penat dengan setiap mimpi yang berada di pelukan. mimpi menerjang belantara kota ini yang pada saatnya nanti berakhir di kesunyian masing-masing. mimpi menaklukkan kota ini layaknya ingin menikmati telaga di tengah gurun Sahara.

Namun Aku tidak sendirian. sudah menjadi candu khalayak di negeri ini tentang mimpi itu. memiliki rumah, kendaraan dan keluarga yang akan dibanggakan pada setiap edisi mudik lebaran di kampung halaman.

Watak Para kaum urban perantau yang mencoba kaya, seolah-olah, Mereka mempercayai tahayyul bahwa kaya di kota ini adalah kebahagiaan tiada tara. aduh, picik benar yah.

Oh, diriku, kenapa ngelantur dalam curhatan yang tidak jelas. Aku hanya ingin menggariskan perasaan Syahdu akan rindu senja yang basah di awal paragrap, itu saja. Aku tidak mau diganggu oleh kekhawatiran khas warga Ibu kota

Rawamangun, 17 95 16
Senja yang basah

No comments: