09 Maret 108 tahun yang lalu.
Sebuah klub yang memisahkan dari dari biangnya karena perbedaan prinsip. Klub ini menolak peraturan klub yang terlalu rasis. Menolak pemain yang bukan berasal dari Italia dan Inggris maupun Swiss. Sebuah sikap yang akhirnya melahirkan sebuah klub besar. Klub yang pada akhirnya akan menjadi klub terkeren di kancah persepakbolaan dunia.
Aku mengenal klub ini sejak SD. Kira-kira saat aku duduk di bangku kelas 5. Alasan kecintaanku terhadap klub ini mungkin terlalu unik dari fans yang lain. Iya, aku memilih menjadi barisan pendukung klub karena rasa kasihan terhadap sang presiden klub saat itu.
Loh kok kenapa bisa..???
Saudaraku berlangganan majalah bola. Aku sangat menyenangi membaca berita tentang sepakbola saat itu sebelum hadirnya berita online. Pada beberapa edisi, aku membaca berita tentang klub ini yang digawangi oleh seorang presiden keren, Massimo Moratti. Dari figur sang presiden pula yang membuatku menjatuhkan pilihan sebagai salah satu fans klub ini.
Ya, berawal dari rasa iba kepada seorang presiden yang sudah menggelontorkan dana begitu banyak untuk mendatangkan pemain top pada masanya namun prestasi tak kunjung datang menghampiri bahkan titel scudetto sepertinya masih enggan mampir di markas klub ini yang terakhir direngkuh pada musim 1989, menyedihkan memang.
Mulailah aku belajar mencintai klub ini. Mengikuti setiap beritanya, mengenali semua pemainnya. Aku tanpa memandang siapapun pemain yang masuk ataupun keluar dari klub ini, prinsipku adalah semua pemain yang menjadi bagian dari klub ini adalah idolaku dan semua pemain yang memutuskan pindah klub kucoret dari daftar pemain idola, etapi ada beberapa pengecualian ding, misalnya Alvaro Recoba dan tentunya The Phenomenon, Ronaldo Luís Nazário de Lima.
Ya, berawal dari rasa iba kepada seorang presiden yang sudah menggelontorkan dana begitu banyak untuk mendatangkan pemain top pada masanya namun prestasi tak kunjung datang menghampiri bahkan titel scudetto sepertinya masih enggan mampir di markas klub ini yang terakhir direngkuh pada musim 1989, menyedihkan memang.
Mulailah aku belajar mencintai klub ini. Mengikuti setiap beritanya, mengenali semua pemainnya. Aku tanpa memandang siapapun pemain yang masuk ataupun keluar dari klub ini, prinsipku adalah semua pemain yang menjadi bagian dari klub ini adalah idolaku dan semua pemain yang memutuskan pindah klub kucoret dari daftar pemain idola, etapi ada beberapa pengecualian ding, misalnya Alvaro Recoba dan tentunya The Phenomenon, Ronaldo Luís Nazário de Lima.
Klub ini mampu membuat moodku tak karuan selama seminggu ketika menderita kekalahan. Tetapi biasanya hal itu lumrah bagi mereka pencinta klub.
Perjalanan panjang menjadi fans klub ini tidak semuda menjadi fans Real Madrid ataupun Barcelona yang selalu bergantian menjuarai Liga Spanyol, barisan fans mereka tidak harus menua dalam menunggu gelar juara, toh pada akhirnya kedua klub tersebut selalu silih berganti menjadi capolista. Namun untuk ukuran fans klub ini yang memulai bergabung di akhir 1990an, benar-benar membutuhkan mental yang berlapis-lapis menunggu gelar meskipun tidak seironi gerembolan Liverpudlian yang sampai sekarang masih setia menanti. he.he
Bayangkan saja, sejak musim 1988/1989, butuh waktu sekitar 16 tahun untuk menunggu klub ini melepas dahaga gelar Serie A sebelum akhirnya memeluk mimpi menjadi juara di musim 2005/2006. meski banyak perdebatan pada saat itu, Juventus yang menjadi juara namun klub tersebut terlibat calciopoli sehingga gelar dinisbahkan ke klub ini.
Fans klub dari kota Turin meradang dengan hal tersebut dan menuduh sang Presiden kecintaan saya, Massimo Moratti, terlibat dalam mendalangi cerita Calciopoli namun saya sendiri puas dengan kejadian tersebut karena itu artinya, sepakbola bukan hanya melulu sebuah kemenangan yang berujud gelar namun sepakbola juga harus melibatkan unsur-unsur fair play seperti yang setiap kali dikumandangkan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Itulah kenapa saya tidak bersepakat dengan pemain yang selalu melakukan diving hanya demi kemenangan semata. Pemain Sepakbola modern sudah selayaknya mencontoh salah satu klub paling fair sampai saat ini, Javier Zanetti, yang terkenal dengan sikapnya yang jujur di Lapangan.
Saya bukanlah fans yang membenci klub kompetitor bahkan berusaha untuk tidak memaki meskipun klub tersebut mengalahkan klub ini dalam pertandingan penting sekalipun namun sejujurnya pernyataanku ini tidak berlaku untuk 2 klub ini, Juventus dan Manchester United. dua klub yang menurutku sangat tidak keren.
Untuk klub yang berasal dari kota turin dengan jersey yang persis dengan marka jalan ataupun kantor plastik hitam putih, Saya tidak menyukai perilaku petingginya sejak sebelum terbongkarnya Mereka sebagai klub yang suka menghalalkan segala cara untuk meraih gelar. di awal 2000an, ketika klub ini, Juven***s melakoni suatu pertandingan dan di menit-menit injury time sementara skor masih kaca mata, sudah dipastikan bahwa akan ada rekayasa dari wasit untuk menghadiahi penalti kemudian akhirnya Mereka memenangi laga, itu tidak terjadi sekali dua kali namun seringkali. klub yang tidak keren ini pun selalu menjadi pecundang di Liga Champions, tajinya hanya tajam di Seria A namun tumpul di Liga Champion. Keikutsertaan Mereka hanya seperti cheers, barisan hore-hore di sebuah pertandingan lalu kemudian menjadi pesakitan.
Kemudian klub Setan Merah, si MUnyuk. entahlah kenapa sampai saat ini, klub tersebut tidak bisa kuhapus dari daftar hitam klub yang tidak keren. mungkin salah satu sebabnya adalah barisan para fansnya yang terlalu songong menyaksikan klub tersebut selama diasuh oleh Sir Alex Ferguson. Mereka besar kepala dengan kemenangan-kemenangan yang seakan selalu menyertai Mereka dalam setiap pertandingan. eitsss, tunggu dulu, itu hanya terjadi di kurun waktu 2010an kebelakang, toh saat ini, klub MUnyuk sudah menjadi klub medioker di Premiere League. Tidak lebih baik dari kompetitor abadi Mereka yang berasal dari kota Pelabuhan, Liverpool. Kedua klub tersebut sekarang selalu bersaing di urutan ke-10. Klub Liverpool mungkin sedikit lebih baik karena kota tersebut tempat lahirnya sebuah Band keren, The Beatles.
Ah, tidak pernah ada kekecewaan untuk mencintai klub ini. salah satu kesyukuran dalam kehidupan ini adalah ditakdirkan menjadi fans klub yang keren ini. hal-hal yang Saya tuliskan diatas hanyalah sedikit dari alasan kenapa Saya menjadi fans sejati dari klub ini. Jika dituliskan lebih banyak lagi mengenai idealisme klub ini, mungkin akan semakin panjang dan menambah alasanku kenapa menjadi fans klub ini.
Banyak yang nyinyir, khususnya Para pendukung Timnas Italia karena klub keren ini sedikit sekali menggunakan jasa Pemain asli Italia namun Mereka lupa awal berdirinya klub ini yang menolak dominasi pemain dari Italia, Inggris dan Swiss. toh juga sudah relevan dengan nama klub ini, FC Internationale.
Klub ini juga mendukung gerakan adat di Mexico, Kelompok Zapatista. Ah, sudah ah. tidak akan ada endingnya membicarakan kekerenan klub ini.
Selamat ulang tahun klub keren. FC Internationale Milano, klub yang tersayang, La Beneamata.
09 Maret 2016
Tulisan ini sudah dalam bentuk draft 2 bulan lalu namun kemalasan yang tidak bisa kulawan sehingga baru selesai hari ini dan diposting setelah ulang tahun klub ini yang sudah berlalu 2 bulan lebih lamanya.

No comments:
Post a Comment