May 10, 2016

Panik

Saya selalu berpikir bahwa detik ataupun menit yang dilalui hanyalah sebuah ujian kesabaran. Saya pun percaya bahwa apa yang kita kehendaki akan tercapai meski pada inti persoalannya, bukan sampainya kita di tujuan namun bagaimana proses menuju tujuan yang lebih penting.

mudik kemarin seperti berlomba dengan kepanikan. bagaimana tidak, sejak berangkat ke bandara dari kantor sehabis Maghrib, Saya sudah was-was mengingat sepanjang tol, Damri yang Saya tumpangi terjebak dalam macet sedangkan pesawat 1,5 jam lagi take off.

Setiap berada dalam kepanikan saat memburu waktu, Saya punya kebiasaan untuk meredakan kepanikanku. Saya akan menyimpan Hp ke dalam saku dan tidak akan melihat jam kemudian berdoa dan berusaha nothing to loose jikalau memang hal paling buruk terjadi yaitu waktu tidak terkejar.

Saya baru berani melirik jam di HP ketika akan memasuki bandara. Saya menarik nafas panjang ketika jam baru menunjukkan pukul 20:14. ah satu kepanikan terlewati tanpa mengumpat keadaan.

oke kepanikan pertama bolehlah Saya anggap terlewati dengan sukses

Kepanikan kedua ketika hendak pulang. pesawat akan take off pukul 17:30. Saya berangkat dari kampung pukul 09:00. sejatinya perjalanan dari kampung memakan waktu sekitar 6 jam dan itu artinya Saya masih bisa memenangkan perlombaan dengan waktu namun berhubung hari tersebut adalah hari pasar di Kampung. Sang Sopir mewanti-wanti Saya ada kemungkinan berangkat sekitar pukul 11:00.

Kekhawatiran si Sopir tidak terbukti. Kami berangkat pukul 09:00 ke Makassar karena mobil tersebut sudah penuh penumpang berarti kekhawatiran pertama terlewati. benar saja, mobil yang Saya tumpangi tiba di Makassar pukul 15:00. Saya punya waktu 2 jam sebelum chek in.

Masalah lain muncul karena Saya masih harus menunggu saudaraku dari Jl. Pettarani. Ibu ada titipan untuknya.

Hujan mulai mengguyur daerah Bandara. Saudara Saya belum jua menampakkan batang hidungnya. Dia masih harus meliput di kantor DPRD. Saya sudah mulai panik karena hujan turun amat deras dan jarum jam menunjukkan pukul 16:10.

Hatiku mulai tidak tenang dan sedikit mengumpat. hujan tidak jua berhenti dan saudaraku ternyata terjebak macet di daerah Daya. Saya memakinya kenapa tidak dari tadi berangkat meski di satu sisi Dia sedari awal sudah memberitahuku bahwa Dia bakalan terlambat karena ada liputan.

Alhasil titipan dari Ibuku kutitip di pos Polisi dan Saya naik ojek masuk ke dalam bandara. 

Saya merasa gagal melewati kepanikan terakhir. Saya mendongkol dalam hati bahkan hampir mengutuk kondisi padahal Saya sudah berjanji untuk tidak pernah menyalahkan kondisi apatahlagi pada saa itu, Pesawat delay 30 menit, bertambah kacau lah moodku hari itu.

Rawamangun, 100516

No comments: