May 12, 2016

Mudik Terlalu Dini

Rabu 4 Mei 2016
18:30 WIB
Sepulang kerja kemudian bergegas ke terminal Rawamangun. Berangkat ke bandara via damri. menunggu sekitar 20 menit diatas Damri sebelum berangkat. melewati ruas jalan balai pustaka ke arah Rawasari masuk ke Tol. Terjebak macet di Tol sekitar sejam. Kendaraan memadati tol yang hendak keluar dari Jakarta untuk berlibur.

20:10 WIB
Akhirnya sampai di bandara setelah melewati perjalanan tol yang memacu jantung was-was ketinggalan Pesawat. Menyempatkan diri menunaikan 4 rakaat yang di qashar menjadi 2 rakaat di lantai atas. kemudian chek in dan ternyata penumpang pesawat tidak terlalu ramai yang antri chek.

Menuju ruang tunggu. Duduk termangu memperhatikan setiap wajah berseri mereka yang juga hendak pulang kampung. Meski demikian, pikiranku sudah terlempar jauh ke kampung halaman bercengkerama dengan handai tauladan.

21:30 WIB
Pengumuman boarding sudah bergegas. Kami, para penumpang mulai antri memasuki pesawat. Saya mendapat seat di 11B. Pesawat lepas landas dan suasana menjadi hening. Saya memilih untuk tidur memberi hak pada raga setelah seharian penat dengan segala aktivitas. Sebenarnya sih saya sudah menyiapkan buku sebagai teman dalam pesawat namun mengingat raga sudah tidak memungkinkan.

Kamis 5 Mei 2016
01:10 WITA
Pesawat landing di Bandara Hasanuddin. Saudaraku sudah menunggu di pintu keluar. Kami berboncengan ke kosnya di bilangan Jl. St Alauddin. Lumayan was-was juga melewati jalan protokol di Makassar karena berita tentang begal yang sudah menjamur di kota ini. Teringat 10 lalu ketika masih stay di Makassar, tidak ada rasa khawatir ketika keluar malam.

06:00 WITA
Saya baru bangun, menghirup udara Makassar. Ada aroma khas yang sudah lama tidak kurasakan. Makassar sudah menjadi kota kedua setelah kampungku sendiri.
 
Kota ini semakin menggeliat, pembangunan ada di setiap sudut kota bahkan banyak sekali gedung-gedung yang bermunculan. Saya hampir saja asing dengan kota ini. namun ada satu hal yang membuatku harus mengutuk kota ini, prilaku warganya dalam membuang sampah masih saja seperti dulu. Saya melihat sampah berserakan disepanjang lorong menuju kos Saudaraku.
Saya menghabiskan seharian di Makassar mengunjungi semua serpihan kenangan. Bertemu kawan kuliah di sebuah kedai di Mannuruki. Mengunjungi kawan yang sehari lagi menikah, kemudian menyambangi kawan yang di Jl. Sukaria 13.

Sehabis Ashar, saya bergerak menuju Masjid Al-Markaz. Banyak kenangan yang tercecer 10 tahun lalu di tempat ini. Saya memulai petualanganku di kota ini berawal dari Masjid Al-Markaz. Meski sedikit kecewa karena ternyata kelompok diskusi sore itu tidak dihelat. ada kegiatan di Malino.

Saya berbalik arah ke kos Saudaraku, mempersiapkan segalanya untuk mudik ke kampung. 

18:10 WITA
Saya dan Adikku bergerak ke terminal Daya. Kami mampir di sebuah warung "Sari Laut." di Jawa dikenal dengan warung pecel lele. Selesai menuntaskan hajat masalah perut, kami melanjutkan perjalanan dan mobil yang akan saya tumpangi ke kampung sudah menunggu.

21:00 WITA
Mobil Kijang LGX mulai meninggalkan terminal Daya. Saya duduk di jok paling belakang. Aroma mudik saat kuliah kembali menyeruak ke dalam pori-pori tubuhku merasakan bau mobil angkutan ke kampung yang khas.
Mobil mampir di toko roti di Maros. Saya membeli Jalangkote (di jawa Pastel) Rp. 30,000 @3,000 dan dan roti donat. toko itu sudah sejak lama menjadi langganan orang-orang di kampungku ketika pulang kampung.
Mobil melaju dengan tenang melewati jalanan yang dulu sangat kuakrabi. saya terlelap dalam buaian mimpi. Baru sadar ketika ada penumpang yang naik di daerah Sidrap. Saya sudah tidak bisa melanjutkan tidur karena kami berempat duduk di jok belakang. 
Sesampai di daerah Baba, Enrekang, ada pohon tumbang tepat di tengah jalan. Kami menunggu sekitar setengah jam baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Juma'at  6 Mei 2016
04:30 WITA
Saya tiba di rumah, turun dari mobil dan kembali menjemput kenangan di rumah. Selalu ada rasa tenang sesaat memasuki rumah. Semua beban pikiran seakan menguap begitu melihat pintu rumah apatahlagi ketika sudah memandang orang tua.
Sehari berada di Kampung. Saya hanya di rumah bermalas-masalan. Menikmati rumah yang sudah sejak lama kutinggalkan. Merantau memang seringkali menyelipkan rasa rindu yang tiada tara terhadap rumah masa kecil.


Sabtu, 7 Mei 2016
Hari kedua di Kampung, saya ikut mengantar salah seorang teman yang sedang melangsungkan pernikahannya. Kami ikut rombongan ke desa Gura. Lumayan menikmati alam yang masih asri. Pemandangan gunung yang mustahil Saya jumpai di Jakarta

Minggu, 8 Mei 2016
Saya ke kebun melewati lereng bukit. Kebun yang berada di lereng bukit Burontong adalah kehidupan masa kecilku bahkan masih jelas dalam ingatanku saat duduk di bangku kelas 2 SMA. Kami disuruh membuat puisi tentang alam dan akhirnya, gunung Burontong yang menjadi bahasan puisiku.
Saya menjolok buah kelapa dan meminumnya di kebun. ah, ada rasa nyaman yang kembali menyeruak ke dalam sanubari menikmati suasana seperti dulu

Senin, 9 Mei 2016
09:00 WITA
Saya harus kembali bersiap kembali ke ibu kota. Menumpang mobil travel yang berangkat dari pasar Baraka menuju Makassar. 

15:00 WITA
Tiba di Makassar dengan selamat. Saya memilih turun di depan Indomaret yang berada di samping jalan masuk ke Bandara.

16:30 WITA
Chek in kemudian bergegas ke ruang tunggu di gate 2. Pesawat masih sejam lagi berangkat. namun ternyata delay 30 menit.

18:02 WITA
Pesawat berangkat menuju bandara Soekarno Hatta. Saya duduk di seat 6B. Menikmati malam di atas udara melayang-layang dan menyandarkan nasib di ketinggian beribu kaki.

19:05 WIB
Tiba di bandara Soekarno Hatta Cengkareng dengan selamat. Saya memilih naik damri arah blok M dengan pertimbangan naik taxi mahalnya 2x lipat. Turun di Semanggi kemudian mesan transportasi online ke Mampang Prapatan 13.

21:90 WIB
kembali ke Ibu kota.

Perjalanan panjang mudik yang terlalu dini namun setidaknya sedikit menyirami raga yang haus akan nostalgia masa kecil.

Rawamangun, 12 05 16

No comments: