April 18, 2014

CERITA DALAM JALANAN #1


Sudah beberapa hari ini aku tidak meluangkan waktu untuk menulis sesuatu padahal aku sudah berjanji untuk menulis semua hal tentang apa yang kutemui di kota ini. Entah karena selera menulisku menulis drastis ataupun karena kemalasanku maupun karena sering jalan dengan teman-teman. Entah berapa banyak momen yang sudah kulewatkan untuk kutulis namun tak apalah, di kesempatan ini aku mencoba mengingat beberapa momen yang akan kutulis. Ada dua momen yang ingin kutulis dengan berbagai hikmah yang dibawanya.

Minggu lalu, saat menemani Antonius ke ancol liburan, kebetulan dia mendapat tiket gratis, kami menyusuri jalan sepanjang cilandak kearah kuningan dan menuju ancol, di sekitaran rasuda said, lalu lintas sangat macet, hal yang sangat lumrah di kota ini. Saat beberapa motor terlihat ingin salip menyalip, seorang pengendara motor di depan tiba-tiba ngerem mendadak alhasil seorang pengendara dari belakang menyerempet motornya namun hanya kena sedikit dan kelihatannya motornya tidak lecet. Pengendara yang menyerempet adalah seorang pemuda sudah meminta maaf dengan wajah yang memelas namun motor yang diserempet begitu marah bahkan mengomel dan meminta pemuda tersebut untuk berhenti dan menyelesaikan persoalan tersebut meski aku sendiri merasa bahwa motornya tidak apa-apa. Begitu tidak sabarnya bapak yang diserempet dan begitu tulusnya si pemuda itu meminta maaf.

Momen kedua ketika menjenguk windi yang sedang sakit. Pagi-pagi aku sudah berangkat dari kosku karena menghindari kemacetan. Di bawah Gor Sumantri menuju genteng ijo, lalu lintas terlihat begitu lancar, namun tiba-tiba saja taxi express warna putih di depanku berhenti mendadak karena ada penumpang yang tiba-tiba menyetop. Aku yang kaget juga berhenti mendadak begitupun juga seorang pengendara motor yang persis di belakangku, saking kagetnya dia memukul bagian belakang taxi sambil terus melaju. Sopir taxi yang merasa ada yang memukul mobilnya tiba-tiba melongok dan kelihatnya kesal denganku dan omelan yang sangat jelas kudengar dari mulutnya “setan loe.” Si sopir taxi ternyata menduga aku yang memukul mobilnya. Aku hanya mengusap dada. Ada perasaan ingin membela diri dan mengatakan kepada si sopir bahwa aku bukan yang memukul mobilnya, namun aku memilih untuk bersabar karena aku sudah menyadari bahwa butuh kesabaran yang berlipat di kota ini.

Hikmah dari dua momen yang kualami benar-benar mengajarkan untuk lebih banyak bersabar dan berdamai dengan kehidupan di kota ini.








Cilandak, 18’4’14

No comments: