Sudah
beberapa hari ini aku tidak meluangkan waktu untuk menulis sesuatu padahal aku
sudah berjanji untuk menulis semua hal tentang apa yang kutemui di kota ini. Entah
karena selera menulisku menulis drastis ataupun karena kemalasanku maupun
karena sering jalan dengan teman-teman. Entah berapa banyak momen yang sudah
kulewatkan untuk kutulis namun tak apalah, di kesempatan ini aku mencoba
mengingat beberapa momen yang akan kutulis. Ada dua momen yang ingin kutulis
dengan berbagai hikmah yang dibawanya.
Minggu
lalu, saat menemani Antonius ke ancol liburan, kebetulan dia mendapat tiket
gratis, kami menyusuri jalan sepanjang cilandak kearah kuningan dan menuju
ancol, di sekitaran rasuda said, lalu lintas sangat macet, hal yang sangat
lumrah di kota ini. Saat beberapa motor terlihat ingin salip menyalip, seorang
pengendara motor di depan tiba-tiba ngerem mendadak alhasil seorang pengendara dari
belakang menyerempet motornya namun hanya kena sedikit dan kelihatannya
motornya tidak lecet. Pengendara yang menyerempet adalah seorang pemuda sudah
meminta maaf dengan wajah yang memelas namun motor yang diserempet begitu marah
bahkan mengomel dan meminta pemuda tersebut untuk berhenti dan menyelesaikan
persoalan tersebut meski aku sendiri merasa bahwa motornya tidak apa-apa. Begitu
tidak sabarnya bapak yang diserempet dan begitu tulusnya si pemuda itu meminta
maaf.
Momen
kedua ketika menjenguk windi yang sedang sakit. Pagi-pagi aku sudah berangkat
dari kosku karena menghindari kemacetan. Di bawah Gor Sumantri menuju genteng
ijo, lalu lintas terlihat begitu lancar, namun tiba-tiba saja taxi express
warna putih di depanku berhenti mendadak karena ada penumpang yang tiba-tiba
menyetop. Aku yang kaget juga berhenti mendadak begitupun juga seorang
pengendara motor yang persis di belakangku, saking kagetnya dia memukul bagian
belakang taxi sambil terus melaju. Sopir taxi yang merasa ada yang memukul
mobilnya tiba-tiba melongok dan kelihatnya kesal denganku dan omelan yang sangat
jelas kudengar dari mulutnya “setan loe.” Si sopir taxi ternyata menduga aku
yang memukul mobilnya. Aku hanya mengusap dada. Ada perasaan ingin membela diri
dan mengatakan kepada si sopir bahwa aku bukan yang memukul mobilnya, namun aku
memilih untuk bersabar karena aku sudah menyadari bahwa butuh kesabaran yang
berlipat di kota ini.
Hikmah
dari dua momen yang kualami benar-benar mengajarkan untuk lebih banyak bersabar
dan berdamai dengan kehidupan di kota ini.
Cilandak,
18’4’14

No comments:
Post a Comment