September 14, 2013

Ibadah, Rezeki, dan Tuhan

Dua hari ini, pikiranku picik. Banyak yang mengusik ketenangan pikiranku mulai dari cita-cita yang belum tercapai sampai hampir menyalahkan apa yang terjadi.

Hingga tadi malam, secara kebetulan atau mungkin saja cara Tuhan menasehatiku. Saat pulang dari rumah kepala sekolah MTsN Ngrambe yang terletak di sekitar pasar kedunggalar, aku mampir di kediaman kang Huda.

Sebelumnya aku ingin menceritakan sedikit tentang Kang Huda, beliau berperawakan agak kurus dan rambut gondrong sampai di bokongnya, usianya 35th. Beliau mempunyai seorang anak yang kira-kira berumur tiga tahun. Beliau adalah salah satu aktivits LSM Ngawi yang lumayan mumpuni karena dikenal di jajaran elit Ngawi, dia pun telah mendirikan beberapa sekolah TK yang digratiskan yang benar-benar gratis dan tidak seperti sekolah gratis yang digaungkan pemerintah yang ternyata hanyalah kamuflase. pertama kali saya kenal beliau ketika awal-awal di Ngawi, kawan saya munir mengajak saya ke rumahnya silaturrahim. Sejak pertama kali berkenalan dengannya, saya langsung terkesan dengan pembawaannya yang sangat sederhana apalagi beliau ternyata juga sangat suka menulis bahkan di beberapa episode pertemuan berikutnya, beliau menghadiakan buku sastra yang di karang sendiri buatku.

Kembali ke pertemuan semalam. setelah hampir menunggu sejam dia keluar dari kamarnya, kami bercerita panjang lebar tentang segala sesuatunya dan mungkin apa yang disampaikan olehnya tadi malam adalah teguran buatku yang beberapa hari ini mempertanyakan apa yang telah terjadi pada diriku. Hal yang diceritakan pun sebenarnya telah aku dapatkan dari Kak Hamzah namun karena sibuknya diriku dengan duniawiku dan terlalu banyak melihat kemewahan duniawi makanya hampir saja aku melupakan pelajaran-pelajaran penting yang pernah aku dapatkan dari kak hamzah. Pelajaran yang tidak pernah bisa kudaptkan ketika membaca buku.

Kang Huda memaparkan tentang Ibadah terutama salat dan hubungannya dengan rejeki. pada intinya, beliau mengatakan bahwa inti dari ibadah itu adalah medekatkan diri pada Tuhan serta mencari keridhaanNYA bukan malah ibadah ditujukan sebagai jalan supaya rejeki kita lancar. Ketika Ibadah dimaksudkan sebagai sarana agar rejeki kita dilancarkan oleh Allah maka besar kemungkinan kita akan terjatuh dalam keputus asaan, atau bahkan menggugat Tuhan saat rejeki kita mandek. Ibadah yang kita lakukan harusnya terpisah dari rejeki yang didapatkan meskipun mungkin saja banyak ahli ibadah yang rejekinya juga lancar. masalah inilah yang menderaku beberapa hari terakhir namun kemudian diingatkan oleh Allah tadi malam melalui diskusi singkat dengan beliau.

Selalu saja aku kehabisan kata-kata ketika berniat menulis sesuatu tentang hubungan dengan Tuhan. Banyak yang tersimpan dalam kepalaku yang tidak bisa kungkapkan dengan kata-kata. Aku bahkan sama sekali tidak mampu menjabarkan tentang apa yang aku pahami tentang hubungan-hubungan ini. Aku hanya menulis sekenaku meski kutahu banyak yang terdistorsi tentang apa yang aku paparkan melalui tulisanku

Semoga saja aku tidak beribadah karena ingin rejeki banyak, semoga saja aku tidak beribadah karena ingin dipuja, semoga saja aku tidak beribadah karena ingin syurga dan semoga saja aku beribadah karena Tuhan lah yang menggerakkanku untuk beribadah kepadaNYA.

No comments: