Salah satu pengalaman yang sulit aku lupakan di pulau ini adalah kehidupan jalanan terutama di bis. Selalu saja menghadirkan berbagai sensasi setiap kali aku nge bis. dua hari kemarin, aku sudah 4 kali PP madiun-ngawi yang menyisakan pemandangan yang amat menarik di atas bis. Hari sabtu siang, sesaat setelah lepas kerja, aku berangkat ke madiun dengan menumpang bis sugeng rahayu. Kupandangi semua wajah-wajah di bis. Tempatku yang pas berada di lorng bis sambil berdiri karena tidak kebagian kursi membuatku leluasa memandangi satu persatu penumpang bis, wajah-wajah lelah, ada yang bercengkerama dengan keluarga, ada yang pulas dibuai mimpi dengan keringat yang bercucuran karena bis penuh sesak, ada yang asyik baca koran, yang lain sibuk memainkan HP bahkan ada orang tua sepuh yang harus berdiri di lorong bis karena tak ada satupun dari mereka yang dengan ikhlas menawarkan tempat duduk, namun pemandangan seperti itu sudah lumrah kujumpai. bis sugeng rahayu yang biasanya ngebut kali ini berjalan begitu amat pelan.
Aroma di atas bis mungkin salah satu yang membuatku sangat merindukan kehidupan diatas bis. Aku selalu saja berhasrat ketika berada di kerumunan orang dan memandangi wajah mereka hanya untuk melihat guratan wajah yang beraneka macam.
Setelah pulang dari madiun, aku menumpang bis MIRA. Kali ini pemandangan yang aku temukan adalah kernetnya sama sekali tidak sehati dengan sopir. sang sopir sepanjang jalan mengomel sambil batuk-batuk. Kupandangi dalam-dalam wajah sang kernet yang diam terpaku setiap kali sang sopir mengomel. Saat kutemukan guratan wajahnya yang mulai dimakan usia, aku merasa iba terhadapnya, dia harus berdiri di sisi kiri bis mulai dari surabaya-jogjakarta sambil mengawasi kendaraan yang akan menyalip dari kiri. Mungkin saja dia punya anak isteri yang sedang menunggunya di rumah saat ia harus bekerja sebagai kernet.
Keesokan harinya, aku berangkat ke madiun lagi. Saat berangkat ke sana, tidak ada pengalaman yang terlalu menyenangkan bagiku namun saat pulang ke ngawi, aku mendapatkan pengalaman yang lain lagi, bis MIRA yang aku tumpangi mengalami kerusakan di terminal maospati, sesaat setelah 30 menit lamanya, para penumpang tidak tahu kenapa bis berhenti begitu lama kemudian salah satu dari penumpang laki-laki yang mungkin umurnya sudah 50an berdiri sambil teriak-teriak kenapa bis berhenti begitu lama, dia mengomel ke sopir dan kondekturnya. sang sopir menjelaskan bahwa AC mobil rusak dan sedang diperbaiki, si bapak tak menerima alasan tersebut dan terus saja memaki sang sopir dan kondektur hingga akhirnya dia turun dari bis. saat turun dari bis, dia masih masih saja mengomel ke kondektur bis dan saat sang kondektur menjelaskan, si bapak malah menutup mulut sang kondektur dengan gaya seperti mau memukul namun hal itu terjadi. aku hanya menyaksikan kejadian tersebut. si bapak akhirnya pindah ke bis sumber kencono dan kami penumpang yang lain dipindahkan ke bis MIRA yang sedang melintas.
Pengalaman di atas bis selalu saja menyisakan kenangan yang selalu aku rindukan. melihat wajah-wajah manusia.
No comments:
Post a Comment