Dua minggu lalu ketika saya dan dua kawan sedang diskusi terkait konten youtube yang akan kami tayangkan, ada hal yang membuat saya sedikit agak kaget dalam proses diskusi yang berlangsung. Kekagetan tersebut lebih pada sebuah ketidaksepahaman pandangan yang mendasar, bukan hanya tentang hal-hal metodologis.
Jadi begini, saat itu kami diskusi terkait proyeksi kebijakan luar negeri Indonesia yang dikaitkan dengan polarisasi kekuatan global antara AS dan Tiongkok. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa satu dekade terakhir, Tiongkok bertransformasi menjadi salah satu kekuatan global yang berani menggoyang hegemoni AS.
Saat diskusi berlangsung, salah seorang kawan menyatakan pendapatnya bahwa sikap Indonesia ke depan akan lebih cenderung tergantung kepada Tiongkok dengan berbagai landasan berpikir dan alasan yang dia berikan. Saya mengamini pandangannya dan tidak ada persoalan dengan apa yang dia maksud dalam hal ini kemungkinan Indonesia condong ke Tiongkok.
Tibalah saatnya giliran saya mengajukan argumen. Saya berpendapat bahwa Indonesia akan mengambil sikap lain yaitu berusaha untuk tidak tergantung kepada salah satu dari dua kekuatan global. Saya yakin bahwa Indonesia sudah punya pondasi yang kuat untuk tidak terlalu bergantung kepada negara lain.
Yang saya maksudkan tidak tergantung bukan tidak menerima utang atau bukan tidak melakukan kerja sama tetapi yang saya maksud tidak tergantung adalah tidak mengikuti kepentingan kekuatan global.
Saya kaget dari respon kawan saya bahwa dia mengatakan saya terlalu naif dan normatif. Dia memaksa saya untuk memilih apakah Indonesia akan tergantung kepada AS atau Tiongkok. Perdebatan panjang terjadi dan saya tetap berpendirian bahwa pilihannya bukan dua saja tetapi Indonesia bisa memilih pilihan lain.
Setelah itu, dia tetap ngotot dan memandang saya terlalu normatif dalam menjawab pertanyaan. Pada akhirnya saya berpikir bahwa tidak ada gunanya melanjutkan diskusi yang dibatasi dalam konteks pilihan. Saya akhirnya diam dan tidak terlalu semangat melanjutkan diskusi.
Entah kenapa, saya selalu tidak sepakat dengan orang yang melihat dunia sosial sebagai pilihan hitam putih, padahal manusia punya banyak instrumen untuk menentukan pilihannya atau bahkan membuat pilihan sendiri.
Hal yang sama terjadi pada pemilu periode sebelumnya. Orang yang bersusaha netral dianggap normatif dan selalu dipaksa untuk memilih salah satu pilihan.
Aneh dan menjemukan. Lebih baik tinggalkan jika ada diskusi seperti itu.
#6 2023