March 31, 2023

Ramadan (9)

Saya menyadari bahwa ada hal yang masih harus saya perbaiki dalam diri saya yaitu bagaimana menenangkan diri dalam setiap kondisi. Sesuatu hal yang alami jika saat tampil, seseorang pasti mengalami perasaan was-was namun tidak seharusnya perasaan itu membuat gentar apalagi profesi yang memang menuntut untuk tampil di depan orang.

Hari ini ada workshop di kampus dan rencana awalnya, saya yang menjadi moderator, namun kemudian diubah akhirnya saya tidak menjadi moderator. 

Bukan persoalan jadi atau tidaknya namun bagaimana saya harus mengupgrade diri untuk setiap hal yang pastinya akan saya lalui ke depannya. 

#31 2023

March 30, 2023

Ramadan (8)

Saya punya begitu banyak potongan ide di kepala namun tidak mampu saya eksekusi dengan baik karena gagal dalam merencanakan prioritas termasuk gagal dalam konsistensi pelaksanaannya. Kegagalan demi kegagalan yang saya ciptakan sendiri kadangkala membuat saya muak terhadap diri yang tidak mampu sedikit lebih keras untuk meningkatkan kualitas diri.

Sikap menunda merupakan kebiasaan yang belum bisa saya hilangkan sama sekali apalagi dengan distraksi yang terlalu kuat dari sebuah benda yang disebut hp.

Sebagian tugas saya menjadi terbengkalai karena ketidakmampuan untuk menerapkan manajemen waktu. Saya baru menyadari saat sudah mendekati deadline sehingga membuat kelabakan akhirnya tidak berjalan sebagaimana adanya.

Hari ini sudah delapan ramadan dan beberapa target sebelumnya belum ada yang tercapai. Saya khawatir sampai akhir ramadan nantinya, target hanya menjadi secuil angan yang tetap menggantung di depan dahi dan menunggu  untuk dieksekusi.

#30 2023

March 29, 2023

Ramadan (7)

Entah berapa kali saya ditanya tentang keputusan saya pindah dari perusahaan dan beralih profesi menjadi bagian dari kampus. Pertanyaan yang benar-benar menjemukan dan hampir mendekati pola pertanyaan seperti pernikahan, punya anak dan pertanyaan lain yang membuat seseorang tidak nyaman.

Saya sadar kenapa setiap orang yang baru kenal saya di kampus ini selalu menanyakan seperti itu. Apalagi kalau bukan pertimbangan gaji. Mereka sadar bahwa gaji pegawai kampus jauh sangat rendah dibandingkan karyawan swasta apalagi yang bekerja di Jakarta. Saya pun sadar itu sebelum memutuskan untuk pindah dan saya berani mengambil risiko dengan beberapa pertimbangan yang lebih filosofis.

Jika hidup hanya untuk mengejar gaji bulanan maka tentu saya masih bekerja di perusahaan sebelumnya dan jika itu terjadi, maka saya masih tetap dalam kondisi serba tidak pasti dan bertarung dengan pertanyaan-pertanyaan dari dalam diri. 

Pertanyaan apa itu?

Tentang hal-hal ideal yang selalu saya pupuk dan selalu saya hidupkan dalam diri saya supaya minimal dalam menjalani hidup, saya tidak jatuh dalam pilihan terpaksa namun saya sedikit masih bisa mengontrol hidup saya.

Setelah ini bagaimana?

Tentu saya juga tidak tahu namun saya menyimpan keyakinan kuat dalam hati terdalam bahwa Semesta akan memberikan yang terbaik pada waktunya.

#29 2023

March 28, 2023

Ramadan (6)

Terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan kita ikut arus dalam sebuah lingkaran yang tidak mendukung sesuatu yang diperjuangkan merupakan salah satu hal yang cukup berat apalagi kondisi yang tidak bisa dihindari.

Fokus saya ingin merekonstruksi semua perjalanan hidup saya yang tidak baik namun tetap saja ada kondisi yang membuat saya merasa harus menahan diri untuk itu. Misalnya tentang bagaimana untuk tidak menjadi diri yang ikut dalam sesuatu yang membuat orang lain tidak nyaman.

Ada banyak hal yang ingin saya perbaiki seperti menghabiskan waktu sia-sia, perbuatan gibah, dan tindakan lain yang seharusnya tidak saya lakukan lagi dengan umur yang sudah setua ini, termasuk bagaimana manajemen waktu yang harus lebih baik lagi tanpa menghamburkan waktu begitu saja.

Hidup tentang bagaimana menentukan pilihan dan konsisten menjalani pilihan yang diambil. Hidup bukan untuk mengikuti apa pandangan orang lain karena kita akan hidup terus menerus dalam kepalsuan yang membuat kita teralienasi dari hidup kita sendiri.

#28 2023

March 27, 2023

Ramadan (5)

Hari pertama kembali ke Bandung di bulan ramadan. Tentu dengan berbagai perasaan yang campur aduk ketika harus menjalankan puasa jauh dari keluarga. Saya sudah terlalu lama tidak merasakan nuansa yang sama seperti ini, puasa di kos dan harus mikir sahur makan apa. Terakhir mungkin sekitar 8 tahun yang lalu.

Kesulitan lain karena letak kos saya berada di dalam kompleks perumahan yang jauh dari warung makanan, apalagi akses masuk ke kos ditutup portal mulai jam dua belas malam sampai jam lima subuh, artinya jika saya mau keluar menggunakan motor, maka harus membangunkan satpam yang sedang jaga.

Alhasil, seringkali saya hanya memberi dua potong roti untuk sahur sekadar mengganjal perut di siang hari. 

Kenyataan ini terkadang membuat saya berpikir kembali tentang keputusan yang saya ambil. Entah ini ujian atau langkah yang saya yang saya tempuh namun saya tidak punya pilihan lain kecuali terus bergerak maju untuk memahami makna dibalik fase hidup yang sedang saya alami.

Ramadan selalu menyisakan kenangan yang seringkali membuat suasana sendu.

#27 2023

March 26, 2023

Ramadan (4)

Saya meyakini bahwa setiap fase kehidupan yang dijalani pasti ada hikmahnya. Tidak ada kejadian yang sia-sia ketika kita mampu memahami tarikan-tarikan kejadian yang dihubungkan secara personal dengan diri masing-masing.

Hidup adalah tentang bagaimana terus berproses dalam hal pengenalan diri. 

#26 2023

March 25, 2023

Ramadan (3)

Biasa di hari sabtu, kami keluar meskipun hanya sekadar belanja di dekat rumah, namun sabtu ini berbeda karena dalam nuansa ramadan sehingga kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tidak ada rencana untuk keluar apalagi saya sedang ada diskusi dengan teman-teman sampai sore.

#25 2023

March 24, 2023

Ramadan (2)

Di hari kedua ramadan, saya masih libur sehingga punya banyak waktu luang di rumah. Namun hari ini saya dan beberapa teman melaksanakan webinar tentang energi terbarukan. Isu yang tidak terlalu familiar bagi saya karena dari dulu, jarang sekali mengkaji tentang energi terbarukan. Namun sudah menjadi kesepakatan bersama di kelompok kami untuk mengangkat isu ini sehingga kami harus komitmen dengan kesepakatan.

Kami mengundang tiga narasumber yang cukup kompeten di bidangnya masing-masing. Akademisi diwakili oleh salah seorang dosen saya, kemudian ada pihak dari ESDM dan wakil bupati di salah satu kabupaten NTT.

Webinar berjalan lancar dengan peserta yang mencapai 40 orang. Tentunya bukan sebuah kerja yang buruk karena webinar ini terkesan dipersiapkan dengan mendadak maka ketika ada partisipan dengan jumlah 40an maka sudah bisa dikategorikan  bahwa acara ini sukses.

Tidak banyak yang bisa saya tangkap dari diskusi ini karena penjelasan dari narasumber yang jauh dari jangkauan saya. Bukan karena tidak mudah dipahami namun lebih karena memang saya tidak terlalu tahu banyak tentang isu terbarukan.

Mulai dari konsepnya, implementasinya dan seluruh aspek yang ada di dalam diskursus energi terbarukan. Namun demikian, penting untuk diketahui mengenai isu ini karena akan menjadi sebuah isu yang populer di masa mendatang dengan concernnya berbagai pihak terhadap keamanan lingkungan yang semakin memprihatinkan.

#24 2023

March 23, 2023

Ramadan (1)

Tidak banyak yang saya kerjakan di hari pertama ramadan selain menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Bahkan kami tidak keluar dari rumah dari pagi sampai sore. Di sore menjelang buka, kami baru keluar membeli takjil untuk buka. Itupun tidak jauh dari rumah dan hanya beberapa aneka gorengan dan kolak.

Saya punya banyak waktu luang di ramadan kali ini dan seharusnya bisa saya manfaatkan untuk banyak hal termasuk menyicil bacaan dan menambah produktivitas menulis. Jika ditunda maka semua hanya menjadi angan sampai akhirnya ramadan akan berakhir.

Mumpung ramadan baru hari pertama dan saya seharusnya mampu menyusun rencana sebulan ke depan termasuk target apa yang harus saya selesaikan demi peningkatan kualitas diri. Tulisan saya masih banyak yang dalam bentuk draft dan buku-buku masih banyak yang baru saya baca di pengantar. Ini harus menjadi pelecut untuk lebih giat lagi dan menolak godaan media sosial.

#23 2023

Menjelang Ramadan (22)

Besok sudah mulai puasa ramadan artinya nanti malam sudah harus salat tarawih. Hari ini tidak terlalu banyak hal yang bisa saya kerjakan selain menyicil tugas yang belum kelar. Sebelumnya saya mengantar istri karena ada tugas kantor yang seharusnya hari ini libur nasional.

Saya menghabiskan waktu di depan laptop sampai sore hari. Kemudian menjemput kembali istri yang jadwalnya selesai habis maghrib. Saya sudah berangkat sebelum maghrib dan salat di perjalanan. sekitar jam setengah tujuh, istri saya keluar dari ruangan.

Malam ini malam pertama ramadan dan kami rencana tarawih di masjid yang akan kami jumpai di perjalanan. Ternyata tidak ada masjid yang kami singgahi sehingga tetap melaju sampai di masjid dekat rumah. Melihat kondisi jamaah yang membludak, kami memutuskan untuk mencari masjid lain.

Kami menuju masjid yang baru selesai direnovasi di belakang ragunan. Jamaah juga membludak namun masih ada ruang yang bisa kami tempati. Pemandangan seperti ini memang seringkali dijumpai di awal-awal ramadan. Semua masjid dipenuhi oleh jamaah yang ingin melaksanakan salat tarawih namun biasanya hanya bertahan sekitar tiga hari atau paling lama seminggu kemudian masjid kembali normal.

Kami ketinggalan salat isya sehingga harus salat isya sendiri sebelum melaksanakan salat tarawih secara berjamaah.

#22 2023

March 21, 2023

Forum Ilmiah (21)

Hari ini cukup melelahkan baik fisik maupun pikiran. Semalam saya tiba di rumah sekitar jam 12 malam kemudian baru bisa memejamkan mata sekitar jam setengah 2. Saya bangun agak pagi dan mengantar istri ke kantornya. Setelah itu, saya ke kampus mengikuti sebuah diskusi terbuka yang saya ketahui informasinya dari grup wa.

Niat awal saya benar-benar ingin mencari pengetahuan namun setiba di lokasi, saya menyadari bahwa para tokoh yang hadir sebagai narasumber mayoritas dari partai politik yang sama dan sekarang sedang berkuasa. Pikiran buruk saya muncul bahwa forum ini tidak lebih dari langkah awal partai politik mendulang elektabilitas.

Di awal pembukaan diskusi, sekjen salah satu partai yang juga narasumber, memberikan disclaimer bahwa forum ini bukan politik praktis tetapi forum ilmiah. Nah pada posisi ini, saya sudah mulai tidak sependapat karena menurut saya, jika memang ini diarahkan sebagai forum ilmiah, seharusnya ada dari pihak oposisi yang hadir sehingga kita yakin bahwa memang forum tersebut bebas dari kepentingan politik praktis.

Tibalah saatnya sesi tanya jawab. Saya bertanya tentang apa yang saya pikirkan bahwa seandainya ada dari pihak oposisi, mungkin saya percaya bahwa ini forum ilmiah.

Setelah itu, diskusi berlangsung sangat normatif dan tidak terlalu menggairahkan. Pertanyaan saya tidak direspon dengan baik, hanya seperti jawaban yang tidak diarahkan untuk memantik diskusi yang lebih panjang lagi.

#21 2023

March 20, 2023

Pendidik (20)

Semenjak saya memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, begitu banyak hal yang harus saya dekonstruksi di dalam diri saya termasuk bagaimana menjadi pendidik yang ideal. Dalam hal ini bahwa menjadi pendidik tidak sekadar menyampaikan apa yang tertulis di dalam buku namun jauh dari itu, mendidik harus dimulai dari diri sendiri.

"Alkisah, seorang ibu membawa anaknya ke Mahatma Gandhi untuk menasehati anaknya agar tidak makan garam. Setelah berada di depannya, Gandhi mengatakan bahwa saya tidak bisa mengajari anakmu saat ini namun cobalah untuk datang dua minggu lagi. Selama dua minggu berlalu, si ibu tadi kembali ke Gandhi. Setelah itu, Gandhi hanya meminta anak itu untuk berhenti makan garam dan ternyata anak tersebut langsung menurut anjuran Gandhi.

Setelah itu, si ibu menanyakan keheranannya kepada Gandhi kenapa dua minggu lalu tidak bisa menasehati anaknya saat ini bisa menasehati dan langsung diikuti. Gandhi mengatakan bahwa dua minggu lalu, dia masih makan garam maka tidak mungkin dia menyuruh si anak berhenti makan garam sementara dia sendiri masih makan garam. Selang dua minggu itulah, digunakan oleh Gandhi untuk berhenti makan garam sehingga ketika menganjurkan si anak untuk tidak makan garam, si anak bisa menuruti nasehatnya."

Kisah tersebut di atas memberikan saya gambaran bahwa menjadi seorang pendidik yang merupakan figur panutan dari para anak didik, harus memulai untuk mendidik diri sendiri.

#20 2023

March 19, 2023

Handphone (19)

Saya ingin sekali mengurangi kebiasaan saya menghabiskan waktu memegang HP. Saya ingin sekali menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku dan menulis serta mengembangkan soft skill lainnya yang mendukung perkembangan diri saya.

Tujuan utamanya agar hidup saya tidak sia-sia hanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan mungkin merugikan diri sendiri. HP menjadi barang kecil yang sudah bertahun-tahun terlalu banyak mengambil dan merampas waktu yang saya miliki atau mungkin bukan merampas namun karena saya dengan tidak kuasa merelakan waktu untuk hanya sekadar melihat benda itu.

Sebelum mudik kali ini, saya sudah menyusun beberapa rencana yang produktif saat di kampung termasuk membawa buku untuk saya selesaikan namun kembali lagi HP yang kemudian memanjakan nafsu saya. Waktu di kampung seharusnya saya manfaatkan dengan berbagai hal produktif misalnya silaturahim tetapi hasilnya tidak ada.

Kebiasaan memegang HP menjadi kendala tersendiri bagi saya dalam mencapai berbagai impian yang selama ini saya inginkan. Di dalam HP itu, terdapat berbagai aplikasi yang meracuni diri dan manipulatif termasuk media sosial, game, dan berbagai aplikasi lain yang melenakan.

Ingin rasanya tahun ini saya menghempaskan HP di tempat tersembunyi dan menstimulasi dopamine saya melalui membaca dan menulis.

Semoga semesta membantu saya mengembalikan gairah saya untuk membaca dan menulis.

#19 2023