Di siang hari ketika saya dan beberapa teman sedang santai di ruangan, salah seorang teman dosen tiba-tiba gusar saat mendapat pesan wa dari salah seorang mahasiswanya di kampus lain. rekan saya itu memang seorang dosen yang sudah sejak 2004 mengajar di berbagai kampus dan sudah kenyang menikmati pengalaman beriteraksi dengan para mahasiswa.
Namun siang itu menjadi salah satu siang terberatnya sebagai seorang dosen. Bagaimana tidak, pesan wa yang diterimanya dari salah seorang mahasiswanya menunjukkan bahwa memang adab lebih penting dari ilmu.
Isi chatnya kurang lebih seperti ini "maaf, mau nanya, apakah anda dosen mata kuliah dengan kode hkw?
Iya saya, memangnya kenapa, hehe? rekan dosen tadi membalas dengan sedikit bergurau untuk mengetahui respon di mahasiswa.
"Oh iya mau memastikan saja karena mau buat grup kelas" jawab si mahasiswa secara singkat.
Saat rekan dosen menunjukkan isi chat di mahasiswa, ada berbagai perasaan yang berkecamuk di kepala saya. Ada rasa marah, kesal bahkan sampai pada perasaan kasihan mengetahui adab generasi sekarang yang tidak mampu membedakan bagaimana bertutur secara baik dengan orang lain apalagi dengan seorang dosen.
Pada akhirnya, rekan dosen tadi mengirimi wa ke kaprodi dengan pilihan, si mahasiswa itu yang tidak ikut kelasnya atau dia yang tidak akan mengajar di kelas itu.
Sekian menit kemudian, saat sudah mulai menguasai diri karena terbawa emosi atas chat wa yang diterima oleh rekan dosen tadi, saya mengingat salah satu wawancara pak Fahrudin Faiz, salah seorang dosen filsafat di UIN Yogyakarta. Beliau menceritakan bahwa pernah mendapat pesan yang hampir sama dengan pesan wa yang diterima oleh rekan dosen saya. Pak Faiz tidak lantas emosi namun beliau merefleksikan kondisi generasi sekarang yang memang pada dasarnya sudah jauh dari interaksi fisik sehingga pola komunikasi yang digunakan dengan mengambil contoh di media sosial termasuk di game.
Saya kembali sadar bahwa saya bukan pak Faiz yang memiliki sikap sabar yang mumpuni untuk menghadapi fenomena seperti mahasiswa yang sudah tidak memperhatikan adab dalam berkomunikasi dengan dosennya.
Mungkin ketika mendapat pesan yang senada dengan rekan dosen saya, pilihan yang sama akan saya tempuh sebagaimana dengan yang diputuskan oleh rekan dosen saya di atas.
"Mahasiswa itu yang tidak boleh ikut kelas saya atau saya yang tidak akan mengajar di kelasnya."
#17 2023
No comments:
Post a Comment