Sejatinya, cerita di tulisan ini ingin kutuntaskan kemarin tetapi keterbatasan wadah membuatku harus menunda sampai hari ini. Cerita tentang perjalanan kemarin di Surabaya bersama w dan tentang pergelaran sebuah acara tv yang menyambangi kota Surabaya malam minggu kemarin.
Sebuah acara yang joget-joget sampai mendem dengan durasi 4 jam kemudian penonton bayarannya tertawa terbahak-bahak ketika artis di acara tersebut melawak meski amat sangat garing, dan pergelaran mereka di Ssurabaya benar-benar di luar dugaanku.
Sesaat setelah melewati waktu maghrib di kisaran delta plaza. Aku bersama w memutuskan untuk balik ke kos karena maghrib telah berlalu dan aku selalu saja tidak suka mengajaknya keluar saat maghrib sudah menghilang ditelan malam namun kali ini beda, saat motor kami keluar dari parkiran, aku iseng menanyakan ayo menonton yks yang kebetulan main di Surabaya dan sontak saja w antusias maka jadilah aku mengajaknya ke lapangan kodam.
Niatanku hanya satu bahwa ingin memperlihatkan kepadanya realitas sesungguhnya yang sering ditampilkan oleh TV bahwa tampilan di TV-TV itu sejatinya palsu dan begitu tersiksanya orang-orang yang berusaha mengikuti mode di tv.
Setelah mengitari jalan Surabaya yang padat merayap, sampailah kami di dekat lapangan kodam dan seperti dugaanku sebelumnya, kendaraan begitu padat merayap dan sesekali harus kuputar mencari jalan masuk ke kawasan lapangan dan akhirnya menyerah juga dan memarkir motor agak jauh dari lapangan dan memutuskan berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan kami ke kawasan lapangan, fenomena yang menarik selalu kami jumpai dan sesekali kukatakan kepadanya bahwa inilah realitas sesungguhnya yang diperlihatkan oleh tv bahwa semua orang terhipnotis dan ingin melihat artis idola mereka sambil berjoget meskipun menyiksa anak-anak mereka yang dibawa serta.
Aku katakan pada w bahwa mungkin saja niat para orang tua yang membawa anaknya ke tempat ini adalah untuk memberikan hiburan dan menyenangkan hati anaknya namun sayangnya wadah untuk itu keliru karena benar-benar hiburan yang sangat tidak mendidik bahkan risiko membawa anak ke tempat ramai di malam yang larut sangat besar.
Di sepanjang jalan pula, aku sering mengoceh bahwa salah satu hal paling konyol yang kulakukan dalam hidupku adalah mendatangi pagelaran yks di kota ini. S w hanya sesekali tersenyum dan aku sedikit membatin bagaimana perasaannya. Di depan panggung yks, kami berusaha merangsek maju ke depan namun lautan manusia tak jua bisa kami tembus akhirnya setelah banyak memberikan nasehat kepada w dan memperlihatkan realitas sebenarnya tentang tontotan tv yang dianggap keren maka aku memutuskan untuk pulang.
No comments:
Post a Comment