January 5, 2014

Hujan dan Engkau

Mungkin seringkali engkau menganggap aku egois, ataupun pemarah ataupun dengan istilahmu sendiri yang menurutmu aku ini selalu mau menang sendiri, namun sejatinya tidak ada maksud secuil pun dari dalam hatiku tentang itu. Kadang aku marah hanya ingin mengajarimu tentang sabar, kadang aku acuh hanya ingin mengajarimu tentang setia atau bahkan semua hal yang aku lakukan hanyalah ingin mengenalmu lebih denganmu wahai hujan. 

Sependek yang saya tahu, hujan itu selalu menyejukkan dan itu yang sering saya lakukan untuk membuktikan teori bahwa memang hujan benar-benar menyejukkan. Seingatku, hanya baru dua kali aku benar bahwa terhadapmu hujan, saat engkau membohongiku dan itulah kemarahanku terbesar. Engkau tidak jujur terhadapku namun setelah itu, engkau berjanji apapun yang akan terjadi engkau akan selalu jujur terhadapku dan selalu turun dengan kesejukanmu saat aku butuh maupun tidak.

Kurang apa lagi engkau terhadapku, saat aku butuh tetes airmu, engkau selalu ada, saat akupun butuh teman bercerita, engkau mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa sekalipun menginterupsi kata-kataku sampai aku puas menumpahkan segala apa yang berkecamuk di kepalaku. engkau hujan, selalu aku dapati hal yang luar biasa di dalam dirimu. 

Saat engkau memutuskan untuk tidak menyusahkan setiap orang di dekatmu dengan basahmu atau setiap apa yang engkau punyai akan engkau bagi dengan orang di sekitarmu. Engkau menunjukkan kepadaku tentang hal yang ril tanpa harus belajar dari buku. Badanmu yang ringkih memang tidak sekuat badanku yang kekar namun hatimu lah sesungguhnya kekuatanmu yang paling besar dan sanggup mengalahkan apapun dan kumohon engkau tidak goyah sedikit pun dan tetap menjadi hujan yang menyejukkan.

Aku selalu senyum saat mengingat tingkahmu di dekatku wahai hujan. tak sedetik pun engkau melepas diriku dari dekatmu bahkan ketika aku memejam mata untuk sejenak melepas penatku, matamu selalu awas memandangiku dengan beribu alasan bahwa engkau menjagaku memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa padaku. 

Engkau wahai perempuan hujan. Tahun ini mungkin engkau akan sangat jarang di sampingku bukan karena kita ada masalah atau aku sedang menjauh darimu namun kita punya citacita yang lebih bahwa di pertemuan kita nantinya, hangatnya tetesan airmu tidak lagi menjauh sejengkal pun dariku dan engkau selalu saja ada di dekatku mendekapku dengan hangatmu.

No comments: