Kesaksian hujan tentang tingkah mu telah disaksikan dengan jelas. Percikan air hujan di senja yang kelam bukan menutupi dari kesalahan namun memberimu pelajaran, diriku.
Apakah di setiap tingkahmu, mampu engkau redam geloramu yang memuncak atau kah bahkan engkau tunduk pada nafsumu sehingga semua isi kepalamu tercerabut dan engkau hina.
Nampaknya senja yang basah menjadi saksi bahwa benar engkau telah takluk, tak ada lagi yang engkau banggakan dari dirimu dan semua hal yang harusnya engkau lari dari padanya ternyata engkau membiarkan itu terjadi.
Diriku, engkau senang hari itu. Engkau telah memuaskan keakuanmu dengan khilaf yang bertubi tubi namun tidakkah engkau menyadari bahwa maksiat itu selalu saja dibungkus dengan permen berwarna-warni yang membuatmu manis saat mencicipinya namun ingatlah bahwa di dalam permen tersebut terdapat begitu banyak onak berduri yang akan menghancurkan dirimu sehancur-hancurnya.
Diriku, pejamkan matamu beberapa detik, rasakan dosa keakuanmu selama ini dan yakinkan dirimu untuk tidak lagi mengulanginya karena hujan yakin saat engkau selalu kalah dengan keakuanmu maka kehancuran atas dirimu hanya menunggu waktu saja
No comments:
Post a Comment