Rindu selalu saja menyisakan gelisah. dia datang tanpa harus permisi kepada siapa objek yang tengah mengalami perasaan rindu. Kuyakin, semua orang yang dilanda perasaan rindu akan mencurahkan semua ingatannya terhadap yang dirindukan bahkan setiap helaan nafas pun akan menjadi berat karena rindu itu, yah begitulah adanya rindu itu. Sebab rindu tak harus di tolak karena dia datang dengan berbagai rasa yang mungkin saja tidak semua orang menikmatinya.
Rindu yang ada ada sisa embun pagi semalam mengalun sepi dalam sebuah ruang kecil tak berdipan. Rindu itu nestapa tanpa ada apa-apa saat harus memuaskan rindu itu. Rindu itu kadang malam, pagi bahkan kadang pula senja karena rindu tak mengenal ruang dan waktu meski rindu tak harus ditolak.
Sang perindu adalah tersiksa, menguras setiap emosi yang mengendap dalam raga tanpa ada satu pun yang tercurah sebab dia jauh dan kabur, entah kapan waktu akan menawarkan kemurahannya untuk menggiring ke awan dan bercerita bahwa rindu itu sudah terlalu menyiksa bahkan lebih dari apapun. Sebab rindu tak harus ditolak
Bocah itu di penghujung pulau seberang. Jauh dari sebuah rumah panggung yang telah menjadi istana kerajaannya sejak lama. dia pergi jauh dan amat jauh sekali bahkan sampai di ujung penglihatan. Bocah itu meninggalkan semua orang yang dicintainya. Seorang perempuan tua yang beranjak sepuh namun tetap harus bergerak menjajal pasar demi menjajakan dagangannya.
Begitu juga dengan seorang laki-laki yang juga sudah mulai menua namun tetap harus bangun di subuh yang gelap dan bersiap dengan semua peralatannya menuju ladang penghidupan. Bocah itu meninggalkan mereka hingga dia sampai di kota ini, kota yang amat jauh dan tak seorang pun yang mengiringinya bahkan hanya doa tulus dari kedua laki-laki dan perempuan tadi yang mulai menua. Ruang dan waktu telah membawa bocah itu kedalam rindu yang sesak meski dia juga sadar bahwa perpisahan bukanlah sebuah hal yang harus ditangisi karena seringkali mengajarkan cinta yang tulus. Yah benar, bocah itu meninggalkan kedua orang yang dicintainya karena cintanya demi sebuah cita-cita mulia dan bukan berarti dia lari dari kenyataan.
Bocah itu, seringkali terpasung rindu, rindu yang tak pernah mengenal waktu. Namun dia bukanlah bocah yang rapuh, meski dia sadar bahwa begitu kerasnya jalan setapak yang sedang dijejaknya. Bocah itu, setiap mentari mulai keluar dari timur kota ini, dia harus mandi lebih awal, rutinitas yang hampir sama dilakoninya ketika dia masih sekolah namun kali ini tidak untuk sekolah namun demi hidup dan demi perut yang masih terus minta diisi.
Bocah itu, seiring dengan pagi yang mulai berlalu, dia menyusuri sepanjang kota ini dengan sepeda motor yang mulai butut, tak peduli semua bahaya yang menanti, dia tegap dengan motornya sampai harus menempuh perjalanan berkilo-kilo jauhnya. Sama sekali tak diperdulikan akan hal itu karena dia yakin bahwa pagi akan selalu datang dengan berkahnya. Dia selalu berharap bahwa pergantian pagi akan membawanya ke hidup yang lebih ramah. yah, hanya pagi dan juga malam yang menemaninya bercerita, menuliskan semua keresahan dengan tetes hujan yang berlalu.
Pagi adalah tanda baginya bahwa perjalanan panjang akan dimulai dan senja adalah tanda baginya bahwa perjalanan kembali keperaduan dengan berbagai keringat yang tak pernah berhenti mengucur dari jidatnya yang mulai gosong karena mentari yang amat menyengat. ketika malam adalah istirahat bagi orang lain namun tidak buatnya, malam menjadi babak kedua perjalanannya untuk menyambangi setiap rumah kliennya. Ini adalah pertaruhan soal waktu bahwa ternyata waktu tidak lagi menjadi penghalang baginya untuk kemudian berjuang demi hidup dan berjuang demi dua orang yang dicintainya di pulau seberang.
Hidup ini adalah pertaruhan bagi bocah itu. Dia tidak sepantasnya menyerah begitu saja pada hidup karena pengalaman masa lalu sebagai anak dari kaki gunung cukup membuatnya tegar. Dia seringkali bercerita kepada pagi bahwa harapan akan selalu terbit di timur langit bahkan saat senja menyapa, dia juga mengukir ceritanya bahwa semua kesulitan akan tenggelam bersama senja di saat malam akan datang. Semua semesta adalah teman baginya. Tak terlewat satupun karena manusia-manusia seringkali palsu dengan segala penampakannya.
Bocah itu memilih hidupnya sendiri. Di saat semua kawan-kawannya berlari menggapai asa yang menjulang tinggi di langit, dia memilih untuk berkhidmat kepada kedua orang tua yang dicintainya, entah dengan jalan apa dan bagaimana namun keputusan akan hal itu nampaknya tidak bisa lagi dibelokkan. Hidup memang adalah memilih seperti kata-kata para teoritikus dan bocah itu telah memilih untuk menghabiskan hidupnya untuk berkhidmat kepada kedua orang tua yang dicintainya.
Selama pagi dan senja masih datang menyapanya maka selama itu pula, bocah itu tidak akan berhenti bermimpi membahagiakan kedua orang tua tersebut karena persoalan mimpi dan kenyataan hanyalah persoalan usaha dan waktu saja dan ketika Sang Pemilik Semesta telah berkenan maka mimpi itu dengan segera berubah menjadi kenyataan yang membahagiakan dan tanpa harus meletakkan prinsip-prinsip hidup yang diyakini.
Bocah itu terus saja berpeluh, mengayuh motor bututnya yang hampir saja tak mau diajak berkompromi. Peduli apa dia dengan keadaan seperti itu, hal yang terpikir olehnya adalah hidup ini indah sesulit apapun kondisi yang sedang dialami karena semua akan menjadi indah ketika sudah terlewati. Hidup hanyalah persoalan bagaimana mensyukuri semua yang ada tanpa harus pasrah.
Bocah itu, dia tidak pernah menceritakan hal tersulit dalam hidupnya kepada ibunya, biarkan dirinya menjalani sendiri dan dia hanya akan mengabarkan kebahagiaannya kepada ibunya. temannya adalah pagi yang cerah, terkadang dia menumpahkan ceritanya kepada senja yang selalu menghampirinya bahkan ketika malam menjemput, nafasnya dihembuskan perlahan-lahan kemudian mencoba menutup mata dan berdoa tentang semua kebaikan, tentang cerita semesta sepanjang hari tadi.
No comments:
Post a Comment