Dia bukanlah perempuan yang tahu tentang dunia kampus yang pernah kulalui, dia bahkan tidak tahu tentang semua idealisme yang pernah kupelajari di dunia kampus seperti kebanyakan teman perempuanku yang juga gandrung ikut berdemo namun dia juga punya idealisme sendiri.
W. sejatinya dia kukenal saat aku bergabung dengan GP sejak Desember. dia bukanlah perempuan yang terlalu mencolok bahkan dandan apa adanya. akupun tidak begitu mengenal keluarganya saat masih bersamanya di GP hanya yang kutahu dia mempunyai seorang kakak.
Tak harus kujelaskan kenapa sekarang aku semakin dekat dengannya., mengenal silsilah keluarganya dan bahkan sering berinteraksi dengan ibunya. awalnya begitu saja terjadi, entah memang kami harus dekat seperti ini atau seperti apa namun tak ada penjelasan yang detail tentang kebersamaan kami. yah, itulah W.
Dia tidaklah seperti teman-teman perempuanku semasa kuliah yang penuh pikiran-pikiran idealis. dia tidak terlalu paham tentang feminisme, tentang gender atau tentang teori-teori membingungkan yang sering aku pelajari semasa kuliah dulu. dia bukanlah perempuan yang semasa kuliahnya ikut dalam aksi jalanan dan berteriak lantang tentang keadilan sebab dia mengejewantahkan sendiri keadilan itu dalam dirinya tanpa harus tahu tetek bengek teori -teori tentang itu semua. dia bukanlah aktivis kampus yang seringkali kujumpai dulu semasa kuliah karena baginya, kuliah adalah belajar dan mengemban amanah dari ibunya. akupun tak yakin kalau dia sering ikut diskusi-diskusi kampus dahulu karena baginya diskusi hanyalah perbincangan teori yang tidak semua orang bisa merepresentasikan dalam hidupnya hanya dia sudah melakukannya dari hal yang remeh.
Kebersamaan kami jarang sekali dibumbui dengan diskusi-diskusi tentang teori seperti yang kulakukan ketika aku bersama dengan teman-temanku sejak kuliah dulu. nampaknya dunia kami saat kuliah dulu sangat berbeda jauh tapi tidak untuk belajar tentang hidup, yah tentang itu. seringkali ketika kami bersama dan bercerita tentang semua, kami hanya bercerita tentang hal yang kecil tanpa harus berbicara tentang negara dan bagaimana memperjuangkan rakyat. bagi kami, bagaimana memulai semuanya dari hal yang kecil. kami hanya bercerita tentang kejujuran, tentang keikhlasan, berbagi sedikit dengan sesama dan semua yang mungkin dianggap orang sebagai hal yang remeh temeh.
Terkadang kebersamaan kami dipenuhi dengan selisih paham pada akhirnya, dia akan menangis di depanku yang kemudian aku ternyata tidak tega membuatnya mengucurkan air mata. akupun harus merangkulnya, membenamkan kepalanya di dalam dadaku kemudian menghapus air matanya dengan sweater kesayanganku yang kemudian akhirnya kuhibur dia dengan berbagai macam cara karena sedihnya tak harus abadi. dia berhak bahagia atas hidupnya dan tak harus selalu meratapi apa yang belum dimilikinya. dia begitu tulus.
Dia tegar, selalu saja perempuanku itu bercerita, tentang bagaimana ia sangat menyayangi ibunya yang single parent mulai dia menginjakkan kaki di bangku SMP dan hingga sekarang, niatnya adalah membantu ibunya dan setidaknya mengurangi bebannya tanpa harus lagi menyusahkan ibunya yang sudah susah payah selama 10 tahun membesarkannya dengan sendiri. gadis itu, lebih kuat dari baja namun disisi lain, dia bisa selembut kapas. semua masalah tak dihiraukannya, hingga akhirnya kami dipertemukan dan seringkali bertukar masalah.
Gadis ini selalu saja tampil apa adanya. hal yang terpenting dan sangat bernilai dari dirinya adalah kepeduliaannya kepada temannya. teman baginya adalah bahagianya dan dia akan sangat merasa bersalah ketika tidak bisa menyenangkan teman-temannya. persoalan hidup baginya adalah persoalan berbagi kebahagiaan dan berbagi kepedulian terhadap siapapun. aku tahu itu dari beberapa episode kebersamaan kami saat sedang menyusuri setiap sudut kota madiun. jangan heran ketika dompetnya dipenuhi dengan uang recehan, uang koin tersebut adalah buat semua pengamen, pengemis bahkan siapapun yang datang kepadanya mengulurkan tangan untuk meminta sedikit rejeki Tuhan darinya dan dengan tulusnya dia menyodorkan uang koin tersebut.
Aku tidak pernah sama sekali mendengar dia berteori tentang hidup, tidak sama sekali bahkan akulah yang sering mengeluarkan beribu kata tentang hidup meski kutahu dia lebih tahu bagaimana hidup itu sebenarnya karena baginya hidup bukan bagaimana banyaknya teori kebijaksaan yang dihapal namun baginya hidup adalah bertindak tanpa harus bercerita tentang semua itu.
Dia kadang menangis, namun menangis bukan karena lemah namun air matanya sebagai penghapus atas keletihan dirinya menghabiskan hari-harinya menjalankan makna hidupnya dan penghidmatan yang tulus terhadap takdir semesta yang diembannya. dialah wanita yang sering kujuluki pesekku dan sekalipun begitu dia sama sekali tidak pernah marah.
Entahlah, terkadang kubaca kisah tentang semua insan yang sedang dimadu kasih, saat masih terbuai oleh asmara, mereka sedang menuliskan hal terindah diantara mereka bahkan tak ada satupun noda yang terlihat diantara pasangan mereka hingga sampai mereka ke jenjang yang sebenarnya dan terkuak semua hal yang terpendam diantara mereka bahkan hal yang paling indahpun seakan sirna. aku sama sekali tak menginginkan hal seperti itu, aku menulis tentang si pesek secara objektif bukan karena aku dan dia sedang dibuai asmara. semoga saja nantinya cerita kami tetap yang terindah meski aku belum tahu seperti apa akhir dari cerita kami.
No comments:
Post a Comment