Harusnya sudah lama kutulis tentang kawan yang satu ini. pertemanan kami yang sudah lama membuatku jarang menulis tentangnya karena kuyakin bahwa tulisan hanyalah goresan yang kan dijadikan memori yang nantinya kan usang dan seringkali menjadi candaan. kusadar bahwa pertemanan kami tidak seperti memori masa lalu yang harus diabadikan dalam tulisan karena sejatinya pertemanan ini tidak akan pernah menjadi kenangan dan ini akan terus berlanjut hingga nantinya saat masa menggiring kami menjadi tua dan harus belajar menjadi bijak. tulisan ini pun tidak kumaksudkan untuk meninggalkan pertemanan kami dan mencampakkannya dalam barisan katakata yang hanya kan dikenang, tulisan ini hanyalah berusaha untuk membagi cerita tentang kawan yang satu ini karena darinya, banyak pelajaran yang membuatku semakin banyak membaca hikmah semesta.
Saya memanggilnya dengan nama yang pada umumnya dikenal, begitulah nama akrab yang disematkan orangtua kepadanya. pertama kali mendengar namanya, aku menerka bahwa mungkin saja orang tuanya adalah nu tulen yang kemudian mengagumi pendiri nu. entah salah atau benar namun yang pasti bahwa di pertengahan babak persahabatan kami, kutahu bahwa memang mereka adalah nu meskipun tidak fanatik, aku sendiri yang berasal dari keluarga yang mayoritas mengikuti kelompok yang lain namun sama sekali tidak mempermasalahkan itu dan begitupun kawan yang satu ini bahkan seingatku, kami tidak pernah sekalipun berdebat masalah perbedaan yang tidak esensial, peredebatan kami sering kali pada tataran sosial ekonomi.
Kembali ke kawan ini. tidak salah memang kalau orang tuanya memberinya namanya seperti yang dikenal orang dan yang kuyakin diiringi dengan berbagai macam ekspektasi dari orang tuanya karena pada kenyataannya, kawan ini memang sangat baik bahkan teramat baik. mungkin saja nama tersebut telah menjadi doa baginya. banyak sekali episode pertemanan kami yang menunjukkan kepadaku bahwa kawan yang satu ini memang orang baik. kepeduliannya terhadap semua temannya adalah salah sau tanda bahwa dia akan selalu berusaha bermakna bagi teman-temannya.
Dalam proses pertemanan kami, sebagaimana dengan interakksi manusia yang lain, kami juga seringkali berselisih paham namun itu tidak cukup melebarkan jarak pertemanan kami bahkan sebaliknya kami semakin dekat sampai sekarang. setelah mengarungi masa bersama di kampus selama 5 tahun, kami berpisah jarak dan meramu mimpi dengagn jalan kami sendiri namun lagi-lagi itu tidak jua menjadikan kami jauh. hingga saat ini, kawan yang benar-benar sering kuingata adalah kawan yang satu ini. aku bahkan selalu mencoba untuk menghubunginya hanya sekedar menanyakan kabarnya. aku mengiringi langkahnya menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan beribu doa yang kurangkai demi kemudahan perjalanannya menenun mimpi di kota sana.
Dalam proses pertemanan kami, sebagaimana dengan interakksi manusia yang lain, kami juga seringkali berselisih paham namun itu tidak cukup melebarkan jarak pertemanan kami bahkan sebaliknya kami semakin dekat sampai sekarang. setelah mengarungi masa bersama di kampus selama 5 tahun, kami berpisah jarak dan meramu mimpi dengagn jalan kami sendiri namun lagi-lagi itu tidak jua menjadikan kami jauh. hingga saat ini, kawan yang benar-benar sering kuingata adalah kawan yang satu ini. aku bahkan selalu mencoba untuk menghubunginya hanya sekedar menanyakan kabarnya. aku mengiringi langkahnya menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan beribu doa yang kurangkai demi kemudahan perjalanannya menenun mimpi di kota sana.
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment