Saya memaki diriku setiap kali gagal untuk sedikit berkeras pada diri. Ini seringkali terjadi sesaat setelah menunaikan 3 rakaat, Saya hendak membaca buku yang bertumpuk di rak namun berakhir dengan bermain hp sampai berjam-jam. dalam hati hanya sekedar mengecek apakah ada pesan di wa atau sekedar membaca berita online namun pada akhirnya, hp tetap mesra di tanganku 2-3 jam lamanya dan gagallah rencana membaca.
Saya menyadari terlalu lemah sama pertahanan diri. Memanjakan diri dengan segala hal-hal yang tidak penting. Aku memaki diri jika tak bisa berkeras untuk lebih baik.
Entah sampai kapan lagi setiap hal yang menurutku. Tidak pernah kuasa mengendalikan diri dalam hal-hal yang absurditas.
Saya memaki diri. Tidak ada yang mampu kuperbuat dalam langkah yang kujejak sebagai sebuah rutinitas yang seakan membawa kepada kepunahan. hampir waktuku tersita hanya untuk membaca semua berita online yang memuakkan, semakin banyak kubaca maka semakin kacau pikiranku.
Ah, apakah ini pertanda otakku sudah buntu di sebuah persimpangan antara keinginan untuk melakukan hal yang bermanfaat namun tersandung pada sebuah kebutuhan bulanan. entahlah.
Setidaknya toh saya tidak punya tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk meski sepertinya saya sedang membohongi diriku dalam hari-hari yang membosankan.
Saya hanya khawatir atas setiap tetes sari makanan yang masuk ke dalam aliran darahku dihitung sebagai sebuah rezeki yang syubhat apatahlagi haram. Untuk saya mungkin masih bisa kutolerir namun bagi anak isteriku, oh tidak Tuhan. saya tidak mau membayangkan atas kemungkinan-kemungkinan mereka mengkonsumsi apa yang tidak seharusnya. Hal tersebut akan menjadi darah daging yang merusak jiwa mereka.
memaki diri yang selalu gagal berkarya
di suatu waktu pada bulan agustus
Entah sampai kapan lagi setiap hal yang menurutku. Tidak pernah kuasa mengendalikan diri dalam hal-hal yang absurditas.
Saya memaki diri. Tidak ada yang mampu kuperbuat dalam langkah yang kujejak sebagai sebuah rutinitas yang seakan membawa kepada kepunahan. hampir waktuku tersita hanya untuk membaca semua berita online yang memuakkan, semakin banyak kubaca maka semakin kacau pikiranku.
Ah, apakah ini pertanda otakku sudah buntu di sebuah persimpangan antara keinginan untuk melakukan hal yang bermanfaat namun tersandung pada sebuah kebutuhan bulanan. entahlah.
Setidaknya toh saya tidak punya tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk meski sepertinya saya sedang membohongi diriku dalam hari-hari yang membosankan.
Saya hanya khawatir atas setiap tetes sari makanan yang masuk ke dalam aliran darahku dihitung sebagai sebuah rezeki yang syubhat apatahlagi haram. Untuk saya mungkin masih bisa kutolerir namun bagi anak isteriku, oh tidak Tuhan. saya tidak mau membayangkan atas kemungkinan-kemungkinan mereka mengkonsumsi apa yang tidak seharusnya. Hal tersebut akan menjadi darah daging yang merusak jiwa mereka.
memaki diri yang selalu gagal berkarya
di suatu waktu pada bulan agustus
No comments:
Post a Comment