"Pada sebuah persimpangan antar keluarga dan karir."
Saya memilih menonton film ini karena pemerannya salah seorang idola artis saat bocah, Aishwarya Rai Bachchan. aktiknya selalu mempesona apatahlagi wajahnya yang selalu menolak untuk menua, ah Aishwarya memang mempesona.
Pengacara adalah salah satu profesi paling prestise di tengah Masyarakat. profesi tersebut identik dengan uang banyak dan suap menyuap. seorang terdakwa harus menyiapkan uang yang tidak sedikit untuk menangani kasusnya.
Anuradha Verma, seorang pengacara kondang yang dalam setiap kasus yang ditanganinya selalu menang. dia terkenal sebagai pengacara sukses. disamping sebagai Pengacara, Verma juga seorang ibu dari gadis bernama Sanaya, putri semata wayangnya.
Verma seorang single parent yang ditinggal cerai oleh suaminya setelah mengetahui bahwa dia mengandung seorang bayi perempuan. suaminya menginginkan laki-laki sebagai anak pertama. suaminya bahkan tega meminta Verma untuk menggugurkan kandungannya yang ditolak mentah-mentah olehnya.
meski menyandang seorang single parent namun perjalanan karir Verma berjalan mulus. dia dikenal sebagai pengacara yang selalu menang dalam setiap kasus yang ditanganinya.
konflik film bermula ketika di sebuah acara lomb lari yang diadakan oleh sekolah putri verma. Sanaya menghilang sesaat setelah lomba. tidak ada seorang pun yang tahu kemana Sanaya pergi. Verma begitu panik setelah menyadari anaknya diculik. dia tidak tahu harus berbuat apa-apa selain menunggu instruksi dari si penculik.
beberapa saat kemudian, penculik menelepon Verma dan menyampaikan modusnya menculik Sanaya. penculik ingin agar Verma menjadi pengacara Niyaz, seorang pembunuh yang sedang menunggu vonis mati. penculik menjadikan kebebasan Niyaz sebagai tebusan atas Sanaya.
Verma berada di persimpangan hati. di satu sisi, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada puterinya dan di sisi lain, dia tahu bahwa kasus Siyaz adalah kasus yang sudah diketahui oleh publik dan nuraninya berkata bahwa tidak mungkin dia membela seorang pembunuh.
namun naluri Verma sebagai seorang Ibu lebih kuat. dia menyanggupi menjadi pengacara Siyaz demi keselamatan Sanaya. penculik tidak ingin jika Verma melibatkan polisi dan menyuruh Verma berbohong kepada polisi bahwa Sanaya sedang berada di rumah Neneknya.
4 hari adalah sisa waktu yang dimiliki oleh Verma untuk mencari bukti demi membebaskan Siyaz dari vonis hukuman mati. Verma dibantu oleh Yohan, inspektur polisi yang sedang diskors. mereka mencari bukti siang dan malam bahkan Verma harus berpura-pura sebagai penulis ketika meminta keterangan dari Garima, Ibu Sia, korban pembunuhan.
ada setitik asa yang ditemukan oleh Verma ketika mengetahui bahwa kasus ini melibatkan seorang politikus yang akan maju dalam pilkada. potongan demi potongan kejadian mulai dirangkai oleh Verma dari hasil investigasinya.
Verma mendapatkan kesimpulan lain bahwa ada kemungkinan, Sia dibunuh oleh Sam karena pada saat kejadian, Sam sedang berada di rumah Sia. sam adalah pacar Sia.
tibalah saatnya persidangan yang menentukan nasib Sanaya. di persidangan, Sam membenarkan bahwa dia berada di rumah Sia ketika pembunuhan terjadi namun pada saat itu, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pengaruh narkoba. dia baru sadar ketika Sia sudah terbujur kaku bergelimangan darah. Sam kemudian membawa mayat Sia ke rumahnya.
Mayat Sia ternyata membawa masalah baru terhadap Mahesh Maklai, Ayah Sam. dia seorang politikus yang akan maju dalam pertarungan Pilkada. kasus ini menyita perhatian Mahesh karena partainya sangat getol dalam isu gender dan kekerasan seksual.
tidak ingin karirnya hancur, Mahesh kemudian membersihkan mayat Sia dan membuangnya di sungai. hal inilah yang kemudian dijadikan bukti kunci bagi Verma untuk membebaskan Siyaz dari tuduhan pembunuhan. Verma beranggapan bahwa Mahesh bersalah dalam hal menghilangkan barang bukti. alhasil, Siyaz dibebaskan sementara dari tuduhan sedangkan Mahesh Maklai dan Sam Maklai dijadikan terdakwa.
Sesaat setelah lepas dari vonis dan hendak pulang, Siyaz ditabrak oleh orang yang tidak dikenal di parkiran. namun tabrakan tersebut tidak sampai membuatnya meninggal.
Setelah berhasil menangani kasus Siyaz dan membebaskan Sanaya dari sekapan penculik, Verma berkunjung rumah Garima sekedar meminta maaf. namun fakta lain kemudian membuat Verma tergoncang. dia menemukan fakta bahwa penculik Sanaya adalah Garima, ibu Sia.
beberapa saat ketika masih disekap, penculik mengirimkan foto Sanaya yang sedang tertidur di sebuah ranjang. Verma melihat ranjang tersebut ada di rumah Garima. fakta kedua bahwa sebuah tangan patung yang dikirim kepada Verma oleh penculik saat berada di pengadilan dan di rumah Garima. verma melihat sebuah patung tanpa tangan yang motifnya sama dengan yang dia terima.
Verma kemudian mengkonfrontir kepada Garima kenapa tega melakukan hal tersebut. Garima pun terus terang bahwa dia ingin membunuh Siyaz dengan tangannya sendiri, dia tidak ingin Siyaz mati di tangan hukum. tidak ada jalan lain selain Siyaz harus dibebaskan dari vonis. orang yang menabrak Siyaz di parkiran sesaat setelah bebas adalah suruhan Garima.
Setelah ditabrak, Siyaz hanya mengalami luka-luka kemudian Garima mengambil bagiannya. dia membawa Siyaz ke sebuah gudang dan merantainya. dalam keadaan tak berdaya, Siyaz disiram bensin dan dibakar hidup-hidup oleh Garima.
Verma terkejut mendengar penuturan Garima tetapi dia dapat merasakan bagaimana pedihnya perasaan seorang ibu kehilangan anaknya. Verma hanya diam merenungi setiap potongan cerita hidup yang baru saja dijalaninya.
Sesaat kemudian, polisi datang menjemput Garima dengan tuduhan melakukan pembunuhan. Garima sudah siap atas konsekuensi dari perbuatannya namun sebelum diangkut ke kantor polisi, Verma meminta surat tugas atas penangkapan kliennya.
"jika aku bisa menjadi pengacara seorang pembunuh, kenapa aku tidak bisa menjadi pengacara atas seorang ibu." jawab Verma ketika melihat guratan keheranan dari wajah Garima.
Film Jazbaa lumayan menguras emosi setiap melihat raut wajah sedih seorang Verma ketika Sanaya diculik. menurutku, ekspresi paling jujur benar-benar ditunjukkan oleh Aishwarya Rai dalam memerankan seorang ibu yang kehilangan anaknya karena penculikan.
Verma berada di persimpangan hati. di satu sisi, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada puterinya dan di sisi lain, dia tahu bahwa kasus Siyaz adalah kasus yang sudah diketahui oleh publik dan nuraninya berkata bahwa tidak mungkin dia membela seorang pembunuh.
namun naluri Verma sebagai seorang Ibu lebih kuat. dia menyanggupi menjadi pengacara Siyaz demi keselamatan Sanaya. penculik tidak ingin jika Verma melibatkan polisi dan menyuruh Verma berbohong kepada polisi bahwa Sanaya sedang berada di rumah Neneknya.
4 hari adalah sisa waktu yang dimiliki oleh Verma untuk mencari bukti demi membebaskan Siyaz dari vonis hukuman mati. Verma dibantu oleh Yohan, inspektur polisi yang sedang diskors. mereka mencari bukti siang dan malam bahkan Verma harus berpura-pura sebagai penulis ketika meminta keterangan dari Garima, Ibu Sia, korban pembunuhan.
ada setitik asa yang ditemukan oleh Verma ketika mengetahui bahwa kasus ini melibatkan seorang politikus yang akan maju dalam pilkada. potongan demi potongan kejadian mulai dirangkai oleh Verma dari hasil investigasinya.
Verma mendapatkan kesimpulan lain bahwa ada kemungkinan, Sia dibunuh oleh Sam karena pada saat kejadian, Sam sedang berada di rumah Sia. sam adalah pacar Sia.
tibalah saatnya persidangan yang menentukan nasib Sanaya. di persidangan, Sam membenarkan bahwa dia berada di rumah Sia ketika pembunuhan terjadi namun pada saat itu, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pengaruh narkoba. dia baru sadar ketika Sia sudah terbujur kaku bergelimangan darah. Sam kemudian membawa mayat Sia ke rumahnya.
Mayat Sia ternyata membawa masalah baru terhadap Mahesh Maklai, Ayah Sam. dia seorang politikus yang akan maju dalam pertarungan Pilkada. kasus ini menyita perhatian Mahesh karena partainya sangat getol dalam isu gender dan kekerasan seksual.
tidak ingin karirnya hancur, Mahesh kemudian membersihkan mayat Sia dan membuangnya di sungai. hal inilah yang kemudian dijadikan bukti kunci bagi Verma untuk membebaskan Siyaz dari tuduhan pembunuhan. Verma beranggapan bahwa Mahesh bersalah dalam hal menghilangkan barang bukti. alhasil, Siyaz dibebaskan sementara dari tuduhan sedangkan Mahesh Maklai dan Sam Maklai dijadikan terdakwa.
Sesaat setelah lepas dari vonis dan hendak pulang, Siyaz ditabrak oleh orang yang tidak dikenal di parkiran. namun tabrakan tersebut tidak sampai membuatnya meninggal.
Setelah berhasil menangani kasus Siyaz dan membebaskan Sanaya dari sekapan penculik, Verma berkunjung rumah Garima sekedar meminta maaf. namun fakta lain kemudian membuat Verma tergoncang. dia menemukan fakta bahwa penculik Sanaya adalah Garima, ibu Sia.
beberapa saat ketika masih disekap, penculik mengirimkan foto Sanaya yang sedang tertidur di sebuah ranjang. Verma melihat ranjang tersebut ada di rumah Garima. fakta kedua bahwa sebuah tangan patung yang dikirim kepada Verma oleh penculik saat berada di pengadilan dan di rumah Garima. verma melihat sebuah patung tanpa tangan yang motifnya sama dengan yang dia terima.
Verma kemudian mengkonfrontir kepada Garima kenapa tega melakukan hal tersebut. Garima pun terus terang bahwa dia ingin membunuh Siyaz dengan tangannya sendiri, dia tidak ingin Siyaz mati di tangan hukum. tidak ada jalan lain selain Siyaz harus dibebaskan dari vonis. orang yang menabrak Siyaz di parkiran sesaat setelah bebas adalah suruhan Garima.
Setelah ditabrak, Siyaz hanya mengalami luka-luka kemudian Garima mengambil bagiannya. dia membawa Siyaz ke sebuah gudang dan merantainya. dalam keadaan tak berdaya, Siyaz disiram bensin dan dibakar hidup-hidup oleh Garima.
Verma terkejut mendengar penuturan Garima tetapi dia dapat merasakan bagaimana pedihnya perasaan seorang ibu kehilangan anaknya. Verma hanya diam merenungi setiap potongan cerita hidup yang baru saja dijalaninya.
Sesaat kemudian, polisi datang menjemput Garima dengan tuduhan melakukan pembunuhan. Garima sudah siap atas konsekuensi dari perbuatannya namun sebelum diangkut ke kantor polisi, Verma meminta surat tugas atas penangkapan kliennya.
"jika aku bisa menjadi pengacara seorang pembunuh, kenapa aku tidak bisa menjadi pengacara atas seorang ibu." jawab Verma ketika melihat guratan keheranan dari wajah Garima.
Film Jazbaa lumayan menguras emosi setiap melihat raut wajah sedih seorang Verma ketika Sanaya diculik. menurutku, ekspresi paling jujur benar-benar ditunjukkan oleh Aishwarya Rai dalam memerankan seorang ibu yang kehilangan anaknya karena penculikan.
"Seorang
pria baru menjadi ayah ketika anaknya sudah dilahirkan sedangkan
seorang wanita sudah menjadi ibu saat janinnya mulai berkembang"
5 10 16
5 10 16
No comments:
Post a Comment