Globalisasi yang menurut sebagian besar orang adalah proses penggolabalan dari semua aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai, produk-produk dan segala sesuatu yang berhubungan dengan apa yang menyangkut kehidupan kita. Globalisasi telah menjadi sebuah patokan hidup dari sebagian besar orang-orang yang menganggap bahwa globalisasi sebagai sebuah anugerah karena dengan adanya globalisasi tersebut maka kita mampu mengakses segala sesuatu dari luar. Pemahaman seperti inilah yang tidak saya setujui karena hal-hal yang menyangkut tentang kemajuan sering kita anggap sebagai dampak dari adanya globalisasi tersebut.
Globalisasi yang sering kita anggap sebagai proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sebuah sistem ekonomi global ternyata telah menyesatkan kita, inilah yang membuat kita percaya bahwa globalisasi itu sebagai sebuah anugerah yang ternyata dibalik itu punya segudang keburukan.
Globalisasi setidaknya melibatkan penciptaan satu ekonomi dunia yang tidak hanya merupakan totalitas dari perekonomian nasionalnya, melainkan sebuah realitas independen yang kokoh. Aliran modal, komoditas, teknologi dan tenaga kerja berskala besar dan berjangka panjang melintasi perbatasan negara.
Namun ternyata bahwa globalisasi tidak semudah itu dan tidak sebaik dengan apa yang sering kita pikirkan tentang globalisasi, benda yang disebut globalisasi tersebut tidak lain adalah produk terbaru dari kaum kapitalis setelah produk-produk sebelumnya seperti imprealisme dan liberalisme yang mereka anggap sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan sekarang sehingga mereka menciptakan senjata baru yaitu apa yang kita sebut dengan globalisasi.
Dalam perjalanannya, kita sering dikelabui dengan sepak terjang globalisasi dimana kita diberikan pemahaman yang salah bahwa globalisasi adalah kemajuan yang tanpanya kita akan mengalami kesusahan dalam berinteraksi dengan dunia lain. Inilah yang membuat kita sering salah dalam menginterpretasikan apa sebenarnya hakekat dari globalisasi itu.
Namun ternyata bahwa globalisasi yang sering kita anggap sebagai anugerah tersebut adalah juga salah satu jalan kaum kapitalisme dalam mengantisipasi kebangkrutan di Asia Timur.
Krisis terhadap pembangunan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bagian dari krisis sejarah dominasi dan eksploitasi manusia atas manusia yang lain, yang diperkirakan telah berusia lebih dari lima ratus tahun. Proses ini pada dasarnya dapat dibagi ke dalam tiga periode; fase pertama adalah periode kolonialisme yakni perkembangan kapitalisme di Eropa yang mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan
Pada era developmentalisme ini, dominasi negara-negara bekas penjajah terhadap bekas koloni mereka tetap dipertahankan melalui kontrol teori dan proses perubahan sosial mereka. Dengan kata lain, pada fase kedua ini, kolonialisasi tidak terjadi secara fisik, melainkan melalui hegemoni yakni dominasi cara pandang dan ideologi serta ‘diskursus’ yang dominan melalui produksi pengetahuan. Krisis terhadap pembangunan belum berakhir, tetapi suatu mode of domination telah disiapkan, dan dunia memasuki era baru yakni era globalisasi. Fase ketiga, yang terjadi menjelang abad duapuluh satu, ditandai dengan liberalisasi segala bidang yang dipaksakan melalui Structural Adjustment Program (SAP) oleh lembaga finansial global, dan disepakati oleh rezim GATT dan Perdagangan Bebas, suatu organisasi global yang dikenal dengan WTO. Sejak saat itulah dunia memasuki era yang dikenal dengan globalisasi.
Dalam pemikiran saya bahwa Globalisasi adalah hal yang mesti kita perjelas orientasinya. Dalam hal ini bahwa globalisasi ternyata alat legitimasi para kaum kapitalis dalam menjajah kembali Negara dunia ketiga dimana mereka tidak lagi menggunakan penjajahan secara terang-terangan.
No comments:
Post a Comment