Alkisah, sebuah keluarga dari kampung kecil di sebuah kota yang bersejarah tentang pemberontakan masa lalu, mereka hidup bahagia dengan 5 orang anak yang terdiri dari 3 anak perempuan dan dua anak laki-laki. Kedua orang tuanya merupakan guru sehingga meskipun tidak bisa dikategorikan kaya, namun setidaknya masih bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Waktu kemudian berlalu dan kelima anak-anaknya menemui jalan hidup masing-masing. Anak pertama mengikuti jejak orang tuanya menjadi seorang guru meskipun guru sekolah swasta, namun suaminya seorang petinggi di BUMN dengan gaji yang tinggi apalagi mereka tinggal di kampung yang notabene biaya hidup sangat murah. Kondisi tersebut yang membuat mereka dianggap sebagai salah satu keluarga kaya di kampungnya.
Anak kedua pun begitu adanya, dia juga seorang guru dengan suami seorang karyawan swasta namun takdir tak dapat ditolak, si suami harus pergi ketika mereka baru merintis dan mempunyai dua orang anak yang masih kecil. Kondisi ini yang kemudian membuat anak kedua harus berjuang keras untuk menjalani hidup dengan gaji pas-pasan
Tiga anak lainnya lebih mujur lagi, mereka mendapatkan pekerjaan yang sangat baik dengan gaji yang tinggi di kota besar. Mereka kemudian hidup di kota besar bersama anak istri mereka dengan rumah dan mobil yang terbilang mewah.
Praktis anak kedua yang pada akhirnya secara ekonomi tertinggal jauh dan masih harus dibantu oleh saudara-saudaranya. Dia harus menghemat untuk anak-anaknya yang masih sekolah dan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pada perkembangan selanjutnya, kehidupan seakan semakin tidak berpihak kepadanya. Saat kuliah, anak sulung berulah dengan permintaan yang tidak pernah menaruh belas kasihan kepada ibunya yang sendirian berusaha menghidupi mereka. Ratusan juta uang dihabiskan untuk sesuatu yang sama sekali tidak terlihat bentuknya bahkan setelah menikah pun, si anak tetap saja menjadi tanggung jawab ibunya bahkan untuk hal-hal kecil.
Akhirnya si ibunya pun seakan tidak mampu menolak permintaan anaknya bahkan semua permintaan dipenuhi. Rumah dan semua harta ludes dihabiskan oleh si sulung yang pada akhirnya tidak berhenti untuk meminta kepada ibunya yang sudah tidak bekerja lagi.
Ibunya kemudian tidak mampu berbuat apa-apa dan anehnya, si ibunya juga selalu berharap dibantu oleh saudara-saudaranya yang lain, tetapi setiap kali dibantu, semuanya akan diserahkan kepada si sulung yang seperti tidak ada ujungnya.
Si ibu merasa memang perlu dibantu karena menganggap tidak punya apa-apa dibanding saudaranya yang lain. Perasaan seperti itu yang seringkali membuatnya kehilangan kedaulatan diri karena semua saudara-saudaranya sudah tahu kelakuan si sulung yang selalu meminta di luar nalar.
Kedaulatan diri akan hilang ketika kita selalu dibantu dan selalu merasa paling menderita. Itulah kenapa agama menganjurkan kita lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah karena tangan di bawah akan mengurangi harga diri dan bahkan menghilangkan kedaulatan diri kita.
#15 2023
No comments:
Post a Comment