A. Sekilas tentang Developmentalism
REFERENSI
Fakieh.Mansour “Runtuhnya teori pembanguan dan Globalisasi” Yogyakarta , Pustaka pelajar, 2008
Hayter, t. { 1971 }Aids as Imperialism, Baltimore
Guiterrez, g. { 1973 },Theology of Liberation, Mayknoll, New York: Orbis Book
Harian umum sore sinar Harapan oleh Hery Susanto, 23 juni 2003
apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Jan 30 2000 - 14:19:46 MST
Seringkali ketika kita berbicara tentang Negara – Negara Dunia ketiga,maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah Negara yang terbelakang, penduduknya hidup dalam kemiskinan dan hal – hal lain yang menyedihkan. Namun semua Manusia tidak menginginkan fenomena kehidupan tersebut terjadi dalam kehidupan mereka,termasuk orang – orang yang ditakdirkan hidup di Negara dunia ketiga.
Dengan pengalaman hidup seperti hal diatas, maka semua orang berfikiran untuk meningkatkan taraf hidup mereka agar sejajar dengan kehidupan orang – orang yang hidup di Negara yang tergolong makmur,makanya salah satu kata yang paling di sukai oleh Penduduk di Negara dunia ketiga adalah Pembangunan.
Masyarakat sering beranggapan bahwa pembangunan adalah kata benda netral yang maksudnya adalah suatu kata yang menjelaskan usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya dan aspek kehidupan lainnya.
Ketika mendengar kata Pembangunan maka akan terpikirkan suatu proses keadaan dimana dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.dengan Pembangunan maka semua sendi – sendi kehidupan akan berubah menjadi labih baik mulai dari kehidupan politik, ekonomi, sosial,budaya dan semua aspek kehidupan.
Berangkat dari hal tersebut bahwa mindset orang – orang yang berada di negara dunia ketiga sangat mengagung – agungkan dimensi Pembangunan maka,dengan cepat,Para pendukung Kapitalisme peka terhadap hal tersebut sehingga pada tahun 1947, Presiden Amerika Serikat { Negara penganut Kapita;isme paling buruk }Harry Truman menginisiasi suatu pertemuan yang membahas masaalah di Negara dunia ketiga,dan pada saat itu lahirlah suatu paham Developmentalism dimana paham tersebut bukannya membantu Negara dunia ketiga mengatasi masaalahnya namun malah mencampakkan mereka pada suatu keadaan yang lebih buruk.
Pada saat itu,dunia terpolarisasi dalam dua kekuatan besarsehingga mereka saling berlomba – lomba mengambil hati Negara – Negara dunia ketiga.Harry Truman yang segera telah mendapatkan kata kunci untuk memasuki Negara dunia ketika dalam rangka mendapatkan keuntungan dengan dalih membantu mereka dengan cepat menyebarkan paham Development nya yang menipu tersebut sehingga banyak Negara – Negara dunia ketiga termakan oleh retorika Truman untuk menerapkan paham tersebut,namun dalam perjalanannya,paham tersebut tidak mampu memperbaiki kehidupan di nagara – nagara dunia ketiga.
Inilah yang menjadi polemik sampai sekarang ini bahwa ternyata tujuan utama dari Developmentalismnya Truman benar – benar rapuh di terapkan di Negara manapun di dunia.
B. Ideologi developmentalism
Pembangunan atau development adalah upaya – upaya untuk memperoleh kesejahteraan atau taraf hidup yang lebih baik bagi negara – Negara berkembang, mereka penganut developmentalism sangat percaya bahwa pembangunan adalah pilihan mutlak untuk menciptakan kesejahteraan penduduknya,
Developmentalism juga menyoroti masaalah tradisionalisme bahwa itu adalah suatu masalah yang semestinya tidak boleh eksis di muka bumi seperti apa yang dikatakan W.W.Rostow dalam teori pembangunannya yang sangat menentang tradisionalism,teorinya tersebut terkenal dengan the five stage scheme ,Rostow berpendapat bahwa masyarakat pada dasarnya adalah tradisional. Dan Tradisional itu sendiri dianggap sebagai suatu masalah. Untuk itu, tradisional harus di rubah menjadi modern. Sehingga Developmentalism mutlak di perlukan sebagai prasarat menuju masyarakat modern.
sedangkan menurut Mansour Fakieh penganut – penganut teori percaya bahwa segala sesuatu menuju perubahan dapat dicapai dengan pembangunan { Developmentalism },mereka juga percaya bahwa tradisionalisme dianggap sebagai masaalah dan harus disingkirkan segera.
Pemahaman tentang pembangunan sering diasumsikan sebagi sesuatu yang dapat menyelesaikan segala persoalan yakni kemiskinan, keterbelakangan, dan masalah – masalah ekonomi dan industri yang dianggap sebagai agent of change sebagai perubahan dalam pembaharuan hidup.
Sedangkan menurut Hanif Suranto (2006), bahwa paradigma developmentalisme yang menjadi landasan pembangunan bagi negara – Negara dunia ketiga ternyata telah melahirkan sejumlah problem yang dihadapi berbagai komunitas. Antara lain adalah hancurnya identitas kultural dan perangkat kelembagaan yang dimiliki komunitas akibat penyeragaman, hancurnya basis sumber daya alam (ekonomi) komunitas akibat eksploitasi oleh negara atas nama pembangunan; serta melemahnya kapasitas komunitas dalam menghadapi problem-problem komunitas akibat dominasi negara. Selanjutnya ia menyatakan bahwa kondisi-kondisi tersebut menampilkan wujudnya paling nyata dalam berbagai konflik antara komunitas dengan Negara.
Kondisi inilah yang ternyata diinginkan oleh para pencetus paham Developmentalism sehingga mereka mampu masuk dalam kehidupan untuk mengambil keuntungan pribadi,hal yang tidak pernah disadari oleh para stake holders di Negara – Negara dunia ketiga.
C. Gagalnya penerapan Developmentalism di Indonesia pada masa Orde Baru
Ketika membicarakan masalah Indonesia dengan mengaitkan akan eksistensi paham Developmentalism di Negara ini,maka kita akan bericara panjang dalam wacana Indonesia pada masa Orde baru,karena masa keemasan paham Developmentalism di Indonesia terjadi pada masa Rezim Orde Baru yang tampuk pemerintahan bukan dipegang oleh Negarawan tetapi di pegang oleh militer yang otoriter.
Sebenarnya,sebelum masa Orde Baru yaitu ketika Presiden Sukarno masih berkuasa,paham Developmentalism yang notabene adalah bentuk baru dari kolonialisasi tidak mampu masuk di Indonesia karena dengan tegas Sukarno mengatakan tidak kepada bantuan – bantuan asing dengan perkataannya yang sangat terkenal go to hell with your aids.
Sejak tahun 1967,Pemerintah Militer otoriter di Indonesia dibawah Soeharto menjadi pelaksana teori pertumbuhan Rostow yang notabene adalah sepupu dari Developmentalism dan pada saat itu Pemerintah Indonesia menjadikan landasan pembangunan jangka panjang yang ditetapkan secara berkala untuk waktu lima tahun { PELITA } sehingga pada masa Rezim Orde Baru,Indonesia sepenuhnya mengimplementasikan teori pembangunan kapitalistik yang bertumpu pada ideology dan teori modernisasi serta implementasi teori pertumbuhan.
Eksistensi paham Developmentalism baru terjadi di Indonesia ketika Rezim Orde Baru berkuasa,sejak terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret { Supersemar }.Indonesia kemudian mendewa – dewakan apa yang disebut pembangunan,sehingga apapun dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada demi terwujudnya apa yang disebut pembangunan,mulai dari bergabung dengan IGGI pada tahun 1967.
Pemerintah Indonesia benar – benar menjadikan pembangunan sebagai tolak ukur dalam melakukan Sesuatu,maka pinjaman – pinjaman dari luar pun mengalir kedalam Indonesia,dengan pinjaman tersebut,maka secara otomatis Pemerintah mampu membangun sarana prasarana yang mewah,mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah semu.akan banyak masalah yang muncul dari penomena diatas seperti kita akan membayar pinjaman – pinjaman tersebut beberapa tahun mendatang dengan bunga yang mencekik yang ujung – ujungnya rakyatlah yang akan menanggungnya,dan hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan utama orang – orang pelopor Developmentalism.
Ada banyak sekali ketimpangan dengan teori pembangunan yang di dewakan Indonesia pada masa Orde Baru,karena dalam watak pemerintah pada saat itu bahwa pembangunan adalah hal yang mutlak dilakukan agar Negara mampu berbicara banyak di dunia Internasional tanpa memperhatikan aspek lain yang mungkin akan dirugikan dengan pembangunan tersebut,seperti contoh bahwa pembangunan berkelanjutan yang pernah dicanangkan di Indonesia tidak punya waktu yang jelas dan tidak terukur sehingga hal tersebut menimbulkan polemik di bidang ekologi karena dengan program pembangunan yang terus berlangsung tanpa jangka waktu maka secara otomatis bidang ekologi akan menjadi sasaran empuk untuk dijadikan lading eksploitasi demi kejayaan pembangunan.
Hal yang tidak pernah disadari oleh para stake holders di Negara Indonesia pada masa Orde baru dengan menerapkan pembangunanisme adalah bahwa pembangunanisme yang berkedok ingin membantu kita keluar dari masalah ternyata malah menimbulkan banyak sekali masalah kehidupan seperti kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan.
Kita tidak pernah menyadari bahwa Developmentalisme yang dicetuskan oleh orang – orang kapitalisme adalah alat baru Mereka untuk menjajah Negara – Negara dunia ketiga termasuk Indonesia,mereka berkedok dengan konsep yang membuai kita seperti membangun Nation-State dengan basis yang sangat mapan untuk nilai – nilai luhur untuk membangun integritas Nasional,konsep Merekapun berjalan diatas birokrasi modern,doktrin yang disebarkan di tengah – tengah Negara dunia ketiga adalah bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik maka kita harus bergerak dari kehidupan tradisional menuju ke kehidupan yang serba modern,makanya dalam proses peralihan tersebut, pemerintah kita banyak sekali mengabaikan aspek kehidupan seperti di lingkungan yang di eksploitasi demi apa yang di namakan Modernisasi,kehidupan masyarakat kecil yang terus terusik kehidupannya karena sering digusur demi apa yang namanya keindahan kota meskipun melanggar Undang – undang.
Hal tepenting yang Saya pahami dengan penerapan Developmentalism di Indonesia pada masa Orde Baru adalah bawa keuntungan yang didapatkan dari Pembangunanisme tersebut memang ada namun hanya kaum Borjuis dalam hal ini pemerintah yang berkuasalah yang mendapatkan semua keuntungan tersebut,kaum Proletar hanyalah menjadi korban eksploitasi untuk mencapai kepentingan pemerintah.
Hal lain yang di abaikan oleh pemerintah kita pada masa Orde Baru adalah ternyata mereka mengingkari sendiri UUD 1945 pasal 33 {1} yaitu Bumi,Air, Udara dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar – besarnya untuk kepentingan rakyat, ketika hal ini dihubungkan dengan konsep pembangunan ala Rezim Orde Baru maka banyak hal yang terabaikan didalamnya,dimana ketiga dimensi tersebut ternyata dikuasai oleh Negara namun mereka sendiri yang mendapatkan keuntungan didalamnya.
Ada suatu sisi di Indonesia yang memperparah keadaan Negara Indonesia dimana Birokrasi kita masih dipenuhi oleh para Mafia Berkeley yang menjadi penguasa komprador di Indonesia yang selalu mengikut kepada kepentingan Asing,selama mereka masih bercokol di Negara ini maka Indonesia akan di eksploitasi terus menerus,generasi mereka selalu menguasai kita mulai dari Emil Salim sampai sekarang yang paling populer adalah Sri Mulyani, dan lobi – lobi asing selalu melalui mereka.
Seandainya saja bahwa krisis Ekonomi tidak menghancurkan Negara Indonesia pada tahun 1997,mungkin saja semua elemen Masyarakat akan semakin percaya terhadap apa yang dinamakan Developmentalisme dan Globalisasi,dengan munculnya krisis yang mengerikan tersebut maka terbongkar pulalah kejahatan Developmentalisme,dimana hal tersebut membawa Rakyat menjadi kuli di negaranya sendiri.
Krisis pada saat itu pecah ketika keburukan – keburukan system yang diterapkan oleh Pemerintah sudah mencapai puncaknya,utang luar negeri sudah membengkak,kerusakan di sector Ekologi sudah sangat parah,Masyarakat hidup dalam ketidakmenentuan politik, segala sesuatu harus dikerjakan sesuai dengan keinginan pemerintah.
Developmentalisme berjaya di Indonesia sejak dekade 1960-an karena ditopang oleh tiga kekuatan besar yaitu ABRI, Birokrasi dan Golkar,namun meskipun ketiga unsur tersebut menggawangi Rezim Orde Baru dengan slogan pembangunannya namun akhirnya runtuh ketika Stabilitas politik, Ekonomi dan aspek kehidupan lainnya sudah tidak menentu yang puncaknya berakhir pada kegagalan Ekonomi yang di tandai dengan the Great depression pada tahun 1997.
D. Kesimpulan
Banyak hal yang bisa kita mengerti dari terbongkarnya kebobrokan teori pembangunan yang sudah sering dikaji oleh pakar di Indonesia terutama Mansour Fakieh yang gigih mengulas tentang program – program Negara Kapitalis yang seolah – olah ingin membantu Negara Dunia ketiga,seperti dalam bukunya yang berjudul “ Runtuhnya teori Pembangunan dan Globalisasi”.
Hal mendasar yang saya pahami dari kebobrokan teori pembangunan yang diterapkan di Indonesia pada masa Orde baru adalah ketimpangan – ketimpangan dari program yang dicanangkan pemerintah pada saat itu terutama program Pelita yang mereka agung – agungkan sebagai program terbaik sepanjang sejarah Indonesia diamna dalam program Pelita tersebut,kita dituntut untuk terus menerus menerus membangun dalam semua sector kehidupan tanpa memperhatikan keseimbangan didalamnya,sehingga apa yng terjadi kemudian adalah stabilitas di bidang Ekolgi yang tidak menentu karena terus – menerus dieksploitasi, pada kehidupan masyarakat pinggiran yang terus dihantui penggusuran demi kenyamanan kota.
Program Pelita juga menimbulkan masalah yang amat sukar dimana dana – dana yng dipakai dalam menalangi pembangunan di Indonesia adalah dana yang berasal dari luar negeri yang mereka anggap bantuan dalam pada dasarnya,itu semua adalah utang yang harus dibyar dikemudian hari dimaana bunganya lebih besar dari dana pokok.
Hal yang kesekian yang Saya pahami dari kelicikan Orang – orang kapitalis adalah mereka sendiri yang menyuarakan apa itu teori pembangunanisme atau Developmentalism kemudian menawarkan kepada Negara – Negara dunia ketiga,setelah suatu Negara mulai menerapkan system tersebut,mereka lalu memberikan pinjaman sebagai dana untuk membangunan,sehingga apa yang terjadi kemudian adalah semua keuntungan akan mengalir ke Negara – Negara Asing,sedangkn menurut beberapa ahli bahwa Developmentalisme tersebut adalah kemasan baru kolonialisasi Asing.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah kita harus berani keluar dari lingkaran setan tersebut,kembali kepada konsep Bung Karno yang berani mengatakan tidak pada dominasi Asing,terbukti dengan keluarnya Indonesia dari PBB pada tahun 1956,yang memang Badan Internasional tersebut tidak punya kekuatan apa – apa untuk membantu Negara kecil melainkan hanyalah sebagai alat legitimasi Negara kapitalis.
REFERENSI
Fakieh.Mansour “Runtuhnya teori pembanguan dan Globalisasi” Yogyakarta , Pustaka pelajar, 2008
Hayter, t. { 1971 }Aids as Imperialism, Baltimore
Guiterrez, g. { 1973 },Theology of Liberation, Mayknoll, New York: Orbis Book
Harian umum sore sinar Harapan oleh Hery Susanto, 23 juni 2003
apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Jan 30 2000 - 14:19:46 MST
No comments:
Post a Comment