PENGARUH GERAKAN MAOIS TERHADAP STABILITAS NEPAL
Nepal adalah salah satu Negara terkurung yang ada di Asia selatan. Negara tersebut jarang terdengar di percaturan dunia internasional, kalau ada yang memperkenalkan Nepal di dunia internasional, itu karena Negara tersebut berada tepat di kaki gunung tertinggi di Dunia yaitu gunung Himalaya. Kondisi perekonomian Negara Nepal bergantung pada sector pertanian yaitu hampir 80% bidang pertanian menyerap tenaga kerja di Nepal. Negara ini juga dikategorikan kedalam Negara termiskin.
Meskipun jarang terdengar di percaturan dunia internasional, namun pergulatan politik dalam Negara Nepal punya dinamika yang sangat menarik. Nepal adalah Satu-satunya Negara yang mampu menerapkan system kerajaan Hindu selama 239 tahun lamanya sebelum runtuh pada tahun 2008. Keadaan Nepal dibawah system kerajaan Nepal sangat bergantung pada keputusan-keputusan kerajaan, hal ini disebabkan karena kepercayaan sebagian besar rakyat Nepal bahwa Raja tersebut adalah titisan para dewa-dewa sehingga semestinya, apapun yang dikatan oleh raja harus dipenuhi karena itu berarti bahwa sabda raja ada sabda dewa. Kondisi tersebut membuat para keluarga raja mempunyai beberapa keistimewaan seperti kebebasan dari kewajiban-kewajiban seperti pajak, pembayaran air dan semua kewajiban sebagai warga Negara.
Seperti system kerajaan lainnya, maka pengangkatan kepala Negara ditentukan berdasarkan keturunan yang secara pasti berasal dari keluargai Nepal kerajaan. Kondisi dalam negeri Nepal mulai mengalami dekadensi ketika pada tahun 2001, terjadi tragedi pembunuhan di keluarga raja dimana putra Raja Dipendra membunuh Raja Nepal yang notabene adalah ayahnya sendiri yaitu Raja Birendra dan ketujuh anggota raja lainnya. Peristiwa tersebut menjadi awal pindahnya tonggak kepemimpinan kepada Raja Gaynendra yang merupakan saudara dari Raja Birendra.
Tragedi pembunuhan raja tersebut membuat rakyat Nepal mulai tidak percaya terhadap keklompok Kerajaan. Apalagi dengan kondisi perekonomian Nepal yang terus mengalami kemerosotan. Mayoritas rakyat Nepal yang berprofesi sebagai Petani bahkan tidak punya lahan sendiri, status mereka hanya sebagai petani penggarap. Kondisi yang demikian terus berlarut-larut yang kemudian memunculkan beberapa kelompok-kelompok oposisi yang menentang sistem kerajaan Nepal. Salah satu kelompok oposisi yang sangat berpengaruh yang pada akhirnya berkontribusi besar dalam meruntuhkan system kerajaan adalah kelompok gerakan Maois.
Awal kemunculan Gerakan Maois pada tahun 1994. Ketika terjadi perpecahan di tubuh partai komunis Nepal. Tokoh penting dalam kelompok Maois adalah Pushpa Kemal Dahal atau yang lebih dikenal dengan nama Prachanda. Kemunculan gerakan Maois menjadi warna tersendiri bagi percaturan politik Nepal karena kelompok gerakan ini mengadopsi paham Mao Zedong yang meyakini bahwa kekuasaan akan mampu direbut melalui perang revolusi. Doktrin Mao Zedong sangat mengilhami pergerakan gerakan Maois dalam aksi-aksinya selama memberontak terhadap kelompok kerajaan. Dasar kelompok ini mengadopsi paham Mao adalah kesamaan analisis terhadap kehidupan social ekonomi Cina dan Nepal yaitu mayoritas penduduknya adalah Petani yang kemudian dianggap sebagai kaum proletar yang kemudian akan menjadi basis revolusi untuk mendirikan kediktatoran Proletar.
Dalam Ideologi Mao yang kemudian menjadi salah satu filosofi gerakan Maois bahwasanya kekuasaan politik berasal dari moncong senapan (salah satu kutipan ucapan Mao), dan kaum buruh-tani dapat dimobilisasi untuk melakukan perang rakyat dalam perjuangan bersenjata yang melibatkan perang gerilya dalam tiga tahap. Yaitu :
i. Tahap pertama melibatkan mobilisasi dan pengorganisasian kaum buruh-tani.
ii. Tahap kedua melibatkan pembanugnan wilayah basis di pedesaan dan peningkatan koordinasi di antara organisasi-organisasi gerilya.
iii. Tahap ketiga melibatkan transisi ke perang konvensional. Doktrin militer Maois menyamakan pejuang gerilya dengan ikan yang berenang di sebuah lautan yang penuh dengan buruh tani, yang memberikan dukungan logistik.
Meskipun mengadopsi paham Mao, namun kelompok gerakan Maois Nepal tidak Dokmatis terhadap ajaran-ajaran Mao Zedong, kelompok ini terus berusaha untuk mengaplikasikan sesuai dengan keadaan social ekonomi politik Negara Nepal. Ada pernyataan pemimpin Maois yang menjadi acuan bergerak yaitu :
Saya pikir kami semua memiliki corak khusus sehubungan dengan garis politik dan idiologi, gaya kerja, serta berbagai pengertian. Meski semua Maois memiliki kesamaan ciri minimum perihal beberapa pokok soal dasar filsafat dan idiologi, namun dalam strategi dan taktik Mereka semuanya merdeka. Menerapkan Marxisme dan Leninisme menurut cara nyata sesuai dengan keadaan nyata adalah sesuatu yang umum. Namun, bagaimana menerapkannya dalam keadaan nyata merupakan sesuatu yang berbeda dari satu negeri ke negeri lainnya.[Prachanda, 3 Juni 2008].
Pernyataan tersebut dimanifestasikan dalam berbagai hal dalam pergerakan Maois seperti ikutnya kelompok Maois dalam percaturan politik di Nepal sedangkan dalam doktrin Marrxis-leninis-Maois yang ekstrim bahwa bahwa hanya ada satu partai yang diakui yaitu partai yang berbasis komunis yang kemudian akan mendirikan kediktatoran proletar dengan gaya kepemimpinan sentralistik.
Peranan Maois dalam percaturan politik Nepal mulai terlihat signifikan ketika mereka memproklamirkan perang rakyat pada tanggal 13 Februari 1996, strategi perang gerilya yang diadopsi dari doktrin Maoi Zedong menjadi dasar bergerak, bahwa sebelum menyerbu jantung kota, harus dibangun basis-basis kekuataan di pedesaan. Terror kota, perang Gerilya dan strategi lainnya yang merupakan varian dari perang Rakyat yang dilancarkan oleh kelompok Maois berkahir pada tahun 2006 ketika terjadi kesepakatan antara pihak kerajaan dan kelompok Maois untuk mengakhiri peperangan. Berakhirnya perang juga merupakan awal perjuanagn baru Maois secara electoral dimana mereka dilegalisasi masuk dalam Partai melalui kesepakatan perdamaian komprehensif Accord. Dilegalisasinya kelompok Maois kedalam Partai mengubah metodologi mereka dalam bergeraka dari semula secara militeristik ke arah electoral.
Pemilihan umum tahun 2008 yang merupakan pemilihan umum pertama bagi partai Maois mampu dimenangkan secara telak yaitu 220 kursi,. Kekecewaan Rakyat Nepal terhadap kelompok kerajaan yang feodalistik membuat mereka banyak berpaling kepada partai Maois yang memebawa tujuan-tujuan populis. Pasca memenangkan pemilu dan menempatkan Pracanda sebagai perdana Menteri, kelompok ini mengumumkan dibubarkannya system kerajaan Hindu Nepal yang telah bertahan selama 239 tahun lamanya dan berganti menjadi system Republik. Berkuasanya kelompok Maois tidak serta merta mampu mengembalikan stabilitas Nepal karena kuatnya persaingan kepentingan di Nepal.
Daftar pustaka
Bertram. Christoph, 1998, Konflik dunia ketiga dan keamanan dunia, Jakarta, Bina Aksara
Paige M. Jeffery, 2004, Revolusi Agraria, Pasuruan, Pedati
Perkins, John. 2005, Confessions of Economic Hit Man. Abdi Tandur: Jakarta.
Upreti. B.C, 2007, Nepal, Democracy, at cross road, kanishka publisher, distributors, Delhi
Upreti. B.C, 2010, NepalTransition to the democratic Republic State (2008 Constituent Assembly Election), India, Kalpaz Publication
No comments:
Post a Comment