Saya sudah terpikir ide tentang seperti apa itu rezeki dalam sebuah rumah tangga sesaat setelah saya menikah karena kebetulan, kalau tidak salah ingat, sehari setelah menikah, saya bercerita panjang lebar dengan seorang teman yang domisili di Surabaya. Memang sih dia lebih dulu menikah dan sekarang Isterinya sudah hamil.
Ide ini kembali terlintas di pikiran Saya ketika membaca blog Rezeki dan Pernikahan. Saya selalu belajar untuk percaya bahwa rezeki itu bukan hanya hal yang nampak di depan mata seperti uang namun pada dasarnya, terkadang rezeki datang ketika kita membutuhkannya bukan pada saat kita menginginkannya dalam hal memuaskan nafsu.
Kembali ke percakapan Saya dengan teman sebulan yang lalu. Dia bercerita banyak tentang perjalanan pernikahannya yang sudah berjalanan setahun lebih. satu hal yang terpartri dalam memori Saya ketika Dia mengatakan bahwa Rezeki itu akan dimudahkan ketika pasangan Suami Isteri saling menyayangi. Dia mencontohkan ketika masih berdagang roti di Grobogan, selalu banyak hikmah yang dipelajarinya. saat pagi ketika akan hendak berdagang namun ada cekcok dengan isterinya, seringkali dagangannya tidak laku dan begitu pula sebaliknya, saat hatinya diliputi rasa sayang terhadap isterinya saat memulai aktivitas berdagang, seringkali dagangannya laris.
Untuk beberapa orang yang tidak percaya dengan hal yang irrasional, mungkin mereka akan berpikir bahwa hal itu adalah bullshit namun tidak dengan Saya dan teman tadi. kami bersepakat bahwa ada hal diluar nalar yang ikut berperan dalam kehidupan kita. Saya percaya bahwa Tuhan menyukai hal yang dilakukan dengan cinta dan ketika kita menempatkannya di ranah yang sesuai aturanNya bahwa percayalah, Dia Maha Segalanya tanpa harus kita rasionalkan.
Untuk kasus teman Saya diatas, bukan berarti bahwa ketika kita seorang pedagang, kita selalu menyayangi Isteri dengan tujuan agar dagangan laris, bukan, bukan itu tujuan hakekatnya. dagangan laris hanyalah sebuah bonus dari implikasi kecintaan kita kepada Isteri dan keluarga karena sejatinya mencintai keluarga adalah sebuah keniscayaan dalam hidup tanpa harus ada tendensi apa-apa.
Rezeki adalah hal yang tidak perlu ditakar dengan materi yang kasat mata. bahkan ketika kita mengukurnya seperti itu, maka kita telah menafikan Keagungan Tuhan. khawatir terhadap hal yang berhubungan dengan kebutuhan pun terkadang mengurangi kadar keimanan kita kepadaNya.
Kembali ke percakapan Saya dengan teman sebulan yang lalu. Dia bercerita banyak tentang perjalanan pernikahannya yang sudah berjalanan setahun lebih. satu hal yang terpartri dalam memori Saya ketika Dia mengatakan bahwa Rezeki itu akan dimudahkan ketika pasangan Suami Isteri saling menyayangi. Dia mencontohkan ketika masih berdagang roti di Grobogan, selalu banyak hikmah yang dipelajarinya. saat pagi ketika akan hendak berdagang namun ada cekcok dengan isterinya, seringkali dagangannya tidak laku dan begitu pula sebaliknya, saat hatinya diliputi rasa sayang terhadap isterinya saat memulai aktivitas berdagang, seringkali dagangannya laris.
Untuk beberapa orang yang tidak percaya dengan hal yang irrasional, mungkin mereka akan berpikir bahwa hal itu adalah bullshit namun tidak dengan Saya dan teman tadi. kami bersepakat bahwa ada hal diluar nalar yang ikut berperan dalam kehidupan kita. Saya percaya bahwa Tuhan menyukai hal yang dilakukan dengan cinta dan ketika kita menempatkannya di ranah yang sesuai aturanNya bahwa percayalah, Dia Maha Segalanya tanpa harus kita rasionalkan.
Untuk kasus teman Saya diatas, bukan berarti bahwa ketika kita seorang pedagang, kita selalu menyayangi Isteri dengan tujuan agar dagangan laris, bukan, bukan itu tujuan hakekatnya. dagangan laris hanyalah sebuah bonus dari implikasi kecintaan kita kepada Isteri dan keluarga karena sejatinya mencintai keluarga adalah sebuah keniscayaan dalam hidup tanpa harus ada tendensi apa-apa.
Rezeki adalah hal yang tidak perlu ditakar dengan materi yang kasat mata. bahkan ketika kita mengukurnya seperti itu, maka kita telah menafikan Keagungan Tuhan. khawatir terhadap hal yang berhubungan dengan kebutuhan pun terkadang mengurangi kadar keimanan kita kepadaNya.
Saya suka sebuah kicauan Sudjiwo Tedjo "khawatir besok tidak makan, itu sudah menghina Tuhan."
No comments:
Post a Comment